Selasa, 12 Juni 2018

Lembaga Kursus Harus Siap Bersaing Di Era Pasar Bebas

BATAM. PAUDNI. Bangsa Indonesia harus siap bersaing di era pasar bebas, sebab kita akan menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan memasuki pasar bebas World Trade Organization (WTO) dengan persaingan terbuka.
Untuk menghadapi hal tersebut Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi menegaskan agar seluruh lembaga kursus dan pelatihan memiliki daya saing global. Hal itu disampaikan saat memberikan arahan pada Kegiatan Peningkatan Mutu Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) menuju Akreditasi di Batam (6/4).


“Memasuki era globalisasi setiap lembaga kursus dan pelatihan (LKP) harus dipersiapkan bersaing dengan negara lain,” tegas Lydia. Tahun 2015 kita memasuki era persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN dengan pesaing 9 negara ASEAN dan tahun 2020 nanti menjadi era pasar bebas WTO dengan 153 negara dan 18 jenis profesi yang bersaing ,” tambah Lydia.

Reni Akbar Hawadi – sapaan akrab Dirjen PAUDNI berharap sepuluh tahun ke depan kita bisa menyelesaikan standarisasi LKP sesuai dengan standar nasional pendidikan dengan 8 (delapan) standar, yaitu: (1)standar isi; (2) standar proses; (3) standar kompetensi lulusan; (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (5) standar sarana dan prasarana; (6) standar pengelolaan; (7) standar pembiayaan; dan (8) standar penilaian pendidikan. Dirjen berharap besar pada Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF) untuk membuat instrumen akreditasi dengan melakukan studi, agar standarnya lebih baik.

Sasaran LKP yang paling krusial yakni anak putus sekolah yang masih berusia produktif dan masih pengangguran. Mereka harus dilatih dengan kursus sebelum disalurkan bekerja atau diarahkan berwirausaha. Saat ini negara kita masih kekurangan wirausahawan, bila dibandingkan dengan negara tetangga Singapura yang memiliki 8% dan Malaysia 6%. Sedangkan kita kita masih dibawah 2 %.
Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Muslikh memaparkan Kegiatan Peningkatan Mutu LKP menuju Akreditasi bertujuan untuk menyosialisasikan akreditasi LKP yang dilakukan oleh BAN PNF, selain itu juga untuk melakukan simulasi pengisian instrumen akreditasi, sekaligus berupaya mendorong LKP untuk bersedia dan mengajukan diri untuk diakreditasi BAN-PNF.
(Rica Noverina/HK)

Tanamkan Nilai Kebangsaan di TK Internasional

SOLO, PAUDNI. Nilai – nilai Kebangsaan perlu ditanamkan pada anak usia dini. Hal ini penting untuk menciptakan generasi muda yang bermoral dan memiliki rasa cinta tanah air.

Demikian ucap Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog saat membuka Kegiatan Workshop Penyusunan Pedoman Kebijakan Bidang Pembelajaran dan Peserta Didik, Rabu (23/04).

Lydia mengaku prihatin dengan keadaan sekolah TK Internasional yang kurang memiliki nilai – nilai kebangasaan. Terbukti saat Dirjen berkunjung ke salah satu TK Internasional, pada sambutan awal oleh instruktur anak menggunakan bahasa Mandarin dan pada peserta didiknya tidak ada yang bisa menyanyikan lagu – lagu anak Nasional, “ini prihatin” tegas Dirjen.

Dalam waktu dekat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengatur sekolah yang bertaraf Internasional hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 yaitu mengamanatkan sekolah – sekolah internasional harus beralih dalam empat bentuk dan saat ini menjadi tiga bentuk yaitu Kurikulum berbasis Pendidikan Nasional, Keunggulan lokal, dan Kerja sama,“ ujar Dirjen PAUDNI.

Kegiatan Workshop Penyusunan Pedoman Kebijakan Bidang Pembelajaran dan Peserta Didik yang diselenggarakan di Solo, dihadiri oleh Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog (Dirjen PAUDNI), Dr. Erman Syamsuddin, SH., M.Pd (Direktur Pembinaan PAUD), Prof. Dr. Hamid (UPI), Pak Pontjo Sutowo (Narasumber dalam Kegiatan) dan Para Peserta undangan.
(Gunawan Prasetiyo/HK)

Pengukuhan Bunda PAUD Kota Pangkalpinang

Pangkalpinang – PAUDNI. Pentingnya peran serta Bunda PAUD dalam memberikan motivasi kepada masyarakat dan orang tua untuk memahami pentingnya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), agar terwujudnya generasi muda yang cerdas, berahlak baik dan produktif.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog mengukuhkan Bunda PAUD Kota Pangkalpinang Dessy Ayu Trisna Irwansyah di lapangan Alun – alun Kota Pangkalpinang, Sabtu (03/05).

Dengan dikukuhkannya Bunda PAUD Kota Pangkalpinang diharapkan dapat meningkatkan mutu Pendidikan dan Sumber Daya Manusia. “Tugas bunda PAUD tidaklah ringan, melainkan memikul tanggung jawab yang besar untuk kepentingan masa depan anak bangsa,” ujar Dirjen saat pengukuhan Bunda PAUD.

Dessy Ayu Trisna Irwansyah berpesan agar semua orang tua harus memantau dan membimbing anaknya yang masih berusia 0 sampai 6 tahun, karena mereka akan menyerap semua informasi yang mereka terima. “Berilah pembinaan yang baik kepada anak – anak agar menjadi generasi penerus yang cermelang,” tegas Dessy.

Usai pengukuhan Bunda PAUD, Dirjen PAUDNI dan Bunda PAUD Dessy Ayu Trisna Irwansyah beserta rombongan melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pangkalpinang, TK Negeri Pembina Kota Pangkalpinang, PKBM Kurnia dan Taman Anak Sejahtera Azizah.
(Gunawan Prasetyo/HK)

Pra Peluncuran Sampul Hari Pertama Seri PAUDNI

Jakarta.PAUDNI – Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), berencana akan menggelar penandatangan Sampul Hari Pertama (SHP) Perangko Seri PAUDNI di sorong, pada puncak acara Hari Pendidikan Nasional 10 Mei 2014 mendatang.

Demi kelancaran acara tersebut Dirjen PAUDNI, Prof Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog didampingi H. Hasan Bisri Kepala Sub. Bagian Persuratan dan Pengarsipan Setditjen PAUDNI, menggelar rapat pra penandatangan SHP bersama perwakilan Kemkominfo dan Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika. Jakarta (7/4).

Hasil rapat ini menurut Hasan Bisri nantinya akan disampaikan ke Dirjen PAUDNI, sebelum dikordinasikan kepada Panitia Hardiknas. SHP rencananya ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dengan Menteri Komunikasi dan Informatika.

Serta didampingi oleh Direktur Jenderal PAUDNI dan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika disaksikan Menkokesra. Acara penandatangan tersebut rencananya diselenggarakan di Alun – alun kota Kabupaten Sorong. (M.Husnul Farizi, S.IP/HK)

Anak Berbakat, Apa Sih?

Orang tua sering lupa, anak berbakat membutuhkan dukungan dan motivasi.
’’Anak saya berbakat, lho,’’ ujar seorang ibu kepada teman-temannya.Setiap orang tua pasti selalu membanggakan anak-anaknya. Setiap anak memang unik. Mereka dilahirkan dengan membawa potensi dan bakat yang berbeda-beda.Beruntunglah bila orang tua dikarunia anak yang berbakat. Menurut pakar keberbakatan, Dr Reni Akbar-Hawadi SPsi jumlah anak yang berbakat hanya tiga persen dari jumlah populasi anak. ’’Membesarkan anak berbakat itu ibarat pohon. Bila tak disiram tak akan tumbuh,’’ ujar dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) ini. Sayangnya, sebagian besar orang tua masih belum memahami bahwa buah hatinya adalah anak berbakat. Selama ini, pemahaman masyarakat atas istilah berbakat, cerdas, dan pintar masih tumpang tindih. Padahal, ketiga istilah itu berbeda.


All out
Menurut Reni, anak disebut berbakat apabila sejak kecil sudah memiliki komitmen yang besar dengan bidang yang disukainya. Tak hanya itu, anak yang berbakat pun akan terus-menerus mengembangkan kemampuan yang dimilikinya itu. ’’Kememapuannya melampaui di atas rata-rata,’’ ujar penggagas Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi UI itu.

Tak hanya itu, anak yang berbakat juga memiliki kemampuan intelegensi yang jauh di atas rata-rata. Anak yang unik ini juga dikarunia komitmen yang besar dan kreatif dalam bidang yang disukainya. Sehingga, bidang itu bisa kembangkannya untuk menjadi lebih besar lagi. ’’Misalnya ada anak yang senang olahraga. Kalau anak itu berbakat, maka ia akan terus mencari bahan tentang olahraga yang disukainya,’’ tutur psikolog kelahiran Kota Bandung ini. Dengan begitu, si anak akan tahu tokoh, hasil pertandingan, hingga teknik-teknik olahraga tersebut. ’’Anak berbakat itu akan all out.’’

Begitu juga dengan anak yang suka dengan matematika. Anak berbakat akan terlihat lain. Menurut Reni, akan berbakat akan punya komitmen untuk mempelajari matematika hingga mampu menciptakan rumus-rumus baru. ’’Orang yang berbakat main piano dan yang nggak berbakat akan lain saat memainkan tuts piano. Sentuhannya akan lain,’’ ungkapnya. Sedangkan, lanjut Reni, anak disebut cerdas, karena memiliki taraf intelijensia yang tinggi. Namun, anak cerdas ini belum tentu memiliki komitmen yang besar dan belum tentu mampu berkreativitas. Sementara, istilah anak pandai, kata dia, adalah istilah yang diberikan masyarakat luas untuk menunjukkan bahwa seorang anak punya ranking tinggi di kelasnya.

Pandai, berbakat, cerdas
’’Anak pandai belum tentu berbakat dan belum tentu cerdas,’’ kata Reni. Berdasarkan hasil penelitian seorang mahasiswa Psikologi UI, dari 250 anak sekolah dasar (SD) yang selalu meraih ranking satu sampai 10 di sekolahnya, ternyata yang terkategori cerdas hanya 20 persen. Malah, 20 persen lainnya kecerdasannya di bawah rata-rata. Mungkin Anda bertanya, ’’Kok bisa sih anak yang nggak cerdas mendapat ranking?’’ Menurut Reni, hal itu tentu sangat mungkin terjadi. Sebab, pelajaran di SD terbilang masih mudah. Selain itu, kontrol yang diberikan orang tua juga terus-menerus. Sehingga, tiap hari orang tua men-drill anaknya untuk belajar.’’Tapi, begitu si anak masuk SMP dan SMA jadi drop, karena mereka harus belajar mandiri.’’

Sejak kapan orang tua mulai bisa mengenali buah hatinya tergolong anak berbakat? Menurut Reni, berdasarkan penelitian orang tua mulai bisa melihat anaknya berbakat atau tidak pada saat masuk taman kanak-kanak (TK). Orang tua, bisa melihat dari kecenderungan-kecenderungan anak yang muncul setiap hari. Reni memaparkan, anak berbakat ditandai dengan kritis, banyak tanya, agak susah diatur, punya rasa ingin tahu yang besar dan memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi. Misalnya saja, anak yang berbakat tak cuma ingin main ke mal, namun juga mereka memiliki keinginan untuk mengunjungi museum dan berbagai tempat lainnya.

’’Orang tua yang mengerti, sering kali menganggap anak berbakat ini cukup merepotkan,’’ paparnya. Memang hal itu ada benarnya. Sebab, belum tentu orang tua bisa memenuhi kebutuhan anak tersebut baik secara pengetahuan maupun finansial. Namun, kata Reni, yang perlu diingat adalah mendidik anak berbakat adalah tugas yang mulia. Sebab, mereka adalah aset bangsa di masa depan. Bila orang tua menemukan anaknya seperti itu, maka sebaiknya orang tua perlu berkonsultasi dengan psikolog tentang cara membesarkan anak-anak yang berbakat itu. ’’Orang tua juga harus rajin membaca buku agar bisa mengimbangi rasa ingin tahu anaknya yang besar,’’ tegasnya.

Dukungan dan motivasi
Anak berbakat, jelas Reni, amat membutuhkan dukungan dan motivasi. ’’Yang perlu diperhatikan, anak berbakat ini sangat rentan dengan rasa aman psikologis dalam pengembangan bakatnya,’’ tuturnya. Orang tua, sering kali kurang menghargai kreativitas anaknya. Bila ada seorang anak yang menggambar daun dengan warna ungu, misalnya, orang tua biasanya langsung komentar, ’’Kok ada daun warna ungu?’’Pernyataan itu akan dianggap anak sebagai sesuatu yang melecehkan. Hal itu membuat anak merasa tak aman secara psikologi. Hal seperti itu, kata Reni, akan bisa mematikan bakat yang dimiliki anak tersebut. ’’Kesalahan ini sering terjadi, karena orang tua tak mengerti cara menangani anak yang berbakat,’’ ucapnya.

Kesalahan lainnya yang biasanya dilakukan orang tua dalam membesarkan anak berbakat adalah kurangnya memberi dukungan dan motivasi. Padahal, kata dia, perenang juara olimpiade atau juara-juara lainnya mampu meraih prestasi karena dukungan dan motivasi dari ibunya. ’’Ternyata, ibunya selalu mengajak anaknya berenang,’’ imbuhnya. Hal itu, sambung dia, menunjukkan bawah orang tua dari atlet-atlet juara dunia itu memiliki kepedulian yang besar dan mau mengorbankan waktunya untuk sang anak.

Sekolah pun sering kali dianggap mematikan anak-anak berbakat. Biasanya di sekolah, anak-anak berbakat sering ditempatkan di pojok. Itu terjadi karena kebanyakan sekolah lebih senang dengan anak yang rata-rata. Guru pun tak mau susah. ’’Sebab, anak berbakat ini biasanya selalu kritis, bertanya terus, nggak mau kalah dan terus mengejar apa yang ingin diketahuinya.’’ Tak heran, bila guru merasa terpojok. Sementara, penilaian guru biasanya bersifat subjektif. Sering kali guru menilai muridnya dari kesopanan dan perilakunya. Malah, kepatuhan dan kesopanan dijadikan indikator siswa berbakat. Padahal, kata Reni, di negara lain kedua hal itu tak masuk kategori penilaian anak berbakat.

’’Akibatnya, banyak anak yang baktnya dimatikan sekolah. Itu karena, guru banyak yang tak tahu,’’ paparnya. Padahal, lanjut dia, kalau disalurkan dengan baik, anak berbakat itu bisa aset bangsa. Mereka bisa mengharumkan nama bangsa di masa yang akan datang. Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat,1.000 orang yang dianggap berbakat yang bisa meraih hisup sukses mencapai 45 persen. Menurut Reni, 55 persen dari mereka tak berhasil, karena masalah kepribadian. Ini menunjukkan bahwa membesarkan anak berbakat juga perlu dibarengi dengan memperkuatnya denga kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. ’’Ini adalah sebuah kerja berat. Maka, membesarkan anak berbakat perlu ada dukungan dari orang tua, sekolah dan lingkungan,’’ paparnya.

Mengasah Diri di Pusat Keberbakatan
Setiap anak memiliki potensi dan bakat di dalam dirinya yang perlu dikembangkan. Bakat dan potensi itu, ibarat batu intan permata. Bila terus digali, disaring dan diasah, maka hasilnya akan menjadi luar biasa. Atas dasar itulah, Fakultas psikologi UI mendirikan Pusat Keberbakatan.
Lembaga baru ini mencoba memprakarsai berbagai program alternatif di luar sekolah bagi anak-anak yang berbakat. ’’Di tempat ini, anak-anak bisa mempelajari hal-hal baru dan mengembangkan potensi sesuai dengan keinginannya. Lembaga ini juga menyediakan berbagai program bagi para orang tua adan pendamping anak agar senantiasa siap untuk mengembangkan potensi anaknya,’’tutur Sekretaris Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi UI, Dr Reni Akbar-Hawadi Psi.

Program yang disediakan Pusat Keberbakatan ini diperuntukkan bagi siswa SD, SMP, dan SMA yang tengah mengikuti kelas akselerasi. Siswa yang ikut kelas akselrasi ini adalah tergolong siswa yang berbakat. Bagi mereka, lembaga ini menghadirkan tujuh program yang dikemas dalam Happy Saturday. Ketujuh kegiatan itu antara lain; Basic Fiction Writing, Budo Weekend, Crea Kids, Enterpreneur Readiness Course, Information Skills dan Young Researcher. Kegiatan tersebut digelar setiap hari Sabtu. Basic Fiction Writing diperuntukan bagi siswa SMP yang tertarik dengan dasar-dasar penulisan fiksi. Budo Weekend adalah program aneka seni bela diri dan budaya dari negara asalnya. Ini dikhususkan untuk siswa SMP dan SMA. Crea Kids adalah program bagi siswa usia 10 hingga 15 tahun yang ingin tumbuh menjadi orang yang kreatif.

Sedangkan, Enterpreneur Readiness diperuntukkan bagi siswa kelas akhir di SMP dan SMA awal yang mau menggali sifat-sifat unggul pengusaha sukses dalam diri mereka.Information Skill ditujukan bagi siswa SMP dan SMA agar dapat memanfaatkan berbagai sumber informasi dalam proses pembelajaran. Selain itu, ada pula program Young Researcher, bagi siswa SD, SMP dan SMA yang ingin menjadi seorang peneliti. Program lainnya adalah Self Development. Program ini dirancang untuk siswa yang berusia 9-13 tahun. Tujuannya agar anak mengenal lebih baik dirinya sehingga mampu berkomunikasi dengan baik.

Bagi para orang tua yang memilki anak berbakat, Pusat Keberbakatan juga menggelar progran Parenting Skill dan Bunga rampai Psikologi keberbakatan. Di dua program itu, orang tua akan diberikan pengetahuan dan wawasan tentang keberbakatan dan cara membesarkan anak berbakat. Untuk setiap programnya, Pusat Keberbakatan menerapkan biaya sebesar Rp 1,5 juta. Lama program selama tiga bulan atau 12 sesi pertemuan.
( hri )

Sumber:  https://www.republika.co.id/

12 Kiat Jitu Anak Sukses Sekolah - RENI AKBAR & HAWADI

Setiap anak memiliki potensi dan cara belajar yang berbeda. Ada anak yang belajar sambil mendengarkan musik, ada anak yang belajar sambil bermain, ada juga anak yang belajar dengan melihat gambar.

Jika kita mampu membantu anak untuk menemukan cara belajarnya, anak akan semakin efektif dalam belajar, serta semakin dimudahkan dalam menemukan bakatnya. Untuk itu, sangat penting bagi orang tua dan guru untuk memahami keunikan cara mendidik anak.

Dengan memahami keunikan cara belajar anak, maka kesiapan hati, motivasi, dan semangat anak dalam belajar atau pergi ke sekolah dapat terus kita tumbuhkan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan pakar psikologi yang memberikan kiat bagaimana menyiapkan anak siap pergi ke sekolah mulai dari pendidikan usia dini hingga pendidikan menengah atas, serta bagaimana memelihara semangat anak dalam belajar.
9B1P

Mitos Seputar Anak Berbakat

“orang tua harus memahami kemampuan di atas rata-rata anak berbakat dan tetap mendorong anak untuk bersosialisasi.”

Seorang anak di kategorikan anak berbakat, tak semata-mata karena mudah memahami segala sesuatu, mempunyai daya ingat baik serta mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan cepat. Bisa jadi mereka bukan siswa yang selalu berprestasi. Namun, ada sesuatu yang membedakan dirinya dengan siswa lain di kelas, yakni kewaspadaan (alertness), kemampuan memahami (quick insights), dan keterampilan lain yang lebih hebat dari anak lain seusianya. Hal ini membuat anak mampu menunjukkan prestasi luar biasa di sekolah. Satu ciri pasti yang ditunjukkan anak berbakat umumnya adalah skor IQ-nya tinggi.

Bagaimana perasaan anda jika si kecil diidentifikasi sebagai anak berbakat? Takjub? Bingung? Riang? Gelisah? Anda mulai menyadari si kecil akan memiliki perilaku berbeda dengan teman-teman sebayanya. Semakin tinggi skor IQ anak, kian membuat anak menjadi tidak tipikal. Biasanya 3-5 persen anak dari populasi sekolah tergolong gifted (berbakat). Jika ada 1000 siswa, maka paling tidak ada 30-50 anak yang tergolong gifted.

Hidup dengan Keberbedaan
Harus disadari anak berbakat berbeda perkembangannya dibanding teman sebayanya. Apalagi jika tingkat kecerdasan anak semakin tinggi. Menurut Dr Reni Akbar Hawadi Psi, Ketua Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, perbedaan-perbedaan yang dimiliki anak berbakat akan membuatnya merasa terasing dalam perkembangannya saat dia merasa harus bermain dan membangun persahabatan dengan anak-anak lain.

Bagi anak berbakat kebutuhan sosial dan emosional ini tidak dengan serta merta diperolehnya. Dikarenakan kelangkaan dan karakteristiknya, maka anak berbakat akan dilihat sebagai orang aneh dalam kelompok sosialnya. Ini sebenarnya yang menjadi tantangan diri seorang anak berbakat sesungguhnya. Anak harus mampu membawa dirinya agar bisa diterima baik oleh anak-anak yang lain. Perbedaan yang dimiliki anak berbakat sudah dapat dideteksi sejak bayi, seperti bisa berjalan atau berbicara lebih dini. Perkembangan anak berbakat berada di atas 30 persen anak seusianya. Anak berbakat sering kali mampu melewati kesulitan belajar lebih cepat dari teman sebayanya.

Sering kali orang tua bingung bagaimana harus bersikap. Biasanya orang tua anak berbakat dianjurkan mengabaikan tabel normal usia anak dan membiarkan anak berkembang sesuai tempo perkembangannya. Namun, dengan demikian anak dipaksa melampaui tingkat kesiapannya. Sebaliknya, ada pendapat untuk tidak menghambat kemajuan perkembangan anak.

Perkembangan yang cepat pada anak berbakat membawa konsekuensi adanya kebutuhan yang berbeda pada dirinya. Sebaiknya orang tua mendukung dan merangsang anak, namun tidak dengan tuntutan berlebihan. Jangan menghambat perkembangan unik anak dengan melemahkan keinginannya mengeksplorasi lingkungan. Kebanyakan orang tua baru menyadari anaknya tergolong anak berbakat saat mulai masuk prasekolah. Agar penanganan anak tidak terhambat, Reni menyarankan agar setiap orang tua memiliki semacam buku harian mencatat setiap perkembangan anak, yaitu Buku Perkembangan Bayi. Pastikan mencatat setiap kali perilaku anak yang tidak biasa (unusual).

Gaya belajar
Orang tua prasekolah sepatutnya menjadi pengamat dan pendengar yang baik bagi gaya belajar anak. Sejak bayi akan terlihat lebih terlibat pada hal-hal sekitarnya di banding bayi lainnya. Anak suka menjelajah sekelilingnya, fisiknya aktif, tidak pernah diam. Saat di dalam mobil anak susah duduk diam manis. Berikan kuis-kuis kecil tentang apa yang mereka lihat sepanjang jalan. Misalnya, ada berapa mobil warna merah di jalan dan sebagainya.
Bahasa
Anak berbakat terlihat suka ngoceh meniru orang dewasa, mampu berbicara menggunakan kalimat-kalimat kompleks dan kata-kata yang tidak lazim, menjawab secara gamblang dan merespon pertanyaan dengan cepat. Perkembangan bahasa mereka jauh melampaui anak sebayanya. Seringkali memberikan elaborasi terhadap pemecahan masalah yang disampaikannya. Kemampuan berpikirnya menunjukkan kemampuan di dalam mengelompokkan, mengklasifikasi, membandingkan dan membuat perbandingan antara berbagai hal. Cara berpikir yang luwes, mampu melihat informasi dari sisi yang lain serta melakukan hal-hal dalam situasi sekarang dengan menggunakan data dari masa lalu.

Kosa kata

Anak berbakat mampu memahami banyak kata di banding anak lainnya. Rasa ingin tahu anak berbakat membuatnya selalu bertanya sehingga salah satu ciri anak berbakat adalah kaya kosakata dan lebih maju dari anak lainnya. Dalam bahasa ekspresif, anak berbakat menunjukkan kemampuan lebih. Pemilihan katanya banyak dan beragam, sehingga terlihat berwarna, kaya kata sinonim, dan secara jelas menyebutkan benda yang dilihatnya dengan rincian kata lain yang mengikuti penjelasan benda tersebut.

Keterampilan motor
Anak berbakat mempunyai perkembangan motorik lebih cepat. Dia mampu memakai pakaian dan makan sendiri. Mampu memegang benda dengan tepat, sementara anak lain sulit memegangnya. Mereka juga mampu menirukan perilaku yang dilihatnya. Mampu menggambar benda yang kompleks, selalu menggambar benda yang dilihatnya. Untuk itu penuhilah kebutuhannya dengan berbagai kegiatan motorik seperti tenis, berenang, dan melukis.

Kolektor

Secara umum anak berbakat suka mengoleksi hal-hal yang menjadi minatnya. Misalnya perangko, komik, stiker, gantungan kunci, kerang dan lain-lainnya. Penuhilah kebutuhannya menjadi kolektor, karena melalui koleksi yang dimilikinya, kemampuan abstraksi anak menjadi semakin berkembang. Melalui koleksi ini anak akan mencari hal-hal yang sama, misalnya warna, ukuran, tekstur, atau ciri lainnya sehingga anak belajar melakukan klasifikasi dan perbandingan.

Membaca
Kebanyakan anak berbakat mampu membaca sebelum masuk sekolah dasar. Ada anak usia kurang dari satu tahun, telah mampu menyadari buku bergambar yang dipegangnya terbalik. Dia selalu mengubah posisi buku yang salah. Begitu juga perilaku anak berbakatnya semasa usia di bawah tiga tahun, yang belum bisa membaca, namun seolah membaca dari kiri ke kanan dan membuka halaman satu per satu. Sebanyak 50 persen anak berbakat telah mampu membaca pada usia 2 - 2,5 tahun. Orang tua anak berbakat yang mampu membaca dini ini menyebutkan bahwa hal tersebut dimungkinkan karena tersedianya banyak bacaan di rumah. Selain itu, dengan membacakan cerita termasuk membacakan kata-kata yang dilihat di bungkus makanan, dus sepatu, papan iklan, dan sebagainya.

Matematika
Keterampilan aritmatika juga dimulai sejak dini, melalui pemahaman, misalnya besar kecil, banyak sedikit. Anak berbakat memiliki minat pada jam, pertanyaan berapa lama, berapa jauh, berapa banyak, dan berapa harganya. Mereka juga tertarik dengan umur dan ulang tahun. Ada seorang anak berbakat mengajukan pertanyaan yang janggal, “Ma, nenek sekarang umurnya 75 tahun, jadi meninggalnya umur berapa ya?” di samping itu ada hubungan perkembangan motor dan perceptual yang ditunjukkan dengan kemampuan mengenal arah, kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah, jauh, dekat, dan lainnya. Biasanya, anak yang cepat perkembangan motoriknya akan memiliki kemampuan aritmatika yang baik.

Rasa ingin tahu

Anak berbakat suka bertanya, bertanya, dan bertanya. Dia suka mencoba, jika ada pertanyaan yang tidak terjawab, anak akan meminta mencarikannya. Penuhilah kebutuhan rasa ingin tahunya ini tidak hanya melalui buku, film, tapi juga mencoba mengerjakan sesuatu dan melihat banyak tempat, seperti museum, pabrik, sawah, kantor, dan lainnya.

Ingatan
Anak berbakat memiliki daya ingat luar biasa sehingga mampu menceritakan hal pada masa lalu secara rinci. Untuk memenuhi keingintahuannya membuat anak selalu bertanya dan mencari bahan yang di inginkan. Hal yang digemari anak berbakat usia 5 tahun biasanya adalah tentang dinosaurus. Anak tak akan hanya membeli buku tentang dinosaurus tetapi hal-hal yang berbau dinosaurus seperti mainan, T-shirt, puzzle, dan sebagainya.

Energi
Apakah anda merasa anak berbakat anda terlihat tidak pernah capek? Anak berbakat selalu terlihat aktif, sibuk terlibat dengan berbagai hal di lingkungannya. Sebagai orang tua, anda bisa menyusun jadwal kegiatannya agar berbagai minat yang ingin dikembangkannya akan berjalan dengan baik. Biasanya, jadwal tidur anak berbakat lebih sedikit dari anak lainnya dan berbeda karena sifat individual. Aktivitas yang berlebihan tersebut bukanlah bentuk hiperaktif. Kegiatan yang menguras energi pada anak berbakat jelas terpusat dan bertujuan.

Pertemanan

Anak berbakat lebih memilih bermain dengan orang yang lebih tua bahkan dewasa. Jadi, anda tidak perlu mendorongnya bergaul dengan teman sebayanya. Karena kebutuhan yang dicarinya dapat terpenuhi oleh anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa. Bagaimana pun anak berbakat akan merasa tidak nyaman bila berada dengan anak sebayanya yang membuatnya terlihat begitu berbeda. Orang tua harus mampu mendorong anak berbakat jangan terisolasi.

Sumber:  https://www.ibudanbalita.com/artikel/mitos-seputar-anak-berbakat

Sabtu, 09 Juni 2018

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Saat masih dalam masa pertumbuhan, anak membutuhkan pendidikan untuk membantu perkembangan mental dan pengetahuannya. Sebelum ia siap bersekolah di sekolah dasar dengan mata pelajaran tertentu dan pekerjaan rumah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mewajibkan setiap anak untuk mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD).

PAUD dianggap sebagai tahapan penting bagi perkembangan anak. Menurut Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Direktur Jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal, PAUD dapat memberikan rangsangan atau stimulus pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak prasekolah.

Mengapa Pendidikan Anak Usia Dini Penting?

Setiap anak mempunyai hak hidup dan berkembang, pemberian imunisasi, ASI, dan juga gizi. Hak tumbuh kembang dimulai sejak anak lahir hingga berusia kurang dari 4 tahun yang disebut sebagai masa keemasan atau golden age. Pada tahapan ini, anak mengalami perkembangan yang pesat terutama kecerdasan otak.

Proses pembelajaran pada usia dini dapat mencapai hasil yang optimal bila anak mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan perkembangan usianya. Si Kecil belajar melalui observasi, eksperimen, dan komunikasi dengan orang lain di luar keluarganya. Masa ini merupakan fondasi utama bagi perkembangan anak di usia selanjutnya.

Golden age adalah tahun formatif untuk pembentukan dan menentukan proses pembentukan pertumbuhan fisik dan perekembangan potensi anak, yaitu perkembangan motorik (pembentukan keterampilan anak), mental, panca indra serta afeksi dan pengembangan daya pikir anak. Selain itu, PAUD juga berfungsi untuk mengembangkan semua aspek perkembangan anak, meliputi perkembanan kognitif, sosial, dan emosional.
Berikut 5 kemampuan anak yang perlu diasah pada masa golden age, di antaranya:
  • Kemampuan motorik atau fisik
Perkembangan fisik anak dikembangkan termasuk kemampuan motorik kasar seperti olahraga dan motorik halus seperti bermain puzzle dan melakukan kerajinan tangan.
  • Kemampuan kognitif
Bagaimana anak hidup dalam lingkungannya dan bagaimana ia dapat memecahkan masalah.
  • Kemampuan sosial
Si kecil akan belajar bagaimana berinteraksi dan memiliki hubungan dengan orang lain.
  • Kemampuan emosional
Si kecil mampu mengendalikan emosi dan menumbuhkan rasa percaya diri.
  • Kemampuan bahasa
Si Kecil akan belajar berkomunikasi dengan orang lain dan bagaimana menyatakan perasaan dan emosinya melalui bahasa.

Dilansir dari parents.com, ada perbedaan yang dicapai dari anak yang bersekolah sejak dini di preschool atau PAUD. Selain belajar mengenai angka, huruf, dan bentuk, anak juga belajar bersosialisasi dengan anak lainnya serta belajar berbagi dan menghormati orang lain. 

Si Kecil yang mengikuti PAUD memiliki kemampuan yang lebih baik dalam persiapan membaca, jumlah kosa kata yang lebih banyak, dan dasar matematika yang lebih baik, dibandingkan anak-anak yang tidak belajar di PAUD. Selain itu, anak akan mendapatkan manfaat lain jika ia mendapat pendidikan PAUD, seperti berikut:
  • Memperkenalkan anak pada dunia sekolah
Pengalaman pernah mendapat pendidikan di PAUD akan membantu anak lebih siap dalam menerima pelajaran formal di bangku pendidikan selanjutnya atau Sekolah Dasar (SD). Hal ini yang menjadi salah satu penyebab UNESCO merekomendasikan setiap anak mendapatkan pendidikan anak usia dini pada usia pra sekolah. Anak yang sebelumnya mendapat pendidikan PAUD sering memiliki kemampuan yang lebih baik dalam berkomunikasi saat di sekolah. Hal ini dikarenakan ia sudah terbiasa untuk belajar, bermain, hingga makan bersama dengan teman yang memiliki usia sebaya dengannya.

  • Membiasakan anak terhadap kegiatan berstruktur
Meski bukan lembaga pendidikan formal, namun kegiatan yang diadakan di PAUD dirancang khusus agar anak terbiasa dengan rutinitas dan kegiatan terstruktur.

  • Mengajari anak untuk disiplin dan mengikuti peraturan
Preschool atau PAUD mengajarkan anak untuk mengikuti pola kegiatan dan peraturan lain di luar rumah. Dengan mengikuti kegiatan pendidikan anak usia dini, ia akan melihat dan berpikir bahwa ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan peraturan baru. Dengan begitu, saat anak memasuki SD ia tidak kaget dengan segala peraturan yang harus ditaati serta menuntut kedisiplinan

  • Membentuk dasar kepribadian anak
Pada usia keemasan anak, otak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pengalaman yang ia dapat dari PAUD turut membentuk kepribadiannya dan akan memengaruhi sosoknya saat ia dewasa nanti. Ia juga mendapatkan berbagai contoh dan kegiatan positif yang akan ia ingat dan praktikkan dalam kehidupannya.

Untuk  itu, pendidikan anak di usia dini saat usia 0 hingga 4 tahun adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan otak dan juga fisiknya dan lebih siap untuk masuk ke tahapan sekolah lanjutan. Anak juga bisa masuk SD dengan percaya diri tanpa harus minder karena pernah mengikuti pendidikan sebelumnya. (AD/OCH)

Sumber:  https://www.guesehat.com/pentingnya-pendidikan-anak-usia-dini

Pencegahan Tindak Pidana Korupsi

GARUT, (KAPOL).- Universitas Garut bersama Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) wilayah lV A Komisariat VII, menggelar seminar pencegahan tindak pidana korupsi.

Kegiatan yang digelar di Gedung Pendopo Garut itu, ditujukan dalam rangka menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.
Sejumlah pejabat yang serius dibidang tipikor, tampak hadir menjadi pembicara.

Diantaranya, Direktur Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mabes Polri, Brigjen Pol. Dr Ahmad Wiyagus S. Ik MSi, MM, Kepala BPK Perwakilan Jawa Barat, Arman Syifa, perwakilan Direskrimum Polda Jabar, Guru Besar Fsiologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Pimpinan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK-RI), Lili Pintauli, SH,.MH, serta tokoh masyarakat dan mahasiswa. Jalan acara dipandu oleh Moderator, AKBP. Taufik Rohman SH.,MH.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Garut , Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng menyampaikan, dalam memerangi korupsi perlu sinergitas dari semua kalangan, mulai dari pihak elit hingga masyarakat pada umumnya.

“Seminar ini menjadi bekal untuk menghindari celah-celah hukum yang berpotensi disalahgunakan. Isu tindak pidana korupsi (Tipikor) sudah menjadi tren dan berkembang sangat pesat,” tuturnya.


Tentu saja, diharapkan agar kita semua baik yang ada di lembaga swasta maupun pemerintahan juga masyarakat tidak sampai terjerumus dalam persoalan tersebut.

“Oleh karenanya, tindakan antisipasi harus dilakukan sejak dini,” ujar Syakur.
Sementara Guru Besar Universitas Indonesia, Lydia  Freyani Hawadi, menjelaskan, sebagai kejahatan luar biasa, tindak pidana korupsi selalu mengalami perkembangan modus.

Sehingga terkadang sebaik apapun regulasi dan strategi antikorupsi dibuat, pelaku tindak pidana korupsi selalu bisa menemukan modus baru dalam melancarkan tindakannya.

“Itu tidak boleh membuat kita pesimistis dan patah semangat untuk bekerja lebih keras lagi, lebih komprehensif, dan lebih terintegrasi dalam pencegahan tindak pidana korupsi,” katanya.

Tindak pidana korupsi akan tumbuh subur jika kita toleran atau permisif kepada pungli dan suap dengan segala bentuknya.

“Untuk itulah masyarakat dan pemangku kepentingan, perlu bekerja keras mencegah munculnya modus-modus baru korupsi tersebut,” ujar Lydia. (Dindin Herdiana)***

Sumber: https://kabarpriangan.co.id/pencegahan-tindak-pidana-korupsi/

Senyum Membuat Orang Lebih Terbuka

SENYUMAN tidak hanya menyenangkan bagi yang melakukan. Namun juga bagi orang lain yang diberi senyum. Sebagai contoh ketika berada di suatu tempat dan diberi senyuman yang tulus oleh seorang yang tidak di kenal, pasti ada rasa senang di bathin kita.
Demikian ungkap Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof.DR.Lydia Freyani Hawadi, kepada JPNN. Bahkan tidak hanya itu, orang yang selalu tersenyum menurutnya juga akan dapat lebih mudah bergaul dan diterima dalam sebuah komunitas. Hal ini sendiri sangat dirasakan Lydia.

“Saya mungkin bukan orang yang tampangnya selalu terlihat tersenyum. Tapi saya selalu mengkondisikan diri untuk tetap tersenyum. Struktur muka saya, kayaknya memang terlihat serius. Ini saya ketahui karena ada feedback dari orang lain. Akibatnya membuat orang lain kaku karena sepertinya ada jarak. Makanya dalam mengajar saya coba mengikuti irama para mahasiswa dan selalu tersenyum.”

Menurut Lydia sendiri, dengan senyuman yang tulus, seseorang akan lebih nyaman berhubungan dengan orang lain. Baik orangtua hingga anak kecil. Selain itu, senyuman juga membuat orang menjadi lebih terbuka dan tidak kaku saat berhubungan dengan kita.

Untuk itulah wanita yang memimpin program studi timur tengah dan Islam pasca sarjana UI ini, mengajak para wanita maupun siapa saja untuk tidak ragu-ragu selalu berusaha tersenyum. “Dulu waktu muda, saya membayangkan nanti usia bertambah pasti lebih serius dan formal. Tapi ternyata nggak. Jadi dalam segala tahapan umur, kita perlu ngakak dan tertawa. Ini untuk menghilangkan stress. Tertawa itu lebih dari senyum, tapi paling nggak dengan tersenyum membuat hati lapang.”

Untuk selalu tersenyum sebenarnya tidak begitu sulit. Hanya tidak dipungkiri, senyuman seseorang biasanya dipengaruhi beban pikiran dan perasaan. “Kalau kita kesal, otomatis darah pada naik, jadi daerah bibir juga jadi kaku.”

Namun ibu 6 anak ini percaya, senyuman dapat dipelajari. “Kalau itu membuat kita lebih cantik dan menyenangkan, pasti kita akan belajar. Salah satu caranya dengan melihat foto kita sendiri. Kalau nggak senyum, sepertinya kurang enak dilihat. Jadi kita bisa belajar mencoba tersenyum di cermin. Jadi disini kita terlihat lebih cantik.”

Cara lain, Lydia menyarankan lewat humor, bacaan, maupun ber-sms dengan teman. “Jadi kita bisa ketawa sendiri dan ini membantu otot-otot bisa merenggang. Makanya nggak heran ada orang yang sudah tua, itu masih suka banyak komik. Jadi kita harus cari cara untuk tidak tegang. Karena kalau tegang, menimbulkan banyak penyakit,”ungkap wanita yang menilai bahwa sebenarnya dalam hidup, semua manusia diberi pilihan.

Baik pilihan untuk hidup sehat, pilihan menghindar dari beban persoalan maupun pilihan mengatasi persoalan dengan cara bersyukur. “Makanya kita harus gunakan sisi-sisi kreatif. Karena kita diberi akal budi. Kalau kita lagi stress tapi karena itikad baik mencoba tersenyum, itu pasti senyumannya akan terlihat palsu. Nah yang dirugikan disini ya kita sendiri. Jadi berusalah selalu mencari cara untuk bisa tersenyum. Kan senyum merupakan sedekah. Seutas senyum membuat orang lain merasa senang.(gir/jpnn)
 
Sumber:  https://www.jpnn.com/news/senyum-membuat-orang-lebih-terbuka
 

SKB Purwokerto menjadi Pusat Kursus dan Pelatihan Masyarakat

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Purwokerto dalam waktu dekat akan menjadi salah satu Pusat Kursus dan Pelatihan Masyarakat (PKPM). Hal ini diawali dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal, Informal (PAUDNI) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Bupati Banyumas, Senin (11/6) di Ruang Salon Rumah Dinas Bupati Banyumas.
Dengan ditandatanganinya MoU dan diterimanya dana dari pemerintah pusat sebesar 1 milyar rupiah tahun 2012, Banyumas menjadi satu diantara 2 kabupaten di Indonesia yang akan melaksanakan program yang baru dirintis oleh Kemendikbud melalui Dirjen PAUDNI tersebut. Satu kabupaten lain yang mendapatkan bantuan yang sama adalah Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Kabid Pendidikan Non Formal (PNF) Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Siswoyo dalam laporannya menjelaskan, dipilihnya SKB Purwokerto sebagai pelaksana program PKPM dikarenakan letaknya yang sangat strategis karena berada di Kota Purwokerto, berdampingan dengan kampus UNSOED Purwokerto, sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat dari segala penjuru dan mudah dikenal oleh semua lapiran masyarakat.
Disamping itu, lanjutnya, peserta didik/siswa di SKB yang saat ini melaksanakan program kegiatan rutin PAUD, program kesetaraan, program kursus, dan program pendidikan masyarakat tersebut sebagian besar (80%) usai produktif sehingga dimungkinkan masih memiliki semangat yang tinggi utuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya karena mereka masih memiliki jangkauan yang panjang.
Siswoyo menambahkan, siswa/peserta didik di SKB Purwokerto dilihat dari status sosial ekonomi sebagian besar berlatar belakang golongan menengah ke bawah (untuk Paket B dan C) sehingga perlu mendapatkan ketrampilan/pembelajaran pendidikan kewirausahaan agar setelah lulus memiliki ketrampilan untuk bermata pencaharian.
Tujuan program PKPM, kata Siswoyo untuk membentuk jiwa kewirausahaan masyarakat dengan membentuk wirausahawan-wirausahawan baru, membekali masyarakat dengan ketrampilan yang layak untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan, mendorong dan membimbing masyarakat untuk merintis usaha sebagai pemberdayaan potensi lokal, menekan arus urbanisasi dengan meningkatkan ekonomi masyarakat, dan mengurangi masalah sosial masyarakat.
Tentang alokasi dana dari pemerintah pusat, Siswoyo menuturkan, dana bantuan sebesar 1 milyar akan dimanfaatkan dengan alokasi 60% untuk sarana fisik, dan 40% untuk sarana-prasarana lainnya. Pelaksanaan program PKPM akan dilakukan melalui 3 tahap. Tahap I (tahun 2012) meliputi pengadaan sarana prasarana serta pembangunan ruang kegiatan pembelajaran serta praktek usaha.
Ruang pembelajaran dan praktek usaha yang rencananya akan dibangun meliputi ruang pembelajaran tata kecantikan rambut dan kulit, ruang pembelajaran komputer multi media dan design grafis, ruang pembelajaran teknisi AC, ruang praktek usaha kecantikan rambut dan kulit, ruang praktek usaha grafis/digital advertising, ruang administrasi, dan ruang pendukung lainnya.
Pada tahap II (tahun 2013) program pembelajaran akan dimulai, diawali dengan penyusunan kurikulum, penjaringan nara sumber teknis yang berkompeten, penyiapan perangkat adminstrasi, seleksi calon peserta kursus sampai dimulainya pembelajaran. Kegiatan ini akan dilanjutkan pada tahap III (tahun 2014) hingga seluruh program yang telah direncanakan dapat terealisasi. Disamping itu juga akan dilakukan seleksi terhadap lulusan kursus guna menambah pengalaman dan jam kerja lulusan, untu membentuk tenaga yang kompeten dan berkualitas.
Bupati Banyumas, Drs Mardjoko MM dalam sambutannya mengungkapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah pusat melalui Kemendikbud terhadap Kabupaten Banyumas, dan berharap ke depan kepercayaan pemerintah ini terus meningkat dalam bentuk-bentuk yang lain. Bupati juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran pegawai di Kabuapten Banyumas yang telah bekerja sebaik-baiknya untuk semua capaian tersebut.
Sementara Dirjen PAUDNI Kemendikbud RI, Prof Dr Lydia Freyani Hawadi Psi menjelaskan, program PKPM digulirkan dalam rangka meningkatkan peran SKB yang lebih besar, melalui pembinaan dan pelatihan terhadap para pemuda, dengan tujuan utama membantu program pemerintah mengurangi pengangguran. Wujud keseriusan pemerintah pusat ini, katanya, dengan mengalokasikan anggaran sebesar 1,75 triliun melalui kegiatan di Dirjen PAUDNI Kemendikbud.
Lydia juga menyoroti tentang kondisi SKB-SKB di Indonesia. Secara umum, katanya, SKB-SKB belum diberdayakan secara optimal, dan rata-rata masih mengalami persoalan kekurangan SDM. Oleh karenanya Dirjen PAUDNI bertekat untuk terus meningkatkan kinerja SKB, termasuk meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM SKB. Lydia menyebutkan, sebagai contoh, saat ini di SKB Purwokerto jumlah Pamong Belajar hanya 10 orang, padahal idealnya 50 orang. Ini menurutnya salah satu yang harus terus diupayakan untuk ditingkatkan.
Dalam kesempatan tersebut Lydia juga menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan bagi para Pamong Pelajar di SKB, salah satunya dengan menaikkan anggaran tunjangan kesejahteraan Pamong Belajar. Tunjangan kesejahteraan yang saat ini diterima oleh para Pamong Belajar rata-rata 2 juta per tahun akan ditingkatkan menjadi paling tidak 3 juta per tahun.

Workshop Bunda PAUD Kecamatan dan Kelurahan se – Kota Manado

MANADO, (manadoterkini.com) – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan langkah terobosan pemerintah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Indonesia, terutama bagi anak-anak yang masih berusia sangat muda. Hal itu dikatakan Bunda PAUD Kota Manado Prof DR Julyeta PA Lumentut Runtuwene, saat menyampaikan sambutan dalam Workshop Bunda PAUD Kecamatan dan Kelurahan se-Kota Manado, di ruang Serbaguna kantor Walikota Manado, Rabu (10/9).


“PAUD sangat penting untuk mengasah serta mewujudkan generasi muda yang handal kedepannya,”ujar Runtuwene didampingi Wakil Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Manado Seyla Mangindaan Kudati, dan Kepala Dinas Pendidikan Manado Corry Tendean SH.


Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Manado terus berupaya membantu memberikan fasilitas penunjang PAUD. Sehingga, diharapkan Bunda PAUD di kecamatan dan kelurahan harus mampu menggerakan potensi yang ada di wilayahnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.


“Acara ini memang boleh dikatakan dadakan, karena PAUD pusat memberikan kepercayaan kepada kita untuk melaksanakan kegiatan ini. Pemkot Manado semakin baik memberikan perhatian bagi kegiatan PAUD,”tukas isteri tercinta Walikota Manado GS Vicky Lumentut itu.


Tampil sebagai narasumber tunggal Prof DR Lidya Freyani Hawadi, mantan Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD informal dan non formal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dengan materi anak berkebutuhan khusus.


Peserta yang hadir terdiri dari Bunda PAUD kecamatan dan kelurahan, para kader PAUD dan kader PKK, juga para kepala sekolah.(ald)

Sumber: https://www.manadoterkini.com/2014/09/754/workshop-bunda-paud-kecamatan-dan-kelurahan-se-kota-manado/

Seminar Internasional Keaksaraan Berbasis Bahasa Ibu


JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan menggelar seminar internasional meningkatkan keaksaraan berbasis bahasa ibu dan teknologi informasi dan komunikasi mulai tanggal 31 Oktober hingga 3 November mendatang. Seminar selama empat hari ini akan diikuti oleh negara-negara E-9 yaitu Indonesia, Bangladesh, Brazil, China, Mesir, Indida, Meksiko, Nigeria dan Pakistan serta negara ASEAN+ yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Malaysia, Laos, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam dan Timor Leste.

Dirjen PAUDNI, Lydia Freyani Hawadi, mengatakan bahwa tujuan seminar ini untuk meningkatkan keaksaraan orang dewasa dan digital untuk semua serta meningkatkan keaksaraan inklusif berbasis bahasa ibu. Selain itu, dari seminar ini juga dimaksudkan sebagai tempat untuk berbagai pengalaman antar negara tentang pembelajaran berbasis bahasa ibu.

"Jadi bisa bertukar pikiran juga dengan negara lain untuk merumuskan konsep yang baik untuk peningkatan keaksaraan," jelas Lydia, saat jumpa pers seminar internasional meningkatkan keaksaraan berbasis bahasa ibu dan teknologi informasi dan komunikasi di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (31/10/2012).

Narasumber yang nantinya akan berbicara dalam seminar ini berasal dari UNESCO yang akan mengupas status keaksaraan dunia saat ini dan membedah cara mengukur kompetensi pembelajaran orang dewasa serta pengembangan keaksaraan melalui bahasa ibu. Sementara itu, narasumber lain yang akan berbagi ilmu dan pengalaman berasal dari Kemendikbud, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), psikolog serta pakar pendidikan. Kegiatan seminar ini nantinya juga akan dirangkai dengan Festival Taman Bacaan Masyarakat yang diadakan di Gedung A Kemendikbud.

Sumber: https://edukasi.kompas.com/read/2012/10/31/18350822/seminar.internasional.keaksaraan.berbasis.bahasa.ibu.
Penulis : Riana Afifah

Pesta Pembukaan Permainan Tradisional Anak Tahun 2012

Pembukaan Pesta Permainan Anak Nusantara ke–7 yang berlangsung di Lapangan Merdeka, Sabtu (15/9/2012) berlangsung meriah. Ratusan anak-anak dari berbagai daerah tampil dengan adat busana mereka. Balikpapan mendapat kehormatan menggelar acara yang melibatkan 344 anak dari 11 provinsi ini.
Hadir dalam pembukaan acara ini Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Lydia Freyani Hawadi dan Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi. Para peserta mendapat sambutan meriah dari masyarakat Balikpapan yang memadati acara ini. Bahkan Wali Kota Rizal Effendi menyambut secara khusus pasangan perwakilan dari Papua saat kontingen daerah melakukan parade melewati panggung utama.


Selain diisi dengan parade kontingen, yang melewati panggung utama acara pembukaan yang diadakan pada sore hari ini juga dimeriahkan dengan atraksi kesenian tradisional serta pertunjukan drum band. Hari Minggu (16/9/2012) acara diperkirakan lebih meriah karena anak-anak dari berbagai provinsi tersebut akan beradu ketangkasan memainkan berbagai macam permainan tradisioanal khas Indonesia.


Selain berbagai macam perlombaan, event bertema Permainan Tradisional Anak Sebagai Sarana Pemahaman Keberagaman Budaya Bangsa ini juga diselingi sarasehan yang akan diselenggarakan tanggal 16 September di City Hotel dengan menghadirkan beberapa narasumber yang akan berbicara tentang penguatan karakter bangsa yang berbasis muatan lokal.

Risiko Pernikahan Usia Anak: Perspektif Psikologi


Lydia Freyani Hawadi

Disampaikan dalam Workshop Bahsul Masail Pernikahan Usia Anak yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren se Indonesia bekerja sama dengan Fitra Jepara, dan Plan Internasional Unit Rembang serta KPPA, di Semarang, 24 April 2016.



Makalah ini disampaikan sebagai bahan masukan untuk Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren se Indonesia (MP3I) dalam melakukan istinbath hukum syari terhadap praktik pernikahan usia anak. 


Pernikahan usia anak adalah pernikahan yang terjadi dibawah usia lazimnya, diluar usia yang sepatutnya dilakukan bagi pasangan suami istri yang sesuai dengan kaidah tahap dan tugas perkembangan individu.


Jika pernikahan usia anak terjadi korban utama adalah perempuan dan anak yang dilahirkan. Berbagai dampak akan dirasakan oleh perempuan yaitu mulai dari masalah fisiologis seperti gangguan fungsi reproduktif, anemia dan lain sebagainya sampai dengan masalah psikologis yaitu putusnya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan karir, serta diperolehnya kekerasan dalam rumah tangga. 


Kecenderungan pernikahan usia anak semakin meningkat dalam lima tahun terakhir ini baik diitingkat global maupun Indonesia sendiri. Menurut Data BKKBN (2012)  tercatat ada 7 Propinsi yang memiliki angka tinggi pernikahan usia anak yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.


Indonesia termasuk negara dengan persentase pernikahan usia anak didunia ranking ke 37 dan ke dua di ASEAN setelah Cambodia. Penyebab utama terjadinya adalah kemiskinan, pendidikan dan lingkungan keluarga.


Perspektif saya dalam melihat masalah yang diberikan tidak terlepas dari latar belakang saya sebagai psikolog dan sebagai konsultan BP4 Pusat yang sejak tahun 1988 menggeluti masalah perkawinan ini.


Bagi saya membangun perkawinan adalah hasil kerjasama dua pihak yang saling terus menerus menaruh respek, saling memberikan energi, cinta dan kasih sayang untuk mencapai kebahagiaan yang langgeng. Dan ini akan bisa berjalan jika kemitraan yang terjadi antara suami istri setara, dengan pemahaman yang baik akan diri masing-masing.


Secara psikologis pola berpikir dan kematangan berpikir baru diperoleh seseorang jika ia telah mencapai usia dewasa. Masa-masa dibawah itu tidak saja merupakan masa-masa pertumbuhan secara fisik yang mempersiapkan segala sesuatunya termasuk psikologis lebih baik.


Untuk mendapatkan gambaran tentang perkawinan dari perspektif psikologi, maka dibawah ini saya sampaikan makalah yang pernah saya sampaikan pada tahun 2010 dalam kegiatan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama untuk menyusun  kurikulum Kursus Pra Nikah.

1. Definisi Perkawinan
Banyak ragam definisi perkawinan, sebaiknya diambil definisi yang sesuai dengan UU Perkawinan yang berlaku. Namun bisa juga ditambahkan untuk menambah wawasan calon pasutri, definisi perkawinan lain yang ada, misalnya saya kutipkan dari tiga penulis yang berbeda :

- Perkawinan adalah suatu hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan
yang diakui secara sosial, menyediakan hubungan seksual dan pengasuhan anak yang sah, dan didalamnya terjadi pembagian hubungan kerja yang jelas bagi masing-masing pihak baik suami maupun istri. (Duvall dan Miller , 1985)

- Perkawinan adalah antara dua mitra yang memiliki obligasi berdasarkan minat
pribadi dan kegairahan. (Seccombe and Warner, 2004)

- Perkawinan adalah komitmen emosional dan hukum dari dua orang untuk membagi kedekatan emosional dan fisik, berbagi bermacam tugas dan sumber-sumber ekonomi. (Olson and deFrain, 2006)


2. Definisi Keluarga
Keluarga adalah satu unit orang-orang, yang selalu berhubungan, biasanya hidup bersama dalam bagian hidup mereka, bekerja bersama untuk memuaskan kebutuhan mereka dan saling berhubungan untuk memuaskan keinginannya. (Duvall dan Miller, 1985).

 
3. Motif untuk Menempuh Perkawinan
Pada awalnya, masalah perkawinan merupakan masalah bersama, keputusan antar keluarga namun kemudian terjadi pergeseran dimana perkawinan merupakan bagian dari HAM, keputusan individual atau perseorangan.

 

Menurut David Knox (1975) ada 3 (tiga) alasan positif mengapa seseorang melakukan pernikahan yaitu emotional security, companionship, desire to be a parent. Selanjutnya ia mengatakan bahwa alasan salah untuk menikah adalah physical attractiveness, economic security, pressure from parents, peers, partners or pregnancy, escape, rebellion or rescue.
 

Pakar lain, Turner dan Helms (1983) menyebutkan ada dua faktor motif seseorang menikah yaitu :
a. Faktor Pendorong
Hal-hal yang menjadi faktor pendorong untuk melakukan perkawinan adalah cinta, konformitas, legitimasi seks dan anak.

 

b. Faktor Penarik
Hal-hal yang menjadi faktor penarik untuk melakukan perkawinan adalah persahabatan, berbagi rasa dan komunikasi.

Dengan perkataan lain dapat juga dikatakan bahwa melalui perkawinan akan dapat dipenuhi beberapa kebutuhan manusia yaitu :
o Kebutuhan fisiologis dan material
o Kebutuhan psikologis
o Kebutuhan sosial
o Kebutuhan religius

 

4.Tahap-Tahap Perkawinan
Duvall dan Miller (1985) menyatakan adanya tujuh tahap perkawinan yang dikaitkannya dengan usia anak, sebagai berikut :
1. Pasangan baru
2. Keluarga memiliki anak
3. Keluarga dengan anak usia pra sekolah
4. Keluarga dengan anak usia sekolah
5. Keluarga dengan anak usia remaja
6. Keluarga dengan anak usia dewasa muda
7. Keluarga dewasa madya
8. Keluarga lanjut usia

 

Namun jika dikaitkan dengan peran sebagai orangtua, maka kehidupan perkawinan dapat dibagi dalam empat tahap yaitu :
1. Perkawinan baru, yang relatif sangat singkat dan segera berakhir dengan lahirnya anak pertama.
2. Perkawinan orangtua, berakhir ketika anak tertua memasuki usia remaja
3. Perkawinan tengah baya, dimulai ketika anak-anak meninggalkan rumah
4. Perkawinan lanjut usia, diawali pada awal masa pensiun dan berakhir saat salah satu pasangan meninggal dunia.
5. Periode Perkawinan

 

Strong dan De Vault (1989) mengemukakan periode perkawinan sebagai berikut:
a. Periode Tahun Awal,
Dimulai saat seseorang baru menikah dan belum memiliki anak. Tahap ini merupakan tahun yang sangat kritis, karena seseorang mengalami transisi dalam kehidupannya. Tahun pertama perkawinan ini akan menentukan perkembangan perkawinan selanjutnya, apakah akan menjadi lebih baik atau malah memburuk.

 

Masa ini berlangsung 10 tahun pertama perkawinan, yang meliputi fase perkenalan awal diikuti oleh fase menetap. Selama fase perkenalan, satu sama lain saling mengenal kebiasaan sehari-hari. Mereka menetapkan peraturan kehidupan sehari-hari,menyelesaikan sekolah, memulai karir atau merencanakan kehadiran anak pertama.
 

Pada fase menetap, pasangan masih mengejar karir, memutuskan memiliki anak dan mengatur peran masing-masing. Mereka saling menyesuaikan harapan sesuai dengan peran yang atas dasar jender, hukum, dan pengalaman pribadi yang dipelajarinya. Satu sama lain saling memberikan pendapatnya tentang pembagian peran yang akan dijalankan sebagai pasutri.
Pasutri yang memiliki latar belakang yang sama akan lebih mudah menyesuaikan diri satu sama lain, karena mempunyai harapan yang sama terhadap pasangannya. Sedangkan perbedaan latar belakang keluarga (seperti agama, suku bangsa, sosial dan keluarga yang retak) akan mengganggu proses penyesuaian perkawinan.

 

b. Periode Perkawinan Muda.
Diawali dengan mulai adanya anak dalam kehidupan pasutri. Istri berhenti bekerja dan mengasuh anak, mulai menyesuaikan diri dengan irama kehidupan rutin dalam perkawinan. Sedangkan bagi perempuan berkarir yang tetap bekerja, harus mampu membagi waktunya dengan baik dalam mengurus rumah tangga, anak serta pekerjaannya. Hal ini tidak mudah, karena menuntut penyesuaian psikologis yang cukup besar. Untuk itu ada yang menyebutkan pada periode ini kepuasan perkawinan pada perempuan mulai berkurang.

 

c. Periode Tahun Pertengahan
Periode ini antara tahun ke 11 sampai dengan ke 30 tahun perkawinan. Jika pasangan memiliki anak, maka fase ini diisi dengan fokus pada pengembangan anak dan pengasuhan keluarga, serta menetapkan tujuan-tujuan baru untuk masa depan. Jika pasangan tidak memiliki anak, maka fase ini didedikasikan untuk karir, aktivitas kemasyarakatan atau tugas-tugas sosial. Titik beratnya adalah kebahagiaan dan kesejahteraan pasangan hidupnya.

 

Pada periode ini, anak sudah berkembang menjadi remaja yang memiliki nilai-nilai dan ide pergaulan yang berbeda. Untuk itu seringkali terjadi konflik antara anak dengan orangtua. Namun pada periode ini pasutri sudah memiliki kondisi keuangan yang baik, karena istri sudah mulai bekerja kembali dan pengasuhan anak banyak berkurang.
 

Hal lain yang terjadi, pasutri sudah mulai memasuki tanda-tanda ketuaan, sudah mulai banyak orang seumurnya yang meninggal. Reaksi yang terjadi, biasanya ada yang menarik diri dari pergaulan namun ada juga yang malah aktif membina hubungan baik dengan orang lain seperti kenalan, saudara dan anak-anak. Periode ini juga merupakan masa persiapan pasutri kehadiran menantu, saudara-saudara yang baru, dan mempersiapkan diri menjadi kakek nenek, disamping harus menerima kehadiran orangtua sendiri yang sudah mulai tergantung pada mereka.
 

d. Periode Tahun Matang
Periode ini diawali dalam tahun ke 31 saat–saat menjadi tua bersama, merencanakan pensiun, menjadi kakek nenek dan hidup sendiri tanpa pasangan serta persiapan kematian. Disebut juga periode perkawinan tua.

 

6. Pola-Pola Perkawinan
Hal yang masih sangat mendominan di dalam persepsi banyak orang bahwa di dalam lembaga perkawinan, laki-laki adalah pencari nafkah dan istri adalah seseorang yang melahirkan dan mengasuh anak-anak, melayani kebutuhan suami sebaik-baiknya, dan mengatur rumah tangga. Namun seiring dengan perkembangan jaman dimana perempuan dapat mengenyam pendidikan dan bekerja di luar rumah, terjadi pula perubahan nilai dan pola perkawinan. Saat ini menjadi hal yang lumrah jika istri lebih berpenghasilan lebih dari si suami, istri lebih memiliki pendidikan yang tinggi dari suami atau istri memiliki posisi karir yang melampaui suaminya.

 

Berkaitan dengan hal diatas, Ihromi (1999) mengutip Scanzoni dan Scanzoni yang menyebutkan adanya empat pola perkawinan yaitu :
a. Owner Property
Dalam pola ini suami sebagai pencari nafkah, dan istri sebagai ibu rumah tangga yang harus tunduk kepada keputusan suami. Status sosial istri bergantung pada status sosial suami. Istri bukan dianggap sebagai pribadi tetapi sebagai barang milik si suami yang harus selalu siap melayani suami walaupun ia tidak menginginkannya.

 

b. Head Complement
Dalam pola ini walau suami tetap sebagai pencari nafkah, dan si istri mengurus rumah tangga, namun kehidupan perkawinan diatur secara bersama. Istri memiliki hak suara, sehingga hubungan yang terjadi adalah saling melengkapi, berbagi masalah, dan melakukan kegiatan bersama.

 

c. Senior Junior Partner
Suami dan istri sama-sama bekerja, sehingga si istri tidak sepenuhnya bergantung pada suami meskipun dalam pola ini penghasilan dan karir si suami tetap diatas istrinya.

 

d. Equal Partner
Suami dan istri dalam posisi duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak ada pihak yang lebih tinggi atau lebih rendah. Setiap individu memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mengembangkan diri dan melakukan tugas rumah tangga. Keputusan diambil secara bersama dan selalu mempertimbangkan kepuasan masing-masing pihak.

 
7. Tipe Perkawinan
Kepuasan perkawinan merujuk pada kebahagiaan perkawinan, yaitu seberapa jauh pasangan merasakan perkawinannnya berjalan dengan stabil dan memuaskan.

 

Hasil riset Cuber dan Haroff (dalam Bird dan Melville,1994) terhadap 211 pasangan yang telah menginjak usia perkawinan 10 tahun dan tidak bercerai, menyatakan adanya 5 tipe perkawinan yaitu :
a. Conflict Habituated, perkawinan tipe ini bercirikan mereka yang selalu bertengkar namun tidak bermaksud untuk pisah. Mereka hampir selalu dalam keadaan tegang, dan tidak cocok satu sama lain namun ingin tetap bersama.

b. Devitalized, perkawinan yang meredup. Kebersamaan perkawinan hanya rutinitas semata, karena tanggung jawab dan tugas.

c. Passive Congenials, perkawinan yang berlangsung aman dan tertib tanpa atau jarang diisi dengan pertengkaran. Pasangan berbagi minat bersama, terlibat dalam kegiatan sosial bersama, mengasuh anak, mengembangkan karir namun tidak mementingkan hubungan romantik.

d. Vitals, perkawinan yang diisi dengan kegiatan dan kebersamaan secara intens. Pasangan terikat dalam semua persoalan kehidupan.

e. Totals, sama halnya dengan Vitals namun dalam derajat yang lebih dimana sebanyak mungkin semua kegiatan dan persoalan kehidupan dinikmati bersama.

 
8. Faktor Prediktif Kepuasan Perkawinan
Kepuasaaan dalam perkawinan merupakan kesan subjektif individu terhadap komponen perkawinannya secara keseluruhan yang meliputi cinta, kebersamaan, anak, pengertian pasangan, dan standar hidup (Blood dan Wolfe, dalam Santrock, 1985). Lebih jauh Snyder (dalam Rathus dan Nevid, 1983) mengelaborasi sejumlah faktor yang berperan secara konsisten dalam kepuasan perkawinan yakni, komunikasi efektif, komunikasi problem solving, kesepahaman pengelolaan keuangan dan kepuasaan seksual.

 

Hal yang menarik tentang kepuasan perkawinan ini disampaikan oleh Zastrow dan Kirst-Ashaman (1987), yang mengaitkannya dengan faktor-faktor sebelum berlangsungnya perkawinan dan selama berlangsungnya perkawinan. Dibawah ini disampaikan dua faktor prediktif kebahagiaan perkawinan yang berkait erat dengan masa sebelum dan selama perkawinan, yaitu :
 

1. Faktor- faktor sebelum perkawinan :
 Perkawinan orang tua yang berbahagia
 Kebahagiaan di masa kanak-kanak
 Disiplin lembut dan tegas dari ortu
 Hubungan orang tua yang harmonis
 Bergaul baik dengan lawan jenis
 Telah mengenal lebih dari satu tahun sebelum perkawinan
 Ada restu dari orang tua
 Usia sepantar
 Puas dengan kasih sayang pasangan
 Cinta
 Kesamaan minat
 Pandangan yang optimistik tentang kehidupan
 Stabilitas emosional
 Sikap yang simpatik
 Kemiripan latar belakang budaya
 Kesesuaian keyakinan agama
 Kondisi pekerjaan dan karir memuaskan
 Hubungan cinta karena persahabatan bukan nafsu
 Kesadaran akan kebutuhan pasangan
 Keterampilan interspersonal dan sosial
 Identitas diri positif
 Memegang nilai-nilai umum
 Kemampuan mencari jalan keluar dari masalah
 Kemampuan pemahaman dan penerimaan diri baik

 

2. Faktor-faktor selama perkawinan :
 Kemampuan komunikasi yang baik
 Hubungan yang setara
 Hubungan yang baik dengan mertua dan ipar
 Minat dibidang yang sama
 Menginginkan hadirnya anak
 Cinta yang bertanggung jawab, saling hormat dan persahabatan
 Menikmati waktu luang bersama
 Hubungan yang penuh afeksi dan kebersamaan
 Kemampuan untuk menerima sekaligus memberi

 

Sedangkan faktor prediktif terhadap ketidakpuasan atau kebahagiaan perkawinan yang berkait pada masa sebelum dan selama perkawinan berlangsung adalah :
1. Faktor-faktor sebelum perkawinan
 Orangtua bercerai
 Kematian orangtua
 Ketidak cocokan ciri kepribadian utama pasangan
 Kenal kurang satu tahun
 Alasan perkawinan karena kesepian
 Alasan perkawinan karena agar bisa meninggalkan keluarga
 Perkawinan dibawah usia 20 tahun
 Adanya predisposisi untuk tidak bahagia
 Mengalami problem problem pribadi yang intensif

 

2. Faktor-faktor selama perkawinan
 Suami lebih dominan
 Istri lebih dominan
 Kecemburuan
 Merasa superior terhadap pasangan
 Merasa lebih pintar dari pasangan
 Tinggal bersama orangtua atau ipar

 

Berdasarkan faktor-faktor diatas David dan Mace (1983), menegaskan bahwa suatu perkawinan baru dianggap berhasil jika mampu mengalami tiga tahapan yaitu :
• Mutual Enjoyment, yang dialami pada saat pasanagan menjalani bulan madu bersama.
• Mutual Adjustment,yang dialami dalam waktu relatif lama dimana masing-masing saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik.
• Mutual Fulfillment, yang terjadi setelah pasangan melampaui dua tahap sebelumnya dengan berhasil. Dalam tahap ini suami dan istri telah menjadi satu kesatuan yang saling mengisi dan melengkapi. Oleh karenanya konflik-konflik besar akan jarang ditemukan.

 

Apakah kepuasan perkawinan berjalan seiring dengan bertambah lamanya perkawinan? Berbagai pendapat diberikan tentang hal ini. Clark dan Walin (1965) mengatakan orang-orang yang dari semula bahagia tetap bahagia, dan yang dari semula tidak bahagia tetap tidak bahagia. Sedangkan Guilford (1986) berpendapat bahwa kepuasan perkawinan meningkat secara linear berjalan dengan lamanya waktu perkawinan.
 

Hal yang bertentangan dengan apa yang dikatakan Blood dan Wolfe (1960) bahwa ada penurunan kepuasan perkawinan yang sifatnya gradual, sejalan dengan waktu perkawinan. Rollins dan Feldman (1970) menemukan bahwa pola kepuasan sepanjang kehidupan perkawinan sendiri berbentuk curvelinear, dengan kepuasan menurun pada kelahiran anak pertama, mencapai titik terendah ketika anak-anak mulai remaja dan meningkat kembali ketika anak meninggalkan rumah.
 

Bagaimana arti kepuasan perkawinan bagi laki-laki dan perempuan? Bagi suami, kepuasan perkawinan baru akan terjadi jika terpenuhinya perasaan untuk dihargai, kesetiaan, dan terpenuhinya rencana terhadap masa depan. Sedangkan istri, melihat kepuasan perkawinan dari sisi terpenuhinya rasa aman secara emosional, komunikasi dan terbinanya intimasi.. Demikian pula usia dan jender telah terbukti mempengaruhi persepsi kebahagiaan perkawinan. Laki-laki dan pasutri yang lebih muda memiliki persepsi kepuasaan perkawinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita dan pasutri yang lebih tua (Haring-Hildore, Stock, Okun dan Witter, 1985 dikutip dari Indrasari, 1998).
 

Hasil penelitian Bernard (1972) menunjukkan bahwa laki-laki yang menikah, jauh lebih baik secara fisik, social, dan psikologis dibandingkan perempuan yang menikah. Senada dengan ini, Mugford dan Laly (1981) serta Rubenstein (1982) dalam penelitiannya menemukan bahwa perempuan lebih banyak melaporkan perasaan frustrasi, ketidakpuasaan, adanya masalah perkawinan, dan keinginan untuk bercerai dari pada suami. Para istri lebih banyak mengalami kecemasan dan dalam keadaan nervous breakdown (perasaan tidak berdaya, cemas , kuatir dan fisik merasa sakit), menyalahkan diri sendiri atas ketidak sesuaian antara harapan dengan kenyataan dalam perkawinannya,. Perkawinan yang baik akan memberikan manfaat bagi tercapainya kesehatan fisik dan mental bagi perempuan, sedangkan laki-laki tetap akan merasaakan manfaat dari suatu perkawinan tanpa mempertimbangkan kualitas perkawinannya.
 

Mengutip berbagai pandangan pakar perkawinan, ada perbedaan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan perkawinan, Indriasari (1998). Bagi laki-laki, faktor kepuasan seksual dan aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan bersama pasangan, memiliki pasangan yang atraktif, mendapatkan dukungan keluarga, dikagumi oleh irti merupakan fakor-faktor penting dalam kepuasan perkawinan. Sementara pada perempuan, aspek kualitas dan kuantitas komunikasi serta afeksi dengan pasangan merupakan hal yang penting. Perempuan merasa puas jika suaminya menunjukkan afeksi, dapat bercakap-cakap dengan suami, suami menunjukkan kejujuran, keterbukaan, dan komitmen terhadap keluarga dan memperoleh support secara finansial.
 

Bila dilihat dari tahap perkembangan keluarga, kepuasan perkawinan pada laki-laki cenderung lebih konstan dibandingkan perempuan yang mengalami beragam kepuasan perkawinan sejalan dengan tahap perkembangan keluarga. Titik terendah kepuasan perkawinan perempuan terjadi pada saat mereka memiliki anak usia pra sekolah, dan tertinggi setelah anak meninggalkan rumah.
 
9.Keuntungan Perkawinan
Linda Waite mengutip beberapa kajian tentang efek positif perkawinan yaitu : memiliki gaya hidup yang sehat,lebih panjang umur, memiliki hubungan sesksual yang memuaskan, memiliki lebih kekayaan, dan secara umum anak-anak dapat tumbuh kembang lebih baik dengan adanya orangtua di rumah.

 

10.Formula Kesuksesan Perkawinan
- Masing-masing harus mandiri dan matang
- Harus mencintai pasangan dan diri mereka sendiri
- Menikmati kesendirian sama baiknya dengan kebersamaan
- Mapan dalam pekerjaan
- Mengenal baik pasangan masing-masing
- Mampu berekspresi secara asertif
- Keduanya adalah teman sekaligus lovers


Daftar Kepustakaan :

Olson, D.H.,DeFrain,J.(2006). Marriages & Families. Boston : McGrawHill.
Secombe,K., Warner, R.L. (2004). Marriages and Families . Canada :Wadsworth.
Williams,B.K.,Sawyer, S.C.,Wahlstrom,C.M (2006). Marriages, Families, and Intimate Relationships. A Practical Introduction. Boston : Pearson Education,Inc.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia