Rabu, 12 Juni 2019

Film Horor Bisa Terekam di Alam Bawah Sadar Anak

TEMPO.CO, Jakarta - Film horor semakin sering bermunculan di layar perak. Jumlahnya pun biasanya meningkat menjelang perayaan Halloween yang jatuh pada 31 Oktober. Suara khas tontonan film horor dan layar besar di bioskop menambah nuansa mengerikan saat menonton film horor.

Salah satu film horor yang sedang naik daun akhir-akhir ini adalah "IT'. Film yang berkisah tentang badut yang bisa berubah wujud sesuai hal yang ditakutkan seseorang berhasil membuat beberapa penonton bioskop ketakutan, ataupun menjerit. 

Psikolog Reni Akbar Hawadi menyarankan menonton film horor sebaiknya tidak bersama anak di bawah tujuh tahun. Walaupun anak itu belum mengerti jalan cerita film horor itu, menurut Reni, adegan film itu bisa terekam di alam bawah sadar si anak.

Bila berkali-kali menonton film horor, ada yang nantinya merasa terbiasa menonton film horor, sehingga saat dewasa ia tidak akan takut. Sebaliknya, ada pula anak yang justru menjadi introvert setelah menonton bernuansa gelap itu. "Itu semua tergantung kondisi si anak," katanya.

Yang perlu dikhawatirkan adalah kondisi ketika anak jadi introvert setelah menonton film horor. Mereka bisa menjadi takut saat mengalami situasi mirip seperti pada film horor. "Gambaran film horor itu akan terekam di alam bawah sadar otak mereka. Dan bisa timbul kapan saja," katanya. 

Efek lain yang juga bisa dialami si anak adalah melakukan hal yang sama seperti pada film horor. Misalnya ada adegan pembunuhan yang tergambar dalam film horor itu, yang terekam di alam bawah sadar mereka. Ketika mengalami situasi yang sama, bisa saja si anak akan melakukan pembunuhan itu mencontoh adegan di televisi.

Reni menyarankan agar orang tua sebaiknya tidak menonton film horor dengan anak yang berusia di bawah tujuh tahun. "Anak di bawah usia tujuh tahun itu sebaiknya dicontohkan dan diberikan energi positif saja, jangan energi negatif seperti film horor," katanya.

Menurut Reni, anak yang sudah berusia 7-11 tahun boleh saja diajak menonton film horor. Pada usia itu, anak sudah bisa berpikir dan diajak diskusi. Orang tua tentu perlu menjelaskan makna film itu. "Mereka perlu mendapatkan penjelasan detail tentang film horor," kata Reni.
MITRA TARIGAN

Sumber: Tempo

Deddy Corbuzier Komentari Prostitusi dan Artis, Ini Kata Psikolog

TEMPO.CO, Jakarta - Presenter Deddy Corbuzier tidak hanya aktif memimpin sebuah talkshow, namun juga sangat rajin membuat konten unik di media sosial. Dalam konten media sosial YouTube-nya, Deddy Corbuzier mengeluarkan berbagai unek-uneknya tentang berbagai hal termasuk isu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Salah satu isu yang baru dikomentari oleh Deddy Corbuzier adalah fenomena prostitusi di kalangan artis, terkait kasus yang menyeret Vanessa Angel.


Sebelumnya, Vanessa Angel menjadi sorotan publik. Ia terseret kasus prostitusi online. Bersama tiga orang lain dan seorang yang diduga mucikari, Vanessa diciduk aparat Kepolisian pada Sabtu, 5 Januari 2019, di sebuah hotel di Surabaya, Jawa Timur.

Dalam video berdurasi 7 menit, Deddy Corbuzier menilai ia membahas tentang alasan umum para artis ikut dalam jaringan prostitusi online, yang salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan. Deddy juga menjelaskan bagaimana tekanan masyarakat yang selama ini juga menjadi salah satu penyebab artis dan seseorang memilih untuk ikut dalam prostitusi online. “Tekanan hidup dari masyarakat ketika Anda bersosial, temenannya sosialita-sosialita, itu brengsek semua," kata Deddy.
Ia pernah mengomentari tentang kebiasaan seorang artis yang harus memiliki barang bermerek dalam semua busana yang dikenakannya. "Ketika mereka nggak pakai branded, mulai banyak yang ‘wah lu nggak punya job, mulai nggak laku’. Akhirnya, tekanan masyarakat yang dia anggap penting itu menjadi masukan buat dia mendapatkan uang secara maksimal dalam waktu sesingkat-singkatnya, yaitu ngangkang,” kata Deddy dalam video yang diunggah Senin 7 Januari 2019.

Psikolog Lydia Freyani Hawadi setuju dengan pernyataan Deddy Corbuzier bahwa tekanan publik dan kebutuhan yang mendesak sebagai salah satu alasan para artis melakukan prostitusi online. “Banyak faktor yang menyebabkan tak hanya publik figur, namun orang biasa pun melakukan prostitusi. Karena memang ini merupakan hal yang sangat praktis untuk menghasilkan uang," kata Reni, sapaan Lydia kepada Tempo pada 8 Januari 2019.

Khusus untuk artis, Reni mengatakan secara kasat mata orang bisa melihat gaya hidup para pesohor yang tergolong tinggi. Hal itu membuat para artis mendapatkan tekanan agar bisa terlihat sama di antara kelompoknya. "Dia ingin terlihat sama, baik dalam perilaku maupun cara pikir agar diterima oleh kelompoknya. Terutama segala sesuatu yang mengikuti tren, mendorong orang agar terus mengeluarkan uang untuk memiliki produk terbaru,” kata Reni.

Ketika tindakan si artis menjual diri diketahui publik, dampak hukuman sosial pun dapat diresapi secara berbeda-beda. Menurut Reni, hal tersebut tergantung dari kapasitas mental seseorang. “Semua kembali lagi pada mental orang tersebut. Ada yang langsung memberikan respon withdrawal or moving away, dalam artian kapok dan malu sehingga tidak akan melakukan hal yang sama lagi. Namun ada juga yang moving forward, dalam artian memiliki daya tahan mental yang kuat sehingga terus maju," kata Reni.


Dalam kasus Vanessa, Reni menduga, Vanessa bisa melaluinya dan tidak akan memikirkan perkataan orang lain. "Ia termasuk yang percaya diri. Sehingga nggak mungkin depresi dan maju terus,” kata Reni.

Sumber: Tempo


Unggah Foto Jari Bertinta Saat Pemilu? Maknanya Bukan Hanya Pamer

Reporter:Sarah Ervina Dara Siyahailatua
Editor:Mitra Tarigan
 
 
TEMPO.CO, Jakarta - Pemilihan umum dilaksanakan pada Rabu, 17 April 2019 di seluruh Indonesia . Seolah menjadi suatu kebutuhan wajib bagi pemilih untuk memamerkan jari bertinta dan mengunggahnya di media sosial.

Mungkin, sebagian dari Anda melakukannya untuk ajang pamer. Namun, menurut psikolog Lydia Freyani Hawadi, hal tersebut lebih dari sekedar pamer. Melainkan, ini menunjukkan identitas seseorang sebagai individu yang memiliki tanggung jawab. “Posting foto jari menunjukkan responsibility-nya sebagai seorang warga negara yang baik. Artinya, mereka secara langsung bilang ‘saya tidak golput’,” katanya saat dihubungi TEMPO.CO pada 16 April 2019.

Selain itu, wanita yang lebih akrab dipanggil Reny ini pun mengatakan bahwa mengunggah foto jari bertinta dapat menjadi contoh atau role model bagi teman-teman di sekitarnya. Pasalnya, di era digital ini, orang lebih cenderung menghiraukan sesuatu yang ada di dunia maya. “Kalau kita mengunggah foto di sosial media seperti Instagram yang sedang viral, misalnya. Ini akan menjadikan kita role model agar mereka melakukan hal yang sama,” katanya.

 Lebih dari itu, foto yang nantinya mendapat feedback berupa like juga akan memberikan penghargaan untuk diri orang itu sendiri. Mereka merasa komitmen dan keinginan untuk memajukan negara dengan mencoblos diapresiasi oleh teman-teman di sosial media. “Intinya ada reward yang didapat,” katanya.

 Oleh karena itu, ia pun tidak melarang siapapun untuk mengunggah foto jari bertinta setelah pemilu. “Tidak masalah karena dari pandangan saya, hal tersebut positif,” katanya.

Sumber: Tempo

Emosi Presiden Pilihan Kalah di Pemilu 2019, Ini Saran Ahli

Pemilihan umum atau Pemilu dilangsungkan pada Rabu, 17 April 2019. Ini merupakan peristiwa yang menegangkan. Sebab, di antara pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Ma’ruf Amin dan 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, hanya ada satu pasangan calon pasangan yang akan memimpin negara untuk lima tahun ke depan. Sebaliknya, tentu ada pasangan lain yang harus menerima kekalahan.

Siapa pun yang memenangkan pemilihan presiden atau Pilpres kali ini, ada sebagian orang yang akan dibuat sedih atau emosi. Psikolog Lydia Freyani Hawadi mengingatkan akan pentingnya memiliki sikap legowo. Ia mengatakan bahwa sportivitas tetap harus dijunjung tinggi oleh pendukung tim yang menang maupun yang kalah.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak terus berlarut dengan kesedihan yang ada. Apalagi jika ditambah dengan pemberontakan. Karena, hal tersebut tidak akan mengubah tatanan pemerintahan yang telah secara resmi disahkan. Oleh karena itu, ia menyarankan agar seluruh pemilih dapat mengendalikan diri setelah mengetahui hasil perhitungan Pemilu. 

Foto: Freepik (ilustrasi)
Editor Video: Zulfikar Epriyadi

Sumber Tulisan: Tempo
Sumber foto: Politik Today

Ketika Hubungan Keluarga Retak Karena Pemilu, Ini Saran Psikolog

TEMPO.CO, Jakarta - Pemilihan umum atau pemilu sudah usai, tapi drama keluarga karena pencoblosan belum tuntas. Sebuah kisah yang diunggah di akun Twitter @annisalrazi menjadi perhatian warganet. Melalui tulisannya pada Kamis, 30 Mei 2019, Annisa menceritakan tentang hubungannya dengan orang tuanya berubah karena propaganda pemilu.

Semua bermula dari perubahan sikap orang tuanya. Ia mengatakan, awalnya ayah dan ibunya adalah orang yang senang mengajarkan toleransi dan kebaikan. Sayangnya kini, mereka berubah menjadi sering mengungkapkan kalimat negatif serta ujaran kebencian. Menurutnya, itu disebabkan oleh berbagai informasi yang simpang siur, khususnya selama pemilihan umum.

Awalnya, ia mengatakan bahwa ayah dan ibunya adalah orang yang senang mengajarkan toleransi dan kebaikan. Sayangnya kini, mereka berubah menjadi sering mengungkapkan kalimat negatif serta ujaran kebencian. Menurutnya, itu disebabkan oleh berbagai informasi yang simpang siur, khususnya selama pemilihan umum.

Unggahan Annisa mendapat banyak respons, tak sedikit yang mengeluhkan hal serupa. Contohnya adalah pemilik akun @aratniq yang menceritakan betapa tolerannya sang ayah, namun kini berubah mengecap orang lain kafir hingga Islam Nusantara.

Psikolog Reni Akbar Hawadi pun mencoba memberikan dua solusi terbaiknya. Hal pertama yang disampaikannya adalah bagaimana anak mengembalikan sikap kritis orang tua. Sebab menurutnya, banyak orang tua yang menganggap suatu informasi baru sebagai bentuk pencerahan atas ketidaktahuannya.

Ia menyarankan mengajak orang tua untuk berdiskusi lagi. Ajarkan juga tentang sikap kritis. Misalnya ketika mendapat informasi baru, mereka jangan menelannya secara mentah-mentah tapi ditelusuri dulu kebenarannya. "Kalau secara perlahan diajak seperti ini terus, mereka akhirnya bisa membedakan mana informasi yang valid dan bukan,” katanya saat dihubungi TEMPO.CO pada 1 Juni 2019.

Selain itu, awasi juga gerak gerik dan aktivitas orang tua. Sebab, komunitas atau teman berkumpulnya bisa membentuk pola pikir baru untuk mereka. Seperti yang diketahui, suatu perkumpulan tentu menuntut konformitas.

“Kalau memang dirasa perlu keluar dari grup WhatsApp atau kumpul-kumpul arisan, ya silahkan. Apalagi jika anggotanya toxic (membawa pengaruh buruk) semua. Daripada membahayakan demi menyatukan pendapat bersama, lebih baik dibatasi,” katanya.

SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


Sumber: Tempo

Mantan Pacar Cinta Laura Sebar Foto Mesra, Begini Kata Psikolog


Reporter: Sarah Ervina Dara Siyahailatua
Editor:Mila Novita 
 
TEMPO.CO, Jakarta - Kabar menghebohkan datang dari aktris Cinta Laura Kiehl. Setelah menjalin hubungan hampir tiga tahun dengan teman sekelasnya di Columbia University, Soy Frank Gracia, keduanya akhirnya dikabarkan putus.
Isyarat putus terlihat dari terhapusnya foto-toto Gracia dari akun Instagram Cinta Laura. Hal yang mengejutkan, Pria berdarah Amerika Selatan ini lalu mengunggah 28 foto bersama Cinta Laura pada 31 Mei 2019. Menariknya, foto yang diunggah menampilkan keduanya dalam posisi intim. Unggahan ini seolah menunjukkan bahwa Gracia ingin membalas dendam.

Menanggapi hal ini, psikolog Reni Akbar Hawadi mengatakan bahwa secara garis besar, kejadian tersebut sangat mungkin disebabkan oleh hubungan yang berhenti tanpa konfirmasi dari kedua belah pihak. Unggahan foto negatif atau penghapusan jejak oleh Cinta maupun Gracia, disebut sebagai bentuk pemberontakan.

“Pasti akar masalahnya ada pada keputusan untuk putus yang tidak dikomunikasikan dengan tidak baik antar-pasangan. Karena kalau mereka dari awal berbicara dengan baik, pasti tidak ada reaksi yang negatif,” katanya saat dihubungi TEMPO.CO pada Sabtu, 1 Juni 2019.

Dari sisi Gracia, Reni mengatakan bahwa pria pada umumnya memang memiliki sisi agresivitas yang tinggi. Sehingga, hal tersebut sangat wajar dilakukan apabila mereka merasa dirugikan. Terlebih lagi dengan ikatan emosional yang biasanya terbentuk dan melekat setelah menjalin hubungan kasih lebih dari enam bulan.


“Setahu saya, keduanya pacaran sejak satu kuliah kan? Mungkin si prianya ini merasa sudah banyak manfaat yang bisa Cinta dapatkan darinya. Hampir dua atau tiga tahun itu juga tidak sebentar. Jadi dia tidak terima kalau diputuskan begitu saja,” katanya.


Itu sebabnya, ia mengingatkan pentingnya melepas hubungan dengan baik. Menurut Reni, apabila merasa tidak menemukan kecocokan antara satu dan lainnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah duduk bersama dan berbicara dengan logika.


"Merasa tidak cocok ya wajar saja. Tapi yang paling penting adalah bagaimana cara putus yang baik. Ini harus dikomunikasikan dengan rasional dan tanpa emosi," kata dia.


Reni mengakui pasti berat untuk putus, tapi kalau ada pengertian dan penjelasan, kedua pihak pasti bisa menerima dan hal seperti ini (mengunggah foto negatif) bisa diminimalisasi," kata dia.


SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA

Sumber: 

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia