Sabtu, 21 Juli 2018

TK Tak Boleh Fokus Ajari Calistung

Pembelajaran calistung tidak boleh difokuskan pada penyelenggaran pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK). Anak didik TK boleh diajari calistung, tapi tanpa paksaan dan melalui cara yang menyenangkan.

Demikian disampaikan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Kemdikbud, Prof Dr.Lydia Freyani Hawadi atau lebih akrab dipanggil Reni Akbar Hawadi di sela-sela  Pertemuan Menteri-Menteri Pendidikan ASEAN ke-7 (The 7th ASEAN Ministers Meeting) yang diselenggarakan di Yogyakarta, 3-5 Juli 2012, pekan lalu.

Reni menyatakan saat ini penerapan ujian calistung bagi lulusan TK untuk menuju Sekolah Dasar (SD) masih ada, padahal berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) 17 Tahun 2010 hal itu tidak diperkenankan. Dikatakan pula oleh Reni, penerapan ujian calistung bisa menghambat peningkatan angka partisipasi PAUD.

Dalam prakteknya ada anak-anak TK yang dengan sendirinya tertarik pada urusan calistung. Pada kasus ini, Reni mengatakan mereka bisa dilayani dengan penerapan materi calistung dengan media bermain dan bernyanyi.
“Intinya jangan menggunakan operasi perhitungan. Calistung itu haram hukumnya diberikan guru dalam kurikulum PAUD,” katanya. (Rini/HK)

UJIAN CALISTUNG: Masuk SD Tidak Dibenarkan Tes Membaca Menghitung

JAKARTA: Kemendikbud siap menerima laporan pengaduan masyarakat jika ada praktek ujian membaca, menulis dan berhitung (calistung)  yang banyak diterapkan SD berstatus Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI). "Jika praktek ujian calistung ini diterapkan SD bertitel RSBI, maka akan dilakukan evaluasi serius," kata Lydia FreyAni Hawadi, Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud, kemarin.

Dia mengakui, dari laporan ada sejumlah SD yang menerapkan ujian calistung untuk menyeleksi calon siswa. Terutama untuk SD-SD yang menyandang predikat Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI).Wanita yang  akrab di panggil dengan Reni Akbar Hawadi ini mengatakan sekolah dasar (SD) dilarang menerapkan ujian calistung (baca tulis,hitung) untuk anak usia dini (PAUD) yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjjang SD.Pasalnya pembelajaran di TK dan sederajat belum menuntut anak-anak bisa membaca, menulis, dan menghitung. Kalaupun ada, hanya pengenalan saja sekedar anak paham, kata guru besar psikologi UI itu.

Para siswa TK diajak bersama-sama melafalkan angka 1 sampai 10, tanpa harus menulis dengan huruf. Program pembelajaran di TK itu lebih ditekankan pada aktivitas bermain sekaligus pembentukan karakter.Terkait ujian calistung, sebagian pihak menuding, ujian hanya untuk menjaga gengsi predikat RSBI tersebut. Banyak sekali kerugian jika pengelola SD masih menerapkan ujian calistung."Paling besar kelemahan ujian ini adalah siswa-siswa dari TK bisa menjadi tertekan ketika mengetahui harus lulus ujian calistung dulu sebelum masuk SD.  Sebab, di TK memang tidak diajarkan. Bisa-bisa anak ini menangis saat dihadapkan naskah soal ujian," jelasnya.

Potensi tekanan bisa semakin besar ketika orangtua memaksakan anaknya mau tidak mau masuk ke SD yang menerapkan ujian calistung.Orangtua seperti ini, bisa jadi akan mengajari anaknya membaca, menulis, dan menghitung secara kilat dan dengan paksaan sehingga tekanan psikis akan semakin kuat, bagi anak-anak yang dinyatakan tidak lulus ujian calistung."Intinya ujian calistung untuk masuk SD tidak dibenarkan," tegas Reni.(api)

KPAI Dukung Larangan Ujian Baca Tulis Hitung

News Room, Selasa ( 21/02 ) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyambut baik sikap tegas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melarang ujian membaca, menulis dan menghitung (calistung) bagi anak yang akan mengikuti ujian masuk Sekolah Dasar (SD). KPAI juga mendesak adanya pengawasan ekstra ketat untuk mengawal aturan tersebut. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Badriyah Fayumi di Jakarta kemarin (20/02) menuturkan, dukungan itu dilontarkan karena pihaknya menganggap ujian calistung tersebut tidak tepat untuk menjaring calon peserta didik kelas I. “Otak anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) belum waktunya untuk diberi muatan calistung, apalagi sampai diujikan,”tutur dia. 

KPAI menyatakan, setiap tahun menerima laporan wali calon siswa kelas I yang resah atas keberadaan ujian calistung, terutama dari Jakarta dan sekitarnya. Badriyah menganggap ujian calistung sebagai kebijakan yang berlebihan. 
Karena itu, larangan pelaksanaan ujian calistung dinilai sebagai kebijakan yang ramah terhadap anak. Kebijakan itu juga mendorong pembelajaran TK tidak cendrung mengasah otak kiri, tetapi lebih mengasah otak kanan. Penerapan ujian calistung, menurut analisa Badriyah, menimbulkan efek negatif berjenjang, layaknya efek domino. Dia juga menjelaskan, selain memunculkan tekanan bagi calon siswa dan orang tua, penerapan ujian calistung juga menimbulkan keresahan dikalangan guru TK. Selama ini, banyak pengelola TK yang akhirnya kepepet menekan pembelajaran baca, tulis dan berhitung pada anak didik masing-masing. Padahal mereka paham betul, bahwa belum waktunya anak didik diajari 3 kemampuan tersebut dijenjang TK yang seharusnya baru diajarkan ditingkat SD. “Pengelola TK itu terpaksa. Sebab, taruhannya reputasi TK-nya sendiri,”ucap Badriyah. Koq bisa ? Para pengelola TK khawatir banyak alumnus mereka yang tidak lulus ujian calistung di salah satu SD favorit. Lambat laun, muncul gunjingan di kalangan wali murid, bahwa TK tersebut belum mampu mempersiapkan anak didiknya untuk menghadapi ujian calistung. Ujung-ujungnya, TK yang patuh pada pakemnya, yaitu tidak mengajarkan baca, tulis, dan menghitung, akan sepi peminat. 

Sebelumnya, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud, Reni Akbar Hawadi menegaskan bahwa SD tidak boleh menerapkan ujian calistung, karena ramai dikeluhkan praktik ujian calistung itu banyak terjadi di SD-SD berlebel RSBI (Rintisan sekolah Bertaraf Internasional) dan sejumlah SD favorit. ( JP, Esha )

Kemdikbud Gelar Upacara Sambut Hari Ibu ke-85

Kemdikbud.go.id Jakarta --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melaksanakan upacara menyambut Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-85 tahun 2013, Rabu (18/12). Sama seperti tahun sebelumnya, PHI tahun ini seharusnya diselenggarakan tanggal 22 Desember. Namun karena tanggal 22 Desember tahun 2013 bertepatan dengan hari Minggu, maka puncak acara PHI ke-85 Tahun 2013 dilaksanakan hari ini. Upacara PHI di Kemdikbud berlangsung di Plaza Insan Berprestasi Kemdikbud. 

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal Informal Lydia Freyani Hawadi bertindak sebagai pembina upacara. Wanita yang kerap disapa Reni ini membacakan sambutan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Linda Amalia Sari Gumelar. PHI ke-85 Tahun 2013 mengangkat tema “Peran Perempuan dan Laki-Laki dalam Mewujudkan Demokrasi yang Demokratif dan Pembangunan Inklusif”. 

Peringatan Hari Ibu setiap tahun diselenggarakan untuk mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan Indonesia. Bersama-sama kaum laki-laki, kaum perempuan ikut berjuang merebut kemerdekaan dan berjuang meningkatkan kualitas hidup dan masyarakat. Tekad dan perjuangan kaum perempuan untuk mewujudkan kemerdekaan tersebut, dilandasi oleh cita-cita dan semangat persatuan kesatuan menuju kemerdekaan Indonesia yang aman, tenteram, damai, adil dan makmur. Semangat tersebut akhirnya dideklarasikan pertama kali dalam Kongres Perempuan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. 

Peristiwa ini sekaligus sebagai tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia dan diperingati setiap tahunnya, baik di dalam maupun luar negeri. Komitmen pemerintah juga dibuktikan dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959, yang menetapkan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu sekaligus Hari Nasional bukan hari libur. Arti penting lainnya dari PHI adalah upaya untuk mewariskan nilai-nilai luhur dan semangat perjuangan yang terkandung dalam sejarah perjuangan kaum perempuan kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama generasi penerus bangsa agar mempertebal tekad dan semangat untuk bersama-sama melanjutkan dan mengisi pembangunan, dengan dilandasi semangat persatuan dan kesatuan.

Lirikan Ditjen PAUDNI terhadap PNPM Generasi

JAKARTA. Berbagai “jurus” dilakukan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Ditjen PAUDNI) untuk terus-menerus memperluas akses pendidikan anak usia dini (PAUD). Salah satunya mengupayakan PAUD menjadi salah satu indikator pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi.

    “Masih ada 30.124 desa di Indonesia yang belum memiliki PAUD,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog saat melakukan pertemuan dengan pihak Bank Dunia, di kantor PNPM Support Facilities (PSF) Bank Dunia, Jakarta, Jumat (25/1).


    Ditegaskan oleh Lydia, yang juga akrab dipanggil Reni Akbar-Hawadi, PAUD merupakan persoalan yang masif.  Dari seluruh anak usia 3-6 tahun di Indonesia, baru 60,33 persen yang sudah mengakses PAUD. Di sisi lain, angka kelahiran yang tinggi membuat kebutuhan masyarakat akan perluasan akses PAUD semakin mendesak.


    “Setiap tahun, ada 3,4 juta bayi baru lahir di Indonesia. Sangat banyak,” kata Reni.


Diungkapkan pula oleh Reni, bahwa dana yang dimiliki PAUDNI untuk PAUD sangatlah terbatas. Tahun ini saja, anggaran untuk seluruh program PAUDNI dari APBN saja, hanya sebesar Rp2,4 triliun. Padahal, untuk mencapai target angka partisipasi kasar (APK) PAUD sebesar 75 persen pada tahun 2015, dibutuhkan dana Rp17 triliun.


    Hal inilah yang membuat banyak persoalan mengenai PAUD belum terselesaikan. Salah satunya, kata Reni, adalah kualitas pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) PAUD. Pendidik PAUD yang belum berpendidikan sarjana jumlahnya masih mendominasi. Menghadapi hal itu, Pemerintah pun telah mengupayakan pelatihan bagi PTK, akan tetapi jumlahnya tidak banyak. Saat ini masih ada sekitar 84 persen PTK PAUD yang belum mendapatkan pelatihan.


    Oleh karena itulah, Ditjen PAUDNI mengharapkan PNPM Generasi yang didukung oleh Kementrian Dalam Negeri serta difasilitasi PSF Bank Dunia ini dapat memasukkan PAUD sebagai salah satu indikator yang menjadi prioritas. Dengan demikian, bertambahlah mitra Ditjen PAUDNI dalam mengembangkan PAUD.


    Menanggapi hal itu, Social Development Sector Manager PSF Bank Dunia Jan Weetjens, menyambut baik. Ia menyatakan sangat mendukung hal ini. Ditimpali pula Social Development Specialist PSF Bank Dunia Robert Wrobel, bahwa angka partisipasi kasar (APK) pendidikan dasar di Indonesia sudah jauh lebih dibandingkan dengan APK PAUD. Ia pun sepakat, bahwa PAUD memerlukan dukungan untuk jauh lebih berkembang.


    Untuk itu, Bank Dunia mendorong Ditjen PAUDNI untuk duduk bersama dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Kementerian Keuangan, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional  (Bappenas), serta institusi-institusi lainnya yang terlibat dalam kebijakan PNPM untuk mendiskusikan hal ini.
    “Saya pikir ada baiknya Kemdikbud bersama Bappenas, Kemdagri, Kementerian Keuangan untuk turun langsung ke lapangan melihat kondisi PAUD, kemudian membicarakan hal ini (memasukkan PAUD sebagai salah satu indikator PNPM Generasi-red),” kata Jan.

PNPM Generasi dan PAUD
    PNPM Generasi Sehat dan Cerdas, yang juga disebut sebagai PNPM Generasi merupakan bagian dari PNPM Mandiri, yakni program nasional yang dilaksanakan sejak tahun 2007-2015. PNPM Generasi menjadi program pendukung PNPM Mandiri Perdesaan untuk mempercepat pencapaian millennium development goals (MDG), terutama terkait dengan kesehatan ibu dan anak serta pelayanan pendidikan dasar.


    Sebenarnya, memasuki tahun 2012, Pemerintah tengah mengujicobakan kegiatan PAUD dalam program PNPM Generasi. Kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Boalemo, Gorontalo dan Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
 

    Tujuan dari program ini adalah untuk membuka kesempatan bagi seluruh anak usia 0-6 tahun dalam mendapatkan layanan program PAUD melalui program PNPM Generasi. Uji coba ini diselenggarakan karena laporan lapangan menunjukkan tuntutan masyarakat untuk layanan PAUD semakin besar.
 

    Meskipun demikian, hingga saat ini PNPM Generasi belum dirancang hingga mencakup PAUD sebagai salah satu indikator kebutuhan prioritas. Terkait pendidikan, program ini baru memfokuskan pada wajib belajar. Akan tetapi, atas dasar permintaan serta kebutuhan masyarakat, sudah ada 1.872 lembaga PAUD yang terbantukan oleh program PNPM.
 

    Demikian pula dengan Bank Dunia, juga sudah memberikan bantuan kepada 120 PAUD yang letaknya tersebar di 51 kota/kabupaten di Indonesia. Jumlah bantuan diberikan sebesar Rp90 juta per lembaga. Bantuan itu diberikan bertahap selama tiga tahun. Program yang telah dimulai sejak tahun 2006 tersebut akan berakhir tahun ini. (Dina Julita/HK)
Sumber: http://www.paudni.kemdikbud.go.id/ditjen-paudni-lirik-pnpm-generasi-sebagai-mitra/

Menemukan Kecemerlangan Dibalik Kekurangan Anak

DR. Reni Akbar-Hawadi, Psi, Kepala Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Helen Adams Keller, lahir pada 27 Juni 1880 di suatu desa kecil di Nothwest Alabama, AS. Ia dilahirkan secara normal dengan penglihatan dan pendengaran baik. Pada usia 19 bulan tiba-tiba Hellen jatuh sakit, penyakitnya yang diduga meningitis (namun sampai saat ini penyakit persisnya masih misterius) itu, menyebabkannya kehilangan fungsi penglihatan dan pendengaran. Ia menjadi seorang anak buta, tuli, tumbuh sebagai anak yang sulit, dan temper tantrum.

Di bawah penanganan tepat dari gurunya, Anne Sulivan, yang juga memiliki cacat penglihatan jarak dekat, kekurangan-kekurangan Keller dapat teratasi. Ia dengan sangat mudah menangkap pelajaran yang diberikan, dan perkembangan kemajuan Keller yang sangat luar biasa menjadi buah bibir masyarakat. Ia dikenal sebagai penemu huruf Braille, metode membaca untuk orang buta. Hellen Keller adalah satu contoh konkrit anak cacat yang berbakat (handicapped gifted).

Apa yang dimaksud dengan handicapped gifted?
Sesuai dengan arti katanya, handicapped gifted adalah seseorang yang cacat sekaligus berbakat mempunyai talenta yang luar biasa. Minat pakar psikologi dalam pengembangan anak cacat yang berbakat baru berkembang awal tahun 1970. Melalui analisis biografi ditemukan mereka yang tergolong sebagai handicapped gifted memiliki satu persamaan determinan dalam kesuksesan mereka, yaitu motivasi untuk sukses.

 
Bagaimana mengenali handicapped gifted?
Menurut Whitmore dan Marker (1985) tidak mudah, setidaknya ada empat hambatan, yaitu:


  1. Adanya stereotip pengharapan dari masyarakat pada anak cacat sebagai orang yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata.
  2. Adanya perkembangan yang tertunda dalam daerah verbal, sehingga anak cacat yang memiliki kemampuan intelektual tinggi tidak terdeteksi, mengingat tes yang digunakan bersifat lisan.
  3. Informasi yang tidak lengkap tentang anak, sehingga yang terlihat justru kekuatan anak dalam bidang nonakademik.
  4. Tidak adanya kesempatan untuk membuktikan adanya kemampuan yang superior pada anak. Karena tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk lisan dan untuk pendidikan khusus.
Pengukuran intelektual nonverbal dan tes modifikasi perilaku perlu dilakukan agar orangtua ataupun guru dapat sedini mungkin menemukan anak yang cacat, namun tergolong berbakat. Identifikasi memang tidak mudah, karena biasanya yang akan langsung terlihat menonjol adalah kecacatan anak. Namun, bagi guru yang memiliki kemampuan memahami karakteristik anak berbakat, akan dapat dengan mudah mengenali siswa yang tergolong anak berbakat.

Untuk memastikan potensi keberbakatan yang dimiliki siswa tidak ada cara terbaik selain pemeriksaan psikologik. Hasil pengamatan orangtua, guru maupun orang sekitarnya akan diperkuat dugaannya oleh psikolog. Hal ini disebabkan karena psikolog memiliki metode dan instrumen untuk menggali potensi kecerdasan dan bakat individu. Sekolah mutu baik senantiasa memiliki seorang psikolog sekolah (school psychologist).
 
Apa yang dilakukan sekolah jika ternyata anak tergolong sebagai anak berbakat? Tidak ada cara terbaik selain memberikan anak Individualized Education Program (IEP) yang akan membawa anak kepada pendidikan khusus sesuai kebutuhan dirinya. Program pendidikan individual dibuat oleh tim yang mendapat masukan-masukan dari guru maupun orangtua berdasarkan kekuatan-keunggulan (strengths) yang dimiliki anak.
 
Tim yang terdiri dari mereka yang memiliki latar belakang pendidikan khusus, dan guru anak berbakat akan bekerjasama membuat perencanaan dan pelaksanaan IEP tersebut. Anak-anak dengan kecacatan penglihatan, pendengaran, ataupun fisik, namun sekaligus tergolong anak berbakat dapat menggunakan kekuatan intelektualnya untuk mempelajari keterampilan-keterampilan lain yang dapat mengkompensasi kekurangan dirinya.
 
Anak berbakat dengan kesulitan belajar (learning disabilities/LD) atau gangguan perilaku (behavior disorders) yang memiliki kecerdasan tinggi dibantu untuk dapat memecahkan masalah atau strategi metakognitif dalam tugas-tugas akademik dan tugas sosial, Sehingga mereka dapat sukses di sekolah. Anak dengan kategori kesulitan belajar (LD) dapat digolongkan dalam handicapped gifted.
 
Biasanya penyebabnya tidak diketahui, dan penyembuhannya sampai saat ini masih terus dikembangkan agar anak dapat dengan sukses mengikuti pendidikan di sekolah. Secara umum biasanya pendekatan pendidikan bagi anak berbakat yang tergolong LD ini melalui analisis tugas-tugas akademik untuk melihat keunggulan dan kelemahannya. Siswa banyak membutuhkan keterampilan mengorganisasi, seperti manajemen waktu, mencatat, merekam pelajaran, sekuens topik-topik pelajaran, keterampilan dasar menulis, dan lain sebagainya.
 
Program Remedial
Pada pendidikan khusus yang konvensional, fokus utama terletak pada program remedial, daripada pengembangan sebagai kompensasi untuk keunggulan siswa. Guru-guru anak berbakat dapat memberikan instruksi tambahan dengan menggunakan keunggulan-keunggulan anak. Ini untuk menangkap minat-minat anak dan memotivasi mereka agar dapat mengikuti pelajaran yang lebih tinggi (advanced study) dan persistensi dalam tugasnya. Sedangkan pelayanan pekerja  sosial dapat membantu anak di rumah untuk meningkatkan harga dirinya.

 
Akhirnya, guru anak berbakat dapat menyediakan layanan pendidikan pengayaan maupun percepatan belajar untuk membuat belajar lebih menantang dan menarik anak. Intinya dalam pendidikan anak cacat berbakat, guru memusatkan perhatian pada keunggulan diri anak dan memberikan layanan yang sesuai sebagai hadiah atas kemampuannya yang tinggi.


Sumber: http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelSpecialNeeds.php?artikelID=415

Guru Harus Pahami Anak Berbakat

Seorang guru harus memahami kemam-puan anak-anak didiknya, apakah ia tergo-long biasa atau malah berbakat. Jangan salah memperlakukan anak berbakat.”
.................................
Setiap anak manusia terlahir hakekatnya telah membawa ‘modal dasar’ berupa potential ability untuk perkembangan selanjutnya. Namun setiap anak sekalipun ia lahir kembar, tidak ada yang sama. Artinya pula setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Ada anak yang memiliki potensi biasa-biasa, ada pula yang membawa potensi luar biasa.


Perbedaan individual ini menyebabkan tidak mudah memberikan pelayanan yang sesuai dengan masing-masing anak. Jika perbedaan itu tidak cukup signifikan, maka pelayanan secara massal atau kolektif dapat dilakukan. Jika perbedaan itu sangat men-colok, misalnya tingkat kecerdasan, kreati-vitas, kecacatan, dan motivasi, maka pada kondisi anak-anak seperti ini, maka diperlu-kan pelayanan dan perlakuan tersendiri sesuai potensi individualnya untuk mencapai perkembangan yang optimal yang sesuai dengan kebutuhan khususnya.


Anak-anak yang memiliki kelebihan potensi individual sering diidentikkan sebagai anak berbakat. Seorang anak dikategorikan anak berbakat, tak semata-mata karena mudah memahami segala sesuatu, mempunyai daya ingat baik serta mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan cepat. Bisa jadi mereka bukan siswa yang selalu berprestasi. Namun, ada sesuatu yang membedakan dirinya dengan siswa lain di kelas, yakni kewaspadaan (alertness), kemampuan memahami (quick insights), dan keterampilan lain yang lebih hebat dari anak lain seusianya. Hal ini membuat anak mampu menunjukkan prestasi luar biasa di sekolah. Satu ciri pasti yang ditunjukkan anak berbakat umumnya adalah skor IQ-nya tinggi.


Sementara pandangan lain yaitu pandangan yang berdasarkan dari sudut pandang berdimensi ganda. Menurut pandangan ini keterbakatan tidak hanya ditinjau dari segi kecerdasan tapi juga dilihat dari segi prestasi, kreativitas, dan karakteristik pribadi/sosial lainnya; dilihat dari segi kemampuan yang bersifat potensial maupun aktual (prestasi).


Hasil penelitian dan pengamatan dari para ahli menunjukkan bahwa anak berba-kat memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dari anak lain pada umum-nya. Karakteristik dan kebutuhan yang mencakup aspek-aspek: intelektual, akademik, kreativitas, kepemimpinan, dan sosial, seni, afeksi, sensoris fisik, intuisi, dan ekologis.


Bagaimana perasaan guru jika ada anak didiknya yang diidentifikasi sebagai anak berbakat? Takjub? Bingung? Senang? Atau malah gelisah?
Harus diingat bahwa ternyata ada perla-kuan khusus bagi anak-anak yang memiliki kelebihan potensi di negara ini. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan antara lain bahwa “warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (Pasal 5, ayat 4). Di samping itu juga dikatakan bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya” (pasal 12, ayat 1b).


Memperlakukan anak-anak berbakat menjadi tugas penting seorang guru, di samping tentu pula memperhatikan anak-anak didik lainnya dalam kategori yang bebeda. Itu sebabnya sejak awal guru harus mulai menyadari si anak akan memiliki peri-laku berbeda dengan teman-teman sebaya-nya. Semakin tinggi skor IQ anak, kian mem-buat anak menjadi tidak tipikal. Biasanya 3-5% persen anak dari populasi sekolah tergolong gifted (berbakat). Jika ada 1000 siswa, maka paling tidak ada 30-50 anak yang tergolong gifted. Jika dalam sebuah kelas ada 40 anak, maka kemungkinan ada 2-3 anak yang tergolong berbakat.
 

Ciri Anak Berbakat
Untuk mengidentifikasi seorang anak apakah berbakat atau tidak, tidak terlalu sulit. Para guru dapat mempelajarai ciri-ciri anak berbakat. Menurut Treffinger, anak berbakat memiliki beberapa karakteristik yaitu: rasa ingin tahu yang tinggi, berimaginasi, produktif, independen dalam berpikir dan menilai, memiliki ketekunan, bersikukuh dalam menyelesaikan masalah dan berkonsentrasi ke masa depan dan hal-hal yang belum diketahuinya.
 

Sementara menurut Hoyle dan Wiks mendeskripsikan bahwa anak-anak berbakat menampilkan ciri-ciri perkembangan fisik yakni memiliki kemampuan berpikir superior, berpikir abstrak, menggeneralisir fakta, memahami makna dan hubungan, memiliki hasrat ingin tahu, bersikap mudah untuk belajar, mimiliki rentan minat yang luas. Selain itu anak memiliki kecakapan bekerja secara efektif dan mandiri, anak mampu mengingat secara cepat dan mampu membaca cepat. Ciri lainnya anak memiliki imajinasi yang luar biasa, menunjukkan inisiatif dan originalitas pekerjaan intelektual dan memiliki berbagai hobi.
 

Apabila karakterisitik tersebut tidak tersalurkan sebagaimana mestinya maka akan muncul masalah-masalah perkembangan berupa kebosanan terhadap pelajaran reguler, kesulitan hubungan sosial dalam kelompok seusianya, dan sulit berkonformitas pada kelompok.
 

Soal hobi misalnya, secara umum anak berbakat suka mengoleksi hal-hal yang menjadi minatnya. Misalnya perangko, komik, stiker, gantungan kunci, kerang dan lain-lainnya. Penuhilah kebutuhannya menjadi kolektor, karena melalui koleksi yang dimilikinya, kemampuan abstraksi anak menjadi semakin berkembang. Melalui koleksi ini anak akan mencari hal-hal yang sama, misalnya warna, ukuran, tekstur, atau ciri lainnya sehingga anak belajar melakukan klasifikasi dan perbandingan.
 

Perbedaan
Hal yang harus dipahami para pendidik bahwa anak berbakat berbeda perkembangannya dibanding teman sebayanya. Apalagi jika tingkat kecerdasan anak semakin tinggi. Kecendrungan bahwa secara fisik anak berbakat lebih kuat, lebih besar, dan lebih sehat dari anak normal. Reaksi-reaksi fisik terjadi lebih cepat dan lebih awal dari anak-anak biasa karena secara intelektual dia lebih mampu menyerap informasi dan stimulus dari luar. Perkembangan psikomotorik dan kemampuan koordinasi anak berbakat cenderung lebih cepat dari rata-rata.
 

Menurut Dr. Reni Akbar Hawadi Psi, Ketua Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, perbedaan-perbedaan yang dimiliki anak berbakat akan membuatnya merasa terasing dalam perkembangannya saat dia merasa harus bermain dan membangun persahabatan dengan anak-anak lain.
Bagi anak berbakat kebutuhan sosial dan emosional ini tidak dengan serta merta diperolehnya. Dikarenakan kelangkaan dan karakteristiknya, maka anak berbakat akan dilihat sebagai orang aneh dalam kelompok sosialnya. Ini sebenarnya yang menjadi tantangan diri seorang anak berbakat sesungguhnya. Anak harus mampu membawa dirinya agar bisa diterima baik oleh anak-anak yang lain.
 

“Perbedaan yang dimiliki anak berbakat sudah dapat dideteksi sejak bayi, seperti bisa berjalan atau berbicara lebih dini. Perkemba-ngan anak berbakat berada di atas 30 persen anak seusianya. Anak berbakat sering kali mampu melewati kesulitan belajar lebih cepat dari teman sebayanya,” ujar Reni.
Perkembangan yang cepat pada anak berbakat membawa konsekuensi adanya kebutuhan yang berbeda pada dirinya. Sebaiknya guru dan orang tua mendukung dan merangsang anak, namun tidak dengan tuntutan berlebihan. Jangan menghambat perkembangan unik anak dengan melemah-kan keinginannya mengeksplorasi lingku-ngan. Kebanyakan orang tua baru menya-dari anaknya tergolong anak berbakat saat mulai masuk prasekolah. Agar penanganan anak tidak terhambat, Reni menyarankan agar setiap orang tua memiliki semacam buku harian mencatat setiap perkembangan anak, “Pastikan mencatat setiap kali perilaku anak yang tidak biasa (unusual),” katanya.
 

Bakat pada Tingkatan Usia Sekolah
Di kelas-kelas Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar anak-anak berbakat sering tidak menunjukkan prestasi yang menonjol. Sebaliknya justru menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, misalnya: tulisannya tidak teratur, mudah bosan dengan cara guru mengajar, terlalu cepat menyelesaikan tugas tetapi kurang teliti, dan sebagainya. Yang menjadi minat dan perhatiannya kadang-kadang justru hal-hal yan gtidak diajarkan di kelas.
 

Tulisan anak berbakat sering kurang ter-atur karena ada perbedaan perkembangan antara perkembangan kognitif (pemahaman, pikiran) dan perkembangan motorik, dalam hal ini gerakan tangan dan jari untuk menu-lis. Perkembangan pikirannya jauh lebih cepat daripada perkembangan motoriknya. Demikian juga seringkali ada perbedaan antara perkembangan kognitif dan perkemba-ngan bahasanya, sehingga dia menjadi berbicara agak gagap karena pikirannya lebih cepat daripada alat-alat bicara di mulutnya.
 

Pada tingkat SLTP anak-anak berbakat dapat diidentifikasi pula. Misalnya kemam-puan inteligensi umum yang sangat tinggi, biasanya ditunjukkan dengan perolehan tes inteligensi yang sangat tinggi, misal IQ di atas 120. Atau anak memiliki bakat istimewa dalam bidang tertentu, misalnya bidang bahasa, matematika, seni, dan lain-lain. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan prestasi isti-mewa dalam bidang-bidang tersebut. Hal lain anak berkreativitas yang tinggi dalam berpi-kir, yaitu kemampuan untuk menemukan ide-ide baru. Aspek bakat anak juga dapat dilihat dari kemampuan memimpin yang menonjol, yaitu kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kelompok. Atau anak memiliki prestasi-prestasi istimewa dalam bidang seni atau bidang lain, misalnya seni musik, drama, tari, lukis, dan lain-lain.
 

Pertanyaannya, bila di dunia ini selalu ada anak-anak berbakat, perlukah sekolah khusus untuk anak berbakat? Tentu perlu, tapi itu bukan hal yang mudah untuk mewujudkannya. Yang jelas di setiap sekolah selalu ada anak yang berbakat, di setiap kelas selalu ada anak yang memiliki kelebihan di banding teman-temannya.
 

Di Indonesia hingga kini kita hanya mengenal kelas akselerasi (percepatan) untuk anak-anak berbakat (gifted children). Sesungguhnya kelas akselerasi sudah banyak ditinggalkan, anak berbakat yang paling tepat adalah masuk ke kelas inklusi. Andaikan hanya mengupayakan kelas akselerasi saja, anak ini tidak akan terdeteksi sebagai anak berbakat dan juga tidak akan menerima pendidikan sebagaimana keunikan, kesulitan, dan kebutuhannya. Kesemua ini mengancam nasibnya di kemudian hari.
 

Apa yang dibutuhkannya anak-anak berbakat dalam pendidikannya adalah bimbingan guru yang memahami berbagai karakteristiknya, personalitasnya, tumbuh kembangnya, gaya berpikir, dan gaya belajarnya, yang memang berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
 

Mereka butuh pendekatan pembelajaran dua arah sekaligus. Pertama ke arah kesuli-tannya di mana ia membutuhkan dukungan, stimulasi, terapi, remedial teaching, dan kesabaran. Kedua, membutuhkan berbagai materi yang sesuai dengan karakteristik berpikir seorang anak berbakat yang lebih kepada materi yang penuh tantangan pengembangan kreativitas dan analisis.
 

Sekolah reguler sebenarnya juga mampu menerima anak-anak berbakat agar dapat mengikuti pendidikan bersama anak lainnya, sekaligus juga menerima layanan pengemba-ngan keberbakatan, namun yang lebih khu-sus lagi adalah kelas atau sekolah inklusi.
 

Pendek kata, dalam hal ini guru harus memperlakukan semua anak didiknya dengan adil dan bijaksana. Memang ada beberapa perlakuan yang sifatnya umum dan dapat diberlakukan untuk banyak anak, tetapi seharusnya tidak boleh mengorbankan kebutuhan individual anak termasuk untuk anak-anak berbakat.
 

(dari berbagai sumber/agus ponda/ganesha)

7 Tokoh dapat Anugerah Keberbakatan UI

KAMPUS UI, MONDE: Universitas Indonesia memberikan penghargaan berupa Anugerah Keberbakatan sebagai ungkapan terima kasih dan rasa hormat atas jasa para tokoh yang mendorong dan mengembangkan pendidikan keberbakatan Indonesia, kemarin.
 
Para penerima yaitu alm Slamet Iman Santoso, Daoed Joesoef, Conny Semiawan, Utami Munandar, almh Ny Tobing, H Maulwi Saelan, dan Indra Djati Sidi.

“Slamet yng di kemudian hari dikenal sebagai Bapak Psikologi Indonesia, ternyata dalam pidato pengukuhan beliau sebagai Guru Besar UI di ITB tahun 1952, berbicara tentang keberbakatan,” ungkap Ketua Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi UI, Reni Akbar Hawadi.

Untuk itu, kata dia, beliau patut mendapat Anugerah Keberbakatan Satya Dharma Keberbakatan Bidang Pelopor Pendidikan Keberbakatan.
Ditambahkannya, Conny Semiawan dan Utami Munandar merupakan dua sejoli tiang pancang pendidikan keberbakatan. “Menurut saya mereka adalah tokoh perintis keberbakatan Indonesia.”

Daoed Joesoef merupakan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang telah mendukung layanan pendidikan khusus bagi anak berbakat.

Sedangkan Mantan Dirjen Dikdasmen Indra Djati Sidi mengeluarkan SK Ijin Operasional Sekolah Penyelenggara Program Akselerasi di tengah kegalauan dua sekolah swasta yang ingin menyelenggarakan akselerasi.

Dalam acara ini hadir siswa akseleran dari SMP 11, 19, 41, 49, 115, dan 252 Jakarta yang menampilkan berbagai kemampuan a.l. menyanyi, menari, dan memainkan musik seperti biola dan keyboard.(m-9)

Sumber: MonitorDepok.Com – EDUKASI, 23-Feb-2007

Inilah Mitos Tentang Anak Berbakat

Sebenarnya, seorang anak terlahir dengan bakatnya masing-masing. Seorang anak bisa dikatakan berbakat, bukan semata-mata karena si kecil mudah memahami segala sesuatu, memiliki daya ingat yang baik serta mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan cepat. Tapi anak berbakat terlihat dari seberapa besar dia mempunyai minat dalam bidang tertentu. Hal ini sering ditunjukan dengan skor IQ yang lebih tinggi.

Mungkin si kecil bukan anak berprestasi di sekolah, tapi ini tidak menutup kemungkinan si kecil memiliki bakat lainnya. Hal ini karena ada yang membedakan antara bakat dan prestasi, yakni tingkat kewaspadaan atau alertness, keterampilan dalam bidang lain, serta kemampuan dalam memahami sesuatu atau yang biasa disebut dengan quick insights.
Berikut merupakan beberapa mitos yang sering kita dengar dan masih dipercaya di masyarakat tentang anak berbakat.

Anak berbakat akan hidup dalam perbedaan

Memang benar, anak berbakat memiliki perbedaan dalam hal perkembangan jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Tapi menurut Dr Reni Akbar Hawadi Psi, yang merupakan Ketua Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, segala perbedaan yang dimiliki anak berbakat memang akan membuatnya merasa terasing, tapi ini tidak menjadi patokan, karena banyak anak yang hidup terasing justru memiliki tingkat skor IQ yang tinggi.

Gaya belajar anak berbakat lebih aktif

Banyak yang beranggapan kalau anak berbakat akan memiliki gaya belajar yang unik, mereka akan aktif menjelajah lingkungannya dan tertarik pada satu bidang tertentu. Padahal ini keliru, mereka yang tertarik kepada bidang tertentu bukan berarti berbakat pada bidang tersebut. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau ketertarikan ini akan berpengaruh kepada kemampuan seseorang. Bukan karena bakat, tapi ini lebih kepada karena latihan.

Anak berbakat lebih mudah berbicara

Banyak yang percaya kalau anak berbakat akan terlihat dari gaya bicaranya. Mereka terlihat tegas, punya pola pikir yang out of the box, serta cenderung ngoceh dan gaya bicaranya tidak mencerminkan anak di usianya (terlihat lebih dewasa). Anggapan ini memang bisa dibenarkan, karena anak berbakat biasanya akan cenderung luwes dan memiliki kreatifitas yang tinggi. Hal ini terlihat dari pola pikirnya yang out of the box.

Sumber:  https://bundakonicare.com/article/mitos-fakta/inilah-mitos-tentang-anak-berbakat

PAUD Tahapan Penting Untuk Perkembangan Anak

KANALNEWS.co – Jakarta, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi menegasakan, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahapan penting untuk perkembangan anak.  Menurutnya pendidikan yang diberikan untuk anak berusia 3-5 tahun ini tidak hanya mengenalkan anak pada aktivitas fisik dan berkenalan dengan teman sebaya, tetapi juga beberapa manfaat lain.

“Kegiatan di PAUD dapat memberi rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak usia prasekolah. Seluruh aktivitasnya dilakukan melalui pendekatan bermain sambil belajar,” ujar Prof Reni Hawadi sapaan akrabnya dalam acara bincang Nutritalk Sarihusada yang mengambil tema Menumbuhkan Kecintaan Anak pada Gizi Sejak Dini, yang diadakan di Restoran Kembang Goela, Jakarta, Selasa (21/5/2013).

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia ini menjelaskan, selain memberikan kesempatan pada anak untuk mengenal sekolah, PAUD juga menanamkan kejujuran, disiplin, dan berbagai hal positif lain. Anak yang sebelumnya mendapatkan pendidikan di PAUD seringkali memiliki kemampuan untuk komunikasi lebih baik saat sekolah. Hal ini dikarenakan ia sudah terbiasa untuk bermain, belajar, hingga makan bersama dengan teman yang memiliki usia sebaya.

“Remaja yang memiliki masalah mental, seringkali dicari kemungkinan pernah mengalami trauma saat kecil. Ini karena pendidikan karakter sangat baik dimulai sejak dini, oleh karena itu sejak masih berusia prasekolah anak penting untuk diberikan contoh dan kegiatan positif,” imbuh Prof Reni.

Prof Reni juga menjelaskan yang paling penting dalam memilih PAUD adalah dengan memperhatikan jarak tempuh dari rumah ke PAUD, jangan memilih PAUD yang lokasinya terlalu jauh. Hal ini akan mengakibatkan anak sudah letih dalam perjalanan dan ia cenderung akan malas untuk beraktivitas kembali.
Selain itu, Prof Reni juga menggarisbawahi tentang latar belakang para pendidik, menurutnya pengajar untuk PAUD minimal Sekolah Menengah Atas dan untuk Taman Kanak-kanak lulusan Sarjana.

“Hal ini sangat berpengaruh pada bagaimana pola pengajaran yang akan ia terapkan. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kurikulum PAUD, serta sarana dan prasarana yang terdapat di PAUD,” ujar Prof Reni.

Prof Reni juga menyarankan orang tua, khususnya ibu, untuk tetap ‘mengawal’ pendidikan anak. Ini dikarenakan ibu memiliki peran sebagai pendidik utama bagi anak meskipun anak telah mendapatkan pendidikan di PAUD.

Editor : Herwan

Pendidikan Nasional Belum Sentuh Kebutuhan Individu

DEPOK, POS KUPANG.com -- Sistem pendidikan nasional di Indonesia belum menyentuh kebutuhan peserta didik secara individu.
Demikian Guru Besar Bidang Psikologi Pendidikan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Reni Akbar Hawadi dalam pidato pengukuhannya, di Balai Sidang UI, Depok, Rabu (1/7/2009).

"Akibatnya pendidikan yang diterima peserta didik dirasakan tidak sesuai dengan kebutuhan inividu sehingga berujung pada rendahnya daya saing individu di dunia kerja," kata Reni 
Ia mengatakan, ketidaktepatan antara jenis sekolah dengan  kemampuan umum (kecerdasan intelektual) peserta didik turut berkontribusi pada meningkatnya pengangguran serta daya saing dan indeks pertumbuhan manusia Indonesia yang rendah.

"Pemerintah seharusnya melakukan diversifikasi jenis pendidikan mulai dari jenjang SMP," kata Reni yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Pusat Kajian Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Menurut dia, tidak semua murid SD memiliki kecerdasan intelektual memadai untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.

Untuk itu diperlukan sekolah setara SMP untuk menampung peserta didik dengan IQ berkisar 70-89. Kelompok IQ tersebut (tergolong sebagai anak lamban belajar atau slow learner), perlu diberikan "ruang" khusus agar tetap menjaga kepercayaan dan harga diri mereka.


Pada prinsipnya lanjut dia, slow learner tersebut tetap memiliki masa depan yang cerah, asalkan mereka bersekolah dan bekerja dalam bidang yang sesuai kemampuan mereka. Ia mengatakan, bagi murid SMP yang memiliki kecerdasan rata-rata disarankan agar tidak melanjutkan ke SMA, tetapi ke SMK sesuai kemampuan, bakat dan minat mereka.

Untuk itu perlu didorong pengembangan ragam SMK sesuai tuntutan dunia kerja. Setamat SMK siswa dapat melanjutkan ke program vokasional dan spesialis. Sedangkan murid SD dengan kecerdasan tinggi diarahkan untuk terus melanjutkan ke  SMP, SMA dan perguruan tinggi. (ant)


Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Pendidikan Nasional Belum Sentuh Kebutuhan Individu, http://kupang.tribunnews.com/2010/07/03/pendidikan-nasional-belum-sentuh-kebutuhan-individu.

Anak Usia Dini, Aset Paling Berharga

“Anak usia dini adalah aset paling berharga yang dimiliki sebuah negara. Oleh karena itu menjadi kewajiban semua pihak baik keluarga, masyarakat, maupun  negara untuk memberikan dukungannya terhadap tumbuh kembang anak, terutama sejak usia lahir hingga enam tahun, bahkan setelahnya,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi yang akrab disapa Reni Akbar Hawadi.
Dirjen mengungkapkan hal diatas saat membuka konferensi internasional tentang PAUD yang diselenggarakan atas kerja sama antara Bank Dunia, ARNEC (Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood), dan Koalisi Nasional PAUDNI di Hotel Sultan, awal pekan ini.

Dalam pertemuan yang dihadiri pakar pendidikan dari beberapa negara itu, Guru Besar Psikologi Anak Universitas Indonesia tersebut menambahkan, karena begitu pentingnya perkembangan anak usia dini ini maka pemerintah Indonesia menjadikan PAUD salah satu topik utama dalam pembangunan.

“Saya berharap dalam pertemuan ini para peserta dapat berbagi pengalaman sekaligus dapat memberikan akses pendidikan dan pengembangan anak usia dini,” tambahnya.

Selain itu, Dirjen PAUDNI menilai konferensi internasional ini bisa dijadikan ajang untuk saling berbagi informasi mengenai kebijakan, hasil penelitian, dan juga inisiatif lainnya dalam pengembangan  anak usia dini yang begitu beragam baik dari segi keilmuan maupun geografis. (AgusW)

Sistem Pendidikan Belum Optimal

JAKARTA -- Sistem pendidikan di Indonesia belum optimal dalam memperhatikan masalah individual differences  pada peserta didik. Akibatnya, pendidikan yang diterima peserta didik dirasakan tidak sesuai dengan kebutuhan inividu sehingga berujung pada rendahnya daya saing individu di dunia kerja. Ketidaktepatan antara jenis sekolah dengan  kemampuan umum (kecerdasan intelektual) peserta didik turut berkontribusi pada meningkatnya pengangguran, daya saing, serta  indeks pertumbuhan manusia Indonesia yang rendah. 

Penilaian itu dikemukakan oleh Kepala Pusat Pusat Kajian Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Reni Akbar Hawadi dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Psikologi Pendidikan UI di Jakarta, Rabu (1/7). Perempuan yang pernah menjadi Konsultan Psikologi  Bidang Pendidikan Anak Berbakat dan Berkemampuan Luar Biasa ini menyampaikan pidato pengukuhan berjudul 'Membangun Peran Psikolog dalam Pendidikan Nasional'.

Dalam pidato pengukuhannya, Reni Akbar merekomendasikan agar pemerintah melakukan diversifikasi jenis pendidikan taraf  mulai dari jenjang SMP, mengingat  tidak semua murid SD memiliki kecerdasan intelektual memadai untuk melanjutkan pendidikan ke SMP. Karena itu, diperlukan sekolah setaraf SMP untuk menampung peserta didik dengan IQ berkisar 70-89. "Kelompok IQ tersebut (tergolong sebagai anak lamban belajar atau slow learner ), perlu diberikan ruang khusus agar tetap menjaga kepercayaan dan harga diri mereka," tuturnya. 

Pada prinsipnya, kata mantan Dewan Redaksi Majalah Perkawinan dan Keluarga ini, slow learner tersebut tetap memiliki masa depan yang cerah asalkan bersekolah dan bekerja dalam bidang yang sesuai kemampuan mereka. Bagi murid SMP yang memiliki kecerdasan rata-rata, Reni menyarankan agar  tidak  melanjutkan ke SMA, tetapi ke SMK sesuai kemampuan, bakat, dan minatnya. Untuk itu perlu didorong pengembangan ragam SMK sesuai tuntutan dunia kerja. Setamat SMK siswa dapat melanjutkan ke program vokasional dan spesialis.

Bagi murid SD yang dengan kecerdasan tinggi, menurut dia, diarahkan untuk terus melanjutkan ke  SMP, SMA, dan universitas. Khusus mereka dengan klasifikasi highly gifted (IQ diatas 145), disarankan dididik khusus dan diberi beasiswa  untuk mengembangkan diri dalam  bidang-bidang yang relevan dan signifikan bagi perkembangan bangsa dan negara di era milenium ketiga ini, seperti bidang Teknologi Informasi (Information Technology), Teknologi Material (Materials Technology), Genetika  (Genetics) dan Teknologi Energi  (Energy Technology) dan Lingkungan (Environmentalism). Mereka inilah yang akan menjadi knowledge worker bangsa Indonesia di masa depan.

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/09/07/02/59622-sistem-pendidikan-belum-optimal

Kamis, 19 Juli 2018

Masalah yang Dihadapi Setelah Bercerai

Seorang ibu dapat menjadi single mother akibat perceraian. Proses perceraian biasanya stressful dan bahkan traumatis bagi sebagian orang. Orang tua yang bercerai harus berhadapan dengan tantangan-tantangan yang meliputi kesepian dan isolasi, masalah-masalah keuangan, dan beban kerja yang berlebihan. Dalam buku Psikologi Perkembangan Anak: Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak oleh Reni Hawadi Akbar pada tahun 2001, beberapa masalah yang dihadapi oleh orang-orang yang bercerai, baik pihak wanita maupun pria, seperti di bawah ini:

Masalah ekonomi
Setelah perceraian, suami maupun istri akan mengalami pengurangan pemasukan, karena penghasilan suami kini harus menafkahi dua rumah tangga. Sering, para wanita yang bercerai harus mencari pekerjaan untuk menyokong tunjangan yang mungkin diberikan suami, dan untuk memenuhi biaya hidup anak-anaknya.

Masalah praktis
Walaupun suami hanya membantu beberapa tugas rumah tangga sebelum perceraian, masalah ini pun dapat terjadi, karena kini istri harus bertanggung jawab sendiri terhadap semua pekerjaan rumah tangga.

Masalah psikologis
Baik pihak wanita maupun pria, setelah perceraian mereka cenderung merasakan perasaan-perasaan seperti perasaan tak menentu dan kehilangan identitas. Masalah-masalah ini lebih banyak terjadi pada wanita, yang tadinya mengasosiasikan identitasnya dengan identitas suaminya.

Masalah emosional
Pada banyak wanita, perasaan-perasaan seperti rasa bersalah, rasa malu, kebencian dan dendam, kemarahan, serta kecemasan terhadap masa depan biasanya menjadi sangat dominan dalam diri mereka, bahkan dapat mengubah kepribadiannya.

Masalah sosial
Wanita yang bercerai biasanya merasa ditinggalkan, dan menjadi ”terkunci” dalam dunia bersama anak-anak mereka. Kehidupan sosial mereka hanya terbatas pada aktivitas bersama kerabat dan teman-teman dari jenis kelamin yang sama.

Masalah karena kesepian
Ketika telah terbiasa berada dalam companionship dengan pasangan, wanita (dan pria) yang bercerai akan merasa kesepian ketika mereka kehilangan companionship dari seseorang yang memiliki nilai-nilai dan ketertarikan yang sama.

Masalah karena pembagian hak pengasuhan anak
Ketika hak pengasuhan anak dibagi kepada kedua orang tua setelah bercerai, masing-masing orang tua yang bercerai akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian, baik terhadap diri mereka sendiri maupun anak-anak mereka. Masalah terjadi ketika misalnya, anak tidak patuh pada satu orang tua, setelah ia berada bersama orang tua yang lain.

Masalah seksual
Setelah bercerai, kedua belah pihak masing-masing akan merasa kekurangan aktivitas seksual yang biasa dilakukan, kecuali mereka menikah lagi segera setelah bercerai. Wanita yang memiliki anak biasanya akan kesulitan untuk memikirkan alternatif ini, sehingga interval waktu setelah bercerai dan menikah kembali (remarried) cenderung lebih panjang pada wanita daripada pria.

Masalah-masalah perubahan konsep diri
Tanpa memperhatikan pihak mana yang menimbulkan masalah yang mengakibatkan perceraian, kedua belah pihak biasanya akan merasakan rasa kegagalan karena pernikahan mereka tidak berhasil, dan merasakan perasaan benci atau dendam terhadap satu sama lain. Perasaan-perasaan ini, tanpa bisa dihindari, akan mewarnai konsep diri mereka yang mengarah kepada perubahan kepribadian.

Diharapkan dengan mengetahui beberapa masalah di atas, akan membantu mempersiapkan berbagai macam cara menghadapi kehidupan setelah perceraian. Walaupun perceraian akan menimbulkan masalah terutama anak, tetapi juga merupakan jalan bagi mereka yang memang membutuhkan perceraian sebagai solusi atas masalah mereka. Setiap orang berbeda-beda dan kita harus menghargai keputusan setiap orang.

Sumber: http://www.psikologizone.com/masalah-yang-dihadapi-setelah-bercerai/065111063

Pemkot Bekasi Berikan Honor Untuk Tutor PAUD

Bekasi Utara, Kota Bekasi [SAPULIDI News] - Mulai tahun 2013 Pemerintah Kota Bekasi akan memberikan insentif terhadap seluruh tutor dan guru PAUD yang ada di 12 kecamatan se Kota Bekasi.

Hal ini disampaikan oleh, Walikota Bekasi, Dr. H. Rahmat Effendi melalui Kepala Bidang PNFI dan PAUD Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ujang Teddy.

"Mulai tahun depan sesuai dengan arahan pak walikota seluruh tutor dan PAUD yang jumlahnya 5.470-an orang akan mendapatkan insentif tambahan dari APBD Kota Bekasi sebesar Rp. 100 ribu per bulan. Insentif ini akan dibayarkan setiap 3 bulan sekali," kata Ujang Teddy saat memberikan sambutan dalam kegiatan workshop Pelatihan Gerak Motorik Dasar, Senam Irama Ceria 2 yang dilaksanakan oleh HIMPAUDI Kecamatan Bekasi Utara di lapangan Kantor Kecamatan, Sabtu, (17/11).

Insentif ini tahun 2012 dibayarkan akhir desember dan tidak semua guru dan tutor PAUD mendapatkannya. Namun mulai tahun 2013 sesuai dengan program Walikota Bekasi seluruh guru dan tutor PAUD akan mendapatkan insentif tersebut.

Terpisah, Ibu Eti Ketua HIMPAUDI Kecamatan Bekasi Utara berharap insentif ini menjadi motifasi baginya bersama guru PAUD lainnya untuk mencapai target pada program Pendidikan Untuk Semua (PUS) sesuai target Pemerintah hingga 2014.
 
Indonesia Peringkat 64
Program Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau Education for All yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI) berhasil mendongkrak peringkat Indonesia dalam Education For All Global Monitoring Report (EFA-GMR).

Pada tahun 2011 Indonesia menempati rangking 69 dari 127 negara, tahun ini Indonesia berada di posisi 64.

Direktur Jenderal PAUDNI Lydia Freyani Hawadi menuturkan kenaikan peringkat tersebut sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pelaksanaan program PUS.

"Keberhasilan program ini karena didukung oleh pemerintah daerah. Oleh karena itu saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada pemerintah provinsi, kabupaten/kota yang telah mengganggarkan dana APBD untuk meningkatkan program PUS di daerah," urai Dirjen PAUDNI beberapa hari yang lalu di Bandung Jawa Barat.

Penilaian yang dilakukan oleh UNESCO setiap tahun tersebut memiliki 4 indikator. Pertama, Angka Partisipasi Murni Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah. Kedua, Angka Bertahan sampai tingkat V SD/MI. Ketiga, Angka Melek Huruf Penduduk Usia Di Atas 15 Tahun. Keempat Indeks Spesifik Gender.

Prestasi PAUD dan Melek Aksara
Prestasi yang diraih ini bukan tanpa sebab. Tengok saja capaian Kemdikbud dalam menurunkan angka buta aksara. Data melek aksara penduduk di atas 15 tahun secara nasional pada akhir 2011 telah mencapai 95,2 persen.

"Diharapkan akhir tahun 2014 dapat mencapai 95,8 persen," ucap Reni Hawadi, sapaan Dirjen PAUDNI. Selain itu masih terdapat sederet capaian lain yang terkait program PUS, yaitu tertampungnya lulusan program kecakapan hidup di dunia kerja, serta meningkatnya jumlah pendidik PAUDNI.

Belum lagi Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD usia 3-6 tahun yang telah mencapai 55,91%. "Akhir tahun 2014, APK PAUD dapat mencapai target kesepakatan Dakkar, yaitu 72,9%," ucapnya optimis. (bang imam/dirjen PAUDNI)

Haram Hukumnya Ajarkan Calistung dalam Kurikulum PAUD

Oleh: Yuansyah Satya
Seperti diketahui, PAUD dikhususkan bagi anak-anak usia 3-6 tahun, salah satu materi yang diajarkan adalah memperkenalkan anak didik dengan berbagai pengetahuan dengan metode yang menyenangkan sebagai persiapan untuk masuk ke pendidikan formal yakni sekolah dasar.

Pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini dinilai masih cukup rendah. Ini terlihat dengan masih adanya penerapan ujian calistung bagi lulusan TK untuk menuju Sekolah Dasar (SD), sehingga berakibat pada masih rendahnya angka partisipasi siswa pada pendidikan dini tersebut.

Saat ini diperlukan penekanan agar adanya peningkatan sosialisasi PAUD untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang PAUD. Guru Besar Psikologi UI ini mencontohkan bahwa masyarakat sering melihat adanya dikotomi antara Taman Kanak-Kanak dan PAUD. "Di masa lalu, TK dimaknai sebagai entitas yang bertugas mempersiapkan anak didik untuk memasuki sekolah dasar," ujarDirjen Pendidikan Usia Dini (PAUD), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof Dr. Lydia Freyani Hawadi.
Hal ini berimplikasi dalam metoda pengajaran yang melakukan “drilling” pembelajaran agar alumnus TK menguasai kemampuan CALISTUNG (baCA, tuLIS, hiTUNG) untuk memasuki sekolah dasar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) 17 Tahun 2010 hal itu kini tidak diperkenankan, karena selain membuat anak menjadi terbebani, penerapan ujian calistung juga bisa menghambat peningkatan angka partisipasi PAUD.
“Pembelajaran calistung tidak boleh difokuskan pada penyelenggaran pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK). Anak didik TK boleh diajari calistung, tapi tanpa paksaan dan melalui cara yang menyenangkan,” ujar Reni.
Saat ini TK merupakan bagian dari Pendidikan Usia Dini, yang tetap mempersiapkan anak didik untuk memasuki sekolah dasar dengan metoda yang menyenangkan sehingga setiap anak tidak akan merasa jenuh dan lelah di usia dini, yang kelak dapat berpotensi mengurangi kemampuan mereka di masa datang.
Melalui Pendidikan Anak Usia Dini, anak dapat dididik oleh gurunya dengan metode dan kurikulum yang jelas. Mereka dapat bermain dan menyalurkan energinya melalui berbagai kegiatan fisik, musik, atau keterampilan tangan. Dapat belajar berinteraksi secara interpersonal dan intrapersonal.
Kepada mereka secara bertahap dapat dikenalkan huruf atau membaca, lingkungan hidup, pertanian, dan bahkan industri. Pengenalan itu tidaklah berlebihan, karena dalam penyampaiannya disesuaikan dengan dunia anak, yakni dunia bermain sehingga proses belajarnya menyenangkan.
Dirjen PAUD juga menjelaskan dengan angka pertumbuhan anak sebesar 1,5% per tahun berarti setiap tahunnya sekitar 3,5 juta bayi lahir, berarti kebutuhan akan PAUD sangat signifikan. Oleh karenanya, Reni optimis, 30 ribu desa yang masih belum memiliki PAUD dapat dipenuhi dalam waktu tiga tahun, dengan upaya yang keras dan fokus sehingga pada tahun 2025 akan menghasilkan generasi pemimpin muda yang sehat dan unggul.

http://www.neraca.co.id/article/22721/haram-hukumnya-ajarkan-calistung-dalam-kurikulum-paud

Ditjen PAUDNI Sebar Rata Bantuan

YOGYAKARTA. Pemerataan menjadi perhatian utama Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Ditjen PAUDNI) dalam memberikan bantuan kepada satuan pendidikan nonformal dan lembaga di bidang PAUDNI.

“Bantuan adalah persoalan yang kompleks. Program ini dapat memperluas layanan akses PAUDNI, tapi tentunya harus diberikan tepat sasaran secara merata,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog saat membuka kegiatan Sosialisasi Perundang-undangan di Bidang PAUDNI di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (18/10).

Dengan dijadikannya pemerataan sebagai perhatian utama, maka jumlah bantuan yang diterima lembaga dalam setiap kota/kabupaten akan terdapat kuota. Untuk mewujudkan hal itu, Dirjen PAUDNI yang juga merupakan Guru Besar Universitas Indonesia ini menyatakan pendataan perlu dikuatkan.

“Harus ada data yang mudah diakses untuk melihat berapa jumlah bantuan yang sudah mengalir ke tiap-tiap daerah. Jangan sampai jumlah bantuan di suatu daerah dibandingkan daerah lain tidak seimbang,” kata Reni Akbar Hawadi, panggilan akrab Dirjen PAUDNI

Ditekankan dalam memberikan bantuan Ditjen PAUDNI tidak sekedar menjalankan program, tapi untuk meningkatkan layanan dan akses PAUDNI.
“Bukan hanya untuk menambah daya serap. Oleh karena itu perlu dikaji lembaga mana yang benar-benar  membutuhkan bantuan serta memenuhi persyaratan,” ujar Reni.

Dukungan masyarakat
Meski Pemerintah sudah memiliki anggaran untuk perkembangan PAUDNI, Reni menyatakan dana yang dimiliki Pemerintah tidak cukup untuk menyentuh semua lapisan masyarakat.

Digambarkan Lydia, untuk menyentuh angka partisipasi kasar (APK) pendidikan anak usia dini (PAUD) sebesar 75 persen pada tahun 2015 memerlukan dana Rp17 Triliun, tapi untuk tahun 2013 Ditjen PAUDNI hanya mendapatkan anggaran sebesar Rp2,4 Triliun. Sejumlah dana itu pun bukan hanya diperuntukan untuk PAUD, tapi juga untuk pendidikan nonformal dan informal.

Oleh karena itu, bantuan dari pemerintah hanya merupakan stimulus bagi masyarakat. Diharapkankan masyarakat kelak bisa mandiri dalam menjalankan program. “Selama ini, masyarakatlah yang telah menjadi ujung tombak PAUDNI,” ujar Reni menyatakan apresiasinya. (Dina Julita/HK)
Sumber : Kemdikbud

Dana Bantuan PAUD dari APBD Wajib Ada

Salah satu target Direktorat Jenderal PAUDNI pada 2014 mengantar anak Indonesia cerdas komprehensif.  Anak perlu ditanamkan etos kerja tinggi, sehingga menjadi generasi tangguh dalam persaingan internasional. Hal tersebut diungkapkan Dirjen PAUDNI Prof.Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog ketika menyajikan materi pada kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan dan Pelaksanaan Program PAUD Tingkat Nasional Tahun 2013 (Angkatan III). (Rabu/29/5)
 
Prof.Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog juga mengungkapkan, dalam rangka mengemban misi Dirjen PAUDNI “meningkatkan dan memperluas ketersediaan layanan pendidikan anak usia dini”, diharapkan daerah mamastikan di setiap desa terdapat layanan PAUD. Dirjen PAUDNI tidak mungkin sanggup menuntaskan desa yang belum ada layanan PAUDnya, sehingga perlu dukungan dana APBD I dan APBD II.
 
Lebih lanjut Prof. Reni Hawadi, sapaan akrab Dirjen PAUDNI mengingatkan, pengembangan program PAUD jika hanya mengandalkan dana APBN akan lambat jalannya. Daerah wajib menganggarkan dana APBD, dan disesuaikan dengan jenis bantuan yang ada di pusat. Ketuntasan satu desa satu PAUD menjadi indikator keseriusan kita dalam mengembangkan program PAUD.
 
Selanjutnya penerima piagam penghargaan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sebagai dosen terproduktif 2004 menyampaikan, untuk mendorong partisipasi daerah dalam pengembagan program PAUD, maka pada tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberikan award pada Pemerintah Daerah dan Bunda PAUD yang bisa mencapai APK tinggi.  Selain itu,  tahun depan ada perubahan strategi pemberian dana Pusat. Kabupaten/Kota yang tidak menganggarkan dana PAUD dalam APBDnya, tidak akan mendapat bantuan APBN.
 
Terkait dengan kualifikasi pendidikan guru PAUD tergolong rendah. Berdasarkan data,  guru TK yang berkualifikasi S1 baru sekitar 20 persen. Sedangkan guru PAUD nonformal yang berkualifikasi SMA ke atas baru 75 persen. Bahkan masih terdapat guru PAUD yang masih berkualifikasi SMP bahkan SD. Menyikapi hal tersebut Dirjen PAUDNI menargetkan pada tahun 2020 seluruh guru TK harus S1, dan tahun 2016 semua guru PAUD sudah mendapatkan diklat dasar, ungkap anggota World Conference on the Gifted and Talented Children (WCGTC).(@dr1)

 http://paud.kemdikbud.go.id/

Empat Fokus Penyelenggaraan PAUD

Ada empat hal yang menjadi fokus Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Informal dan nonformal (Ditjen PAUDNI) dalam menyelenggarakan pendidikan anak usia dini. Yakni penataan lembaga PAUD, pendidik, kurikulum pembelajaran PAUD, dan pembiasaan budaya antri dan bersih.


Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi pada pembukaan Rapat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dengan organisasi mitra tadi malam, di Hotel Sahit Jaya Jakarta.
Menurut Prof. Reni Akbar Hawadi, sapaan akrab Dirjen PAUDNI yang baru empat bulan dilantik itu, penataan institusi lembaga PAUD. Lembaga PAUD harus memiliki fasilitas dan layanan yang baik. Untuk mengembangkan lembaga PAUD tersebut, salah satu caranya adalah melalui kerjasama dengan lembaga keagamaan dan organsasi masyarakat.
Selain itu, ada persoalan mendasar penyelenggaraan PAUD, yaitu guru, pembimbing, dan pendamping. Mereka harus dibekali pendidikan yang lebih tinggi, termasuk ikut pada pelatihan-pelatihan,” tambah Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.
Masalah lain, katanya, di depan 200 peserta yang terdiri dari pengurus dan anggota IGTKI, Himpaudi, Muslimat NU, Aisyiah, dan Tim PKK ini adalah kurikulum pembelajaran PAUD.
Reni juga menekankan pentingnya menanamkan budaya antri dan bersih mulai usia dini. “Pesan ini dari Bapak Presiden SBY bagus sekali karena hal ini merupakan persoalan kita sejak lama,” katanya.
Untuk itu, tambah Reni, pemerintah dan organisasi mitra perlu duduk bersama untuk mencari jalan agar persoalan tersebut bisa diatasi. “Apalagi harapan kita bahwa pada masa mendatang setiap desa kita harus punya lembaga PAUD. Organisasi mitra harusnya ikut melakukan pemetaan,” jelasnya.
Sementara itu, pada kegiatan yang sama, Direktur Pembinaan PAUD Dr. Erman Syamsudin menjelaskan Rapat Koordinasi yang berlangsung setiap tahun ini, dilaksanakan dengan tujuan mencari persamaan pandangan terhadap perkembangan PAUD di tanah air. “Di sini kita akan mencari jalan keluar bagaimana meningkatkan mutu dan mengejar APK tersebut. (Sugito/HK)

3.000 Siswa PAUD "Kuliah" di UI

DEPOK - Memperingati Hari Anak Nasional, Universitas Indonesia (UI) menggelar gebyar pendidikan anak usia dini (PAUD). Acara dibuka langsung oleh Direktur Jendral PAUD, Reni Akbar Hawadi bersama Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Somantri di Balairung UI, Depok.

Ribuan anak terlihat asik mengikuti berbagai kegiatan, di antaranya lomba menggambar, pertunjukkan tari dan drumband massal anak PAUD, outbond, konsultasi psikologi, dan bazaar PAUD. "Ini sebagai upaya pengenalan anak-anak terhadap dunia akademik, tempat mereka kelak akan menimba ilmu," kata Gumilar dalam sambutannya, kemarin.


Tingkat partisipasi penduduk Indonesia dalam mengenyam pendidikan tinggi dinilai masih rendah. Dilihat dari kurangnya angka partisipasi, dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia, angka partisipasinya hanya 4,8 juta mahasiswa atau 18,4 persen yang mengenyam pendidikan tinggi.

"Ini menunjukkan bahwa dengan masih rendahnya angka partisipasi anak berkuliah, mendorong lambatnya kemajuan negeri ini untuk menyusul negara-negara maju," katanya menjelaskan.

Nantinya, kata dia, jumlah peserta didik di perguruan tinggi minimal 30 persen. Dengan begitu akan meningkatkan kualitas bangsa yang ditandai oleh pertambahan pendapat per kapita USD40 ribu pada 2045.

"Jumlah partisipasi pendidikan tinggi diupayakan meningkat dalam jangka waktu panjang nanti," ujar Gumilar.

Dirjen PAUD Reni Akbar mengatakan peserta PAUD terdiri atas berbagai kelompok usia. Bagi kelompok usia bermain, yaitu tiga hingga enam tahun diberikan arena bermain yang dapat berfungsi untuk membantu meletakkan dasar-dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan bagi anak usia dini dalam menyesuaikan diri lingkungannya. "Selain itu untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya sehingga siap memasuki pendidikan dasar," imbuhnya.

Dia menambahkan, PAUD diselenggarakan melalui tiga jalur. Pertama jalur, yakni formal TK, RA, dan bentuk lain sederajat. Kedua, jalur non formal, yakni kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan PAUD sejenis. Dan ketiga jalur informal berupa pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

"Gebyar PAUD ini dimaksudkan untuk mampu memberikan makna bagi upaya pembinaan, penumbuhan, dan pengembangan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya," paparnya.
(mrg)

https://news.okezone.com/read/2012/07/16/373/663766/3-000-siswa-paud-kuliah-di-ui

Ribuan Siwa PAUD Cari Ilmu di UI

DEPOK - Sebanyak 3000 murid  pendidikan anak usia dini (PAUD) mengikuti berbagai kegiatan di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Minggu (15/7). Dalam even itu yang digelar di Balairung U, Rektorat UI dan Science Park UI itu murid-murid PAUD mengikuti berbagai kegiatan seperti lomba menggambar, pertunjukkan tari, drumband, outbond, konsultasi psikologi dan bazaar PAUD dan Tour The Campus.

Direktur Jendral PAUD Kemdikbud,Reni Akbar Hawadi mengungkapkan, kegiatan itu merupakan bagian dari acara peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2012. "Sekaligus kita ingin memberikan wawasan kepada anak-anak PAUD sekaligus memperkenalkan dunia pendidikan tinggi kita," ungkap Reni di kampus UI, Depok, Jawa Barat, Minggu (15/7).

Reni menjelaskan, para peserta PAUD ini terdiri atas berbagai kelompok usia PAUD. Bagi kelompok usia bermain 3 – 6 tahun, disediakan  arena bermain untuk membentuk sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi anak usia dini dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan untuk pertumbuhan. "Tentunya kita juga memberikan pembekalan kepada mereka sehingga siap memasuki pendidikan dasar," imbuhnya.

Disebutkannya pula, pemerintah terus mengupayakan untuk membina dan menumbuh-kembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal. "Harapannya dapat membentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya, agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya," tutur Reni.

Dalam kesempatan sama, Rektor UI, Gumilar Rusliwa Soemantri mengatakan, acara tersebut dimaksudkan sebagai upaya pengenalan anak-anak terhadap dunia akademik tempat mereka kelak akan menimba Ilmu kelak. Disebutkannya, saat ini dari 240 juta penduduk Indonesia, 4,3 juta atau 18,4 persen di antaranya adalah mahasiswa.

"Ini menunjukkan bahwa dengan masih rendahnya angka partisipasi anak berkuliah yang akhirnya menjadi pemicu  lambatnya kemajuan negeri ini untuk menyusul negara-negara maju," ungkap Gumilar.

Oleh karena itu Gumilar mengharapkan Indonesia pada masa datang dapat meningkatkan jumlah peserta didik di perguruan tinggi minimal hingga 30 persen. Dengan demikian, kualitas SDM di Indonesia bisa meningkat dan pertambahan pendapat per kapita hingga USD 40 ribu pada tahun 2045 bisa tercapat.

"Peningkatan jumlah APK (Angka Partisipasi Kasar) mahasiswa harus digenjot. Sehingga ke depannya akan mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas SDM di Indonesia," tukasnya. (Cha/jpnn)

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia