Jumat, 29 September 2017

Alokasi APBD Minim Terhadap Pengembangan PAUD

Citizen Reporter, Muhammad Wildan Staf Seksi Informasi dan Kemitraan BPPAUDNI Regional III Melaporkan dari Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM -Untuk mewujudkan target Satu Desa Satu PAUD diperlukan keterlibatan semua pihak, termasuk pemerintah daerah. Karena jika hanya mengandalkan bantuan pembiayaan dari pusat melalui APBN butuh waktu lama. Saat ini, masih ada sekitar 23 ribu desa yang belum memiliki lembaga PAUD.

“Sharing APBD tingkat satu dan dua terhadap pengembangan PAUD masih sangat minim,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (Dirjen PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, Pskolog, saat menjadi nara sumber pada Rapat Koordinasi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif tingkat Regional se Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat,di Hotel Clarion, Makassar, Selasa (4/3/2014), malam.

Untuk menuntaskan target satu desa satu PAUD di seluruh Indonesia, kata Prof Lydia, perlu keterlibatan pemerintah daerah, karena kalau hanya mengandalkan alokasi anggaran dana dari pusat tidak cukup dan butuh waktu lama.

Dikatakan, saat ini, share APBD tingkat I terhadap pengembangan PAUD masih di bawah 4 persen. Bahkan, APBD tingkat II share-nya masih di bawah 2 persen.

Dijelaskan, hingga kini, masih ada sekitar 27.000 desa di seluruh Indonesia yang belum memiliki lembaga PAUD. Jika hanya mengandalkan anggaran dari pusat yang terbatas maka target untuk menuntaskan satu desa satu PAUD butuh waktu sekitar 13 tahun.

Salah satu strategi yang ditempuh untuk mewujudkan target satu desa satu PAUD adalah menggandeng istri kepala pemerintahan dengan menjadikannya sebagai Bunda PAUD. Dimulai dari Istri Presiden sebagai Bunda PAUD Nasional. Terus berjenjang ke bawah, istri gubernur, istri bupati/ wali kota hingga istri lurah.

Cara tersebut dinilai cukup efektif. Saat ini sudah ada beberapa kabupaten yang mampu mewujudkan satu desa satu PAUD.
Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia itu juga menyinggung pentingnya inovasi PAUD sebagai salah satu upaya mencegah buta aksara, serta memberi rasa nyaman bagi anak sehingga bisa menikmati belajar di sekolah dasar. (*)

Sumber: www. makassar.tribunnews.com/

Kamis, 28 September 2017

Perlukah Anak Diikutkan PAUD?

KOMPAS.com - Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih sering dianggap pendidikan sekunder, sehingga banyak orang tua yang lebih memilih untuk langsung menyekolahkan anaknya ke Sekolah Dasar. Sebenarnya, perlukah anak diikutkan dalam PAUD?

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof. Lydia Freyani Hawadi mengatakan, sebaiknya anak-anak usia 2-6 tahun diikutkan PAUD karena di tempat ini anak-anak mendapat pengalaman, sosialisasi, serta pengajaran pada masa terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Ia memaparkan, PAUD dapat memberikan manfaat yang nyata terhadap perkembangan kecerdasan dan moral anak. PAUD menanamkan kejujuran, disiplin, cinta sesama, cinta tanah air, bahkan tentang gizi. Menurutnya, penyampaian nilai-nilai dasar tersebut semakin efektif jika diberikan sejak usia dini.

"Esensi dari PAUD adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh-kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar," papar Reni, panggilannya, dalam Nutritalk bertajuk "Pentingnya Tumbuhkan Kecintaan pada Gizi Sejak Dini" oleh Sarihusada Selasa (21/5/2013) di Jakarta.

Sayangnya, saat ini jumlah anak yang diikutkan dalam PAUD baru mencapai 34,54 persen dari total anak usia PAUD di Indonesia. Padahal ditargetkan pada tahun 2015 mencapai 70 persen.

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia ini memaparkan, kurangnya minat orangtua memasukkan anaknya ke PAUD adalah tambahan biaya pendidikan sebelum anaknya mencapai pendidikan wajib. Padahal, PAUD bahkan dapat dilakukan secara tidak formal dengan dukungan pemerintah yang dilakukan di tempat-tempat umum seperti rumah ibadah atau posyandu.

"Riset menunjukkan, anak-anak yang ikut PAUD cenderung lebih berprestasi dan ceria, berani, dan bersemangat. Pemantauan anak yang ikut PAUD hingga kelas 5 SD menunjukkan prestasi mereka lebih baik dibandingkan anak yang tidak," tutur Reni.

Pilih yang tepat
Bila tinggal di lingkungan yang sudah tersedia banyak PAUD, maka pemilihan PAUD yang tepat juga perlu diperhatikan oleh orangtua. Menurut Reni, PAUD yang baik adalah PAUD yang dapat memberikan pendidikan secara holistik integratif.

Reni pun memaparkan syarat-syarat memilih PAUD yang tepat untuk anak. Syarat pertama yaitu, pilih yang lokasinya dekat dengan rumah. "Jika terlalu jauh, anak akan capek di jalan sehingga tidak bisa fokus mengikuti PAUD," ujar Reni.

Kedua, pilih yang pengajarnya berkompeten dan memahami teknik pengajaran PAUD yang tepat. Dan ketiga, kurikulum PAUD jelas dan memasukkan nilai-nilai dasar positif ke dalamnya.

Sumber: www.kompas.com

Satu TK Negeri di Setiap Desa

JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyambut baik terbitnya UU 6/2014 tentang Desa. Dengan adanya UU itu, setiap desa akan mendapatkan suntikan alokasi dana desa. Kemendikbud berharap dana itu bisa dipakai untuk pendirian sekaligus operasional TK (Taman Kanak-Kanak) Negeri di setiap desa.
 
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi mengatakan, keberadaan TK negeri saat ini sangat terbatas. Dia menuturkan saat ini jumlah TK di seluruh Indonesia mencapai 74 ribuan unit. Sedangkan jumlah TK negeri mulai di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota hanya 437 unit.

Padahal dengan status kelembagaan negeri, suatu unit TK akan lebih muda dikontrol kualitas pemenuhan standar pelayanan minimalnya (SPM). "Minimal bisa dikontrol kualitas standar sarana prasarananya dan kurikulumnya," ujar guru besar Universitas Indonesia (UI) itu.

Dia mengatakan peningkatan jumlah TK negeri tidak bisa dijalankan secara alamiah. Pejabat yang akrab disapa Reni itu mengatakan, seluruh desa yang belum memiliki TK negeri bisa memanfaatkan uang atau dana alokasi desa yang jumlahnya bisa mencapai Rp 1 miliar per desa per tahun itu. 

Untuk legalitas program penegerian TK itu, Reni mengatakan akan diterbitkan peraturan dari Kemendikbud. "Sekarang sedang digodok aturannya," kata dia.

Skema pendirian TK negeri itu bisa memangun dari nol atau menegerikan status TK yang sudah ada. Jika pendirian TK negeri itu menggunakan skema dari nol, upay aini sekaligus bisa mempercepat pemenuhan kebutuhan unit layanan PAUD di Indonesia.

Reni menuturkan saat ini kebutuhan lembaga layanan PAUD (formal maupun non formal) mencapai 551 ribu unit. Sedangkan yang baru terpenuhi hanya 174 ribu lembaga atau satuan PAUD (TK, kelompok bermain, tempat penitipan anak, dan sejenisnya). Itu artinya kekurangan satuan layanan PAUD mencapai 377 ribu unit.

Dia menegaskan pemenuhan kekurangan satuan layanan PAUD itu tidak bisa mengandalkan anggaran di Kemendikbud saja. Sebab saat ini Kemendikbud hanya memeliki anggaran pendirikan satuan layanan PAUD untuk 2.000 rintisan setiap tahunnya. Jika hanya mengandalkan anggaran di Kemendikbud, maka pemenuhan kebutuhan satuan layanan PAUD baru tercapai 188 tahun lagi.

"Kita di Ditjen PAUDNI berharap desa-desa yang mendapatkan alokasi dana desa ikut aktif membangun satuan layanan PAUD," paparnya.
Saat ini baru Jogjakarta saja yang mencapai angka 100 persen dalam program satu desa satu PAUD. Artinya setiap desa di Jogjakarta sudah memiliki minimal satu unit layanan PAUD. (wan)

Sumber:  www.jpnn.com

Rabu, 27 September 2017

Anak Indigo

 

Dalam buku Understanding Your Life Through Color yang ditulis oleh Nancy Tappe (1982), membuat klasifikasi manusia berdasarkan warna energi atau cakra. Cakra adalah pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Konon pada tubuh manusia ada 7 cakra yaitu cakra mahkota ada dipuncak kepala, cakra Ajna ada diantara dua alis, cakra tenggorokan ada di tenggorokan, cakra jantung ada di tengah dada, cakra pusar ada di pusar, cakra seks ada pada tulang pelvis dan cakra dasar ada di tulang ekor.

Indigo adalah warna nila, biru gelap. Anak indigo adalah anak yang memiliki lapangan aura berwarna nila. Mereka memiliki keunggulan pada cakra Ajna (the third eyes) yang terletak di dahi antara kedua alis mata, berkaitan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Buku Nancy Tappe diatas boleh disebutkan sebagai buku pertama yang mendeskripsikan tentang anak indigo. Dengan adanya the third eyes inilah anak indigo disebut memiliki indra keenam. Mereka dianggap memiliki kemampuan untuk menggambarkan masa lalu dan masa yang akan datang.

Secara fisik anak indigo sama sekali tidak berbeda dengan anak lainnya. Jadi apa istimewanya? Cara berpikirnya yang khas, pembawaannya yang tua, membuat anak Indigo tampil beda dengan anak sebayanya. Katanya pancaran aura yang dimilikinya membawa kepada suatu karakteristik perilaku yang unik, hanya dimiliki anak Indigo.

Beberapa dibawah ini contoh pengalaman beberapa klien saya yang anaknya Indigo yaitu :

• pembawaannya “tua”, suka memberi nasehat kepada orangtuanya. Nuniek menyampaikan perasaannya pada saya bahwa ia beruntung sekali memiliki Bunga (4tahun). Bicara dengan Bunga, Nuniek selalu merasa tidak seperti bicara dengan anak kecil. Bagi Nuniek, Bunga adalah tempatnya berkeluh kesah. Bunga hampir selalu memberi wejangan, tanpa diminta. Ia merasa Bunga terlalu tua untuk bertutur seperti itu, menurutnya materi bicara Bunga bagai seorang ibu kepada anaknya. Nuniek merasa Bunga adalah pengganti ibunya yang sudah tiada, meninggal saat Nuniek berusia remaja. Dari mulut kecil Bunga (4tahun) anak semata wayangnya, kerap terdengar pesan-pesan seperti ” Hati-hati di jalan ya ma.. gak usah ngebut nyetirnya, yang penting selamat!”, ” Mama harus sabar, gak boleh sakit hati sama papa ya....”, ” Mama gembira dong, jangan sedih terus nanti mama sakit lho..”.”Makannya yang banyak ma, biar cepat sembuh!” ”Mama katanya mau langsing, kok makannya banyak gitu” Mereka bicara sepertinya sambil lewat saja, sambil memijat kaki ibunya, atau sambil beresin mainannya, bahkan sambil tiduran ngempeng botol susunya.

• terkesan ”wise”, mampu bersikap bijaksana dan penuh pengertian. Firalda berceritera pada saya betapa ia merasa bersalah sering meninggalkan si kecil yang dipanggil ”Princess” di rumah karena kesibukannya di kantor. Tetapi yang terjadi ”Princess” yang baru berusia 5 tahun itu malah menghiburnya ” Mami tadi malam pulang jam berapa? Aku nungguin sampe jam 10 malam mami belum pulang juga. Mami banyak kerjaan di kantor ya?! Kenapa kok tadi gak telpon ke rumah? Aku gak apa-apa ditinggal sama mbak di rumah...aku kan ngerti mami harus kerja cari uang sendiri.. untuk beli susu, bayar uang sekolah, bayar listrik, bayar ini bayar itu..banyaaak banget..yang harus dibayar mami” Tapi jangan lupa telpon ke rumah dooong..Akukangen mami, aku sayang mami”

• mampu ”melihat”, Riska suka terkaget-kaget kala Tiara berkata ” Ayah sekarang di kantor lagi bicara sama tante siapa tuh..aku gak tahu namanya. Dia pakai baju (di deskripsikan dengan rinci) dan ayah pake jaket coklat. Mereka lagi bicara-bicara berdua” Atau tiba-tiba ” Ibun, sebentar lagi ayah datang..ayah bawa brownies kesukaan kita” Riska mengecek kepada suaminya apa betul akan ke Jakarta, karena suaminya bekerja di Bandung dan sama sekali tidak mengatakan akan ke Jakarta pada hari itu. Ternyata benar, ada tugas mendadak dan sempat mampir ke rumah. Dan bisa juga sambil lewat mengatakan ” nanti mau hujan besar lho bun..”.
• memiliki ”pendamping” teman yang tidak terlihat entah dalam sosok sebaya dia, atau sosok orangtua. Riska sudah mahfum dan membiarkan saja Tiara bicara sendiri, berdialog dengan temannya. Namun Riska memilih tidak melihatnya atau pura-pura tidak tahu, karena ia merasa takut, si kecil Tiara bicara di ruangan yang nyata-nyata tidak ada orangnya.

Disamping ciri-ciri tersebut diatas, berikut ini ciri-ciri yang lazim dijumpai pada anak indigo :
• memiliki pola perilaku yang secara umum tidak dipelajari sebelumnya, dengan alasan sayang membuang-buang makanan Aldo (11 tahun) saat di Pizza Hut memakan sisa makanan dan minuman dari meja sebelahnya. Perilaku Aldo membuat terhenyak orangtuanya, untunglah Cuma saat itu saja terjadi dan hilang begitu saja perilaku yang dianggap aneh tersebut.
• memiliki keyakinan diri besar , dengan tidak memiliki dasar mengetik 10 jari Bakti (17 tahun) nekad mengikuti lomba mengetik cepat di kampusnya. Ia memperoleh penghargaan sebagai pengetik tercepat namun banyak salahnya.
• memiliki aktivitas yang jarang diijinkan oleh lingkungannya, baik orangtua dan lingkungannya, Bayu (15 tahun) naik ke bubungan genteng sekolahnya untuk melihat pemadangan sekitar sekolahnya dari atas. Ia juga seringkali mengajak adiknya ke atap genteng rumahnya pada sore hari hanya untuk melihat terbenamnay matahari.
• memiliki rentang atensi yang pendek, Bakti cepat merasa bosan dengan aktivitas yang sama. Ia selalu mencoba berbagai kegiatan yang ada di kampusnya.
• memiliki temperamen aktif dan kreatif, Bakti membuat aktivitas untuk mengatasi rasa jenuhnya dengan melibatkan teman-temannya yang mempunyai minat sama dalam satu wadah dengan berbagai macam kegiatan yang menurutnya menarik untuk dicoba.
• memiliki harga diri kuat, Bayu secara diam-diam mempersiapkan dirinya agar menjadi orang yang dikenal banyak orang dengan cara menjadi kontributor tetap di majalh sekolahnya, karena ia merasa di underestimate kan orangtuanya sebagai anak yang tidak mau bergaul.
• memiliki kesulitan menerima otoritas, Aldo membiarkan rambutnya acak-acakan karena ia tidak suka diperintah harus menyisir rambut.
• tidak ingin melakukan hal-hal sepele, Bakti paling tidak mengantri, sehingga ia mencari tempat yang tidak mengharuskannya mengantri.
• merasa frustrasi berhadapan dengan rutinitas dan ritual, Aldo pernah mengajak ibunya bermain catur dengan aturan yang dibuatnya sendiri. Dia mempertanyakan kenapa harus mengikuti aturan tertentu, apakah tidak boleh buat aturan permianan sendiri?
• memiliki cara sendiri yang berbeda dalam melakukan sesuatu, jadi seringkali bentrok dengan lingkungan karena dianggap tidak patuh pada aturan yang berlaku.
• mengalami kesulitan secara sosial, karena cenderung menjadi dirinya dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan di lingkungan sekitarnya
• bersikap terbuka dalam menyampaikan keinginan-keinginan dirinya tanpa perlu merasa malu

Virtue (dalam Carrol dan Tober, 1999) menyatakan bahwa anak indigo memiliki kecerdasan yang tinggi, namun dengan kreativitas yang terhambat. Berikut ciri-ciri anak berbakat yang Indigo :

• Memiliki sensitivitas tinggi
• Memiliki energi berlebihan untuk mewujudkan rasa ingin tahunya yang berlebih-lebihan
• Mudah sekali bosan
• Menentang otoritas bila tidak berorientasi demokratis
• Memiliki gaya belajar tertentu
• Mudah frustrasi karena banyak ide namun kurang sumber yang dapat membimbingnya
• Suka bereksplorasi
• Tidak dapat duduk diam kecuali pada objek yang menjadi minatnya
• Sangat mudah merasa jatuh kasihan pada orang lain
• Mudah menyerah dan terhambat belajar jika di awal kehidupannya mengalami kegagalan.

Satu hal yang penting dan digaris bawahi, tidak jarang anak indigo salah diidentifikasi. Mereka sering dianggap sebagai anak LD (Learning Disability) ataupun anak ADD/HD (Attention Deficit Disorder/Hyperactivity Disorder).

Perbedaan yang tampak sebenarnya anak indigo dengan anak yang LD atau anak ADD/HD adalah ketidakajegan munculnya perilaku yang dikeluhkan. Misalnya saja pada anak Indigo, mereka menunjukkan keunggulan pemahaman terhadap aturan-aturan sosial dan penalaran abstrak tetapi hal ini tidak tampak dalam kesehariannya, baik di sekolah maupun di rumah.

Ada 4 macam anak indigo (Nancy Tappe, dalam Carrol dan Tober, 1999) :
• Humanis. Anak indigo tipe ini akan bekerja dengan orang banyak. Kecenderungan karir mereka di masa datang akan menjadi dokter, pengacara, guru, pengusaha, politikus atau pramuniaga. Perilaku yang menonjol saat ini adalah hiperaktif, sehingga perhatiannya mudah tersebar. Mereka sangat sosial, ramah, dan memiliki pendapat yang kokoh.

• Konseptual. Anak indigo tipe ini lebih enjoy bekerja sendiri dengan proyek-proyek yang ia ciptakan sendiri. Contoh karir mereka di masa depan adalah sebagai arstiek, perancang, pilot, astronot, prajurit militer. Perilaku yang menonjol adalah suka mengontrol perilaku orang lain.

• Artis. Anak indigo tipe ini menyukai pekerjaan di bidang seni. Perilaku yang menonjol adalah sensitif, dan kreatif. Mereka mampu menunjukkan minat sekaligus dalam 5 atau 6 bidang seni, namun beranjak remaja minat mereka terfokus hanya pada satu bidang saja yang dikuasai secara baik.

• Interdimensional. Anak indigo tipe ini dimasa yang akan datang akan menjadi seorang filsuf, pemuka agama. Dalam usia 1 atau 2 tahun, orangtua merasa tidak perlu mengajarkan apapun kepada mereka karena mereka sudah mengetahuinya.

Apa yang harus dilakukan orangtua jika anaknya tergolong indigo ?
Orangtua anak indigo mau tidakmau sering bentrok dengan anak, hal ini karena keterbatasan kemampuan dan pemahaman mereka tentang anaknya. Ketidak mengertian orangtua membuat toleransi orangtua menjadi rendah, dan ini malah memperburuk hubungan anak dengan orangtua.

Beberapa tips dibawah ini bisa dicoba untuk mereka yang memiliki ciri anak indidgo :
1. Hargai keunikan anak
2. Hindari kritikan negatif
3. Jangan pernah mengecilkan anak
4. Berikan rasa aman, nyaman dan dukungan
5. Bantu anak untuk berdisiplin
6. Berikan mereka kebebasan pilihan tentang apapun
7. Bebaskan anak memilih bidang kegiatan yang menjadi minatnya, karena pada umumnya mereka tidak ingin jadi pengekor.
8. Menjelaskan sejelas-jelasnya (masuk akal) mengapa suatu instruksi diberikan, karena mereka tidak suka patuh pada hal-hal yang dianggapnya mengada-ada
9. Jadikan sebagai mitra dalam membesarkan mereka

Apa yang harus dilakukan guru jika siswanya tergolong indigo?
1. Jadilah pendengar yang baik
2. Gunakan pernyataan positif
3. Sediakan waktu untuk berdiskusi dengan anak
4. Saling berbagi perasaan guru dan anak
5. Ciptakan suasa kekeluargaan dalam kelas dengan aturan kelas yang dibuat bersama
6. Menetapkan konsekuensi berdasarkan penyebab masalah

Mitos-mitos Seputar Keberbakatan

Oleh: Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.M., Psikolog

Sudah seringkali bahkan teramat sering saya mendengar keluhan orangtua yang pusing tujuh keliling memiliki anak berbakat. Mereka mengatakan lebih memilih mempunyai anak “normal” saja. Rupanya para orangtua anak berbakat ini terpengaruh mitos tentang anak berbakat yaitu “ anak yang tidak bahagia, anak yang sulit, anak yang tidak bisa diajak berkomunikasi, anak yang secara fisik lemah, anak yang secara sosial sulit bergaul, anak yang sangat banyak membaca buku, dan anak berkaca mata tebal “.

Baik di rumah (orangtua) maupun di sekolah (guru) melihat anak berbakat sebagai anak yang bermasalah karena mereka bersandar pada standar anak normal. Model pendekatan yang bersifat uniform ini akan menuntut setiap anak bersikap sama. Atmosfir yang ada di lingkungan sekolah kurang melihat adanya perbedaan individual. Sehingga yang terjadi anak berbakat dilihat sebagai anak yang bermasalah. Ia tidak saja diisolasi dalam pergaulan oleh teman sebayanya tetapi juga oleh gurunya.

Sehingga tidak heran, jika kita membaca literature anak berbakat, pada abad 18 orang tua lebih memilih menyembunyikan anak berbakatnya di dalam rumah. Saat itu orangtua malu memiliki anak berbakat. Sedangkan guru beranggapan bahwa anak berbakat tidak perlu diberi perhatian khusus, karena toh mereka dengan keberbakatan yang dimilikinya akan dapat dengan sendirinya muncul ke atas. Boleh dikatakan hanya sedikit sekali orangtua ataupun guru yang mendorong anak untuk lebih baik dari pada anak sebaya pada umumnya.

Menurut saya dunia patut berterima kasih pada Lewis Terman, seorang psikolog Amerika, yang pada tahun 1907 melakukan studi pada 7 orang anak pintar dan 7 orang anak bodoh, (dikenal dengan Genius and Stupidity : A Study of the Intellectual Processs of Seven Bright and Seven Stupid Boys). Dalam penelitiannya ini ternyata anak-anak yang cerdas tersebut tidaklah sesuai dengan mitos yang berkembang, bahwa anak cerdas terganggu secara mental, berpenampilan aneh dan bersikap antisosial.

Penelitian Terman untuk disertasi doktoralnya kemudian dilanjutkan pada tahun 1919 dalam jangkauan yang lebih luas. . Dalam penelitian yang dikenal dengan The Stanford Studies of Genius, - karena Terman membentuk tim yang terdiri dari para koleganya dari Stanford University-, ia melakukan studi longitudinal. Subjek penelitiannya sebanyak 1500 anak-anak dari Taman Kanak-Kanak hingga SMA, dengan IQ 140 atau lebih (sementara rata-rata anak-anak pada umumnya hanya ber IQ 100!).

Hasil studi Terman ini dipublikasikan dalam 5 volume laporan. Buku pertama berisi karakteristik dari subjek penelitiannya, buku kedua dikenal sebagai Galton Version, berisikan ciri-ciri kepribadian 300 orang genius dalam sejarah, buku ketiga berisi ringkasan status dari subjek penelitiannya, buku keempat tentang tindak lanjut terhadap subjek penelitiannya dan buku kelima tentang subjek penelitiannya pada usia paruh baya.

Selama ratusan tahun para pakar mencoba untuk mengaitkan antara genius dengan “trouble mind”. Salah satunya adalah pakar sosiologi dan kriminologi dari Italia, yang bernama Cesare Lombroso. Ia mehubung-hubungkan mereka yang gila dan melakukan bunuh diri dengan genius, dalam bukunya yang terkenal Insanity of Genius (1895). Anak berbakat dikatakannya memiliki emosi yang tidak stabil dan fisik yang lemah. Terman menemukan sebaliknya anak gifted, lebih stabil emosinya dari populasi anak rata-rata pada umumnya. Ketidak stabilan emosi mereka – menurut Terman- lebih karena lingkungan, bukan karena keberbakatan yang dimilikinya. Hasil penelitian Terman juga menunjukkan bahwa anak berbakat ini berkembang lebih baik secara fisik. Mereka lebih tinggi, lebih sehat, serta menonjol dalam kepemimpinan dan kemampuan penyesuaian diri dalam lingkungan sosialnya.

Studi longitudinal Terman ini memberikan inspirasi bagi peneliti-peneliti lainnya untuk melakukan studi terhadap perkembangan anak gifted. Berikut karakterisitik anak berbakat di dalam empat area perkembangan berdasarkan berbagai hasil studi:

- Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik anak berbakat lebih cepat. Hal ini berdasarkan nilai rata-rata statistik perkembangan mereka lebih tinggi. Misalnya kemampuan berjalan anak berbakat lebih cepat dari anak pada umumnya, kemampuan bicara anak berbakat lebih cepat tiga bulan dari rata-rata anak pada usia yang sama. Anak berbakat lebih cepat berkembang dalam berat badan, tinggi badan, secara umum lebih unggul pada semua ciri fisik seperti kapasitas paru-paru.

- Perkembangan Kepribadian
Anak berbakat secara signifikan unggul dalam karakter seperti kreativitas, rasa percaya diri, dan rasa ingin tahu. Mereka cenderung tidak memiliki nervous disorder atau gugup. Penyesuaian emosional anak berbakat terlihat baik bila dibandingkan anak lain pada umumnya. Terman menemukan bahwa anak berbakat memiliki produktivitas yang tinggi, well-rounded, well-liked, dan seringkali dipilih sebagai pemimpin.

- Inteligensi
Dalam banyak studi ditemukan IQ minimum untuk anak berbakat adalah 130. Anak berbakat diasumsikan secara mental mencapai kemajuan 1/3 kali lebih cepat dari pada anak normal, sehingga pada usia empat tahun mereka telah mencapai usia mental (Mental Age) lima tahun, dan pada usia empat setengah tahun sudah mencapai kematangan mental anak usia enam tahun. Anak berbakat juga ditemukan melampaui kemampuan anak normal dalam penalaran verbal, problem solving, berpikir asosiasitif, memori, dan sejumlah keterampialn skolastik seperti membaca dan berhitung.

Hasil studi Terman tentang stabilitas emosi anak berbakat yang disebabkan oleh lingkungan, didukung oleh berbagai studi yang mempertanyakan apakah orang-orang yang kreatif lebih cenderung menderita gangguan psikiatrik. Dari hasil studi pada sejumlah pembaca puisi, novelis, artis terkenal memang menunjukkan angka depresi dan gangguan mood mereka lebih tinggi, tetapi tidak serius mengalami gangguan mental. Peter Oswald, seorang psikiater meyakini bahwa ada kaitannya dengan gaya hidup yang rumit dari para seniman tersebut dengan rasa marah, frustrasi dan depresi.
Mitos yang sering didengar bagi anak berbakat adalah “Early Ripe, Early Rot” yang menunjukkan bahwa anak berbakat mengalami burned out, kelelahan yang sangat pada usia dini. Seolah-olah keberbakatan bersifat kuantitatif, yang jika digunakan lama kelamaan akan habis. Studi Terman menunjukkan tidak terjadi burn-out anak berbakat, bahkan Terman menyarankan agar anak terus ditingkatkan kemampuannya sepanjang hayat.

Mitos-mitos modern yang muncul dan merugikan perkembangan anak berbakat adalah :
• Anak berbakat tidak tahu bahwa diri mereka berbeda, kecuali seseorang memberitahu mereka.
• Anak berbakat dapat mengatasi diri mereka tanpa bantuan siapapun.
• Anak berbakat mendapatkan apa saja yang mereka inginkan.
• Anak berbakat seharusnya lebih berdisiplin daripada anak lainnya.
• Anak berbakat perlu terus menerus disibukkan dan diberi tantangan jika tidak mereka akan malas.
• Anak berbakat seharusnya dihargai keberbakatannya diatas segala-galanya.
• Anak berbakat tidak seharusnya mengikuti standar kepatuhan yang berlaku, mereka tidak perlu terikat pada peraturan yang biasa berlaku.
• Anak berbakat seharusnya matang secara akademik, fisik, sosial dan emosional.


Referensi :

Miller, B.S dan Price, M., The Gifted Child, the Family and the Community. New York : Walker and Company. 1981.

Smutny, J.F, Veenker, K, Veenker, S., Your Gifted Child. New York : Ballnatine Books, 1989.

Walker, S.Y., The Survival Guide for Parents of Gifted Kids. Minneapolis : Free Spirit Publishing Inc, 1991.

Psikologi Perkawinan dan Keluarga

Oleh: Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.M., Psikolog

Lydia Freyani Hawadi
Makalah ini disampaikan sebagai bahan masukan untuk penyusunan Kurikulum dan Silabus Kursus Pra Nikah Departemen Agama Republik Indonesia, yang nantinya Psikologi Perkawinan dan Keluarga akan menjadi salah satu mata diklat Kelompok Inti.

Jika pada mata diklat Kelompok Dasar, akan diisi oleh materi-materi yang berkaitan dengan aspek legal/peraturan/perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kehidupan perkawinan, maka pada Kelompok Inti akan diisi oleh materi yang berkaitan dengan masalah perkawinan itu sendiri dalam kesehariannya.

Kelompok Inti inilah yang akan berisi materi-materi yang patut diketahui dan dipahami oleh individu yang akan terikat dalam perkawinan. Kandungan materi berdampak langsung pada kelanggengan, keharmonisan kehidupan perkawinan pasutri. Hal ini disebabkan karena materi dalam kelompok inti lebih bersifat aplikasi kehidupan sehari-hari dalam perannya sebagai seorang suami/istri, maupun ayah/ibu dalam satu kesatuan yang disebut rumah tangga.

Usulan Materi Mata Diklat :
Menurut saya Mata Diklat Psikologi Perkawinan dan Keluarga yang dialokasikan hanya 2 (dua) JPL atau 90 menit kurang cukup untuk mengupas secara menyeluruh tentang apa, mengapa, bagaimana psikologi perkawinan dan keluarga. Hal yang menarik untuk dibagi bersama dalam kursus sebenarnya adalah kasus-kasus, cerita menarik diseputar perkawinan dan keluarga itu sendiri. Saya mengusulkan agar sekurang-kurangnya dapat diberikan 4 (empat) JPL sehingga materi tersebut dibawah ini dapat dipahami calon pasutri secara baik. Berikut usulan materi diklat :
1. Definisi perkawinan
2. Definisi keluarga
3. Motif untuk menempuh perkawinan
4. Tahap-tahap perkawinan
5. Periode perkawinan
6. Pola-pola perkawinan
7. Tipe perkawinan
8. Faktor prediktif kepuasan perkawinan
9. Keuntungan perkawinan
10. Formula kesuksesan perkawinan


1. Definisi Perkawinan
Banyak ragam definisi perkawinan, sebaiknya diambil definisi yang sesuai dengan UU Perkawinan yang berlaku. Namun bisa juga ditambahkan untuk menambah wawasan calon pasutri, definisi perkawinan lain yang ada, misalnya saya kutipkan dari tiga penulis yang berbeda :

- Perkawinan adalah suatu hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan
yang diakui secara sosial, menyediakan hubungan seksual dan pengasuhan anak yang sah, dan didalamnya terjadi pembagian hubungan kerja yang jelas bagi masing-masing pihak baik suami maupun istri. (Duvall dan Miller , 1985)

- Perkawinan adalah antara dua mitra yang memiliki obligasi berdasarkan minat
pribadi dan kegairahan. (Seccombe and Warner, 2004)

- Perkawinan adalah komitmen emosional dan hukum dari dua orang untuk membagi kedekatan emosional dan fisik, berbagi bermacam tugas dan sumber-sumber ekonomi. (Olson and deFrain, 2006)

2. Definisi Keluarga
Keluarga adalah satu unit orang-orang, yang selalu berhubungan, biasanya hidup bersama dalam bagian hidup mereka, bekerja bersama untuk memuaskan kebutuhan mereka dan saling berhubungan untuk memuaskan keinginannya. (Duvall dan Miller, 1985).

3. Motif untuk Menempuh Perkawinan
Pada awalnya, masalah perkawinan merupakan masalah bersama, keputusan antar keluarga namun kemudian terjadi pergeseran dimana perkawinan merupakan bagian dari HAM, keputusan individual atau perseorangan.

Menurut David Knox (1975) ada 3 (tiga) alasan positif mengapa seseorang melakukan pernikahan yaitu emotional security, companionship, desire to be a parent. Selanjutnya ia mengatakan bahwa alasan salah untuk menikah adalah physical attractiveness, economic security, pressure from parents, peers, partners or pregnancy, escape, rebellion or rescue.

Pakar lain, Turner dan Helms (1983) menyebutkan ada dua faktor motif seseorang menikah yaitu :
a. Faktor Pendorong
Hal-hal yang menjadi faktor pendorong untuk melakukan perkawinan adalah cinta, konformitas, legitimasi seks dan anak.
b. Faktor Penarik
Hal-hal yang menjadi faktor penarik untuk melakukan perkawinan adalah persahabatan, berbagi rasa dan komunikasi.

Dengan perkataan lain dapat juga dikatakan bahwa melalui perkawinan akan dapat dipenuhi beberapa kebutuhan manusia yaitu :
o Kebutuhan fisiologis dan material
o Kebutuhan psikologis
o Kebutuhan sosial
o Kebutuhan religius

4.Tahap-Tahap Perkawinan

Duvall dan Miller (1985) menyatakan adanya tujuh tahap perkawinan yang dikaitkannya dengan usia anak, sebagai berikut :

1. Pasangan baru
2. Keluarga memiliki anak
3. Keluarga dengan anak usia pra sekolah
4. Keluarga dengan anak usia sekolah
5. Keluarga dengan anak usia remaja
6. Keluarga dengan anak usia dewasa muda
7. Keluarga dewasa madya
8. Keluarga lanjut usia

Namun jika dikaitkan dengan peran sebagai orangtua, maka kehidupan perkawinan dapat dibagi dalam empat tahap yaitu :

1. Perkawinan baru, yang relatif sangat singkat dan segera berakhir dengan lahirnya anak pertama.
2. Perkawinan orangtua, berakhir ketika anak tertua memasuki usia remaja
3. Perkawinan tengah baya, dimulai ketika anak-anak meninggalkan rumah
4. Perkawinan lanjut usia, diawali pada awal masa pensiun dan berakhir saat salah satu pasangan meninggal dunia.

5. Periode Perkawinan
Strong dan De Vault (1989) mengemukakan periode perkawinan sebagai berikut:

a. Periode Tahun Awal,
Dimulai saat seseorang baru menikah dan belum memiliki anak. Tahap ini merupakan tahun yang sangat kritis, karena seseorang mengalami transisi dalam kehidupannya. Tahun pertama perkawinan ini akan menentukan perkembangan perkawinan selanjutnya, apakah akan menjadi lebih baik atau malah memburuk.

Masa ini berlangsung 10 tahun pertama perkawinan, yang meliputi fase perkenalan awal diikuti oleh fase menetap. Selama fase perkenalan, satu sama lain saling mengenal kebiasaan sehari-hari. Mereka menetapkan peraturan kehidupan sehari-hari,menyelesaikan sekolah, memulai karir atau merencanakan kehadiran anak pertama.

Pada fase menetap, pasangan masih mengejar karir, memutuskan memiliki anak dan mengatur peran masing-masing. Mereka saling menyesuaikan harapan sesuai dengan peran yang atas dasar jender, hukum, dan pengalaman pribadi yang dipelajarinya. Satu sama lain saling memberikan pendapatnya tentang pembagian peran yang akan dijalankan sebagai pasutri.

Pasutri yang memiliki latar belakang yang sama akan lebih mudah menyesuaikan diri satu sama lain, karena mempunyai harapan yang sama terhadap pasangannya. Sedangkan perbedaan latar belakang keluarga (seperti agama, suku bangsa, sosial dan keluarga yang retak) akan mengganggu proses penyesuaian perkawinan.

b. Periode Perkawinan Muda.
Diawali dengan mulai adanya anak dalam kehidupan pasutri. Istri berhenti bekerja dan mengasuh anak, mulai menyesuaikan diri dengan irama kehidupan rutin dalam perkawinan. Sedangkan bagi perempuan berkarir yang tetap bekerja, harus mampu membagi waktunya dengan baik dalam mengurus rumah tangga, anak serta pekerjaannya. Hal ini tidak mudah, karena menuntut penyesuaian psikologis yang cukup besar. Untuk itu ada yang menyebutkan pada periode ini kepuasan perkawinan pada perempuan mulai berkurang.

c. Periode Tahun Pertengahan

Periode ini antara tahun ke 11 sampai dengan ke 30 tahun perkawinan. Jika pasangan memiliki anak, maka fase ini diisi dengan fokus pada pengembangan anak dan pengasuhan keluarga, serta menetapkan tujuan-tujuan baru untuk masa depan. Jika pasangan tidak memiliki anak, maka fase ini didedikasikan untuk karir, aktivitas kemasyarakatan atau tugas-tugas sosial. Titik beratnya adalah kebahagiaan dan kesejahteraan pasangan hidupnya.

Pada periode ini, anak sudah berkembang menjadi remaja yang memiliki nilai-nilai dan ide pergaulan yang berbeda. Untuk itu seringkali terjadi konflik antara anak dengan orangtua. Namun pada periode ini pasutri sudah memiliki kondisi keuangan yang baik, karena istri sudah mulai bekerja kembali dan pengasuhan anak banyak berkurang.

Hal lain yang terjadi, pasutri sudah mulai memasuki tanda-tanda ketuaan, sudah mulai banyak orang seumurnya yang meninggal. Reaksi yang terjadi, biasanya ada yang menarik diri dari pergaulan namun ada juga yang malah aktif membina hubungan baik dengan orang lain seperti kenalan, saudara dan anak-anak. Periode ini juga merupakan masa persiapan pasutri kehadiran menantu, saudara-saudara yang baru, dan mempersiapkan diri menjadi kakek nenek, disamping harus menerima kehadiran orangtua sendiri yang sudah mulai tergantung pada mereka.

d. Periode Tahun Matang
Periode ini diawali dalam tahun ke 31 saat–saat menjadi tua bersama, merencanakan pensiun, menjadi kakek nenek dan hidup sendiri tanpa pasangan serta persiapan kematian. Disebut juga periode perkawinan tua.

6. Pola-Pola Perkawinan

Hal yang masih sangat mendominan di dalam persepsi banyak orang bahwa di dalam lembaga perkawinan, laki-laki adalah pencari nafkah dan istri adalah seseorang yang melahirkan dan mengasuh anak-anak, melayani kebutuhan suami sebaik-baiknya, dan mengatur rumah tangga. Namun seiring dengan perkembangan jaman dimana perempuan dapat mengenyam pendidikan dan bekerja di luar rumah, terjadi pula perubahan nilai dan pola perkawinan. Saat ini menjadi hal yang lumrah jika istri lebih berpenghasilan lebih dari si suami, istri lebih memiliki pendidikan yang tinggi dari suami atau istri memiliki posisi karir yang melampaui suaminya.

Berkaitan dengan hal diatas, Ihromi (1999) mengutip Scanzoni dan Scanzoni yang menyebutkan adanya empat pola perkawinan yaitu :

a. Owner Property
Dalam pola ini suami sebagai pencari nafkah, dan istri sebagai ibu rumah tangga yang harus tunduk kepada keputusan suami. Status sosial istri bergantung pada status sosial suami. Istri bukan dianggap sebagai pribadi tetapi sebagai barang milik si suami yang harus selalu siap melayani suami walaupun ia tidak menginginkannya.

b. Head Complement
Dalam pola ini walau suami tetap sebagai pencari nafkah, dan si istri mengurus rumah tangga, namun kehidupan perkawinan diatur secara bersama. Istri memiliki hak suara, sehingga hubungan yang terjadi adalah saling melengkapi, berbagi masalah, dan melakukan kegiatan bersama.

c. Senior Junior Partner
Suami dan istri sama-sama bekerja, sehingga si istri tidak sepenuhnya bergantung pada suami meskipun dalam pola ini penghasilan dan karir si suami tetap diatas istrinya.

d. Equal Partner
Suami dan istri dalam posisi duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak ada pihak yang lebih tinggi atau lebih rendah. Setiap individu memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengembangkan diri dan melakukan tugas rumah tangga. Keputusan diambil secara bersama dan selalu mempertimbangkan kepuasan masing-masing pihak.

7. Tipe Perkawinan
Kepuasan perkawinan merujuk pada kebahagiaan perkawinan, yaitu seberapa jauh pasangan merasakan perkawinannnya berjalan dengan stabil dan memuaskan.

Hasil riset Cuber dan Haroff (dalam Bird dan Melville,1994) terhadap 211 pasangan yang telah menginjak usia perkawinan 10 tahun dan tidak bercerai, menyatakan adanya 5 tipe perkawinan yaitu :

a. Conflict Habituated, perkawinan tipe ini bercirikan mereka yang selalu bertengkar namun tidak bermaksud untuk pisah. Mereka hampir selalu dalam keadaan tegang, dan tidak cocok satu sama lain namun ingin tetap bersama.
b. Devitalized, perkawinan yang meredup. Kebersamaan perkawinan hanya rutinitas semata, karena tanggung jawab dan tugas.
c. Passive Congenials, perkawinan yang berlangsung aman dan tertib tanpa atau jarang diisi dengan pertengkaran. Pasangan berbagi minat bersama, terlibat dalam kegiatan sosial bersama, mengasuh anak, mengembangkan karir namun tidak mementingkan hubungan romantik.
d. Vitals, perkawinan yang diisi dengan kegiatan dan kebersamaan secara intens. Pasangan terikat dalam semua persoalan kehidupan.
e. Totals, sama halnya dengan Vitals namun dalam derajat yang lebih dimana sebanyak mungkin semua kegiatan dan persoalan kehidupan dinikmati bersama.

8. Faktor Prediktif Kepuasan Perkawinan
Kepuasaaan dalam perkawinan merupakan kesan subjektif individu terhadap komponen perkawinannya secara keseluruhan yang meliputi cinta, kebersamaan, anak, pengertian pasangan, dan standar hidup (Blood dan Wolfe, dalam Santrock, 1985). Lebih jauh Snyder (dalam Rathus dan Nevid, 1983) mengelaborasi sejumlah faktor yang berperan secara konsisten dalam kepuasan perkawinan yakni, komunikasi efektif, komunikasi problem solving, kesepahaman pengelolaan keuangan dan kepuasaan seksual.

Hal yang menarik tentang kepuasan perkawinan ini disampaikan oleh Zastrow dan Kirst-Ashaman (1987), yang mengaitkannya dengan faktor-faktor sebelum berlangsungnya perkawinan dan selama berlangsungnya perkawinan. Dibawah ini disampaikan dua faktor prediktif kebahagiaan perkawinan yang berkait erat dengan masa sebelum dan selama perkawinan, yaitu :

1. Faktor- faktor sebelum perkawinan :
 Perkawinan orang tua yang berbahagia
 Kebahagiaan di masa kanak-kanak
 Disiplin lembut dan tegas dari ortu
 Hubungan orang tua yang harmonis
 Bergaul baik dengan lawan jenis
 Telah mengenal lebih dari satu tahun sebelum perkawinan
 Ada restu dari orang tua
 Usia sepantar
 Puas dengan kasih sayang pasangan
 Cinta
 Kesamaan minat
 Pandangan yang optimistik tentang kehidupan
 Stabilitas emosional
 Sikap yang simpatik
 Kemiripan latar belakang budaya
 Kesesuaian keyakinan agama
 Kondisi pekerjaan dan karir memuaskan
 Hubungan cinta karena persahabatan bukan nafsu
 Kesadaran akan kebutuhan pasangan
 Keterampilan interspersonal dan sosial
 Identitas diri positif
 Memegang nilai-nilai umum
 Kemampuan mencari jalan keluar dari masalah
 Kemampuan pemahaman dan penerimaan diri baik

2. Faktor-faktor selama perkawinan :

 Kemampuan komunikasi yang baik
 Hubungan yang setara
 Hubungan yang baik dengan mertua dan ipar
 Minat dibidang yang sama
 Menginginkan hadirnya anak
 Cinta yang bertanggung jawab, saling hormat dan persahabatan
 Menikmati waktu luang bersama
 Hubungan yang penuh afeksi dan kebersamaan
 Kemampuan untuk menerima sekaligus memberi

Sedangkan faktor prediktif terhadap ketidakpuasan atau kebahagiaan perkawinan yang berkait pada masa sebelum dan selama perkawinan berlangsung adalah :

1. Faktor-faktor sebelum perkawinan
 Orangtua bercerai
 Kematian orangtua
 Ketidak cocokan ciri kepribadian utama pasangan
 Kenal kurang satu tahun
 Alasan perkawinan karena kesepian
 Alasan perkawinan karena agar bisa meninggalkan keluarga
 Perkawinan dibawah usia 20 tahun
 Adanya predisposisi untuk tidak bahagia
 Mengalami problem problem pribadi yang intensif

3. Faktor-faktor selama perkawinan
 Suami lebih dominan
 Istri lebih dominan
 Kecemburuan
 Merasa superior terhadap pasangan
 Merasa lebih pintar dari pasangan
 Tinggal bersama orangtua atau ipar

Berdasarkan faktor-faktor diatas David dan Mace (1983), menegaskan bahwa suatu perkawinan baru dianggap berhasil jika mampu mengalami tiga tahapan yaitu :

• Mutual Enjoyment, yang dialami pada saat pasanagan menjalani bulan madu bersama.
• Mutual Adjustment,yang dialami dalam waktu relatif lama dimana masing-masing saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik.
• Mutual Fulfillment, yang terjadi setelah pasangan melampaui dua tahap sebelumnya dengan berhasil. Dalam tahap ini suami dan istri telah menjadi satu kesatuan yang saling mengisi dan melengkapi. Oleh karenanya konflik-konflik besar akan jarang ditemukan.

Apakah kepuasan perkawinan berjalan seiring dengan bertambah lamanya perkawinan? Berbagai pendapat diberikan tentang hal ini. Clark dan Walin (1965) mengatakan orang-orang yang dari semula bahagia tetap bahagia, dan yang dari semula tidak bahagia tetap tidak bahagia. Sedangkan Guilford (1986) berpendapat bahwa kepuasan perkawinan meningkat secara linear berjalan dengan lamanya waktu perkawinan.

Hal yang bertentangan dengan apa yang dikatakan Blood dan Wolfe (1960) bahwa ada penurunan kepuasan perkawinan yang sifatnya gradual, sejalan dengan waktu perkawinan. Rollins dan Feldman (1970) menemukan bahwa pola kepuasan sepanjang kehidupan perkawinan sendiri berbentuk curvelinear, dengan kepuasan menurun pada kelahiran anak pertama, mencapai titik terendah ketika anak-anak mulai remaja dan meningkat kembali ketika anak meninggalkan rumah.
Bagaimana arti kepuasan perkawinan bagi laki-laki dan perempuan? Bagi suami, kepuasan perkawinan baru akan terjadi jika terpenuhinya perasaan untuk dihargai, kesetiaan, dan terpenuhinya rencana terhadap masa depan. Sedangkan istri, melihat kepuasan perkawinan dari sisi terpenuhinya rasa aman secara emosional, komunikasi dan terbinanya intimasi. Demikian pula usia dan jender telah terbukti mempengaruhi persepsi kebahagiaan perkawinan. Laki-laki dan pasutri yang lebih muda memiliki persepsi kepuasaan perkawinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita dan pasutri yang lebih tua (Haring-Hildore, Stock, Okun dan Witter, 1985 dikutip dari Indrasari, 1998).

Hasil penelitian Bernard (1972) menunjukkan bahwa laki-laki yang menikah, jauh lebih baik secara fisik, social, dan psikologis dibandingkan perempuan yang menikah. Senada dengan ini, Mugford dan Laly (1981) serta Rubenstein (1982) dalam penelitiannya menemukan bahwa perempuan lebih banyak melaporkan perasaan frustrasi, ketidakpuasaan, adanya masalah perkawinan, dan keinginan untuk bercerai dari pada suami. Para istri lebih banyak mengalami kecemasan dan dalam keadaan nervous breakdown (perasaan tidak berdaya, cemas , kuatir dan fisik merasa sakit), menyalahkan diri sendiri atas ketidak sesuaian antara harapan dengan kenyataan dalam perkawinannya,. Perkawinan yang baik akan memberikan manfaat bagi tercapainya kesehatan fisik dan mental bagi perempuan, sedangkan laki-laki tetap akan merasaakan manfaat dari suatu perkawinan tanpa mempertimbangkan kualitas perkawinannya.

Mengutip berbagai pandangan pakar perkawinan, ada perbedaan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan perkawinan, Indriasari (1998). Bagi laki-laki, faktor kepuasan seksual dan aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan bersama pasangan, memiliki pasangan yang atraktif, mendapatkan dukungan keluarga, dikagumi oleh irti merupakan fakor-faktor penting dalam kepuasan perkawinan. Sementara pada perempuan, aspek kualitas dan kuantitas komunikasi serta afeksi dengan pasangan merupakan hal yang penting. Perempuan merasa puas jika suaminya menunjukkan afeksi, dapat bercakap-cakap dengan suami, suami menunjukkan kejujuran, keterbukaan, dan komitmen terhadap keluarga dan memperoleh support secara finansial.

Bila dilihat dari tahap perkembangan keluarga, kepuasan perkawinan pada laki-laki cenderung lebih konstan dibandingkan perempuan yang mengalami beragam kepuasan perkawinan sejalan dengan tahap perkembangan keluarga. Titik terendah kepuasan perkawinan perempuan terjadi pada saat mereka memiliki anak usia pra sekolah, dan tertinggi setelah anak meninggalkan rumah.

9.Keuntungan Perkawinan
Linda Waite mengutip beberapa kajian tentang efek positif perkawinan yaitu : memiliki gaya hidup yang sehat,lebih panjang umur, memiliki hubungan sesksual yang memuaskan, memiliki lebih kekayaan, dan secara umum anak-anak dapat tumbuh kembang lebih baik dengan adanya orangtua di rumah.

10.Formula Kesuksesan Perkawinan

- Masing-masing harus mandiri dan matang
- Harus mencintai pasangan dan diri mereka sendiri
- Menikmati kesendirian sama baiknya dengan kebersamaan
- Mapan dalam pekerjaan
- Mengenal baik pasangan masing-masing
- Mampu berekspresi secara asertif
- Keduanya adalah teman sekaligus lovers

Daftar Kepustakaan :
Olson, D.H.,DeFrain,J.(2006). Marriages & Families. Boston : McGrawHill.
Secombe,K., Warner, R.L. (2004). Marriages and Families . Canada :Wadsworth.
Williams,B.K.,Sawyer, S.C.,Wahlstrom,C.M (2006). Marriages, Families, and Intimate Relationships. A Practical Introduction. Boston : Pearson Education,Inc.


Makalah disampaikan di Bandung, pada hari Jumat,30 April 2010 dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama.

Kebutuhan Sosial dan Emosional Anak Berbakat

Oleh: Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.M., Psikolog


Seorang anak dikatagorikan anak berbakat, tidak semata-mata karena ia mudah memahami segala sesuatu, mempunyai daya ingat baik serta mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan cepat. Bisa jadi mereka bukan siswa yang selalu berprestasi baik di kelasnya. Namun lebih dari itu, kita –siapapun- dapat “merasakan” ada sesuatu yang membedakan dirinya dengan siswa lain di kelas, begitu kita selesai melakukan pembicaraan dengannya, yakni alertness, quick insights dan keterampilan-keterampilan lain yang lebih hebat dari anak lain seusianya. Demonstrasi unjuk kinerja yang berada diatas anak-anak seusianya atau potensi di dalam salah satu atau beberapa bidang terlihat dalam kemampuan intelektual umum, bakat akademik spesifik, kemampuan berpikir produktif, kemampuan kepemimpinan, kemampuan seni pertunjukkan dan visual, serta kemampuan psikomotor.

Anak berbakat seorang yang mahir dalam konseptualisasi verbal, mampu merangkai kata satu dengan lainnya secara memukau. Dan hal ini membuat mereka mampu menunjukkan prestasi yang luar biasa di sekolah, secara akademik berbakat. Satu ciri pasti yang ditunjukkan anak berbakat adalah dimilikinya skor IQ yang tinggi.

Tingkatan IQ Jumlah Siswa

130 3 dari 100
137 1 dari 100
150 1 dari 1000
160 1 dari 10.000
168 1 dari 100.000
180 1 dari 1.000.000
Nah…bagaimana perasaan anda jika si kecil diidentifikasi sebagai seorang anak berbakat ? Takjub? Bingung? Riang Gembira? Gelisah? Anda mulai menyadari betapa si kecil akan memiliki perilaku yang berbeda dengan teman-teman sebayanya. Dan tentunya seberapa besar pemahaman anda bahwa perbedaan – perbedaan ini juga akan membawa pada konsekuensi lainnya seperti bagaimana anda mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dirinya.

Dari tabel diatas seorang ibu dapat melihat bahwa semakin tinggi skor IQ yang dimiliki anaknya, semakin membuat anaknya menjadi tidak tipikal. Kita sering mendengar bahwa ada 3-5% anak dari populasi sekolah tergolong gifted, misalnya saja jika ada 1000 siswa, maka paling tidak di sekolah tersebut ada 30-50 anak yang tergolong gifted.

HIDUP DENGAN KEBERBEDAAN


Seorang ibu yang memiliki anak berbakat, harus siap menyadari betapa berbedanya anak tersebut dalam perkembangannya dengan teman sebayanya. Tentu masalah akan menjadi lebih besar jika tingkat kecerdasan anak semakin tinggi. Mengapa? Perbedaan-perbedaan yang dimiliki anak akan membuat anak merasa terasing dalam perkembangannya pada saat ia merasa harus bermain dan membangun persahabatan dengan anak-anak lain, karena jumlah anak yang memiliki tingkat kecerdasan sama dengan dirinya tidak cukup banyak.

Memenuhi kebutuhan diri sendiri jika berada dalam kelompok orang yang memiliki karakteristik yang tidak sama, tentu bukan suatu hal yang mudah bagi anak berbakat, mengingat jumlah mereka yang sangat sedikit. Berbeda dengan anak lain dengan taraf kecerdasan yang biasa-biasa saja, setiap waktu dapat dengan mudah bergabung ikut dalam kelompok minat yang mereka sukai. Namun bagi anak berbakat kebutuhan sosial dan emosional ini tidak dengan serta merta diperolehnya. Dengan karakteristik yang berbeda dan jumlah orang yang memilikinya langka, maka anak berbakat akan dilihat sebagai seorang yang “aneh” dalam kelompok sosialnya. Hal inilah sebenarnya yang menjadi tantangan diri seorang anak berbakat sesungguhnya, dimana mereka harus mampu membawakan dirinya agar bisa diterima baik oleh anak-anak lain.

Perbedaan yang dimiliki seorang anak berbakat, dari sejak bayi sudah terlihat. Dalam edisi sebelumnya, saya telah menyampaikan bahwa perkembangan anak berbakat berada diatas 30% anak-anak seusianya. Boleh dikatakan anak berbakat seringkali mampu mencapai developmental milestones lebih cepat dari teman sebayanya. Berikut tabel perkembangan anak berbakat dalam berjalan dan berbicara .

Usia dimana Anak Mulai Berjalan

Usia Jumlah Anak %
(Bulan)

6 – 8 22 4.8
9 – 11 246 53.9
12 -14 168 36.8
15 + 20 4.4

Sumber : R.L. Cox, “Background Characteristics of 456 Gifted Children” dalam Perino, S.C dan Perino, J, (1981) Parenting the Gifted. New York : R.R. Bowker Company .

Usia dimana Anak Mulai Berbicara

Usia Jumlah Anak %
(Bulan)
4 - 6 34 9.0
7– 9 28 7.4
10 – 12 174 46.3
13 - 15 45 12.0
16 -18 56 14.9
19 -21 14 3.7
24+ 25 6.6
Tidak Terdata 80 -


Sumber : R.L. Cox, “Background Characteristics of 456 Gifted Children” dalam Perino, S.C dan Perino, J, (1981) Parenting the Gifted. New York : R.R. Bowker Company .

Dari tabel diatas terlihat indikasi bahwa jika anak berjalan (atau berbicara) lebih awal maka kemungkinan keterampilan lainnya akan dicapai anak sesuai dengan waktu rata-rata anak lainnya atau bahkan bisa jadi malah terlambat. Hanya sedikit sekali persentase anak yang memiliki hampir seluruh aspek perkembangannya berkembang secara advanced pada usia dini.

Orangtua yang memiliki anak (bayi) berbakat seringkali mengalami kebingunan harus bersikap bagaimana. Biasanya petunjuk umum yang diterima oleh orang tua anak berbakat adalah sebaiknya mereka mengabaikan tabel norma usia anak, dan membiarkan anak berkembang sesuai dengan tempo perkembangannya. Namun hal ini dianggap bukan suatu hal yang betul-betul menguntungkan anak, karena anak dipaksa melampaui tingkat kesiapannya. Sebaliknya, ada pendapat bahwa jangan menghambat kemajuan perkembangan anak. Bagaimana sikap anda, apakah mendengarkan pendapat teman-teman yang akan menghambat perkembangan berjalan dini anak berbakat anda ?.

Diatas telah dibahas bahwa perkembangan yang cepat pada anak berbakat membawa konsekuensi adanya kebutuhan yang berbeda pada dirinya. Dengan demikian jawaban sekaligus saran bagi orangtua dengan bayi yang berbakat dalam hal ini adalah (1) mendukung dan merangsang anak namun tidak dengan tuntutan berlebihan, dan (2) jangan sama sekali menghambat perkembangan yang unik dari anak dengan melemahkan keinginannya mengeksplorasi lingkungan. Tentu perhatikan keselamatan anak, namun tidak bersifat overprotective.

Kebanyakan orangtua baru menyadari bahwa anaknya tergolong anak berbakat saat anak mulai masuk pra sekolah. Agar penanganan anak berbakat tidak terhambat, saya menyarankan agar setiap orangtua memiliki semacam buku harian mencatat setiap perkembangan anak yaitu “Buku Perkembangan Bayi”. Catatan-catatan ini nanti akan menjadi sumber pencapaian perkembangan anak . Pastikan mencatat setiap kali perilaku anak yang unusual. Anda pasti akan merasa senang telah melakukannya kemudian.

Gaya Belajar
Sebagai orangtua anak pra sekolah, anda sepatutnya menjadi pengamat dan pendengar yang baik bagi gaya belajar anak. Anak berbakat sejak masa bayi terlihat lebih terlibat pada hal-hal sekitarnya dibanding bayi lainnya. Mata mereka akan lebih menjelajah sekelilingnya, fisiknya tampak aktif, tidak pernah diam. Perhatikanlah tingkah polah anak anda jika di dalam mobil, apakah ia dapat duduk berdiam diri dengan manisnya. Saya jamin tidak. Nah mulailah lakukan sesuatu untuk mereka dengan memberikan “kuis-kuis” kecil tentang yang mereka lihat sepanjang jalan. Misalnya bila dari kejauhan anda melihat ada mobil ambulans, anda bisa meminta anak untuk mencari ambulans atau mencari BMW warna merah, dst.

Bahasa
Coba perhatikan perkembangan bahasa anak anda yang berbakat. Mereka terlihat sebagai precocious talker, mampu berbicara dengan menggunakan kalimat-kalimat kompleks dan kata-kata yang tidak lazim, menjawab secara gamblang dan merespons pertanyaan dengan cepat. Yup! Perkembangan bahasa mereka jauh melampaui anak sebayanya. Seringkali memberikan elaborasi terhadap pemecahan masalah yang disampaikannya. Kemampuan berpikirnya menunjukkan kemampuan di dalam mengelompokkan, mengklasifikasi, membandingkan dan membuat perbandingan antara berbagai hal. Cara berpikir yang luwes, mampu melihat informasi dari sisi yang lain serta mampu melakukan hal-hal dalam situasi sekarang dengan menggunakan data dari masa lalu.

Kosa Kata

Anak berbakat mampu memahami banyak kata-kata dibanding anak lainnya. Rasa ingin tahu anak berbakat membuatnya selalu bertanya, sehingga salah satu ciri anak berbakat adalah memiliki kosakata yang tidak saja banyak namun juga lebih maju dari anak lainnya. Begitu pula dalam bahasa ekspresif, anak berbakat menunjukkan kemampuan yang lebih. Pemilihan katanya banyak dan beragam, sehingga terlihat “berwarna”, kaya akan penggunaan kata-kata sinonim dan secara jelas menyebutkan benda-benda yang dilihatnya dengan rincian kata lain yang mengikuti penjelasan benda tersebut.

Keterampilan Motor

Anak berbakat mempunyai perkembangan motorik yang lebih cepat. Ia mampu memakai pakaian, dan makan sendiri. Mampu memegang benda dengan tepat, sementara anak lain mengalami kesulitan memegangnya. Mereka juga mampu meniru perilaku yang dilihatnya. Mampu menggambar benda-benda yang kompleks, selalu menggambar benda yang dilihatnya. Untuk itu penuhilah kebutuhan mereka dengan berbagai kegiatan motorik seperti bermain tennis, atau berenang (wah.. kalau ini bisa beberapa laps dilakukan mereka), dan melukis tentu saja ( bagi yang senang, tentu crayon tidak pernah lepas dari tangannya).

Kolektor
Koleksi apa sajakah yang dimiliki anak anda? Secara umum anak berbakat merupakan sosok yang keranjingan mengoleksi sesuatu. Beragam minat yang ada pada dirinya diikuti oleh keinginannya untuk juga mempunyai dan menyimpan barang-barang tertentu. Misalnya perangko, komik, stiker, gantungan kunci, kerang dls.. Penuhilah kebutuhan menjadi kolektor, karena melalui koleksi yang dimilikinya, kemampuan abstraksi anak menjadi semakin berkembang. Bagaimanapun melalui koleksi yang ada anak akan mencari hal-hal yang sama misalnya warna, ukuran, tekstur, atau ciri-ciri lainnya sehingga anak belajar melakukan klasifikasi, dan juga perbandingan.

Membaca
Kebanyakan anak berbakat telah mampu membaca sebelum masuk ke sekolah dasar. Ada seorang ibu yang mengingat bahwa pada usia kurang dari satu tahun, anaknya telah mampu menyadari buku bergambar yang dipegangnya terbalik. Ia selalu merubah posisi buku yang diberikan terbalik. Begitu juga ada orang tua lain yang tidak lupa perilaku anak berbakatnya semasa usia dibahwa tiga tahun, yang belum bisa membaca namun seolah “membaca” dari kiri kekanan dan setiap kali membuka halaman buku satu persatu. Berapa dininya seorang anak bisa membaca? Sebanyak 50% anak berbakat telah mampu membaca pada usia 2- 2 1/2 tahun.; Kebanyakan orangtua yang mempunyai anak berbakat bisa membaca dini ini menyebutkan bahwa membaca dini dimungkinkan karena ketersediaan bacaan yang banyak di rumah, dan juga ibu yang tidak hanya membacakan cerita pada anak namun juga membacakan kata-kata yang dilihat dari bukungkus makanan, dus sepatu, papan iklan, dls.

Matematika
Keterampilan aritamtika juga dimulai sejak dini, melalui pemahaman misalnya besar kecil, banyak, sedikit. Pada anak berbakat minta ini ditunjukkan dengan memiliki minat pada jam, dan pertanyaan berapa lama, berapa jauh, berapa banyak, harganya berapa. Mereka juga tertarik dengan umur dan ulangtahun. Ada seorang anak berbakat mengajukan pertanyaan yang janggal “ Ma… nenek sekarang umurnya 75 tahun, jadi meninggalnya umur berapa ya?” Disamping itu ada hubungan antara perkembangan motor dan perceptual, yang ditunjukkan anak dengan kemampuan anak dalam mengenal arah seperti depan belakang, kiri kanan, atas bawah, jauh dekat, dls.. Biasanya anak-anak yang cepat perkembangan motoriknya akan memeiliki kemampuan aritmatika yang baik.

Anak Berbakat Perempuan

Oleh: Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.M., Psikolog

Anak berbakat perempuan ? Ya, saya merasa penting menyoroti masalah anak berbakat perempuan (gifted girls/gifted women), karena mereka termasuk dalam katagori anak berbakat yang tidak beruntung, sama halnya dengan anak berbakat cacat (handicapped gifted), dan anak berbakat berprestasi kurang (underachiever).

Malangnya nasib kaum perempuan ! Bila kecil dianggap paling cepat tumbuh secara fisik, paling cepat berkembang secara psikologis, cepat matang dan juga lebih cerdas daripada laki-laki; tetapi seiring berjalannya waktu, semakin dia tumbuh menjadi dewasa, seolah-olah kecerdasan dan kekaguman orang sekitar pada dirinya seolah-olah lenyap..yang ada adalah pujian bagi anak laki-laki. Dan ini terus berlangsung sampai masuk dunia karier!

Boleh dikata secara umum, baik anak laki-laki maupun anak perempuan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam proses intelektual dasar seperti persepsi, belajar, dan daya ingat. Hanya memang memasuki masa remaja, kemampuan keruangan visual, matematik, dan sains anak laki-laki menjadi lebih menonjol dari pada anak perempuan. Sebaliknya dalam kemampuan kreativitas verbal, pada masa remaja anak perempuan tampak semakin mengungguli daripada anak laki-laki.
Kalau dicermati, kemampuan anak perempuan tampak lebih menonjol pada saat mereka duduk dibangku SD. Kita bisa membandingkannya tidak hanya dengan anak sebayanya yang perempuan, namun juga dengan anak laki-laki. Dalam tes verbal yang menyangkut tugas mengeja, pemahaman bahan bacaan yang kompleks, memahamai bentuk-bentuk hubungan logic, terlihat hasil anak perempuan lebih baik daripada anak laki-laki. Juga dalam kemampuan kuantitatif seperti matematika, anak perempuan mampu memberikan hasil yang sama baiknya dengan anak laki-laki berbakat, namun diatas usia 13 tahun, kemampuan anak laki-laki tampak lebih baik daripada anak perempuan. Demikian pula untuk tugas-tugas pemecahan masalah, yang menyangkut penguasaan konsep, penalaran dan kreativitas nonverbal baik anak laki-laki maupun anak perempuan mampu bekerja sama baiknya.

Berdasarkan perbedaan jender dan hasil yang ditunjukkan tersebut diatas, maka Guilford (1967) menyatakan bahwa otak kanan pada laki-laki lebih berkembang baik, dan sebaliknya otak kiri anak perempuan lebih berkembang baik. Dengan demikian memang ada perbedaan jenis kelamin di dalam kemampuan penalaran matematik dan sains, dimana yang lebih banyak unggul adalah anak laki-laki daripada anak perempuan.

Stanley (1988) dari Center for the Advancement of Academically Talented Youth John Hopkins University, menyebutkan untuk skor SAT- M( Scholastic Aptitute Test- Mathematics) dalam bidang matematika terlihat anak laki-laki jauh melampaui skor anak perempuan. Sebaliknya untuk skor SAT - V ( Scholastic Aptitute Test-Verbal) anak perempuan cendernung lebih baik dari pada anak laki-laki. Sedangkan untuk fisika, biologi dan kimia, terlihat minat laki-laki lebih kepada fisika atau biologi, sedangkan anak perempuan lebih memilih kimia dan biologi, namun dengan prestasi dalam bidang sains yang tidak signifikan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Artinya baik anak perempuan maupun laki-laki dapat berprestasi baik dalam bidang sains.

Bagaimana pola karier anak berbakat perempuan ? Apakah ada perbedaan dengan anak berbakat laki-laki? Ternyata hasil temuan Terman dan Oden (1959) menunjukkan memang ada perbedaan jenis kelamin dalam pemilihan karir. Hal yang menarik, anak perempuan berbakat akan memilih karir yang berbeda dengan anak perempuan yang tidak berbakat. Namun anak laki-laki tidak berbakat dengan anak laki-laki berbakat memiliki pilihan karir yang sama. Pada anak berbakat perempuan, pilihan kariernya cenderung sama dengan pilihan karier anak laki-laki berbakat, sedangkan anak perempuan yang tidak berbakat, pilihan kariernya cenderung pada pekerjaan stereotipi perempuan seperti guru, admnistrasi, sekretaris dan ibu rumah tangga.

Di dalam dua dekade ini terlihat lonjakan yang sangat pesat sebesar 200% pada pilihan karier perempuan untuk terjun dalam bidang sains dan rekayasa, meskipun kalau dibandingkan dengan seluruh populasi perempuan, hanya 3,5% yang tertarik ke sains dan bdiang rekayasa. Hal ini terjadi karena masyarakat lebih mendorong anak laki-laki dibanding anak perempuan untuk terjun ke dunia akademik atau professional. Anak perempuan ditekan agar berperan sebagai istri dan ibu rumah tangga.

Masalah lain bagi anak berbakat perempuan adalah adanya harapan-harapan peran jenis kelamin yang berkembang di tengah masyarakat dan secara gencar dipublikasikan melalui buku-buku, majalah, film, pidato, dan sebagainya yang lebih berpihak pada anak laki-laki. Dimana di dalam kelas anak laki-laki bisa lebih leluasa memberikan opini, bertanya, berbeda pendapat, sedangkan anak perempuan diharapkan bisa bersikap lebih manis dan sopan. Hal yang menjadi tantangan bagi perempuan berbakat dalam aspirasi kariernya adalah konflik dalam menjaga citra dirinya, agar tidak menjadi maskulin dan tetap disebut feminis.

Dari sisi pengembangan kreativitas, hasil studi menunjukkan bahwa laki-laki lebih produktif melahirkan karya-karya kreatifnya daripada perempuan. Hal ini disebabkan perempuan lebih banyak disibukkan dengan tugas-tugas kerumah tanggaan, sehingga kurang memiliki waktu untuk menghasilkan karya kreatif.

Di dalam memandang keberhasilan, ternyata cara pandang laki-laki dan perempuan berbeda,. Bagi laki-laki, jika dia berhasil maka itu karena kemampuan yang ia miliki, sedangkan perempuan menganggap keberhasilan sebagai suatu bentuk keberuntungan (luck) ; sebaliknya dalam memandang ketidak berhasilan laki-laki memandangnya sebagai ketidak beruntungan atau kurangnya usaha, perempuan dalam memdangan ketidak berhasilan sebagai kurangnya memiliki kemampuan. Hal ini yang juga sering dilakukan oleh guru-guru, dimana memberikan julukan pada anak perempuan yang mendapat nilai jelek sebagai kemampuan inteligensi yang rendah, sedangkan kalau anak laki-laki sebagai kurangnya motivasi.

Pada akhirnya perempuan berbakat maupun laki-laki berbakat memandang kesuksesan dalam hidup adalah :
1. tercapainya tujuan, kepuasan karir, berprestasi
2. pernikahan dan kehidupan keluarga yang bahagia
3. pendapatan cukup yang membuat hidup nyaman
4. memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan atau kesejahteraan manusia, membantu orang lain dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik
5. ketenangan jiwa, mampu menyesuaikan diri dengan baik dan memiliki kematangan emosi.

Sebagai kesimpulan, maka ternyata memang ada –mau atau tidak mau - perbedaan anak laki-laki ataupun anak perempuan, tidak sekedar dalam fisiknya saja tetapi menyeluruh secara psikologis, kemampuan umum, gaya belajar, prestasi, bakat khusus. Dengan memahami perbedaan ini, maka setiap aspek perkembangan yang muncul dalam tahapan perkembangannya perlu diterima dengan rasa syukur dan diperkuat potensi perkembangannya.

Dirjen PAUDNI Tandatangani MoU dengan Bupati Banyumas

(Purwokerto, 10/6), Direktur Jenderal PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog menandatangani Naskah Kesepahaman (MOU) dengan Bupati Banyumas dalam rangka revitalisasi SKB Kota Purwokerto.
Kegiatan ini dilakukan mengingat pentingnya SKB yang memiliki peran strategis untuk menyelenggarakan proses pembelajaran, khususnya bagi masyarakat yang tidak mampu. 

Diharapkan dengan adanya revitalisasi ini, peran SKB akan lebih memberikan manfaat dan meningkatkan mutu pelayanan pendidikan bagi masyarakat sekitarnya untuk menimba ilmu dan keterampilan di lembaga tersebut.

Sumber: www.infokursus.net

Akademi Komunitas Tidak Akan Mematikan Lembaga Kursus

SOLO. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi Psikolog menegaskan bahwa Akademi Komunitas (community college) tidak akan mematikan lembaga kursus dan pelatihan. Pendirian akademi tersebut justru harus menjadi pemacu bagi lembaga kursus untuk berbenah diri.

“Keduanya memiliki pangsa pasar yang berbeda,” ucapnya saat diwawancarai sejumlah media nasional, Minggu (28/10). Reni, sapaan Dirjen PAUDNI mengatakan lembaga kursus lebih banyak melayani program kursus reguler yang waktunya lebih singkat. Biasanya program tiga bulan atau enam bulan, sedangkan akademi komunitas berjenjang diplomasi satu dengan masa studi satu tahun.

Senada dengan Dirjen PAUDNI, Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Wartanto optimis lembaga kursus tidak akan hangus oleh akademi komunitas. “Saya yakin keduanya bisa bersinergi,” ucapnya. Sebelumnya, sejumlah lembaga kursus dan pelatihan memiliki beragam pandangan tentang akademi komunitas. Ada yang menyadarinya sebagai ancaman, namun ada pula yang menganggapnya sebagai peluang.

Tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan membangun 20 akademi komunitas sebagai amanat Undang-undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Pasal 59 ayat 7 UU tersebut menjabarkan bahwa akademi komunitas merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi setingkat diplomasi satu dan atau diploma dua dalam satu atau beberapa cabang ilmu pengetahuan dan atau teknologi yang berbasis keunggulan lokal.

Cari Peluang Kursus Baru
Dirjen PAUDNI meminta agar para pengelola lembaga kursus dan pelatihan tidak hanya menjalankan program konvensional. Tetapi harus jeli mencari peluang jenis kursus baru. Ia berkisah tentang minimnya kursus penata musik dan suara (sound engineer) di Indonesia. “Kerabat saya ada yang mendalami sound engineer di Amerika, karena di Indonesia belum ada yang mumpuni. Ini kan peluang,” ucapnya.

Ia juga menyoroti masih minimnya literatur tentang adat perkawinan dari tiap-tiap daerah di Indonesia. Padahal dari 450 lebih jumlah kabupaten/kota, masing-masing memiliki adat perkawinan yang berbeda-beda. “Baru sebanyak 40 adat perkawinan yang dibakukan,” katanya. Untuk itu ia berharap pemerintah daerah ikut membantu pendataan potensi kursus dan pelatihan sesuai kearifan lokal. (Yohan Rubiyantoro/HK)
 
Sumber:  paud-tk-kis.blogspot.co.id

Guru PAUD Harus Sering Ikut Diklat

MATARAM. Pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi guru pendidikan anak usia dini (PAUD) perlu digencarkan. Ini untuk mengatasi masih rendahnya tingkat pendidikan guru PAUD yang ada saat ini.

“Idealnya guru PAUD berpendidikan minimal S1. Namun saat ini, baru 16 persen Guru PAUD yang berpendidikan sarjana. Lainnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Bahkan di beberapa daerah masih ada guru PAUD yang hanya lulusan SMP,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog saat pembukaan Diklat Peningkatan Kompetensi Tutor PAUD di Mataram, Nusa Tenggara Barat, belum lama ini.

Untuk itu Guru Besar Universitas Indonesia ini menyatakan intensitas penyelenggaraan diklat bagi guru PAUD perlu ditingkatkan demi peningkatan kompetensi para pendidik tersebut.

“Dengan banyak mengikuti diklat, kemampuan guru PAUD dalam membentuk individu, kepribadian, dan watak anak akan semakin bertambah,” ujar Reni Akbar Hawadi, panggilan akrab Lydia.

Selain itu, Reni juga mendorong guru PAUD untuk memiliki motivasi dari dalam dirinya sendiri untuk sering mengikuti berbagai diklat, terutama bagi mereka yang baru menjadi guru PAUD.

“Kita tahu bahwa usia dini ini adalah usia krusial jadi sehingga mau tidak mau para guru harus punya keinginan untuk meningkatkan kemampuannya,” tambah Reni. (Sugito/HK)

Sumber :Dirjen PAUDNI Kemdikbud

Dirjen PAUDNI Luncurkan JayagiriEdu

Berlangsung dalam suasana ceria dan penuh keakraban, situs JayagiriEdu, diresmikan penggunaannya oleh Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal & Informal, Prof. DR. Lydia Freyani Hawadi, Psi. Dengan disaksikan oleh para Kepala Satuan Kerja Ditjen PAUDNI Kemdikbud RI, para pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), serta penggiat Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM), situs yang dirancang oleh Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) yang bernaung dibawah Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal & Informal (P2-PNFI) Regional I Jayagiri Bandung ini, diluncurkan di Tasikmalaya (8/9/2012).

Ir. Djajeng Baskoro, M.Pd., selaku Kepala P2-PNFI Regional I Jayagiri Bandung sekaligus penggagas situs JayagiriEdu ini mengemukakan,"JayagiriEdu merupakan "Rumah besar bagi teknologi pembelajaran, yang memungkinkan siapa saja untuk dapat belajar,berbagi, berlatih, bahkan  mendapatkan sertifikat sesuai kompetensi, melalui pemanfaatan fasilitas yang dikenal luas dalam dunia teknologi pendidikan sebagai e-training." Selain itu, menurut beliau, di "rumah besar" ini para fasilitator dan para peserta didik dapat berinteraksi aktif secara virtual layaknya social media, guna menjalankan proses pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kompetensi peserta didik.


Ragam fasilitas e-training dalam situs JayagiriEdu ini pada awalnya dirancang untuk memenuhi target peningkatan kompetensi bagi Pamong Belajar dan Penilik dalam lingkungan Ditjen PAUDNI Kemdikbud RI. Berdasarkan arahan dari Dirjen PAUDNI, Prof.DR.Lydia Freyani Hawadi, Psi., pada proses pengembangannya  kemudian, fasilitas e-training dalam situs JayagiriEdu dapat pula dimanfaatkan oleh berbagai  lembaga ataupun instansi diluar Ditjen PAUDNI, baik yang berada dibawah Kemdikbud RI, Kementerian lainnya, maupun kalangan umum atau swasta yang tertarik bersinergi menggunakan fasilitas e-training situs JayagiriEdu ini, dalam meningkatkan kompetensi personil-personilnya.


Dalam kata sambutan peluncuran situs yang bisa diakses dengan mengetikkan alamat www.jayagiriedu.net pada aplikasi browser ini, Dirjen PAUDNI, Prof.DR.Lydia Freyani Hawadi, Psi., mengharapkan, JayagiriEdu dapat menjadi "rumah besar" teknologi pembelajaran yang mampu menjadi wadah bagi PTK, akademisi, praktisi, dan seluruh lapisan masyarakat dalam berbagi informasi, inspirasi dan motivasi, demi mencerdaskan kehidupan bangsa.


Pada akhir acara, dilakukan penandatanganan MoU antara Kepala P2-PNFI Regional I Jayagiri Bandung dengan  beberapa LKP dan Forum TBM Pusat, yang isinya berupa kesepakatan untuk melakukan kerjasama dalam bidang pendidikan dengan tujuan menunjang program peningkatan Sumber Daya Manusia melalui Program Kemitraan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan media e-training.


Firman Hadiansyah, M.Hum, ketua Forum TBM Pusat, yang ikut menandatangani MoU dengan P2 PNFI Regional I Jayagiri Bandung mengatakan,"Hadirnya situs JayagiriEdu ini tentu merupakan sebuah terobosan, khususnya bagi dunia pendidikan luar sekolah di Indonesia. Mengingat, penggunaan teknologi dalam berbagai aspek terutama pendidikan kini merupakan hal yang tidak dapat dielakkan. Namun, hendaknya Diklat yang berlangsung secara virtual ini tidak membuat Diklat yang dikelola secara konvensional sampai diabaikan." Lelaki asal Serang yang dikenal pula sebagai sastrawan muda penggiat komunitas rumahdunia dengan nama pena, Firman Venayaksa ini juga berharap, JayagiriEdu dapat terus berkembang, terus didukung berbagai pihak, agar kelak nilai kebermanfaatannya semakin tinggi guna memenuhi salah satu kebutuhan fitrah setiap individu masyarakat, yaitu : pendidikan.(aea)


Sumber: pkbmdaring.kemdikbud.go.id


Kebijakan dan Program Hebat, Bermula dari Data yang Akurat

SURABAYA. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Ditjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psi menekankan pentingnya akurasi data sebagai pijakan dalam menggelontorkan program maupun kebijakan di bidang PAUDNI. Data yang valid dan akurat akan berbuah kebijakan yang efektif dan tepat sasaran.

Hal tersebut disampaikan Dirjen PAUDNI saat membuka Workshop Pendataan PAUDNI Tahun 2012 di Surabaya, Senin (24/9). “Setiap program harus didukung ketersediaan data dan informasi yang lengkap. Sehingga, dapat diukur pencapaian target setiap tahun,” ujarnya.

Pada kegiatan yang dihadiri oleh Tim Pengelola Pendataan Ditjen PAUDNI, Balai Pengembangan dan Pusat Pengembangan PAUDNI, serta sejumlah dinas pendidikan provinsi, dan kabupaten/kota tersebut, Reni, sapaan Dirjen PAUDNI menguraikan kebijakan pengembangan sistem pendataan di Kemdikbud. Kebijakan tersebut berfokus pada tiga data pokok. Yakni data lembaga, data pendidik, dan data peserta didik.

“Data ini harus by name by address, dengan demikian seluruh kabupaten/kota berkewajiban untuk mengumpulkan dan memasukkan data lembaga, pendidik, dan peserta didik,” pinta Dirjen PAUDNI dihadapan para peserta.

Menyigi Data Pada 2011
Kegiatan pendataan secara paripurna telah dilakukan mulai 2011. Ditjen PAUDNI telah menyigi data melalui perangkat SIM PAUDNI, khususnya untuk program PAUD. Hasil yang telah dikantongi antara lain, jumlah lembaga Satuan PAUD yang meliputi Taman Kanak-Kanak (TK), Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) dan Satuan PAUD Sejenis (SPS) telah mencapai 140.348 Lembaga.

Sedangkan jumlah peserta didik PAUD sebesar 9.419.849 orang. Sebagian besar adalah peserta didik TK, KB dan SPS. Sementara jumlah pendidik (PTK) PAUD sebesar 348.179 orang. “Hasil pendataan tahun 2011 hendaknya bisa ditingkatkan. Sehingga, kita dapat menghasilkan data yang lebih lengkap, akurat, dan proporsional untuk mendukung perencanaan dan penyusunan program pembinaan PAUDNI pada tahun yang akan datang” ucap Dirjen PAUDNI. (Yohan Rubiyantoro-Ratna/HK)

Sumber:  https://mandirinews.wordpress.com/

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia