Selasa, 20 Februari 2018

Miliki Semangat yang Tinggi

Oleh Drs. Hadiyana, M.M.
Kepala BPPAUD dan DIKMAS Papua

Kebersamaan kami dengan Ibu Dirjen PAUDNI 2012-2014, Prof.Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog yang biasa disapa Ibu Reni   terbilang singkat. Namun demikian  banyak hal yang kami peroleh,  diantaranya:

Pertama, pada masa kepemimpinan beliau, PAUD benar-benar mampu menjadi primadona. Beliau berupaya keras meningkatkan akses PAUD dengan penerapan kebijakan Satu Desa Satu PAUD.

Kedua, sebagai UPT  kami diberikan pencerahan tentang pentingnya identitas. Hal ini ditunjukkan dengan kebijakan "Keseragaman" nama pada PAUD-PAUD binaan atau labsite UPT. Nama yang selalu beliau sarankan adalah AMANDA yang merupakan singkatan dari Anak Mandiri dan Berguna. Nama ini digunakan hingga sekarang. Seperti pada PAUD Amanda Papindo (di BP-PAUD dan Dikmas Papua) serta PAUD AMANDA INAPUKA 1 dan 2 (di SKB Kabupaten Buru, Buru).

Ketiga,  yang paling berkesan lainnya adalah semangat yang beliau tularkan. Meski sudah tidak lagi muda, beliau tetap semangat, ceria saat mengunjungi satuan PAUDNI bahkan hingga di pelosok. Contohnya   saat mengunjungi Papua, Papua Barat, dan Halmahera Selatan beliau tampak  bersemangat, dan tidak kenal.

***

Wanita Rendah Hati, Cerdas, dan Kreatif

Oleh Dr. H. Edy Junaedi Sastradiharja, M.Pd.
Dosen Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta dan Pelaksana Harian Yayasan Syifa Budi Perwakilan Cibinong; Pengelola sekolah Al Azhar Syifa Budi Cibinong Bogor

Prof. Dr. Hj. Reni Akbar- Hawadi, Psikolog  sejak tahun 1994 sampai dengan tahun 2004 adalah Konsultan Pengembang Keberbakatan pada Program Siswa Cerdas Istimewa di SD-SMA Al Azhar Yayasan Syifa Budi Jakarta. 

Kiprah beliau dalam mengembangkan keberbakatan sungguh luar biasa. Prof. Reni berkali-kali mengadakan seminar keberbakatan dengan mengundang pakar pakar baik dari dalam maupun luar negeri, mengunjungi negara negara yang sudah peduli tentang keberbakatan siswa.

Beliau sendiri seorang pakar keberbakatan dan sudah banyak menulis buku tentang kerberbakatan sebagai referensi  para guru. Kegigihan beliau dalam menghargai anak cerdas istimewa sungguh diapresiasi khususnya oleh para praktisi pendidikan termasuk saya, karena anak cerdas istimewa merupakan modal penting dalam pengembangan SDM yang berdaya saing global. 


Dalam pandangan saya, beliau adalah wanita rendah hati, cerdas, kreatif, dan memiliki kesungguhan dalan membangun kualitas SDM Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing melalui pengembangan keberbakatan anak.
***

Sosok yang Tak Mudah Menyerah

Oleh Ny. Ledia Soplanit
Teman SMA Reni Hawadi


Reni Hawadi merupakan sahabat saya kala masih duduk di SMA. Ia merupakan teman berbagi cerita, canda, mimpi dan cita-cita. 


Di mata saya Reni adalah sosok yang tidak mudah menyerah, memiliki leadership yang baik, dan teruji.

Dia melesat menggapai cita dan cintanya, hingga sukses membina rumah tangga dan mencetak anak-anak berprestasi.

Bravo buat Reni  yang banyak menjadi inspirasi bagi generasi dibawahnya.
***

Senin, 19 Februari 2018

Mahasiswa Senang Belajar Bersama Bu Reni

Oleh Prof. Nurhayati Djamas 

Dosen Senior Fakultas Psikologi dan Pendidikan Universitas Al Azhar Indonesia dan Mantan Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Hubungan Antar Umat Beragama Kementerian Agama Republik Indonesia periode 2006-2011


Saya mengenal baik bu Reni, karena kami pernah sama-sama menjadi pengurus dan konselor di BP4 pusat.  Saya juga mengetahui bu Reni sebagai salah seorang Guru Besar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saat YPI Al Azhar merintis pendirian Universitas Al Azhar, saya sebagai salah seorang tim pendiri yang ketika itu juga anggota Bappendik Yayasan Pesantren Islam Al Azhar.  Diantara fakultas yang dibuka ketika itu adalah Fakultas Agama Islam dengan jurusan tarbiyah konsentrasi Pendidikan Anak Usia Dini serta jurusan dakwah,  Bimbingan Penyuluhan Islam dengan  konsentrasi Healing dan Konseling.  


Diawal berdirinya UAI, saya dipercaya untuk menjabat sebagai Dekan Fakultas Agama Islam dengan dua  jurusan tersebut. Karena kedua jurusan di FAI dan konsentrasi masing-masing mempunyai kurikulum cabang ilmu psikologi, saya langsung teringat pada bu Prof Reni yang  Guru Besar Psikologi UI. Kami menginginkan universitas yang baru berdiri ini punya hubungan dengan  UI dan ITB. Maka karena itulah saya meminta bu Reni yang sudah saya kenal cukup lama itu untuk bisa "nyambi" mengajar di UAI. Sejak itulah bu Reni merupakan bagian tim akademik dari keluarga besar UAI dan Al Azhar sampai sekarang. Para mahasiswa senang mengikuti kelas bu Reni karena mahasiswa sekelas sering ditraktir oleh beliau.


Pada tahun 2008, kami di FAI merencanakan untuk membuka prodi baru yaitu Prodi Psikologi yang mula niatnya membuka prodi Psikologi Islam.  Namun karena tidak ada nomenklatur psikologi Islam, kami akhirnya fokus membuka prodi psikologi. Alhamdulillah berkat perjuangan kami ke Kemendikbud saat itu pada tahun 2009 keluar izin pendirian Prodi Psikologi dan karena sudah ada Prodi Psikologi, maka universitas mempunyai kebijakan untukk melebur FAI menjadi fakultas baru yaitu Fakultas Psikologi dan Pendidikan,  saya masih menjabat sebagai Dekan FPP selama kurang lebih 2 tahun dan tetap menjadikan bu Reni sebagai Tim Akademik di fakultas yang baru dilebur sebagai FPP tersebut. 


Itulah kesan yang dapat saya ungkapkan ketika saya masih sebagai tim manajemen fakultas sebelum pergantian rektor dan para dekan yang merupakan "ashhabul awwalun" atau generasi pertama di UAI.


***

Prof. Reni Berkomitmen Memajukan Pendidikan di Daerah Perbatasan

Oleh Dr H Muhammad Yunus, M.Si.
Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Universitas Borneo Tarakan

Saya sangat terkesan ketika pertama bertemu Prof. Reni Akbar-Hawadi yang saat itu beliau sebagai Dirjen PAUDNI pada tahun 2013 di ruang kerjanya. Saat itu  saya menjabat Kadis Dikbudpora Prov. Kaltara dan baru dua bulan menjalankan tugas di Provinsi ke-34. Saya bermaksud melakukan koordinasi dan konsultasi pembinaan PAUDNI. Beliau menerima kami dengan ramah dan penuh perhatian mendengarkan informasi tentang Kalimantan Utara dan beliau langsung memanggil para direkturnya untuk menyampaikan informasi tentang program kerjanya yang dapat disinergikan dalam percepatan pambangunan PAUD DIKMAS di Kaltara kala itu.

Pada saat itu juga menyampaikan bahwa beliau menjadwalkan akan berkunjung ke Kaltara bersama para direkturnya. Saya kagum dan bangga punya mitra kerja yang sangat responsif dan mempunyai komitmen memajukan pendidikan daerah perbatasan.

Sebagai wujud komitmen beliau maka dua minggu kemudian datang ke Kaltara bersama para direktur di lingkup Direktorat PAUD dan Dikmas. Beliau bersama kami berkunjung ke Tarakan, Nunukan, dan Sebatik untuk melihat secara langsung kondisi Paud Dikmas di setiap daerah. Beliau bertemu dan berdialog dengan guru dan pengelola PAUD dan PKBM, terkesan dialog antara ibu dengan anaknya.

Kemudian komunikasi yang beliau bangun dengan kami di provinsi bar ini tiada henti untuk selalu menelpon kami menanyakan perkembangan pendidikan di Kaltara. Prof. Reni tiada bosan membimbing kami dalam percepatan pembangunan PAUD DIKMAS di Kaltara.

Begitu juga setelah beliau tidak menjabat sebagai dirjen, masih juga tetap berkomitmen membantu kami dari berbagai konsep untuk pengembangan pendidikan. Bahkan sampai saat ini walau saya sudah tidak lagi menjabat Kadis (sebagai Dosen di FKIP UBT) beliau tetap membangun komunikasi dan mengajak berdiskusi tentang pembangunan pendidikan Kaltara.

Saat beliau mengetahui saya menjadi Dekan FKIP UBT beliau juga terus memberi masukan dan mengajak diskusi tentang pengembangan pendidikan tinggi dan pendidikan dasar menangah walau melalui WA atau telpon.  Sampai saat inipun beliau terus mengajak disksusi tentang kemajuan pendidikan dasmen di Kaltara maupun pendidikan tinggi.

Beliau banyak memotivasi saya untuk terus berpikir untuk kemajuan Kaltara baik di bidang pendidikan dasar menengah dan pendidikan tinggi. Apalagi ketika beliau mengetahui saya sudah menjadi wakil rektor beliau semakin semangat memotivasi saya untuk terus berfikir dan bekerja untuk kemajuan pendidikan di Kaltara.

Kesimpulan saya tentang sosok Prof. Reni adalah orang yang peduli, mempunyai komitmen untuk memajukan pendidikan di perbatasan. Sosoknya rendah hati, visioner,  konsisten dan tegas serta disiplin dalam bersikap.

***

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia