Sabtu, 21 Juli 2018

TK Tak Boleh Fokus Ajari Calistung

Pembelajaran calistung tidak boleh difokuskan pada penyelenggaran pendidikan di Taman Kanak-Kanak (TK). Anak didik TK boleh diajari calistung, tapi tanpa paksaan dan melalui cara yang menyenangkan.

Demikian disampaikan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Kemdikbud, Prof Dr.Lydia Freyani Hawadi atau lebih akrab dipanggil Reni Akbar Hawadi di sela-sela  Pertemuan Menteri-Menteri Pendidikan ASEAN ke-7 (The 7th ASEAN Ministers Meeting) yang diselenggarakan di Yogyakarta, 3-5 Juli 2012, pekan lalu.

Reni menyatakan saat ini penerapan ujian calistung bagi lulusan TK untuk menuju Sekolah Dasar (SD) masih ada, padahal berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) 17 Tahun 2010 hal itu tidak diperkenankan. Dikatakan pula oleh Reni, penerapan ujian calistung bisa menghambat peningkatan angka partisipasi PAUD.

Dalam prakteknya ada anak-anak TK yang dengan sendirinya tertarik pada urusan calistung. Pada kasus ini, Reni mengatakan mereka bisa dilayani dengan penerapan materi calistung dengan media bermain dan bernyanyi.
“Intinya jangan menggunakan operasi perhitungan. Calistung itu haram hukumnya diberikan guru dalam kurikulum PAUD,” katanya. (Rini/HK)

UJIAN CALISTUNG: Masuk SD Tidak Dibenarkan Tes Membaca Menghitung

JAKARTA: Kemendikbud siap menerima laporan pengaduan masyarakat jika ada praktek ujian membaca, menulis dan berhitung (calistung)  yang banyak diterapkan SD berstatus Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI). "Jika praktek ujian calistung ini diterapkan SD bertitel RSBI, maka akan dilakukan evaluasi serius," kata Lydia FreyAni Hawadi, Direktur Jendral (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud, kemarin.

Dia mengakui, dari laporan ada sejumlah SD yang menerapkan ujian calistung untuk menyeleksi calon siswa. Terutama untuk SD-SD yang menyandang predikat Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI).Wanita yang  akrab di panggil dengan Reni Akbar Hawadi ini mengatakan sekolah dasar (SD) dilarang menerapkan ujian calistung (baca tulis,hitung) untuk anak usia dini (PAUD) yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjjang SD.Pasalnya pembelajaran di TK dan sederajat belum menuntut anak-anak bisa membaca, menulis, dan menghitung. Kalaupun ada, hanya pengenalan saja sekedar anak paham, kata guru besar psikologi UI itu.

Para siswa TK diajak bersama-sama melafalkan angka 1 sampai 10, tanpa harus menulis dengan huruf. Program pembelajaran di TK itu lebih ditekankan pada aktivitas bermain sekaligus pembentukan karakter.Terkait ujian calistung, sebagian pihak menuding, ujian hanya untuk menjaga gengsi predikat RSBI tersebut. Banyak sekali kerugian jika pengelola SD masih menerapkan ujian calistung."Paling besar kelemahan ujian ini adalah siswa-siswa dari TK bisa menjadi tertekan ketika mengetahui harus lulus ujian calistung dulu sebelum masuk SD.  Sebab, di TK memang tidak diajarkan. Bisa-bisa anak ini menangis saat dihadapkan naskah soal ujian," jelasnya.

Potensi tekanan bisa semakin besar ketika orangtua memaksakan anaknya mau tidak mau masuk ke SD yang menerapkan ujian calistung.Orangtua seperti ini, bisa jadi akan mengajari anaknya membaca, menulis, dan menghitung secara kilat dan dengan paksaan sehingga tekanan psikis akan semakin kuat, bagi anak-anak yang dinyatakan tidak lulus ujian calistung."Intinya ujian calistung untuk masuk SD tidak dibenarkan," tegas Reni.(api)

KPAI Dukung Larangan Ujian Baca Tulis Hitung

News Room, Selasa ( 21/02 ) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyambut baik sikap tegas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melarang ujian membaca, menulis dan menghitung (calistung) bagi anak yang akan mengikuti ujian masuk Sekolah Dasar (SD). KPAI juga mendesak adanya pengawasan ekstra ketat untuk mengawal aturan tersebut. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Badriyah Fayumi di Jakarta kemarin (20/02) menuturkan, dukungan itu dilontarkan karena pihaknya menganggap ujian calistung tersebut tidak tepat untuk menjaring calon peserta didik kelas I. “Otak anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) belum waktunya untuk diberi muatan calistung, apalagi sampai diujikan,”tutur dia. 

KPAI menyatakan, setiap tahun menerima laporan wali calon siswa kelas I yang resah atas keberadaan ujian calistung, terutama dari Jakarta dan sekitarnya. Badriyah menganggap ujian calistung sebagai kebijakan yang berlebihan. 
Karena itu, larangan pelaksanaan ujian calistung dinilai sebagai kebijakan yang ramah terhadap anak. Kebijakan itu juga mendorong pembelajaran TK tidak cendrung mengasah otak kiri, tetapi lebih mengasah otak kanan. Penerapan ujian calistung, menurut analisa Badriyah, menimbulkan efek negatif berjenjang, layaknya efek domino. Dia juga menjelaskan, selain memunculkan tekanan bagi calon siswa dan orang tua, penerapan ujian calistung juga menimbulkan keresahan dikalangan guru TK. Selama ini, banyak pengelola TK yang akhirnya kepepet menekan pembelajaran baca, tulis dan berhitung pada anak didik masing-masing. Padahal mereka paham betul, bahwa belum waktunya anak didik diajari 3 kemampuan tersebut dijenjang TK yang seharusnya baru diajarkan ditingkat SD. “Pengelola TK itu terpaksa. Sebab, taruhannya reputasi TK-nya sendiri,”ucap Badriyah. Koq bisa ? Para pengelola TK khawatir banyak alumnus mereka yang tidak lulus ujian calistung di salah satu SD favorit. Lambat laun, muncul gunjingan di kalangan wali murid, bahwa TK tersebut belum mampu mempersiapkan anak didiknya untuk menghadapi ujian calistung. Ujung-ujungnya, TK yang patuh pada pakemnya, yaitu tidak mengajarkan baca, tulis, dan menghitung, akan sepi peminat. 

Sebelumnya, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud, Reni Akbar Hawadi menegaskan bahwa SD tidak boleh menerapkan ujian calistung, karena ramai dikeluhkan praktik ujian calistung itu banyak terjadi di SD-SD berlebel RSBI (Rintisan sekolah Bertaraf Internasional) dan sejumlah SD favorit. ( JP, Esha )

Kemdikbud Gelar Upacara Sambut Hari Ibu ke-85

Kemdikbud.go.id Jakarta --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melaksanakan upacara menyambut Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-85 tahun 2013, Rabu (18/12). Sama seperti tahun sebelumnya, PHI tahun ini seharusnya diselenggarakan tanggal 22 Desember. Namun karena tanggal 22 Desember tahun 2013 bertepatan dengan hari Minggu, maka puncak acara PHI ke-85 Tahun 2013 dilaksanakan hari ini. Upacara PHI di Kemdikbud berlangsung di Plaza Insan Berprestasi Kemdikbud. 

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal Informal Lydia Freyani Hawadi bertindak sebagai pembina upacara. Wanita yang kerap disapa Reni ini membacakan sambutan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Linda Amalia Sari Gumelar. PHI ke-85 Tahun 2013 mengangkat tema “Peran Perempuan dan Laki-Laki dalam Mewujudkan Demokrasi yang Demokratif dan Pembangunan Inklusif”. 

Peringatan Hari Ibu setiap tahun diselenggarakan untuk mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan Indonesia. Bersama-sama kaum laki-laki, kaum perempuan ikut berjuang merebut kemerdekaan dan berjuang meningkatkan kualitas hidup dan masyarakat. Tekad dan perjuangan kaum perempuan untuk mewujudkan kemerdekaan tersebut, dilandasi oleh cita-cita dan semangat persatuan kesatuan menuju kemerdekaan Indonesia yang aman, tenteram, damai, adil dan makmur. Semangat tersebut akhirnya dideklarasikan pertama kali dalam Kongres Perempuan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. 

Peristiwa ini sekaligus sebagai tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia dan diperingati setiap tahunnya, baik di dalam maupun luar negeri. Komitmen pemerintah juga dibuktikan dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959, yang menetapkan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu sekaligus Hari Nasional bukan hari libur. Arti penting lainnya dari PHI adalah upaya untuk mewariskan nilai-nilai luhur dan semangat perjuangan yang terkandung dalam sejarah perjuangan kaum perempuan kepada seluruh masyarakat Indonesia, terutama generasi penerus bangsa agar mempertebal tekad dan semangat untuk bersama-sama melanjutkan dan mengisi pembangunan, dengan dilandasi semangat persatuan dan kesatuan.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia