Rabu, 20 Juni 2018

Anak-anak Harus Dikenalkan Pada Gizi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anak harus diajarkan cinta pada gizi dan makanan bergizi perlu ditumbuhkan agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Kecintaan pada gizi bisa dilakukan melalui kegiatan belajar dan bermain baik di dalam ruang kelas maupun di luar ruang melalui praktek langsung di lapangan.

Demikian rangkuman kesimpulan diskusi Nutritalk Sarihusada yang menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, pakar gizi Dr Elvina Karyadi PhD dan Corporate Affairs Head Sarihusada Arif Mujahidin.

Arif Mujahidin mengatakan, sebagai perusahaan penghasil nutrisi untuk ibu dan anak, Sarihusada memiliki kegiataan sosial yang memfokuskan pada edukasi gizi melalui program Ayo Melek Gizi dengan menggandeng berbagai pihak termasuk kalangan NGO, institusi pendidikan, maupun pemerintah.


"Kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai zat gizi dan kebutuhan pemenuhan zat gizi dalam pola makan sehari-hari khususnya pada 360 minggu pertama dalam kehidupan, mulai dari pra kehamilan hingga anak berusia 6 tahun," ungkap Arif Mujahidin di Restoran Kembang Goela Jakarta, Selasa (21/5/2013).

Salah satu kegiatan yang dilakukan Sarihusada adalah pengembangan PAUD dengan materi ajar edukasi gizi langsung di lapangan. PAUD Rumah Srikandi binaan Sarihusada, yang berlokasi di Kemudo, Klaten, memiliki Kebun Nutrisi dimana anak-anak bisa belajar menanam dan merawat sayur sayuran yang nantinya akan dipanen dan dikonsumsi oleh mereka.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof Lydia Freyani Hawadi yang akrab disapa denga Reni, menyatakan esensi dari pendidikan anak prasekolah dalam hal ini PAUD adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar.
"Semua nilai positif termasuk pengetahuan mendasar mengenai gizi perlu pembiasaan dan harus dilakukan secara terus menerus," kata Prof Reni Hawadi.

Gizi merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian Ditjen PAUDNI. Untuk mendukung tumbuh kembang anak usia dini, segala kebutuhan esensi anak harus terpenuhi baik gizi, kesehatan, pendidikan, perawatan, pengasuhan, kesejahteraan dan perlindungan.

Program Ditjen PAUDNI adalah mendorong penyelenggaraan PAUD holistik integratif yang mencakup pendidikan dan layanan terhadap pemenuhan seluruh kebutuhan dasar anak termasuk kesehatan dan gizi mereka.

"Kami menghargai upaya swasta dalam mendukung edukasi anak usia dini. Apa yang dilakukan Sarihusada di PAUD Rumah Srikandi dengan pengembangan Kebun Nutrisi bisa menjadi contoh yang baik bagi PAUD lain," tutur Prof Reni Hawadi.

Arif Mujahidin menuturkan saat ini selain di Kemudo, pihaknya mendukung 13 PAUD percontohan di Yogyakarta baik dalam bidang pembinaan tenaga pengajar maupun pengembangan materi pengajaraan tambahan berbasis nutrisi sebagai bagian dari program Ayo Melek Gizi.

"Anak-anak PAUD diharapkan menjadi tahu asal bahan makanan yang tersaji di piringnya, tahu bagaimana menanamnya dan yang paling penting manfaatnya bagi tubuh," tandas Arif.


Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Anak-anak Harus Dikenalkan Pada Gizi, http://www.tribunnews.com/kesehatan/2013/05/21/anak-anak-harus-dikenalkan-pada-gizi.

Editor: Toni Bramantoro

Begini Kiat Punya Anak Pintar Ber-IQ Tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, Seorang anak tak cukup bila hanya mempunyai kecerdasan intelektual (IQ) tinggi. Sebab orang ber-IQ tinggi belum tentu menjadi pintar bila dia salah asuhan. Tapi pintar saja --tanpa ditopang IQ tinggi-- hasilnya tak akan maksimal, karena dibatasi oleh ukuran 'gelas potensinya'. Karena itu, yang terpenting adalah mencetak anak ber-IQ tinggi yang pintar. Bagaimana caranya?

Dalam soal pembentukan IQ, sejumlah ahli salah satunya Dr Bernard Devlin dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg, Amerika Serikat mengatakan faktor genetik atau bawaan berperan 48 persen dalam pembentukan IQ anak. Sebanyak 52 persen lainnya dibentuk oleh faktor lingkungan, antara lain lewat gizi, kasih sayang orangtua, serta stimulasi atau rangsangan.

Bahkan, menurut Dr Reni Akbar Hawadi Psi, kepala Bagian Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ada aliran psikologi yang saat ini berpendapat potensi genetis itu hanya 20 persen. Selebihnya adalah faktor lingkungan. ''Faktor lingkungan itu berperan sejak bayi masih berada di dalam kandungan ibunya,'' katanya.

Sejumlah penelitian, tutur Reni, membuktikan bahwa pada usia kehamilan 20 pekan atau lima bulan, seorang ibu sudah bisa berinteraksi dengan bayinya, sehingga sudah bisa memberikan stimulasi. Baik dengan berbicara langsung kepada bayinya, membacakan buku, hingga memperdengarkan musik klasik yang irama ketukannya sama dengan perkembangan sinaps atau simpul saraf otak.

''Setelah dilakukan penelitian terhadap ibu hamil yang memberikan stimulasi kepada bayinya pada usia 20 pekan dan yang tidak, ternyata bayi-bayi ibu yang diberi stimulasi berkembang jauh lebih baik,'' kata Reni.

Selasa, 12 Juni 2018

Lembaga Kursus Harus Siap Bersaing Di Era Pasar Bebas

BATAM. PAUDNI. Bangsa Indonesia harus siap bersaing di era pasar bebas, sebab kita akan menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan memasuki pasar bebas World Trade Organization (WTO) dengan persaingan terbuka.
Untuk menghadapi hal tersebut Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi menegaskan agar seluruh lembaga kursus dan pelatihan memiliki daya saing global. Hal itu disampaikan saat memberikan arahan pada Kegiatan Peningkatan Mutu Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) menuju Akreditasi di Batam (6/4).


“Memasuki era globalisasi setiap lembaga kursus dan pelatihan (LKP) harus dipersiapkan bersaing dengan negara lain,” tegas Lydia. Tahun 2015 kita memasuki era persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN dengan pesaing 9 negara ASEAN dan tahun 2020 nanti menjadi era pasar bebas WTO dengan 153 negara dan 18 jenis profesi yang bersaing ,” tambah Lydia.

Reni Akbar Hawadi – sapaan akrab Dirjen PAUDNI berharap sepuluh tahun ke depan kita bisa menyelesaikan standarisasi LKP sesuai dengan standar nasional pendidikan dengan 8 (delapan) standar, yaitu: (1)standar isi; (2) standar proses; (3) standar kompetensi lulusan; (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (5) standar sarana dan prasarana; (6) standar pengelolaan; (7) standar pembiayaan; dan (8) standar penilaian pendidikan. Dirjen berharap besar pada Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF) untuk membuat instrumen akreditasi dengan melakukan studi, agar standarnya lebih baik.

Sasaran LKP yang paling krusial yakni anak putus sekolah yang masih berusia produktif dan masih pengangguran. Mereka harus dilatih dengan kursus sebelum disalurkan bekerja atau diarahkan berwirausaha. Saat ini negara kita masih kekurangan wirausahawan, bila dibandingkan dengan negara tetangga Singapura yang memiliki 8% dan Malaysia 6%. Sedangkan kita kita masih dibawah 2 %.
Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Muslikh memaparkan Kegiatan Peningkatan Mutu LKP menuju Akreditasi bertujuan untuk menyosialisasikan akreditasi LKP yang dilakukan oleh BAN PNF, selain itu juga untuk melakukan simulasi pengisian instrumen akreditasi, sekaligus berupaya mendorong LKP untuk bersedia dan mengajukan diri untuk diakreditasi BAN-PNF.
(Rica Noverina/HK)

Tanamkan Nilai Kebangsaan di TK Internasional

SOLO, PAUDNI. Nilai – nilai Kebangsaan perlu ditanamkan pada anak usia dini. Hal ini penting untuk menciptakan generasi muda yang bermoral dan memiliki rasa cinta tanah air.

Demikian ucap Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog saat membuka Kegiatan Workshop Penyusunan Pedoman Kebijakan Bidang Pembelajaran dan Peserta Didik, Rabu (23/04).

Lydia mengaku prihatin dengan keadaan sekolah TK Internasional yang kurang memiliki nilai – nilai kebangasaan. Terbukti saat Dirjen berkunjung ke salah satu TK Internasional, pada sambutan awal oleh instruktur anak menggunakan bahasa Mandarin dan pada peserta didiknya tidak ada yang bisa menyanyikan lagu – lagu anak Nasional, “ini prihatin” tegas Dirjen.

Dalam waktu dekat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengatur sekolah yang bertaraf Internasional hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 yaitu mengamanatkan sekolah – sekolah internasional harus beralih dalam empat bentuk dan saat ini menjadi tiga bentuk yaitu Kurikulum berbasis Pendidikan Nasional, Keunggulan lokal, dan Kerja sama,“ ujar Dirjen PAUDNI.

Kegiatan Workshop Penyusunan Pedoman Kebijakan Bidang Pembelajaran dan Peserta Didik yang diselenggarakan di Solo, dihadiri oleh Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog (Dirjen PAUDNI), Dr. Erman Syamsuddin, SH., M.Pd (Direktur Pembinaan PAUD), Prof. Dr. Hamid (UPI), Pak Pontjo Sutowo (Narasumber dalam Kegiatan) dan Para Peserta undangan.
(Gunawan Prasetiyo/HK)

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia