Sabtu, 22 September 2018

Naturalisasi Sekolah Internasional


PROKAL.CO, v>
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menaturalisasi seluruh sekolah dan lembaga kursus yang berlabel internasional atau dikuasai pemodal asing. Badan pendidikan itu akan diubah menjadi lembaga pendidikan Indonesia (LPI). Jika ingin mempertahankan status "internasional", mereka wajib berstatus satuan pendidikan kerja sama.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal, dan Informal (PAUDNI), Kemendikbud, Lydia Freyani Hawadi, menuturkan bahwa aturan baru itu tertuang dalam Permendikbud 31/2014.

"Berlaku mulai jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga pendidikan tinggi. Selain itu untuk lembaga kursus," katanya, kemarin.

Sesuai kewenangan, pejabat yang akrab disapa Reni itu mencontohkan, saat ini 44 sekolah internasional menyelenggarakan PAUD. Dia menuturkan, seluruh sekolah internasional sudah menanggalkan status keinternasionalan.

Permendikbud 31/2014 menyatakan, ke-44 sekolah internasional berubah menjadi LPI.

Guru besar Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, itu menambahkan, LPI harus memiliki akreditasi A. Sayangnya, sampai saat ini sangat sedikit sekolah internasional yang menyelenggarakan PAUD memiliki akreditasi.

"Tidak sampai lima sekolah," ucapnya. Reni berharap sekolah LPI segera mengurus akreditasi ke Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non-Formal (BAN-PNF), dan berusaha mendapatkan akreditasi A.

Persyaratan berikutnya adalah sekolah LPI yang sudah terakreditasi A harus menjalin kerja sama dengan sekolah asing yang diakui di negara asal. "Kalau jenjang TK, ya harus bekerja sama dengan sekolah TK di luar negeri. Begitu juga jenjang di atasnya," papar Reni.

Aturan lain, rekrutmen pendidik di sekolah internasional yang diubah menjadi SPK sangat ketat. Pengajar wajib bergelar akademik sarjana yang berkaitan dengan jenjang pendidikan yang akan diajar. Tenaga pendidik asing juga harus menguasai bahasa Indonesia dan mengantongi izin dari Kemenakertrans.

"Tidak boleh asal comot. Banyak sekolah dan lembaga kursus internasional yang hanya menggaet turis untuk menjadi guru. Ini tidak boleh," papar dia. Reni menegaskan, selama ini banyak tutor di lembaga kursus asing yang ternyata hanya berstatus pelancong.

Aturan berikutnya sumber pendanaan. Dalam Permendikbud 31/2014, modal asing hanya dibatasi maksimal 49 persen. Saat ini Reni mengakui banyak sekolah atau lembaga kurus 100 persen modal atau saham dimiliki asing. Upaya ini dilakukan supaya invasi lembaga pendidikan asing tidak merugikan masyarakat.

Aturan pengetatan keberadaan sekolah internasional ini ditenggat hingga 1 Desember 2014. Bagi lembaga yang sudah mendapat izin, mereka beroperasi dengan status SPK. Sedangkan yang gagal mendapatkan izin SPK, berstatus sekolah lokal sama dengan sekolah pribumi di Indonesia atau ditutup.

Reni menyampaikan, perkembangan penanganan kasus kejahatan seksual dan pelanggaran administrasi di TK Jakarta International School (JIS). "Senin pekan depan sudah mulai sidang. Kemendikbud menjadi tergugat II selain JIS. Kami sudah siap," tegasnya.

Keluarga korban kejahatan di TK JIS menggugat Kemendikbud karena dinilai lalai membina TK JIS. Reni menuturkan, ketika membuka kasus TK JIS ini ke publik, siap dengan konsekuensi dicap mengabaikan pembinaan lembaga internasional di Indonesia. (wan/jpnn/fel/k8)

Kamis, 20 September 2018

Taman Bermain Lilbee, PAUD Bernuansa Alam

Sekolah alam bukan hal baru sebenarnya, meski di Indonesia baru mulai mendapat tempat dalam kurun satu dasawarsa ini. Dalam konsep ini, sekolah menjadikan fungsi alam sebagai ruang belajar, alam sebagai media dan bahan belajar, serta alam sebagai objek pembelajaran. Sekolah alam bisa diterapkan baik dari tingkat PAUD, TK, Sekolah Dasar bahkan sekolah menengah. Untuk PAUD bernuansa alam ini salah satunya diterapkan Taman Bermain dan Kampung Dongeng Lilbee yang berdiri di lahan 1000 meter persegi tepatnya di Jl. Benda No. 50 Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi.

"Alam memberikan banyak kelebihan dan manfaat. Taman Bermain Lilbee ingin memberikan proses bermain sambil belajar  yang terintegrasi dengan alam. Dengan lingkungan alam yang asri, nyaman, dan sejuk serta jauh dari riuh keramaian diharapkan akan  tercipta suatu proses pembelajaran yang  baik," ungkap Hj. Reny Nurlela, pendiri Taman Bermain Lilbee, tentang alasan mendirikan sekolah alam untuk penyelenggaraan PAUD.

Dengan menyatu bersama alam, belajar dapat dilakukan kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja. Sebagaimana visi Taman Bermain Lilbee, Hj. Reny Nurlela berharap dapat membentuk generasi bangsa yang berkarakter dan berbudi pekerti, serta mengembangkan kecerdasan majemuk anak (multiple Intelegences) dan memperoleh keterampilan hidup (Like Skills) secara Holistic, terpadu dan berkesinambungan, melalui proses pendidikan bernuansa Alami (Natural) dan ramah otak.

Kurikulum alam yang diberikan di TB Lilbee antara lain gardening, farming, outing, eksplorasi alam dan sains sederhana.

Meski baru didirikan tahun 2009, TB Lilbee telah menorehkan berbagai prestasi baik oleh siswa maupun guru hingga tingkat propinsi Jawa Barat dan Jabodetabek.

Disamping kurikulum alam, TB Lilbee juga bekerjasama dengan Kampung Dongeng Kak Awam Prakoso yang secara rutin mengisi setiap bulan di minggu ke-4. Peserta di Kampung Dongeng ini tak hanya siswa-siswi PAUD TB Lilbee, tapi juga dari berbagai PAUD dan TK lainnya.

"Mendidik dan mendongeng itu mengasyikan, banyak sekali manfaatnya. Salah satunya kita bisa menanamkan pelajaran budi pekerti,” ujar Kak Awam yang juga pendongeng senior itu.

Dalam sebuah kesempatan, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi juga pernah mengungkapkan karena begitu pentingnya perkembangan anak usia dini ini maka pemerintah Indonesia menjadikan PAUD salah satu topik utama dalam pembangunan.

Apakah anda orangtua dengan anak usia dini? Pilih model pendidikan yang tepat. Salah satunya memasukkan ke PAUD bernuansa alam seperti Taman Bermain Lilbee. (Yunita)

Tempat Kursus dan Pelatihan Berprestasi di Jogja

Batam, 5 Oktober 2013 Lembaga Pendidikan Alfabank Yogyakarta menerima penghargaan Juara III Apresiasi Lembaga Kursus dan Pelatihan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 untuk kategori Nonvokasi  Nasional/Internasional bidang Komputer. Setelah melalui beberapa seleksi diantaranya seleksi tingkat provinsi dimana Alfabank mendapat juara I untuk kategori NonVokasi Standart Nasional/Internasional. 

Penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Repuplik Indonesia ini diserahkan oleh Ditjen PAUDNI Prof.Dr.Lydia Freyani Hawadi. Psikolog dalam acara pembukaan Lomba Lembaga Kursus dan Pelatihan tingkat Nasional di Mega Mall Batam Kepulauan Riau. Semoga dengan penghargaan ini sebagai wujud prestasi Alfabank Yogyakarta untuk bisa menjaga mutu dan terus menerus meningkatkan kualitas baik pelayanan maupun output SDM yang berkualitas. Sehingga apa yang menjadi Visi lembaga. 

“Menjadikan Lembaga sebagai pencetak SDM yang siap kerja terampil dan profesional “ bisa terwujud. Prestasi ini tentunya tidak lepas dari peran berbagai pihak baik jajaran manajemen, team instruktur atau pendidik serta kepercayaan masyarakat khususnya di wilayah DIY dan sekitarnya atas pilihan mereka untuk memilih Alfabank sebagai tempat kursus menanmbah keterampilan guna menembus dunia kerja. Untuk itu Alfabank mengucapkan terimakasih atas peran dan kepercayaan selama ini. Semoga kedepan Alfabank Yogyakarta semakin solid dan sukses dalam bidang pendidikan Non Formal.  ( admin )

'Kendala Geografis Bikin Penuntasan PAUD Susah di Wilayah Terpencil'

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi mengatakan, masih terdapat provinsi-provinsi yang tingkat ketuntasannya  program Satu Desa Satu PAUD masih di bawah 50 persen yaitu Maluku Utara, Kalimantan Barat, Maluku, Aceh, Papua, dan Papua Barat.

“Kendala geografis menjadi salah satu kendala penuntasan program PAUD di provinsi-provinsi tersebut. Jaraknya juga jauh,” ujar Lydia di Jakarta, Senin, (23/3).

Untuk memacu program Satu Desa Satu PAUD di provinsi yang tingkat ketuntasannya masih minim, kata Lydia, pihaknya  memiliki sejumlah strategi. Antara lain, merangkul sejumlah organisasi mitra yang memiliki daya jangkau hingga ke daerah terpencil.

“Pada tahun 2013, kami bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat, dan TNI Angkatan laut untuk membantu membangun PAUD di daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal. Ini gebrakan bagus,”ujar Lydia.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia