Rabu, 18 April 2018

Saya Belajar Tiga Hal Besar dari Bu Reni

Oleh Siti Rahma 
Mahasiswa Profesi Pendidikan Fakultas Psikologi UI, Angkatan 2016

Selama hampir tiga bulan Bu Reni menjadi  pembimbing kasus kelima dan keenam saya. Melalui bimbingannya saya mendapatkan tiga hal besar yang bisa saya pelajari.

Pertama, belajar pemeriksaan kasus. Dari Bu Reni saya belajar pentingnya terlebih dahulu penguasaan teori sebelum bertemu klien. Jadi saya harus menguasai teori dengan baik untuk menangani klien yang akan saya tangani.

Saya tidak bisa langsung ujug-ujug melakukan observasi dan wawancara tanpa dasar teori yang jelas. Bu Reni minta agar diawal dibuat rancangan apa yang akan saya amati dan tanya pada klien. Dan ini harus berdasarkan teori.

Dengan cara ini cara kerja saya memang  jadi lebih berstruktur dan sistematik karena sudah ada panduan.  Saya  juga lebih pasti arah konten laporan yang sesuai dengan diagnosa.

Dari Ibu, saya juga belajar untuk membuat kalimat yang efisien khususnya dalam surat keluar. Saya belajar dari ibu untuk kemampuan abstraksi dari mengumpulkan hal-hal yang terpotong-potong menjadi sesuatu yang holistik.

Hal kedua yang saya pelajari adalah mengenai sikap kerja. Dari ibu Reni saya belajar untuk menjadi psikolog yang  tertib,  konsisten dan cermat dalam menuliskan sesuatu. Selain itu saya belajar dari Ibu untuk bersikap responsif, cepat dan tanggap dalam bekerja. 

Kecepatan dan ketelitian  saya yang  kurang memang masih menjadi PR buat saya.

Hal ketiga yang saya peroleh dari ibu, adalah saya diajak menjadi pribadi  yang asertif. Saya diajar oleh untuk bersikap terbuka dan berani untuk melaporkan kemajuan laporan saya sesuai tenggat waktu yang ditetapkan apapun hasilnya. Selama ini saya memang lebih memilih tidak menghubungi dosen karena saya merasa laporan saya belum sesuai dg harapan. Pesan Bu Reni untuk tidak mudah "baper" terus saya ingat. Dan dari sini juga saya belajar untuk terus belajar meningkatkan pola komunikasi saya. 

***

Mitos-mitos Seputar Keberbakatan

Sudah seringkali bahkan teramat sering saya mendengar keluhan orangtua yang pusing tujuh keliling memiliki anak berbakat. Mereka mengatakan lebih memilih mempunyai anak “normal” saja. Rupanya para orangtua anak berbakat ini terpengaruh mitos tentang anak berbakat yaitu “ anak yang tidak bahagia, anak yang sulit, anak yang tidak bisa diajak berkomunikasi, anak yang secara fisik lemah, anak yang secara sosial sulit bergaul, anak yang sangat banyak membaca buku, dan anak berkaca mata tebal “. 

Baik di rumah (orangtua) maupun di sekolah (guru) melihat anak berbakat sebagai anak yang bermasalah karena mereka bersandar pada standar anak normal. Model pendekatan yang bersifat uniform ini akan menuntut setiap anak bersikap sama. Atmosfir yang ada di lingkungan sekolah kurang melihat adanya perbedaan individual. 

Sehingga yang terjadi anak berbakat dilihat sebagai anak yang bermasalah. Ia tidak saja diisolasi dalam pergaulan oleh teman sebayanya tetapi juga oleh gurunya. Sehingga tidak heran, jika kita membaca literature anak berbakat, pada abad 18 orang tua lebih memilih menyembunyikan anak berbakatnya di dalam rumah. Saat itu orangtua malu memiliki anak berbakat. Sedangkan guru beranggapan bahwa anak berbakat tidak perlu diberi perhatian khusus, karena toh mereka dengan keberbakatan yang dimilikinya akan dapat dengan sendirinya muncul ke atas. Boleh dikatakan hanya sedikit sekali orangtua ataupun guru yang mendorong anak untuk lebih baik dari pada anak sebaya pada umumnya. 

Menurut saya dunia patut berterima kasih pada Lewis Terman, seorang psikolog Amerika, yang pada tahun 1907 melakukan studi pada 7 orang anak pintar dan 7 orang anak bodoh, (dikenal dengan Genius and Stupidity : A Study of the Intellectual Processs of Seven Bright and Seven Stupid Boys). 

Dalam penelitiannya ini ternyata anak-anak yang cerdas tersebut tidaklah sesuai dengan mitos yang berkembang, bahwa anak cerdas terganggu secara mental, berpenampilan aneh dan bersikap antisosial. Penelitian Terman untuk disertasi doktoralnya kemudian dilanjutkan pada tahun 1919 dalam jangkauan yang lebih luas. Dalam penelitian yang dikenal dengan The Stanford Studies of Genius, - karena Terman membentuk tim yang terdiri dari para koleganya dari Stanford University-, ia melakukan studi longitudinal. Subjek penelitiannya sebanyak 1500 anak-anak dari Taman Kanak-Kanak hingga SMA, dengan IQ 140 atau lebih (sementara rata-rata anak-anak pada umumnya hanya ber IQ 100!). 

Hasil studi Terman ini dipublikasikan dalam 5 volume laporan. Buku pertama berisi karakteristik dari subjek penelitiannya, buku kedua dikenal sebagai Galton Version, berisikan ciri-ciri kepribadian 300 orang genius dalam sejarah, buku ketiga berisi ringkasan status dari subjek penelitiannya, buku keempat tentang tindak lanjut terhadap subjek penelitiannya dan buku kelima tentang subjek penelitiannya pada usia paruh baya. 

Selama ratusan tahun para pakar mencoba untuk mengaitkan antara genius dengan “trouble mind”. Salah satunya adalah pakar sosiologi dan kriminologi dari Italia, yang bernama Cesare Lombroso. Ia mehubung-hubungkan mereka yang gila dan melakukan bunuh diri dengan genius, dalam bukunya yang terkenal Insanity of Genius (1895). Anak berbakat dikatakannya memiliki emosi yang tidak stabil dan fisik yang lemah. Terman menemukan sebaliknya anak gifted, lebih stabil emosinya dari populasi anak rata-rata pada umumnya. Ketidak stabilan emosi mereka – menurut Terman- lebih karena lingkungan, bukan karena keberbakatan yang dimilikinya. 

 Hasil penelitian Terman juga menunjukkan bahwa anak berbakat ini berkembang lebih baik secara fisik. Mereka lebih tinggi, lebih sehat, serta menonjol dalam kepemimpinan dan kemampuan penyesuaian diri dalam lingkungan sosialnya. 

 Studi longitudinal Terman ini memberikan inspirasi bagi peneliti-peneliti lainnya untuk melakukan studi terhadap perkembangan anak gifted. Berikut karakterisitik anak berbakat di dalam empat area perkembangan berdasarkan berbagai hasil studi: 
 - Perkembangan Fisik Perkembangan fisik anak berbakat lebih cepat. Hal ini berdasarkan nilai rata-rata statistik perkembangan mereka lebih tinggi. Misalnya kemampuan berjalan anak berbakat lebih cepat dari anak pada umumnya, kemampuan bicara anak berbakat lebih cepat tiga bulan dari rata-rata anak pada usia yang sama. Anak berbakat lebih cepat berkembang dalam berat badan, tinggi badan, secara umum lebih unggul pada semua ciri fisik seperti kapasitas paru-paru. 
 - Perkembangan Kepribadian Anak berbakat secara signifikan unggul dalam karakter seperti kreativitas, rasa percaya diri, dan rasa ingin tahu. Mereka cenderung tidak memiliki nervous disorder atau gugup. Penyesuaian emosional anak berbakat terlihat baik bila dibandingkan anak lain pada umumnya. Terman menemukan bahwa anak berbakat memiliki produktivitas yang tinggi, well-rounded, well-liked, dan seringkali dipilih sebagai pemimpin. 
- Inteligensi Dalam banyak studi ditemukan IQ minimum untuk anak berbakat adalah 130. Anak berbakat diasumsikan secara mental mencapai kemajuan 1/3 kali lebih cepat dari pada anak normal, sehingga pada usia empat tahun mereka telah mencapai usia mental (Mental Age) lima tahun, dan pada usia empat setengah tahun sudah mencapai kematangan mental anak usia enam tahun. Anak berbakat juga ditemukan melampaui kemampuan anak normal dalam penalaran verbal, problem solving, berpikir asosiasitif, memori, dan sejumlah keterampialn skolastik seperti membaca dan berhitung. Hasil studi Terman tentang stabilitas emosi anak berbakat yang disebabkan oleh lingkungan, didukung oleh berbagai studi yang mempertanyakan apakah orang-orang yang kreatif lebih cenderung menderita gangguan psikiatrik. Dari hasil studi pada sejumlah pembaca puisi, novelis, artis terkenal memang menunjukkan angka depresi dan gangguan mood mereka lebih tinggi, tetapi tidak serius mengalami gangguan mental. Peter Oswald, seorang psikiater meyakini bahwa ada kaitannya dengan gaya hidup yang rumit dari para seniman tersebut dengan rasa marah, frustrasi dan depresi. Mitos yang sering didengar bagi anak berbakat adalah “Early Ripe, Early Rot” yang menunjukkan bahwa anak berbakat mengalami burned out, kelelahan yang sangat pada usia dini. Seolah-olah keberbakatan bersifat kuantitatif, yang jika digunakan lama kelamaan akan habis. Studi Terman menunjukkan tidak terjadi burn-out anak berbakat, bahkan Terman menyarankan agar anak terus ditingkatkan kemampuannya sepanjang hayat. 

Mitos-mitos modern yang muncul dan merugikan perkembangan anak berbakat adalah : 
• Anak berbakat tidak tahu bahwa diri mereka berbeda, kecuali seseorang memberitahu mereka. 
• Anak berbakat dapat mengatasi diri mereka tanpa bantuan siapapun. 
• Anak berbakat mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. 
• Anak berbakat seharusnya lebih berdisiplin daripada anak lainnya. 
• Anak berbakat perlu terus menerus disibukkan dan diberi tantangan jika tidak mereka akan malas. 
• Anak berbakat seharusnya dihargai keberbakatannya diatas segala-galanya. 
• Anak berbakat tidak seharusnya mengikuti standar kepatuhan yang berlaku, mereka tidak perlu terikat pada peraturan yang biasa berlaku. 
• Anak berbakat seharusnya matang secara akademik, fisik, sosial dan emosional. 

Referensi : 
Miller, B.S dan Price, M., The Gifted Child, the Family and the Community. New York : Walker and Company. 1981. 
Smutny, J.F, Veenker, K, Veenker, S., Your Gifted Child. New York : Ballnatine Books, 1989. 
Walker, S.Y., The Survival Guide for Parents of Gifted Kids. Minneapolis : Free Spirit Publishing Inc, 1991.

Selasa, 17 April 2018

16 Provinsi APK PAUD Dibawah Rata-rata Nasional

YOGYAKARTA, SF - Provinsi dengan “rapor merah” angka partisipasi kasar (APK) pendidikan anak usia dini (PAUD) rendah harus berbenah. Anak-anak usia dini Indonesia harus mendapat pendidikan secara merata. Ini untuk kado 100 tahun Indonesia kelak, tahun 2045.
Demikian dinyatakan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog saat memberikan arahan pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pelaksanaan Kebijakan dan Program Ditjen PAUDNI di Yogyakarta, Senin (6/5).

Saat ini, separuh dari seluruh provinsi di Indonesia masih memiliki “rapor  merah” atau APK PAUD di bawah rata-rata nasional sebesar 34, 54 persen. Data Ditjen PAUDNI 2012 menyatakan ada 16 provinsi dengan APK PAUD di bawah 31 persen, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku, Kaltim, Kalbar, Maluku Utara, NTT, Aceh, Riau, Sulsel, Sumut, Sulut, Sumsel, Sulbar, Kalsel, dan Lampung.
“(Rapor) daerah-daerah ini harus segera berubah warna. Jika tidak, maka ini sama saja dengan menelantarkan dan menyia-nyiakan anak-anak kita sendiri,” ujar Dirjen PAUDNI yang juga dikenal dengan sebutan Reni Akbar-Hawadi ini.
Dirjen menyatakan kado 100 tahun Indonesia yang selama ini digadang-gadang tidak akan tercapai jika PAUD belum mendapatkan perhatian yang serius. Kado 100 tahun Indonesia adalah ketersediaan manusia Indonesia berkualitas yang melimpah pada tahun 2045. Di masa itu diperkirakan jumlah angkatan muda akan mendominasi.
“Tentunya kita tidak mau masa itu menjadi bencana, di mana para pemuda menjadi beban. Kita ingin sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan, yang kita persiapkan melalui PAUD saat ini,” kata Guru Besar Universitas Indonesia  kepada para peserta rakornas.
Oleh karena itu, Dirjen menginginkan pemerintah daerah ikut andil dalam penganggaran PAUD, baik pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 1 maupun APBD 2.  Ini karena Direktorat Jenderal (Ditjen) PAUDNi tidak bisa berdiri sendiri mencapai tujuan tersebut.
Untuk mendorong hal itu, Ditjen PAUDNI ikut berpartisipasi dalam revisi Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. 
Pada revisi PP tersebut, direncanakan akan mencantumkan PAUD serta pendidikan nonformal dan informal (PNFI). Dengan demikian, pemerintah daerah memiliki obligasi yang jelas dalam memberikan anggaran bagi perkembangan PAUD serta PNFI.
Rakornas
Ditjen PAUDNI menyelenggarakan rakornas yang berlangsung sejak 6-8 Mei 2013 di Yogyakarta. Acara ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program 2012 dan sosialisasi kebijakan program PAUDNI 2013. Para peserta berasal dari dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota, unit pelaksana teknis Ditjen (UPT) PAUDNI di delapan regional, dan sekretariat Ditjen PAUDNI.
Tidak hanya PAUD yang dibahas pada Rakornas ini, tapi juga PNFI, khususnya pendidikan masyarakat, kursus, dan pelatihan. Pada acara pembukaan, Dirjen menyampaikan harapan mengenai keberlanjutan penuntasan tuna aksara, pembakuan kursus tata rias secara tuntas, pengayaan satu desa minimal satu PAUD, dan penyusunan norma standar prosedur kriteria) bidang PAUDNI.
Selain itu, perihal aplikasi praktis model-model yang dikembangkan oleh UPT Ditjen PAUDNI, juga disinggung oleh Dirjen. “Jangan sampai, UPT hanya rajin membuat model pembelajaran tanpa diaplikasikan luas oleh masyarakat. Misalnya pada PAUD, yang dipakai hanya beyond center and circle time (BCCT) dari Amerika, padahal banyak model pembelajaran PAUD yang sudah dikembangkan oleh UPT,” kata psikolog keberbakatan itu lugas. (Dina Julita/HK/Dirjen PAUDNI)

Dirjen PAUDNI Kukuhkan Niazah AH Bunda PAUD Aceh

BANDA ACEH - Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (Paudni) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Prof Dr Lydia Freyani Hawadi PSi, Rabu (7/11), mengukuhkan Ny Niazah AH sebagai Bunda PAUD Aceh.
 
Dirjen mengharapkan dengan penobatan Bunda PAUD tersebut, perluasan layanan pendidikan anak usia dini ke depan bisa menjadi salah satu program prioritas pembangunan pendidikan di Tanah Rencong.

Di Aceh, katanya, dari 653.600 anak usia 0-6 tahun, yang terlayani baru mencapai 164.052 anak atau 25,10 persen dengan jumlah lembaga PAUD sebanyak 2.541. Sedangkan jumlah desa yang belum terlayani PAUD sebanyak 4.703 gampong dari 6.454 gampong yang tersebar di 23 kabupaten/kota.
Untuk mendukung perluasan PAUD di Aceh, Ditjen PAUDNI lewat APBN-P tahun 2012 akan mengalokasikan dana masing-masing Rp 300 juta untuk 7 kabupaten, Aceh Selatan, Nagan Raya, Aceh Timur, Bener Meriah, Abdya, Gayo Lues, dan Simeulue.

Sedangkan pada tahun 2013 mendatang, Aceh akan mendapat alokasi untuk PAUD sebanyak Rp 16,5 miliar yang akan digunakan untuk bantuan rintisan PAUD baru masing-masing Rp 50 juta per lembaga dan alat permainan edukatif (APE) masing-masing Rp 8 juta  per lembaga.

Sementara itu, Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengatakan Pemerintah Aceh siap memberikan dukungan bagi upaya percepatan perluasan PAUD di Aceh. “Kita siap untuk mendukung program perbaikan kualitas generasi Aceh ke depan,” katanya.

Hal senada juga dikemukakan Bunda PAUD Aceh, Niazah AH. Istri Gubernur Aceh itu mengaku pihaknya siap untuk mensuport keberhasilan PAUD di Aceh. “Kita dengan dukungan Pemerintah Aceh akan berusaha melakukan sosialisasi-sosialisasi ke berbagai daerah,” katanya. Pada kesempatan yang sama, Niazah juga melantik 23 Bunda PAUD kabupaten/kota se-Aceh di Anjong Monmata.(sir)

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Dirjen PAUDNI Kukuhkan Niazah AH Bunda PAUD Aceh, http://aceh.tribunnews.com/2012/11/08/dirjen-paudni-kukuhkan-niazah-ah-bunda-paud-aceh.

Editor: bakri

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Dirjen PAUDNI Kukuhkan Niazah AH Bunda PAUD Aceh, http://aceh.tribunnews.com/2012/11/08/dirjen-paudni-kukuhkan-niazah-ah-bunda-paud-aceh.

Editor: bakri

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia