Jumat, 05 Juli 2019

Reni Hawadi: Di Tingkat Provinsi Perlu Tetap Ada Sekolah Unggulan


Pro kontra terkait sistem zonasi  dalam PPDB 2019 terus bergulir. Sejumlah orang tua siswa di beberapa kota seperti Cimahi, Solo, Surabaya, Bandung melakukan aksi demontrasi. Mereka menyampaikan aspirasi agar jalur zonasi dihapuskan karena membingungkan dan cenderung menyulitkan masyarakat.
Sebelumnya sejumlah tokoh memberikan pandangannya. Sebagian setuju dengan sistem zonasi dan sebagian lain menolaknya mentah-mentah. 

Psikolog yang juga Guru Besar Universitas Indonesia,  Reni Akbar- Hawadi menyatakan setuju sistem zonasi dengan alasan berkeadilan.  Maksudnya sistem zonasi tidak memandang siswa dengan  perolehan nilai UNBK tinggi otomatis bisa masuk ke sekolah yang bagus dalam zona rumahnya.  

“Selama ini  kita tahu bahwa hanya siswa tertentu yang bisa masuk sekolah yang dikenal sekolah favorit. Dengan sistem zonasi hal itu tidak bisa lagi terjadi. Hal ini yang saya maksud dengan berkeadilan,” ujarnya. 

Ia menambahkan dampak positif zonasi akan melecut setiap Kepala Sekolah untuk memperhatikan mutu pengajarannya. Guru juga ekstra kerja keras karena siswa yang masuk sangat heterogen. 

“Bagi siswa yang tergolong berbakat Intelektual dengan tingkat kecerdasan tinggi IQ 130 ke atas tetap membutuhkan penanganan yang berbeda. Layanan yang sama untuk setiap siswa justru memunculkan tidak berkeadilan. Menurut saya, di tingkat provinsi masih diperlukan sekolah unggulan khusus bagi para siswa berbakat intelektual,” ujar mantan Dirjen PAUDNI itu.

Menurutnya anak-anak berbakat intelektual tidak bisa dicampur dengan siswa lain. “Sistem grouping bagi mereka yang bagus adalah homogenous,” tegasnya. Tujuannya untuk mempertahankan tingkat kinerja akademik mereka.

Ia tak menampik bahwa ada satu literatur yang menyebutkan kalau  dicampur dengan  siswa  biasa  maka IQ mereka akan turun sekira 15 point. 

DKA/CMH

Rabu, 03 Juli 2019

GURU PIANO DAN MURID PIANO


Menghadiri Halal bi Halal Fakultas bagi saya penuh kegembiraan krn bs jumpa dengan para guru/senior yang telah pensiun. Nah salah satu "guru" Psikologi UI yg signifikan dlm hidup saya adalah Prof.Dr. Suprapti Soemarmo Markam.

Kebetulan sy pas duduk satu meja. Jd bs ngobrol tanya kabar beliau sekeluarga. Termasuk dlm obrolan Prof Prapti bilang "piano sy yg dr sy usia 11 tahun masih ada lho..coba sdh berapa tahun tuh". Jd tertarik nulis ttg pengalaman sy berpiano..
Foto ini bukan spesial foto berduaan namun hsl crop dari foto berame-rame, yg kebetulan sy berdiri berada di ujung barisan dan persis d samping Prof Prapti.

Sy mengenal beliau pertama kali saat sy di kelas 3 SMP, tahun 1972. Beliau adalah ibu dari Santi, teman adik saya Erwina yg sama-sama bersekolah di SD Lab School-Rawamangun, Jakarta. Entah bagaimana pasalnya, tahu-tahu sy privat les piano d rumah - yg kala itu sy panggil- Tante Prapti. Buku yg sy gunakan msh Beyer Op 101.
Anak tante Prapti lumayan banyak, lima orang. Pokoknya kl mengajar sy, tante Prapti sering ninggalin sy sendiri dan berlalu masuk kedalam ruang sebelah yg sll tertutup. Saat kembali Tante Prapti sdh menggendong anaknya dan kmd nunjuk buku piano sambil bilang "ulangi dari sini ya " kamu jgn lupa perhatikan tanda staccato...artinya kamu hrs main pendek pendek disentak..nah ini ada tulisan allegro..kamu hrs cepat..jgn lambat gitu.. "
Saat itu sy tidak tahu sama sekali siapa Tante Prapti hanya tahu sbg Ibunya Santi. Jd saat berhenti les piano, sy tdk terpikir akan jumpa lg satu hari kemudian.

Tahun 1976 sy jd mahasiswa baru Fakultas Psikologi UI. Salah satu tugas adlh minta tanda tangan dosen. Sy begitu excited saat dr jauh melihat sosok guru piano saya. Jadi sy lgs berlari-lari ke arah beliau yg sdg berdiri d ujung Bagian Psikologi Klinis.. dgn polos sy menyapa " Halo Tante Prapti..selamat siang..sy Reni kakaknya Erwina temannya Santi... murid piano Tante bbp tahun lalu.." Pokoknya lengkap sy sebut...SKSD (sok kenal sok dekat)

Dengan datar dijawab.."oh yaa..jd skr kamu kuliah disini ya..kl gt panggil sy Ibu.. jangan panggil saya Tante Prapti lagi y" .Hening sejenak"bbbaaiik Bu ..ehmm mhn maaf y bu ". Trus sy salting..permisi bu. Sampe lupa minta tanda tangan.

Peristiwa itu terekam baik dlm diri sy dan kl sy ingatkan kembali ke Prof Prapti (sekarang jd sejawat saya sesama guru besar) beliau senyum-senyum kecil seraya bilang..."masa sih..masa sih..gitu ya Ren..sy koq ga ingat ya".
Semoga Prof Prapti selalu diberi kesehatan yang baik dan kebahagiaan bersama suami, anak, mantu dan semua cucu.

TALI TEMALI PERTEMANAN


Masih d acara HBH Idul Fitri 1440 H di Fakultas Psikologi UI. Saat dipintu masuk Cafe Kaca merasa sangat gembira bs berfoto berempat, dengan Dr. Yati Utoyo Lubis, Dr. Tjut Rifameutia, dan Dr. Bullie.

Tali temali pertemanan Mbak Ti dgn sy lumayan banyak. Mbak Ti bukan sekedar senior sy tp jg kakak sulungnya Indra Bambang Utoyo teman saya d FKPPI, Bang Saut suami Mbak Ti mrp dosen anak sy Ceniza d ITB, suami mbak Tini adiknya mbak Ti, bang Simon mrp teman dr bang Ismail, abangnya Idjul di Trisakti, suami mbak Tari, mas Arie jg mrp senior sy d FKPPI.Dan besannya mbak Tini mrp teman Idjul d SMA3...

Tidak heran tali temali yg banyak ini membuat hubungan emosional sy dgn mbak Ti menjadi lbh dekat. Dibawah kepemimpinan mbak Ti sebagai Dekan, sy diminta jd Manager Ventura, sy jg dipercaya jd Kepala Pusat Keberbakatan,bahkan jd Kepala Bagian Psikologi Pendidikan. Dan msh ada lg.. sy pun menjadi anggota SAF dan juga anggota SA UI. 

Tia jg bukan sekedar junior saya. Tali temali sy dg TR jg banyak. Salah satu adik Mama Tia menikah dgn Tante Ad, famili dari mama Idjul. Kmd dua adik Tia, yang laki maupun perempuan adalah teman sekolah adik-adik saya, Bibin, Ade dan Wina. Tia sendiri junior Idjul d SMA. Anak sulung Tia, Rana satu sekolah dgn anak sy, Ozu di SMA Lab School Rawamangun, Jakarta.

Tali temali pertemanan dgn Mbak Bulie, melalui Tio keponakan mbak Bulie yg mrp teman Idjul d SMA, suami mbak Bulie mantan mhs mertua sy dr.H. Ali Akbar saat d FKUI.Mbak Bulie bukan sekedar senior sy.

TEMAN ADIK

Salah satu teman adik saya yang tiba-tiba bertemu kembali setelah puluhan tahun tidak berjumpa adalah Lucky Ali Murfiqin. 

Lemhanas tepatnya IKAL, Ikatan Alumni Lemhanas yg mempertemukan kami. Pertama kali jumpa Lucky kembali tahun 2017 saat Ketua Umum IKAL Jenderal TNI Purnawiran Agum Gumelar memperkenalkan satu persatu pengurus IKAL yg dtg sosialisasi IKAL dan Program Kerjanya pada kami peserta PPSA XXI. Lucky mrp salah satu wakil sekjen IKAL Pusat.

Kemudian hari ini, Rakernas III IKAL saat rehat sy ketemu Lucky kembali. Lucky msh spt yg dulu pertama sy kenal saat bermain dgn adik saya Ade Hawadi. Ia menyapa dengan suara halus dan sopan.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia