Kamis, 20 September 2018

Taman Bermain Lilbee, PAUD Bernuansa Alam

Sekolah alam bukan hal baru sebenarnya, meski di Indonesia baru mulai mendapat tempat dalam kurun satu dasawarsa ini. Dalam konsep ini, sekolah menjadikan fungsi alam sebagai ruang belajar, alam sebagai media dan bahan belajar, serta alam sebagai objek pembelajaran. Sekolah alam bisa diterapkan baik dari tingkat PAUD, TK, Sekolah Dasar bahkan sekolah menengah. Untuk PAUD bernuansa alam ini salah satunya diterapkan Taman Bermain dan Kampung Dongeng Lilbee yang berdiri di lahan 1000 meter persegi tepatnya di Jl. Benda No. 50 Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi.

"Alam memberikan banyak kelebihan dan manfaat. Taman Bermain Lilbee ingin memberikan proses bermain sambil belajar  yang terintegrasi dengan alam. Dengan lingkungan alam yang asri, nyaman, dan sejuk serta jauh dari riuh keramaian diharapkan akan  tercipta suatu proses pembelajaran yang  baik," ungkap Hj. Reny Nurlela, pendiri Taman Bermain Lilbee, tentang alasan mendirikan sekolah alam untuk penyelenggaraan PAUD.

Dengan menyatu bersama alam, belajar dapat dilakukan kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja. Sebagaimana visi Taman Bermain Lilbee, Hj. Reny Nurlela berharap dapat membentuk generasi bangsa yang berkarakter dan berbudi pekerti, serta mengembangkan kecerdasan majemuk anak (multiple Intelegences) dan memperoleh keterampilan hidup (Like Skills) secara Holistic, terpadu dan berkesinambungan, melalui proses pendidikan bernuansa Alami (Natural) dan ramah otak.

Kurikulum alam yang diberikan di TB Lilbee antara lain gardening, farming, outing, eksplorasi alam dan sains sederhana.

Meski baru didirikan tahun 2009, TB Lilbee telah menorehkan berbagai prestasi baik oleh siswa maupun guru hingga tingkat propinsi Jawa Barat dan Jabodetabek.

Disamping kurikulum alam, TB Lilbee juga bekerjasama dengan Kampung Dongeng Kak Awam Prakoso yang secara rutin mengisi setiap bulan di minggu ke-4. Peserta di Kampung Dongeng ini tak hanya siswa-siswi PAUD TB Lilbee, tapi juga dari berbagai PAUD dan TK lainnya.

"Mendidik dan mendongeng itu mengasyikan, banyak sekali manfaatnya. Salah satunya kita bisa menanamkan pelajaran budi pekerti,” ujar Kak Awam yang juga pendongeng senior itu.

Dalam sebuah kesempatan, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi juga pernah mengungkapkan karena begitu pentingnya perkembangan anak usia dini ini maka pemerintah Indonesia menjadikan PAUD salah satu topik utama dalam pembangunan.

Apakah anda orangtua dengan anak usia dini? Pilih model pendidikan yang tepat. Salah satunya memasukkan ke PAUD bernuansa alam seperti Taman Bermain Lilbee. (Yunita)

Tempat Kursus dan Pelatihan Berprestasi di Jogja

Batam, 5 Oktober 2013 Lembaga Pendidikan Alfabank Yogyakarta menerima penghargaan Juara III Apresiasi Lembaga Kursus dan Pelatihan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 untuk kategori Nonvokasi  Nasional/Internasional bidang Komputer. Setelah melalui beberapa seleksi diantaranya seleksi tingkat provinsi dimana Alfabank mendapat juara I untuk kategori NonVokasi Standart Nasional/Internasional. 

Penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Repuplik Indonesia ini diserahkan oleh Ditjen PAUDNI Prof.Dr.Lydia Freyani Hawadi. Psikolog dalam acara pembukaan Lomba Lembaga Kursus dan Pelatihan tingkat Nasional di Mega Mall Batam Kepulauan Riau. Semoga dengan penghargaan ini sebagai wujud prestasi Alfabank Yogyakarta untuk bisa menjaga mutu dan terus menerus meningkatkan kualitas baik pelayanan maupun output SDM yang berkualitas. Sehingga apa yang menjadi Visi lembaga. 

“Menjadikan Lembaga sebagai pencetak SDM yang siap kerja terampil dan profesional “ bisa terwujud. Prestasi ini tentunya tidak lepas dari peran berbagai pihak baik jajaran manajemen, team instruktur atau pendidik serta kepercayaan masyarakat khususnya di wilayah DIY dan sekitarnya atas pilihan mereka untuk memilih Alfabank sebagai tempat kursus menanmbah keterampilan guna menembus dunia kerja. Untuk itu Alfabank mengucapkan terimakasih atas peran dan kepercayaan selama ini. Semoga kedepan Alfabank Yogyakarta semakin solid dan sukses dalam bidang pendidikan Non Formal.  ( admin )

'Kendala Geografis Bikin Penuntasan PAUD Susah di Wilayah Terpencil'

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi mengatakan, masih terdapat provinsi-provinsi yang tingkat ketuntasannya  program Satu Desa Satu PAUD masih di bawah 50 persen yaitu Maluku Utara, Kalimantan Barat, Maluku, Aceh, Papua, dan Papua Barat.

“Kendala geografis menjadi salah satu kendala penuntasan program PAUD di provinsi-provinsi tersebut. Jaraknya juga jauh,” ujar Lydia di Jakarta, Senin, (23/3).

Untuk memacu program Satu Desa Satu PAUD di provinsi yang tingkat ketuntasannya masih minim, kata Lydia, pihaknya  memiliki sejumlah strategi. Antara lain, merangkul sejumlah organisasi mitra yang memiliki daya jangkau hingga ke daerah terpencil.

“Pada tahun 2013, kami bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat, dan TNI Angkatan laut untuk membantu membangun PAUD di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal. Ini gebrakan bagus,”ujar Lydia.

Dua Gubernur Terima Anugerah Keaksaraan

Gubernur Jawa Timur 
Jakarta  -ES -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penghargaan keaksaraan kepada pihak-pihak yang dinilai berkomitmen dan berprestasi dalam program penuntasan tuna aksara di Indonesia. Dari total 42 penghargaan yang diberikan dalam peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2012, enam diantaranya diberikan kepada pemerintah daerah.
"Pemerinciannya dua gubernur, tiga bupati, dan satu walikota," kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal, Lydia Freyani Hawadi, pada jumpa pers di Gedung C Kemdikbud, Jakarta, (13/9). Dua gubernur yang mendapat anugerah keaksaraan adalah Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Gubernur Kalimantan Tengah Agustin  Teras Narang.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh akan memberikan penghargaan tersebut dalam puncak peringatan HAI ke-47di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada Minggu (16/9). Gubernur Soekarwo, memperoleh Anugerah Aksara Utama atas komitmen Pemerintah Provinsi dalam mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tertinggi untuk program peningkatan keaksaraan.
Sedangkan Gubernur Teras Narang menerima pengharagaan Aksara Madya karena dinilai telah berhasil melakukan capaian maksimal dan perhatiannya terhadap program keaksaraan masyarakat marjinal. "Tiap tahun kami memang memberikan penghargaan ini terhadap gubernur dan bupati atau walikota yang dinilai mempunyai komitmen kuat untuk program-program keaksaraan," ujar Lydia.
Ia juga menjelaskan, program keaksaraan yang dijalankan dibeberapa daerah terbukti telah mendapatkan pengakuan internasional tahun ini, yaitu, Penghargaan Aksara King Sejong dari UNESCO. Penyerahan penghargaan tersebut telahberlangsung dimParis, pada 6 September lalu. Dalam penyerahan tersebut, pemerintah Indonesia khususnya Kemdikbud, diwakili Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Ella Yulaelawati.
Pada puncak HAI di Palangkaraya nanti, secara simbolis perwakilan UNESCOJakarta untuk Indonesia juga akan menyerahkan kembali penghargaan tersebut kepada Mendikbud. "Dalam konteks penuntasan tuna aksara, makna terdalam dari peringatan HAI adalah, seberapa jauh kita sebagai bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat pada umumnya, bertekat dan berikhtiar secara berkelanjutan untuk menuntaskan saudara-saudara kita yang masih tuna aksara," tutur Lydia. (DM) www.pelitakarawang.com

Saatnya Lembaga Kursus Berbenah

Keberadaan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) telah memberi sumbangan positif bagi upaya mengentaskan kemiskinan dan menurunkan tingkat pengangguran Indonesia. Baru delapan persen atau sekitar 1.200 LKP yang terakreditasi Pemerintah . Kini, saatnya lembaga kursus berbenah diri.    

Sebanyak 17.776 Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang ada di Indonesia, baru delapan persen saja yang telah mendapatkan akreditasi dari pemerintah. Delapan persen tersebut berarti sekitar 1.200-an LKP yang belum mendapatkan akreditasi.
        
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non formal dan Informal (PAUDNI), Kemdikbud, Dr Wartanto kepada pers belum lama ini di Solo, Jawa Tengah.
   
“17.776 LKP tersebut terdiri dari 24 ribu macam kursus dari 97 jenis kursus,” katanya sebelum membuka Pameran Kursus dan Pelatihan bertajuk Kursus Membangun Karakter dan Daya Saing Bangsa yang digelar akhir Oktober lalu di Solo.
   
Lebih lanjut Wartano mengatakan, LKP memiliki peran yang cukup besar dalam menyerap tenaga kerja yaitu sebanyak 78 persen diterima di dunia kerja, 12 persen berwirausaha, dan sisanya tidak terdeteksi.
   
Di tempat yang sama, Dirjen PAUDNI Kemdikbud Prof Dr Lydia Freyani Hawadi Psi mengatakan pemerintah kota atau kabupaten harus menyediakan anggaran untuk mengembangan LKP di daerahnya masing-masing. Sehingga tidak bergantung kepada pemerintah pusat yang besaran bantuannya belum cukup membantu semua LKP di Indonesia.
   
Fungsi lembaga kursus menurut Wartanto memang memberikan pendampingan kepada peserta didik agar memiliki kompetensi, bersertifikat dan masuk dunia kerja atau berwirausaha. Dia berpendapat bahwa lembaga kursus dan pelatihan turut andil dalam menurunkan tingkat pengangguran di Indonesia.
   
Wartanto, merujuk data 2010, menyebutkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia masih berkisar di angka 8,14 juta jiwa. Jumlah tersebut turun di akhir 2011 menjadi hanya sekitar 7,7 juta jiwa.
   
Dari total peserta yang dididik lembaga kursus, sekitar 78 persen dapat bekerja dan sekitar 9 persen merintis wirausaha. "Ini luar biasa. Ini gambaran yang saya katakan dapat mengurangi pengangguran. Kursus ini sangat penting untuk menunjang penuruan tingkat pengangguran itu,"ujar Wartanto.
   
Perkembangan keberadaan kursus memang sangat luar biasa, berdasarkan data dari Direktorat Pembinanaan Kursus dan Pelatihan bahwa data LKP tahun 2007 sebanyak 9.642 lembaga, sedangkan data tahun 2010 meningkat tajam menjadi 14.315 dan tahun ini menjadi 17.776. Artinya dalam kurun waktu hanya 5 tahun meningkat sebesar 56,5%, dengan beraneka ragam keterampilan, saat ini ada 224 jenis keterampilan dan dari 224 tersebut 66 jenis keterampilan sudah dibakukan.
   
Fenomena peningkatan jumlah lembaga kursus ini sayangnya belum diiringi dengan peningkatan mutu kursus yang ditandai penyediaan sarana prasarana yang memadai, tenaga pendidik dan kependidikan yang kompeten, kurikulum yang sesuai dengan perkembangangan zaman dan lain-lain yang tidak sesuai dengan standar minimal yang telah ditentukan.
   
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam hal ini Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Ditjen PAUDNI untuk meningkatkan mutu lembaga kursus, mulai dari penguatan sarana prasarana, pelatihan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, program-program subsidi kursus, dengan harapan bahwa pengelolaan kursus dapat lebih bermutu sehingga lulusan yang dihasilkan dapat berkompetisi di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Akreditasi dan Sertifikasi
Pimpinan LKP Mahardika, Cirebon, Yani Hediyana, SKM dalam tulisannya menjelaskan, bahwa penilaian kinerja bagi lembaga kursus merupakan salah satu upaya pemerintah yang patut diacungi jempo. Dalam penilaian kinerja ada beberapa indikator yang harus dipenuhi lembaga kursus untuk mendapat predikat A, B, C atau D, dan ini menjadi acuan bagi pemerintah untuk dapat fokus membina secara terus menerus dan berkesinambungan pada lembaga kursus.
   
Berdasarkan data dari Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan yang ditulis Drs Sipken Ginting dalam Info Kursus, hasil penilaian kinerja tahun 2009 dan 2010 berkinerja A (1,7%), B (20,3%), C (35,7%) dan D (42,3%). Dari data tersebut di atas berarti bahwa keberadaan kursus yang kurang memenuhi standar atau berkinerja D masih lebih banyak, sementara berkinerja sangat baik atau A ternyata masih sangat sedikit. Ini tentu saja menjadi renungan buat kita para pengelola kursus kenapa terjadi hal demikian.
   
Masih sedikitnya lembaga kursus yang terakreditasi kata Wartanto dikarenakan anggaran yang dimiliki Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN-PNF) masih minim. Padahal, lembaga pengakreditasi tersebut harus mengunjungi tiap-tiap lembaga untuk melakukan verifikasi.
   
Untuk meningkatkan kualitas lembaga kursus dan pelatihan, Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan kata Wartanto, menggelontorkan sejumlah strategi. Antara lain melalui program revitalisasi lembaga. “Kami menyediakan bantuan untuk 100 lembaga, masing-masing sebesar Rp 100 juta,” ucap Wartanto. Ia berharap dengan bantuan dari pemerintah pusat, lembaga kursus semakin mantap menjalani proses akreditasi lembaga.
   
Amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menyebutkan bahwa penyelengggaraan sistem pendidikan nasional terdiri atas jalur formal, non formal dan jnformal, sehingga dapat juga disebut bahwa masing-masing jalur tersebut sebagai subsistem.
   
Kursus dan pelatihan sebagai satuan pendidikan non formal yang merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kepada masyarakat yang membutuhkan.
   
Dalam penjelasan Pasal 26 ayat 5 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan pula bahwa kursus dan pelatihan adalah bentuk pendidikan berkelanjutan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dengan penekanan pada penguasaan keterampilan, standar kompetensi, pengembangan sikap kewirausahaan serta pengembangan kepribadian profesional.
   
Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapai tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan zaman. Dan seiring dengan tuntutan tersebut maka lembaga kursus dan pelatihan semakin dituntut untuk mampu menghasilkan lulusan yang kompeten yang dapat diterima oleh pasar kerja di tingkat lokal, nasional bahkan pasar kerja internasional.
   
Pada akhirnya hanya lembaga kursus dan pelatihan yang bermutu yang dapat diterima masyarakat dan dapat bersaing dengan lembaga-lembaga sejenis di tingkat lokal, nasional dan bahkan internasional. Lembaga kursus bukan lagi sekadar pelengkap dalam dunia pendidikan, tapi telah berhasil menjadi mitra sejajar dengan dunia pendidikan formal.

Sumber: Harian sore Sinar Harapan

Bunda PAUD Sulut : Tingkatkan Kualitas Pendidikan Bagi Anak Usia Dini

MANADO, ME : Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain di Sulut terus berkembang. Kamis (31/10/2013), dilaksanakan kegiatan apresiasi PAUD berprestasi yang diikuti PAUD,TK, Kelompok bermain se Sulut bertempat di Halaman Kantor Gubernur Sulut. Kegiatan ini atas kerjasama dengan tim penggerak PKK Sulut.

Ketua TP-PKK Sulut, Deitje Sarundajang Laoh Tambuwun, dalam sambutannya menyatakan rasa terima kasihnya kepada Bunda PAUD yang ada di Kabupaten/ Kota se Sulut yang mau bekerjasama serta pro aktif memberikan pendidikan bagi anak usia dini.

“Masa depan anak ada di tangan kita semua para Bunda dan orang tua, saya mengharapkan para Bunda PAUD di daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak usia dini dengan melaksanakan berbagai program pendidikan peningkatan kecerdasan anak,” ujar Bunda PAUD Sulut ini.

Dalam kegiatan ini dihadiri juga Dirjen PAUD non formal dan formal Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. DR. Lydia Freyani Hawadi, SH. Dirinya juga memberi apresiasi baik bagi Sulut karena mampu menumbuh kembangkan PAUD secara baik.

“Sekitar 50 persen kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika ia berusia 4 tahun, 80 persen ketika anak berusia 8 tahun dan mencapai titik kulminasi pada usia 18 tahun, PAUD menjadi sangat penting karena potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini, untuk itu diharapkan para Bunda PAUD di Sulut untuk tetap aktif dan semangat dalam mendidik anak di usia dini,” ujarnya.

Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua TP. PKK Sulut Ibu Meike Kansil Tatengkeng, Sekretaris TP PKK Sulut Ibu Ester Mokodongan Turang, Kadis Diknas Sulut H Monareh, serta sejumlah tamu undangan lainnya. Pada kesempatan itu juga dilaksanakan sejumlah lomba yakni lomba mobil hias, lomba busana daerah, tari daerah anak PAUD, pameran edukatif,serta mendongeng dan mewarnai.

Editor : Chres
Sumber: http://www.manadoexpress.co/berita-2633-bunda-paud-sulut--tingkatkan-kualitas-pendidikan-bagi-anak-usia-dini.html

BPPAUDNI Surabaya Raih Prestasi di Unjuk Kinerja

Kontingen Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal ( BP-PAUDNI) Regional II meraih sejumlah prestasi dalam unjuk kinerja di bidang olahraga, seni, dan manajemen yang digelar 9-11 Oktober lalu di Direktorat Jenderal (Ditjen) PAUDNI, Jakarta. Dalam ajang yang baru pertama kali digelar itu, BPPAUDNI Surabaya berhasil meraih juara pertama pada cabang bulutangkis, manajemen kearsipan, serta juara tiga pada pengelolaan website, senam poco-poco dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ)
 
Khusus pada cabang bulutangkis, tim BPPAUDNI Surabaya yang beranggotakan Danang Setiyono, Husin Ismail, Nining Ratnaningsih, Reni Martias Pancadewi berhasil menekuk tim Direktorat PAUD di babak final. Untuk tim poco-poco berhasil merebut juara tiga, dipimpin Putut Purnawirawan dengan anggota tim terdiri dari Krisna Kartika, Dahlia Kusumawati, Lufidiani Afifa, Nuriati, Solikhin Hadi, dan Budiono. Sedangkan Mohamad Mat Nawi berhasil meraih juara tiga pada lomba MTQ. Adapun untuk lomba tenis meja, futsal, dan karaoke belum berhasil menembus babak final.
Unjuk kinerja ini diikuti Setditjen PAUDNI, dua PPAUDNI, delapan BPPAUDNI, dan empat direktorat di lingkungan Ditjen PAUDNI. Aneka lomba itu dihelat di tiga tempat terpisah di komplek Kemdikbud, Senayan, Jakarta. Pada perhelatan ini, kontingen PPAUDNI Regional I Semarang, Jawa Tengah berhasil menjadi juara umum dan memboyong piala bergilir Dirjen PAUDNI Prof Lydia Freyani Hawadi Psikolog. Secara bersamaan, turut digelar pula “Pameran Puncak Hari Aksara Internasional (HAI) ke-48” dan “Festival Taman Bacaan Masyarakat” di halaman Kemdikbud.
“Ini merupakan paket three in one ( Puncak HAI, Festival TBM dan unjuk kinerja),” kata Dirjen PAUDNI, Prof.Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, saat menyampaikan sambutan penutupan acara, Jumat (11/10), malam.
 
Secara sportif, Lydia mengakui kekalahan unit kerja pusat dengan UPT daerah. Namun, bagi dia, yang utama adalah upaya memperat hubungan antara pusat dan UPT di daerah melalui ajang tersebut. Tak sekadar soal kalah-menang. Dalam kesempatan ini, Guru Besar UI itu juga mengusulkan BPPAUDNI Surabaya sebagai tuan rumah untuk ajang serupa di tahun 2014 mendatang. (Liliek)

Pendidikan Berbasis Kejujuran dan Anti Korupsi

Jakarta, 27 Januari 2012 – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh melantik pejabat baru di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Dalam acara pelantikan yang dilaksanakan di Gedung Graha Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Senayan Jakarta, M. Nuh melantik 3 pimpinan perguruan tinggi negeri, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan staff ahli Kemdikbud.

Ketiga pimpinan perguruan tinggi tersebut adalah Aulia Tasman sebagai Rektor Universitas Jambi masa jabatan 2012-2016, menggantikan Kemas Arsyad Somad, Moh Hasan sebagai Rektor Universitas Jember masa jabatan 2012-2016 menggantikan Tarsicius Sutikto, dan RD Kusumanto kembali dilantik sebagai Direktur Politeknik Negeri Sriwijaya masa jabatan 2012-2016 yang merupakan masa jabatan ke-dua kalinya.

Adapun Lydia Freyani Hawadi dilantik sebagai  Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menggantikan Hamid Muhammad. Pada kesempatan yang sama, dilantik juga Anna Erliyana, sebagai Staf Ahli Bidang Hukum Kemdikbud dan Kacung Marijan sebagai Staf Ahli Bidang Kerjasama Internasional Kemdikbud.

Dalam sambutannya, Nuh menyampaikan pesan kepada para pimpinan perguruan tinggi dan pejabat Kemdikbud agar dapat mengalakkan pendidikan berbasis kejujuran dan anti korupsi. Menurut Nuh, pendidikan ini harus dipupuk sejak usia dini sehingga ketika dewasa, mereka sudah tidak mengenal lagi kosakata “korupsi”. Nuh menyampaikan pesan khusus kepada Lydia Freyani Hawadi sebagai Dirjen PAUD yang baru, ” Ada dua pesan Bapak Presiden bagi pendidikan usia dini, yaitu tanamkan budaya antri dan budaya bersih, baik secara lahir maupun batin.” ungkap Nuh. Dengan demikian anak-anak sejak usia dini telah diajarkan prinsip menghargai hak orang lain.

Kepada pimpinan perguruan tinggi yang baru, Nuh berpesan agar dapat menjaga dan mengembangkan tradisi akademik dan tradisi budaya yang telah dijalankan pimpinan yang sebelumnya. Pimpinan perguruan tinggi juga diharapkan lebih intensif berdialog dengan mahasiswa dengan sentuhan kepribadian, sebab mahasiswa merupakan anak bangsa yang patut diberi kasih sayang, perhatian, dan didengarkan aspirasinya. Pada kesempatan ini, Nuh kembali berpesan agar setiap perguruan tinggi dapat menjadi perguruan tinggi yang ramah sosial. Mahasiswa hanya dapat di keluarkan dari kampus jika tidak mampu secara akademik, kesulitan finansial tidak dapat dijadikan alasan untuk men-drop out seorang mahasiswa.

Sumber:  http://www.dikti.go.id/

Selasa, 18 September 2018

Dirjen PAUDNI Ajak Semua Pegawai Memelihara Tali Silahturahmi

Dirjen PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi mengajak semua pegawai untuk terus menjaga diri yang fitri dengan senantiasa memelihara tali silahturahmi sesama agar terus terbina kerukunan serta terciptanya rasa aman dan damai di lingkungan kerja.
 
“Setelah saling memaafkan antar sesama keluarga, handai taulan selama Hari Raya Idul Fitri kemarin, saat ini kita saling memaafkan antar teman sejawat,” katanya ketika memberikan sambutan acara Halal bil Halal di lingkungan Ditjen PAUDNI di Jakarta, Senin (12/8), kemarin.
 
Selain itu, tambah Dirjen PAUDNI, sebagai orang yang beragama, kita wajib bersykur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena saat ini kita telah mampu melewati masa-masa sulit dalam banyak hal dan semoga kita akan terus mampu melewati setiap tantangan demi menyempurnakan tujuan.
 
Untuk itu, katanya, di hari yang berbahagia ini memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridho-Nyalah semua pegawai dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal’afiat, untuk saling memaafkan, kembali Fitri, serta untuk mempererat tali persaudaraan diantara kita. “Tentu saja bagi umat Islam, setelah melakukan ibadah Puasa Ramadhan selama satu bulan, tentu kita berharap semoa Allah SWT menerima ibadah kita semua,”tambahnya.
 
Bahkan, Dirjen PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog,  mengajak semua pegawai agar forum ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk saling bersilahturahmi, saling salam memberikan maaf dengan hati terbuka untuk menuju kesucian hati.
 
Acara Halal bil Halal yang juga dihadiri para pejabat eselon I, II, III, dan IV ini, diakhiri dengan salam-salaman, secara bergiliran dan suasana pun semakin bertambah akrab. (Sugito/HK)

Kemendikbud Tutup TK Jakarta International School

JAKARTA, TRIBUN - Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud Lydia Freyani Hawad menyatakan, TK Jakarta International School (JIS) ditutup sementara. Siswa sementara diliburkan.

"Penutupan sementara bagi JIS untuk memberi kesempatan kepada pihak sekolah memenuhi persyaratan perizinan dan membenahi agar sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan RI yang berlaku," kata Lydia kepada Kompas, Jumat (18/4).

Dampak dari penutupan sementara tersebut, kata Lydia, siswa TK JIS diliburkan. Mereka bisa bersekolah kembali ketika pihak JIS telah memenuhi persyaratan yang diminta. "Kebetulan sekarang sudah di pengujung tahun ajaran," katanya.

Lydia mengatakan pihaknya tidak memberi toleransi sedikit pun kepada sekolah-sekolah yang tidak mengantongi izin dari Kemendikbud.

Sebelumnya, Dirjen PAUDNI menyatakan, TK JIS belum memiliki izin. JIS hanya memiliki izin untuk SD dan SMP. Saat jumpa pers bersama pihak JIS di Kemendibud, Dirjen PAUDNI memberi kesempatan pihak JIS untuk menyelesaikan perizinan selama seminggu. (kompas.com)


Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Kemendikbud Tutup TK Jakarta International School, http://jabar.tribunnews.com/2014/04/18/kemendikbud-tutup-tk-jis.

Editor: Deni Ahmad Fajar

Dirjen PAUDNI Tutup Ortek Manajemen LKP

Firman Rusliawan
Staf Seksi Informasi
BP PAUDNI Regional III
Melaporkan dari Makassar


DIREKTUR Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Lydia Freyani Hawadi Psikolog, menutup Orientasi Teknis (Ortek) Manajemen Kelembagaan Lembaga Kursus dan Pelatihan di Kampus Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (BP-PAUDNI) Regional III, di Makassar, Sabtu (22/6/2013).

Ortek manajemen kelembagaan bagi penyelenggara kursus dan pelatihan yang berlangsung tiga hari tersebut, diikuti 88 peserta yang berasal dari berbagai daerah seluruh provinsi se Sulawesi yang merupakan wilayah kerja BP-PAUDNI Regional III.

Dalam arahannya, Prof Lydia mengingatkan agar pengelola lembaga kursus dan pelatihan terus berbenah diri mengingkatkan kategori kinerja lembaganya. Dari yang berkategori C dan D misalnya, harus berupaya untuk meningkat menjadi kategori B atau kategori A.

Itu disampaikan oleh Dirjen PAUDNI karena saat berdialog dengan peserta Ortek, ternyata masih ada pengelola LKP yang sudah tujuh tahun menyelenggarakan kursus dan pelatihan lembaganya masih tetap berkategori C. Bahkan, ada lembaga kursus yang sudah berjalan 10 tahun kategori kinerjanya masih C.

“Perlu kesungguhan dan kerja keras untuk meningkatkan kategori kinerja LKP masing-masing,” kata Guru Besar Psikolog Universitas Indonesia itu.
Prof Lydia juga mengingatkan agar pengelola lembaga kursus dan pelatihan jeli melihat potensi pasar, khususnya kebutuhan warga. Termasuk mengetahui strata pesertanya.

“Jangan latah membuka kursus, tetapi lihat potensinya. Lebih baik lagi jika keahlian yang ditawarkan yang belum mereka dapatkan di sekolah,” kata Prof Lydia.

Dia juga mengatakan, meskipun pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan primadona PAUDNI dan menjadi prioritas pendidikan, namun lembaga kursus dan pelatihan tetap diperhatikan pemerintah.

“Itu karena kursus membantu pemerintah dalam mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Makanya, anak putus sekolah yang harus dibantu melalui kursus,” kata Prof Lydia.

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Dirjen PAUDNI Tutup Ortek Manajemen LKP, http://makassar.tribunnews.com/2013/06/23/dirjen-paudni-tutup-ortek-manajemen-lkp.

Editor: Imam Wahyudi

Lemhannas: Anak-Anak Membutuhkan Pancasila yang Implementatif

Penulis: Micom
ANAK-ANAK Indonesia membutuhkan Pancasila yang implementatif, yang dapat dapat dirasakan dalam kehidupan keseharian mereka. Hanya dengan cara demikian, nilai-nilai luhur Pancasila dapat ditanamkan mengingat bahwa anak-anak itu merupakan tabula rasa yang dapat diisi dengan apa saja.

Jika sejak dini ditanamkan Pancasila membangun persahabatan dengan semua orang tanpa diskriminasi, tanpa membeda-bedakan suku, agama, rasa, atau strata sosial, mereka akan menjadi generasi yang pluralis, yang menghargai kesetaraan, kemajemukan, dan juga kebersamaan.

Demikian diungkapkan Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Komjen Pol Arif Wachjunadi, yang sekaligus Ketua Senat Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI–2017, dalam pernyataannya sebelum mengadakan kunjungan media terkait dengan sosialisasi seminar nasional dengan tema 'Peran Pancasila Dalam Memperkokoh NKRI', Rabu (13/9).

Adapun judul seminar yang dipilih adalah 'Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Sistem Pendidikan Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional'.

Peserta PPSA XXI yang turut dalam sosialisasi seminar nasional itu ialah Mayjen TNI Madsuni (Danjen Kopassus), Marsda Imran Baidirus (Pangkoopsau I), Brigjen TNI (Mar) Lukman (Dankomar Pasmar I Surabaya), Prof DR Gumilar R Somantri, Taufik Dwicahyono MSc, Brigjen TNI A Daniel Chardin (Kasdam Iskandar Muda), Laksma TNI Edi Sucipto (Danlantamal V Surabaya), Laksma TNI Muhammad Ali (Waasrena KASAL), Prof DR Lydia Freyani Hawadi, AM Putut Prabantoro, dan Brigjen TNI Achmad Marzuki (Komandan Pusat Misi Pemelihara Perdamaian TNI).

Menurut Arif, anak-anak membutuhkan bentuk nyata dari implementasi pengamalan Pancasila. Oleh karena itu, seminar nasional pada 16 November 2017 itu diharapkan dapat menghasilkan berbagai bentuk implementasi sebagai sarana penanaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Lagu seperti 'O, Ibu dan Ayah Selamat Pagi (Pergi Belajar)' sebagai salah satu contoh penanaman nilai penghormatan kepada orangtua. Atau juga, diajarkannya kembali lagu-lagu daerah seluruh Indonesia atau bahkan diciptakan kembali lagu-lagu yang menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan tanpa diskriminasi, atau pengajaran solidaritas tanpa perbedaan.

"Kita semua tanpa terkecuali harus terlibat dalam membangun generasi baru Indonesia yang berjiwa Pancasila. Cara yang lain antara lain adalah pemilihan ketua kelas dengan cara musyarawah, jambore nasional anak-anak dari berbagai daerah, atau gerakan anti-korupsi dengan berdisplin waktu. Karya dan pengalaman nyata anak-anak tentang nilai-nilai Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, serta UUD NRI 1945, akan membekas dalam pertumbuhan hidup mereka," ujar Sestama Lemhannas ini.

Namun demikian, Arif menegaskan bahwa para pendidik juga harus berjiwa Pancasilais dulu sebelum mendidik anak-anak. Dikhawatirkan aktualisasi nilai-nilai Pancasila untuk anak-anak tidak memenuhi harapan karena para pendidiknya tidak memberi contoh jiwa Pancasilais.

Seminar nasional ini merupakan sumbangsih dari peserta PPSA XXI Lemhannas RI yang ikut bertanggung jawab terhadap generasi Indonesia di masa mendatang terkait dengan arus nilai-nilai ideologi lain akibat dari globalisasi, yang tantangannya lebih besar dan berat. Seminar nasional ini akan dihadiri para tokoh nasional, pendidik, media-media ataupun lembaga perguruan tinggi. (RO/OL-2)

Sumber:  http://mediaindonesia.com/read/detail/122319-lemhannas-anak-anak-membutuhkan-pancasila-yang-implementatif

Obama, Tokoh Global yang Menginspirasi

JAKARTA - Patung Presiden Amerika Serikat Barack Obama kecil diresmikan di Taman Menteng, Jakarta. Pro kontra publik meramaikan pengukuhan patung perunggu senilai Rp100 juta.

Guru Besar Ilmu Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia, Lydia Freyani Hawadi mengatakan patung Obama bisa menjadi simbol yang menginspirasi siswa sekolah. "Tokoh inspirasi bisa dari mana saja, tidak terikat regional. Obama kebetulan dianggap sebagai bagian dari Indonesia," kata Lydia saat berbincang dengan okezone via telepon, Kamis, (10/12/2009).


Dia menjelaskan, Obama dikenal sebagai tokoh yang memiliki latar belakang sederhana. Obama pun pernah menimba ilmu di SD 01 Menteng pada tahun 1968-1970. Kini, Obama berhasil menjadi orang nomor satu di negara adidaya Amerika Serikat.

Secara psikologis, siswa sekolah, sambung Lidya, secara cepat menangkap inspirasi dari kisah perjalanan Presiden berkulit hitam itu. "Tokoh global ini bisa jadi inspirasi magnet mendorong individu mencapai sesuatu," ujarnya.
Baginya, inspirasi tidak bisa dibatasi oleh ruang atau wilayah. Lydia mencontohkan tokoh Pembebasan Vietnam Utara Ho Chi Minh. Tak hanya di Vietnam, patung Ho Chi Minh juga ada di Rusia dan Perancis.

Patung Obama di tengah Taman Menteng digagas oleh komunitas �~Friends of  Obama'. Patung lengkap dengan kupu-kupu di tangan kiri itu menghabiskan biaya lebih dari Rp100juta.  Uang itu didapat dari para donatur di antaranya, Hasyim Djojohadikusumo dan Surya Paloh.

Saat meresmikan patung Obama, Walikota Jakarta Pusat Sylviana Murni mengatakan, pembuatan patung ini tidak dimaksudkan untuk memberi apresiasi berlebihan ke Obama. "Hanya sekadar  memberikan inspirasi bagi anak-anak dan para guru bahwa pendidikan di Indonesia bisa mencetak seorang presiden yang luar biasa. Selain Obama nanti juga akan dibangun patung para pahlawan di Taman Menteng," kata dia.

Secara terpisah, anggota Komisi X DPR Dedi Gumelar alias Miing tak sepakat dengan patung 'Barry' ini. Baginya, Obama tidak memberi sumbangsih apapun terhadap Indonesia. "Kita ini bangsa yang merdeka. Daripada membuat patung Obama lebih baik membuat patung mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin," tukas Miing di Gedung DPR, Jakarta. (frd)

(hri)

Sumber:  https://news.okezone.com/read/2009/12/10/338/283777/obama-tokoh-global-yang-menginspirasi

Minggu, 16 September 2018

Bansos PAUD Mencapai Rp 527 Miliar

YOGYAKARTA, PAUDNI. Alokasi dana  bantuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebesar Rp 527 Miliar pada tahun ini. Jumlah ini mencapai 87 persen dari total anggaran yang dikelola Direktorat Pembinaan PAUD sebanyak Rp 608,1 Miliar.

“Sebagian besar dana diperuntukan untuk bansos, untuk masyarakat,” ujar Direktur Jenderal PAUDNI Lydia Freyani Hawadi saat menjadi pembicara kunci pada Diskusi Kebijakan PAUD yang diselenggarakan Sekretariat Kabinet, di Yogyakarta (27/3).
Namun Dirjen mengingatkan bahwa jumlah tersebut belum sebanding dengan sasaran yang harus dilayani. Oleh karena itu, ia minta agar pemerintah daerah turut membantu mengalokasikan dana daerah.
Jumlah anggaran PAUD setiap tahun memang terus menciut. Pada tahun 2011, Kemdikbud mengalokasikan sebanyak Rp 1,7 Triliun. Lantas pada tahun 2012 anjlok menjadi Rp 880 miliar, lalu turun menjadi Rp 652 pada tahun 2013.
Pemetaan Bansos
Meskipun angaraan terus mengecil, namun Dirjen tetap meminta agar pengawasannya diperketat. Ia menegaskan agar bansos PAUD diberikan pada lembaga yang layak berdasarkan juknis dan aturan yang berlaku. Oleh karena itu butuh pemetaan lembaga yang telah menerima dana bansos.

“Jangan diberikan berdasarkan kedekatan dan memo-memo,” ujar Dirjen sembari mengingatkan bahwa tahun ini adalah tahun pemilu, yang mana penyaluran bansos sangat rawan diselewengkan untuk kepentingan politik.
(Yohan Rubiyantoro/HK)

Ibu Dirjen PAUDNI: Tingkatkan Mutu PAUD untuk Cetak Generasi Emas

Untuk mencetak generasi emas Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) akan meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD). Hal tersebut dinyatakan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi Psi., saat ditemui sejumlah pewarta di ruang kerjanya, Selasa (1/5). 

Untuk menggenjot program PAUD, Ditjen PAUDNI akan tetap memberikan bantuan rintisan, alat permainan edukasi, dan serangkaian program yang telah disiapkan. Hal tersebut bertujuan untuk mewujudkan generasi emas. Sehingga pada 2045, saat peringatan ulang tahunIndonesiayang ke-100, terciptalah generasi muda yang kamil dan paripurna. Sebelumnya,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh mengatakan, untuk menghasilkan generasi muda yang luar biasa, maka persiapannya harus dipupuk sejak usia dini. Hal tersebut senada dengan tema peringatan Hardiknas 2012 yakni Bangkitnya Generasi EmasIndonesia. 

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesiaitu menuturkan mengenai pentingnya PAUD. Usia dini merupakan masa keemasan (the golden age) seorang anak. Fase tersebut juga menjadi periode yang sangat penting dalam perkembangan fisik dan mental seorang manusia. Tumbuh kembang anak pada usia dini akan sangat menentukan kualitas kecerdasan, kesehatan, dan kematangan emosional di masa mendatang. 

“Anak usia dini harus terpenuhi kecukupan gizinya,” ucap Prof. Reni, sapaan akrab Dirjen PAUDNI. Menurut Prof. Reni, yang dimaksud dengan gizi bukan hanya asupan makanan bagi anak. Namun, juga pendidikan bagi mereka. Sejak usia dini, seorang anak perlu bermain sambil belajar. (Yohan/HK)

Indonesia Raih Penghargaan Aksara King Sejong

Oleh: Yuansyah Satya NERACA  
UNESCO berikan penghargaan kepada pemerintah karena dianggap berhasil dalam program penuntasan tuna aksara orang dewasa di Indonesia.

Sebagai upaya keberaksaraan, UNESCO mencanangkan Dekade Keaksaraan. Dekade ini ditujukan untuk meningkatkan tingkat melek aksara dan memberdayakan seluruh masyarakat.

Pada awal United Nations Literacy Decade (UNLD), tahun 2003, ada 15,41 juta orang buta aksara di Indonesia. Pada tahun 2010, jumlah itu menyusut menjadi 7,54 juta orang. Artinya, Indonesia lebih cepat melampaui target Millenium Development Goals (MDGs) yang menyepakati penurunan 50% buta aksara pada tahun 2015. Sebab pemerintah meyakini bahwa awal dari peradaban adalah keaksaraan itu sendiri yang berjalan dari masyarakat yang belajar. Kemampuan baca tulis dan berhitung itu sifatnya berkelanjutan.

Pada tahun ini Indonesia kembali mendapatkan Penghargaan Aksara King Sejong dari UNESCO. Suatu penghargaan yang diberikan kepada pemerintah dan/atau organisasi yang dianggap berhasil dalam program penuntasan tuna aksara orang dewasa. Pemberian penghargaan dilaksanakan di Paris pada 6 September.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kemdikbud Lydia Freyani Hawadi mengatakan, pemerintah telah melakukan berbagai program seperti tuna aksara dasar yang dikombinasikan dengan kewirausahaan. Selain itu, perluasan taman bacaan masyarakat (TBM) di ruang publik, serta peningkatan kapasitas profesional tutor.

“Kita berhasil mendapatkan penghargaan ini karena dianggap UNESCO berhasil dalam peningkatan mutu penuntasan tuna aksara yang terintegrasi,” katanya pada diskusi publik yang disiarkan langsung dari Studio Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud, Jakarta, bekerjasama dengan Radio KBR 68H, Kamis (6/09).
Lydia mengatakan, sejak 2009, pemerintah telah mendesain ulang program-progam penuntasan tuna aksara. Pada program keaksaraan dasar, kata dia, penyandang tuna aksara dilatih baca tulis hitung (calistung) oleh tutor. Setelah menguasai, pada tahap berikutnya mereka mengikuti program keaksaraan usaha mandiri. “Untuk meningkatkan kompetensi keberaksaraannya mereka diberikan kemandirian untuk usaha,” katanya pada diskusi yang dipandu penyiar Dede Riani.

Tahap selanjutnya, kata Lydia, mereka mengikuti program multikeaksaraan untuk memelihara dan mengembangkan keberlanjutan keberaksaraan. Caranya ditempuh dengan mengenalkan internet, seni budaya, dan bahasa ibu. “Mereka juga dilibatkan membuat Koran Ibu,” katanya.

Lydia menambahkan, pemerintah juga mencanangkan ada satu TBM di setiap 10 kecamatan. Untuk mewujudkannya, pemerintah menganggarkan Rp 35 juta untuk setiap rintisan TBM. “Buku-buku yang ada harus sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat setempat,” katanya.

Sumber:  http://www.neraca.co.id/article/19288/Indonesia-Raih-Penghargaan-Aksara-King-Sejong

Malaysia Pertahankan Bahasa Melayu

Banyak bahasa yang ada di Malaysia, tapi bahasa Melayu yang paling dominan.
Bahasa Melayu akan tetap dipertahankan di tingkat pendidikan di Malaysia mulai dari taman kanak-kanak hingga pendidikan menengah untuk mendorong peningkatan keaksaraan berdasarkan bahasa ibu, kata utusan Kementerian Pembelajaran Pendidikan Malaysia Chin Fong Phin.

"Di sekolah kebangsaan, bahasa Melayu diamalkan di sekolah. Banyak bahasa yang ada di Malaysia, tapi bahasa Melayu yang paling dominan," kata Chin Fong Phin dalam Seminar Internasional Keaksaraan Berbasis Bahasa Ibu dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, penggunaan bahasa Melayu akan terus dilestarikan. "Kami akan terus mengajarkan bahasa Melayu. Sebagian besar, bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar studi," katanya.

Senada dengan Chin, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi mengatakan pentingnya pengembangan keaksaraan berbasis bahasa ibu. 

Hal ini karena masyarakat yang masih tuna aksara itu bahasa ibunya sangat kuat, sehingga diharapkan keaksaraan berbasis bahasa ibu dapat mempercepat seseorang untuk beraksara.


Sementara itu, pemerintah Timor Leste menargetkan seluruh penduduknya pada 2015 mendatang bebas dari buta huruf, kata Direktur National Directorate of Recurrent Education (NDRE) Filomeno Lourdes Dos Reis Belo.

"Targetnya pada 2015, Timor Leste bebas buta huruf," kata Filomeno di sela-sela seminar.

Pada 2007 pemerintah Timor Leste memulai kerjasama dengan Kuba terkait pemberantasan buta huruf di Timor Leste. "Kami bekerjasama dengan Kuba karena mereka memiliki metode audio visual yang bagus untuk pemberantasan buta huruf," katanya.

Menurut dia, dengan metode ini membuat para siswa yang mayoritas kalangan dewasa bersemangat untuk belajar. "Melalui metode audio visual, para orang tua bisa belajar sambil menonton gerakan-gerakan di televisi, itu membuat mereka senang dan semangat belajar.

Sumber: Antara

Kemendikbud: Penting, Pendidikan Keaksaraan Berbasis Bahasa Ibu

Keaksaraan mampu mendorong partisipasi dalam mempertahankan warisan budaya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menilai dalam upaya pengentasan ketunaaksaraan, diperlukan peningkatan pendidikan keaksaraan berdasarkan bahasa ibu dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). 

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lydia Freyani Hawadi melalui siaran pers di Jakarta, kemarin, menjelaskan untuk mendukung gerakan pengembangan keaksaraan berbasis bahasa ibu, pemda harus berperan melalui peraturan daerah yang mengatur penggunaan bahasa ibu dalam program keaksaraan. 

Disebutkan, Perwakilan UNESCO Bangkok Ichiro Miyazawa, sudah saatnya terdapat pendidikan keaksaraan secara terbuka dengan berbagi kualitas pengajar dan bahan ajar. 

Dalam rilis disebutkan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Arief Rachman mengatakan keaksaraan mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam mempertahankan kearifan lokal, warisan budaya, nilai-nilai serta kepercayaan tradisional. 

Sementara keaksaraan digital dapat dikuasai bila seseorang telah beraksara atau mampu membaca, menulis, berkomunikasi dan menguasai informasi dalam suatu bahasa. 

Menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Ella Yulaelawati, keaksaraan digital merupakan kemampuan yang sangat kuat dan canggih dari sekedar mengkombinasikan kosakata keaksaraan biasa dan penguasaan digital. 

Informasi digital menunjukkan data secara simbolis, sedangkan keaksaraan biasa merujuk kemampuan membaca untuk pengetahuan, menulis koheren dan berpikir kritis tentang kata-kata tertulis. 

Saat ini Indonesia menempati peringkat keempat dunia sebagai negara pengguna Facebook terbanyak dengan 50,4 juta orang dan peringkat kelima dunia sebagai negara pengguna Twitter terbanyak dengan 29,4 juta orang. 

Sementara masih terdapat 6,7 juta orang dewasa dan lebih dari enam juta lansia yang buta aksara digital. Disebutkan masyarakat yang masih tuna aksara, bahasa ibunya sangat kuat.
 
Oleh karena itu keaksaraan berbasis bahasa ibu diharapkan dapat mempercepat seseorang untuk beraksara, sehingga kemudian kemampuannya dapat ditransfer ke dalam keaksaraan bahasa nasional dan keaksaraan digital.
Sumber: Antara

Gubernur Jatim dan Kalteng Pelopor Bebas Buta Aksara

Dua gubernur, yaitu Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang, akan menerima anugerah keaksaraan pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-47 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Mereka dianggap sudah berperan penting dalam peningkatan keaksaraan di daerah masing-masing.

Gubernur Jatim Soekarwo akan menerima Anugerah Aksara Utama atas komitmen pemerintahnnya untuk mengalokasikan dana APBD paling besar untuk program peningkatan keaksaraan.

Sedangkan, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang akan menerima penghargaan Aksara Madya karena perhatiannya terhadap program keaksaraan masyarakat marjinal.

"Setiap tahun kami mengapresiasi kepala daerah yang memiliki komitmen tinggi untuk penuntasan tuna aksara," kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lydia Freyani Hawadi di Jakarta, Kamis (13/9).

Lydia menuturkan penghargaan serupa juga diberikan kepada tiga bupati dan satu wali kota. Dari unsur masyarakat, penghargaan diberikan kepada enam warga belajar, enam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), enam taman bacaan masyarakat (TBM), enam Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), enam lembaga kursus, dan enam wartawan yang mempublikasikan isu keaksaraan.

Berdasarkan data tahun 2011, Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat pertama dengan penduduk buta aksara tertinggi yaitu mencapai 1.582.293 pada 2011. Sedangkan, Jawa Tengah menduduki peringkat kedua dengan jumlah penduduk buta aksara 986.179.

Lydia mengatakan gubernur Jatim pernah protes karena disebut sebagai provinsi berpenduduk buta aksara paling banyak. Sebab, masyarakat Jatim khususnya di wilayah Tapal Kuda (Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi) sebenarnya sudah melek aksara namun kebanyakan aksara Arab. Para warga di wilayah Tapal Kuda umumnya tinggal di pondok pesantren.

"Maka perlu intervensi dan kerja sama yang baik dengan Kementerian Agama. Bagaimana di pesantren-pesantren masalah pengajaran bahasa Indonesia dijadikan prioritas. Harus dimasukkan menjadi kurikulum formal pesantren," kata Lydia.

Papua tertinggi
Sementara itu, Direktur Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal PAUDNI Kemdikbud, Ella Yulaelawati, mengatakan, selain Jawa Timur, Papua juga masih menjadi salah satu daerah tertinggi buta aksara.

Penuntasan keaksaraan di Papua jauh lebih sulit dibandingkan di Jatim karena terkendala sumber daya manusia (SDM) dan keragaman bahasa daerah.

"Ada masalah infrastruktur dan SDM. Di samping itu karena bahasa ibu Papua sangat banyak. Maka kita kekurangan bahan ajar dalam bahasa daerah, apalagi dalam bahasa Papua," kata Ella.

Hasil sensus penduduk tahun 2010 yang dirilis oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PAUDNI Kemendikbud menyebutkan angka tuna aksara usia 15-59 tahun di Provinsi Papua sebesar 36,31 % atau 633.935 jiwa. Artinya, persentasenya jauh lebih tinggi dibandingkan angka tuna aksara secara nasional sebesar 5,02 %.
Sumber: Suara Pembaruan

UNESCO Akui Strategi Penuntasan Tuna Aksara RI Sukses

Indonesia menargetkan bebas dari buta aksara tahun 2015.

Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, UNESCO, memberikan apresiasi atas strategi penuntasan tuna aksara di Indonesia. UNESCO menilai Indonesia berhasil melaksanakan program penuntasan tuna aksara orang dewasa lewat berbagai program terintegrasi.

Pada Kamis (6/9) di Paris, Prancis, Indonesia menerima Penghargaan Aksara King Sejong dari UNESCO. Penghargaan diterima oleh Direktur Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Ella Yulaelawati.


Direktur Jenderal PAUDNI Kemdikbud, Lydia Freyani Hawadi mengatakan, pemerintah telah melakukan berbagai program seperti tuna aksara dasar yang dikombinasikan dengan kewirausahaan. Selain itu, pemberantasan buta aksara dilakukan dengan peningkatan kapasitas profesional tutor dan perluasan taman bacaan masyarakat (TBM) di ruang publik.

"Kita berhasil mendapatkan penghargaan ini karena dianggap UNESCO berhasil dalam peningkatan mutu penuntasan tuna aksara yang terintegrasi," kata Lydia lewat keterangan pers yang diterima wartawan, Kamis (6/9).

Menurut Lydia, pemerintah telah mendesain ulang program-progam penuntasan tuna aksara sejak tahun 2011. Dalam program keaksaraan dasar, penyandang tuna aksara dilatih baca tulis hitung (calistung) oleh tutor. Setelah menguasai, pada tahap berikutnya mereka mengikuti program keaksaraan usaha mandiri. "Untuk meningkatkan kompetensi keberaksaraannya, mereka diberikan kemandirian untuk usaha," ujarnya.

Lydia menjelaskan, pada tahap selanjutnya, para peserta mengikuti program multikeaksaraan untuk memelihara dan mengembangkan keberlanjutan keberaksaraan. Caranya ditempuh dengan mengenalkan internet, seni budaya, dan bahasa ibu. "Mereka juga dilibatkan membuat Koran Ibu," katanya.

Ditambahkan Lydia, pemerintah juga mencanangkan ada satu TBM di setiap 10 kecamatan. Untuk mewujudkannya, pemerintah menganggarkan Rp35 juta untuk setiap rintisan TBM. "Buku-buku yang ada harus sesuai dengan tingkat kebutuhan masyarakat setempat," katanya.

Sebelumnya, Ella juga telah mengatakan, Indonesia menargetkan terbebas dari buta aksara tahun 2015. Jumlah penduduk buta atau tuna aksara tahun 2011 tercatat sebanyak 6,7 juta. Oleh karena itu, Indonesia menargetkan pengurangan jumlah penduduk buta aksara sekitar 2 juta setiap tahun. Dia merasa optimistis mampu mencapai target bebas buta aksara lewat sejumlah terobosan program.

"Indonesia sangat gesit dalam pencapaian tingkat keaksaraan. Dimulai dari Instruksi Presiden Nomor 5/2006 tentang Gerakan Nasional Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara, sampai sebagai sebuah gerakan yang hidup di masyarakat," papar Ella.

Menurut Ella, Indonesia sudah berhasil mencapai salah satu target Education For All (EFA) dari UNESCO yaitu peningkatan keaksaraan, sejak tahun 2010. Angka penduduk buta aksara di Indonesia terus menurun dari sejak 2004 sebanyak 15 juta, kemudian pada 2010 menjadi 7,5 juta, dan turun lagi tahun 2011 menjadi 6,7 juta. Oleh karena itu, UNESCO menantang Indonesia untuk mencapai bebas tuna aksara saat evaluasi EFA tahun 2015.

Ella pun menilai, pemberian King Sejong Award dari UNESCO menunjukkan program penuntasan tuna aksara di Indonesia sudah diakui secara internasional. "Tim juri terkesan dengan program meningkatkan kualitas keaksaraan melalui aksara kewirausahaan, budaya baca, dan pembinaan tutor, yang secara intensif dilakukan di seluruh masyarakat Indonesia dengan biaya APBN, APBD, swasta, dan masyarakat," ujar Ella.

Ella mengatakan, Kemdikbud menargetkan pemberantasan buta aksara tahun 2013 di tiga tempat yaitu Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Ketiga daerah itu dipilih karena persentase buta aksara tinggi, namun tidak memiliki sumber daya manusia dan infrastruktur memadai untuk pemberantasan buta aksara.

Berdasarkan statistik, kata Ella, Jawa Timur menduduki peringkat pertama provinsi dengan penduduk buta huruf tertinggi yaitu mencapai 1.582.293 pada 2011. Sementara Jawa Tengah menduduki peringkat kedua dengan jumlah penduduk buta aksara 986.179.


Sumber:  http://www.beritasatu.com/nasional/70226-unesco-akui-strategi-penuntasan-tuna-aksara-ri-sukses.html

Kenalkan Enaknya Buah dan Sayur Sejak Dini

KOMPAS.com - Dalam menerapkan kebiasaan pola makan, anak kerap hanya dijadikan objek di mana ia harus menyukai makanan yang disodorkan orangtua. Kadang ada unsur paksaan juga di dalamnya. Padahal, jika anak mengenal gizi sejak dini, maka ia akan dengan sadar menikmati makanannya, dan itu tentu akan menjadi lebih baik di masa-masa mendatang. Atas dasar itu jugalah program “Ayo Melek Gizi” yang diusung Sarihusada sejak tahun 2009 berkembang dengan adanya pembuatan Kebun Nutrisi. 

Di program ini, anak-anak diajak mengenal makanan sehat seperti sayur dan buah yang mereka tanam, panen, dan masak sendiri. “Kami ingin mengubah perspektif bahwa anak tidak harus selalu disodori makanan, tapi mereka juga bisa mengenal dan menyukai makanan bergizi dari diri mereka sendiri,” ujar Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Division Sarihusada, saat diskusi Nutritalk, “Menumbuhkan Kecintaan Anak pada Gizi Sejak Dini” di restoran Kembang Goela, Sudirman, Jakarta, Selasa (21/5/2013). Sebagai tahap awal, pembangunan Kebun Nutrisi mini ini dilakukan di PAUD Rumah Srikandi Kemudo, Klaten, perbatasan Jogjakarta. Anak-anak berusia 2-4 tahun di sana sudah diajari menanam dan merawat tanaman pangan seperti kangkung, bayam, tomat, sawi, dan terong. 

“Dengan terlibat langsung dalam proses menanam dan memelihara tanaman, anak-anak bisa belajar sekaligus bermain,” ujarnya. Dalam pelaksanaan program Ayo Melek Gizi (AMG) sendiri, Sarihusada sudah mendukung 13 PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini yang menjadi percontohan di Jogjakarta. Kegiatannya beragam, dari mulai pembinaan tenaga pengajar hingga pengembangan materi pengajaran tambahan berbasis nutrisi. Diskusi Nutritalk termasuk salah satu program AMG sebagai penyebarluasan informasi pada media. 

Selain Arif, turut hadir Nunuk Sri Mulyani, kepala sekolah PAUD Rumah Srikandi Kemudo, Dr Elvina Karyadi MSc, PhD, SpGK, ahli gizi dan direktur Micronutrient Initiative Indonesia (MII), dan Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, selaku Direktur Jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI). Disampaikan Arif, program AMG sudah berjalan empat tahun dan telah melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, LSM, serta organisasi masyarakat di daerah. 

“Tiap tahun ada empat juta generasi baru lahir, sementara persiapan untuk menjadi orangtua dan mendidik anak masih kurang, termasuk mengenai gizi dan nutrisi,” ungkapnya beralasan. Oleh karena itu juga, program ini memberi fokus utama pada kesehatan ibu dan anak. Sejak awal diselenggarakannya program ini, diketahui juga bahwa masalah gizi tidak melulu karena uang, tapi juga ketidaktahuan ibu akan gizi. Karenanya, berbagai upaya seperti merilis buku Ayo Melek Gizi, penyuluhan, serta edukasi keliling dengan mobil sehat, sudah pula dilakukan. 

Dr Elvina menambahkan, masalah gizi pada anak biasanya erat kaitannya dengan kelaparan tersembunyi, yakni kebutuhan gizi mikro yang tidak tercukupi. Kebanyakan orang berusaha memprioritaskan pemenuhan gizi makro, yakni karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan gizi mikro yang terdiri atas vitamin dan mineral, sering terlupakan. “Mengenalkan enaknya buah dan sayur sejak dini kemudian menjadi penting buat anak-anak, jangan sampai dipaksakan dan membuat mereka trauma, lalu enggan mengonsumsinya,” paparnya. 

Prof Freyani, atau yang biasa disapa Prof Reni menambahkan, dirinya mengakui kalau selama ini belum ada program Kebun Nutrisi yang diwajibkan di PAUD. Hal ini bisa diusulkan untuk dimasukkan ke dalam kurikulum di masa yang akan datang, karena efeknya baik untuk anak sekaligus sang ibu dalam hal mengenal gizi seimbang. “Upaya untuk mengatasi masalah gizi dengan edukasi sejak dini mungkin sudah pernah ada, tapi belum banyak dan maksimal. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi,” ungkap Arif.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kenalkan Enaknya Buah dan Sayur Sejak Dini", https://tekno.kompas.com/read/2013/05/21/18282118/kenalkan.enaknya.buah.dan.sayur.sejak.dini.

KOMPAS.com - Dalam menerapkan kebiasaan pola makan, anak kerap hanya dijadikan objek di mana ia harus menyukai makanan yang disodorkan orangtua. Kadang ada unsur paksaan juga di dalamnya. Padahal, jika anak mengenal gizi sejak dini, maka ia akan dengan sadar menikmati makanannya, dan itu tentu akan menjadi lebih baik di masa-masa mendatang. Atas dasar itu jugalah program “Ayo Melek Gizi” yang diusung Sarihusada sejak tahun 2009 berkembang dengan adanya pembuatan Kebun Nutrisi. Di program ini, anak-anak diajak mengenal makanan sehat seperti sayur dan buah yang mereka tanam, panen, dan masak sendiri. “Kami ingin mengubah perspektif bahwa anak tidak harus selalu disodori makanan, tapi mereka juga bisa mengenal dan menyukai makanan bergizi dari diri mereka sendiri,” ujar Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Division Sarihusada, saat diskusi Nutritalk, “Menumbuhkan Kecintaan Anak pada Gizi Sejak Dini” di restoran Kembang Goela, Sudirman, Jakarta, Selasa (21/5/2013). Sebagai tahap awal, pembangunan Kebun Nutrisi mini ini dilakukan di PAUD Rumah Srikandi Kemudo, Klaten, perbatasan Jogjakarta. Anak-anak berusia 2-4 tahun di sana sudah diajari menanam dan merawat tanaman pangan seperti kangkung, bayam, tomat, sawi, dan terong. “Dengan terlibat langsung dalam proses menanam dan memelihara tanaman, anak-anak bisa belajar sekaligus bermain,” ujarnya. Dalam pelaksanaan program Ayo Melek Gizi (AMG) sendiri, Sarihusada sudah mendukung 13 PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini yang menjadi percontohan di Jogjakarta. Kegiatannya beragam, dari mulai pembinaan tenaga pengajar hingga pengembangan materi pengajaran tambahan berbasis nutrisi. Diskusi Nutritalk termasuk salah satu program AMG sebagai penyebarluasan informasi pada media. Selain Arif, turut hadir Nunuk Sri Mulyani, kepala sekolah PAUD Rumah Srikandi Kemudo, Dr Elvina Karyadi MSc, PhD, SpGK, ahli gizi dan direktur Micronutrient Initiative Indonesia (MII), dan Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, selaku Direktur Jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI). Disampaikan Arif, program AMG sudah berjalan empat tahun dan telah melibatkan banyak pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, LSM, serta organisasi masyarakat di daerah. “Tiap tahun ada empat juta generasi baru lahir, sementara persiapan untuk menjadi orangtua dan mendidik anak masih kurang, termasuk mengenai gizi dan nutrisi,” ungkapnya beralasan. Oleh karena itu juga, program ini memberi fokus utama pada kesehatan ibu dan anak. Sejak awal diselenggarakannya program ini, diketahui juga bahwa masalah gizi tidak melulu karena uang, tapi juga ketidaktahuan ibu akan gizi. Karenanya, berbagai upaya seperti merilis buku Ayo Melek Gizi, penyuluhan, serta edukasi keliling dengan mobil sehat, sudah pula dilakukan. Dr Elvina menambahkan, masalah gizi pada anak biasanya erat kaitannya dengan kelaparan tersembunyi, yakni kebutuhan gizi mikro yang tidak tercukupi. Kebanyakan orang berusaha memprioritaskan pemenuhan gizi makro, yakni karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan gizi mikro yang terdiri atas vitamin dan mineral, sering terlupakan. “Mengenalkan enaknya buah dan sayur sejak dini kemudian menjadi penting buat anak-anak, jangan sampai dipaksakan dan membuat mereka trauma, lalu enggan mengonsumsinya,” paparnya. Prof Freyani, atau yang biasa disapa Prof Reni menambahkan, dirinya mengakui kalau selama ini belum ada program Kebun Nutrisi yang diwajibkan di PAUD. Hal ini bisa diusulkan untuk dimasukkan ke dalam kurikulum di masa yang akan datang, karena efeknya baik untuk anak sekaligus sang ibu dalam hal mengenal gizi seimbang. “Upaya untuk mengatasi masalah gizi dengan edukasi sejak dini mungkin sudah pernah ada, tapi belum banyak dan maksimal. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi,” ungkap Arif.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kenalkan Enaknya Buah dan Sayur Sejak Dini", https://tekno.kompas.com/read/2013/05/21/18282118/kenalkan.enaknya.buah.dan.sayur.sejak.dini.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia