BATAM. PAUDNI. Bangsa Indonesia harus siap bersaing
di era pasar bebas, sebab kita akan menyongsong Masyarakat Ekonomi
ASEAN, dan memasuki pasar bebas World Trade Organization (WTO) dengan
persaingan terbuka.
Untuk menghadapi hal tersebut Direktur Jenderal
Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani
Hawadi menegaskan agar seluruh lembaga kursus dan pelatihan memiliki
daya saing global. Hal itu disampaikan saat memberikan arahan pada
Kegiatan Peningkatan Mutu Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) menuju
Akreditasi di Batam (6/4).
“Memasuki era globalisasi setiap lembaga kursus dan pelatihan (LKP)
harus dipersiapkan bersaing dengan negara lain,” tegas Lydia. Tahun 2015
kita memasuki era persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN
dengan pesaing 9 negara ASEAN dan tahun 2020 nanti menjadi era pasar
bebas WTO dengan 153 negara dan 18 jenis profesi yang bersaing ,” tambah
Lydia.
Reni Akbar Hawadi – sapaan akrab Dirjen PAUDNI berharap sepuluh tahun
ke depan kita bisa menyelesaikan standarisasi LKP sesuai dengan standar
nasional pendidikan dengan 8 (delapan) standar, yaitu: (1)standar isi;
(2) standar proses; (3) standar kompetensi lulusan; (4) standar pendidik
dan tenaga kependidikan; (5) standar sarana dan prasarana; (6) standar
pengelolaan; (7) standar pembiayaan; dan (8) standar penilaian
pendidikan. Dirjen berharap besar pada Badan Akreditasi Nasional
Pendidikan Nonformal (BAN PNF) untuk membuat instrumen akreditasi dengan
melakukan studi, agar standarnya lebih baik.
Sasaran LKP yang paling krusial yakni anak putus sekolah yang masih
berusia produktif dan masih pengangguran. Mereka harus dilatih dengan
kursus sebelum disalurkan bekerja atau diarahkan berwirausaha. Saat ini
negara kita masih kekurangan wirausahawan, bila dibandingkan dengan
negara tetangga Singapura yang memiliki 8% dan Malaysia 6%. Sedangkan
kita kita masih dibawah 2 %.
Direktur Pembinaan Kursus dan Pelatihan Muslikh memaparkan Kegiatan
Peningkatan Mutu LKP menuju Akreditasi bertujuan untuk menyosialisasikan
akreditasi LKP yang dilakukan oleh BAN PNF, selain itu juga untuk
melakukan simulasi pengisian instrumen akreditasi, sekaligus berupaya
mendorong LKP untuk bersedia dan mengajukan diri untuk diakreditasi
BAN-PNF.
(Rica Noverina/HK)
Tulisan Paling Sering Dibaca
-
Oleh: Prof. Dr. Fitri Yuli Zulkifli, ST., M.Sc. Prof.Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.Si., MM., Psikolog atau lebih terkenal dengan Prof Reni, pe...
-
Oleh: Prof. Dr. Thomas Suyatno Politisi, Pendidik, Bankir Sekitar tahun 1985, ketika saya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpi...
-
Oleh: Dr.Rahmat Ismail, Psikolog | Ketua PP HIMPSI Periode 2000-2004 dan 2004-2007 Suatu siang Reni menelpon saya selaku Ketua HIMPSI PUS...
-
Banff sebuah kota kecil yang letaknya 128 km dari Calgary. Magnit Taman Nasional Banff sebagai situs warisan dunia membuatnya dibanjiri ...
Kategori
- Berita (516)
- Insight (103)
- Kata Mereka (85)
- Narasumber (74)
- Antologi (58)
- Wisata (32)
- Wawancara (20)
- Makalah (17)
- Curhat (13)
- Kegiatan (10)
- Buku Kaleidoskop 2013 (7)
- Keluarga (4)
- Konsultan Perkawinan (3)
- Buku (2)
- Artikel dan Makalah (1)
Arsip Tulisan
- Maret (12)
- Maret (3)
- Februari (20)
- Januari (18)
- Oktober (26)
- September (2)
- Agustus (25)
- Juli (24)
- Juni (26)
- Maret (9)
- Desember (44)
- November (9)
- Januari (46)
- Juli (12)
- Juni (7)
- Desember (2)
- November (17)
- Oktober (48)
- September (48)
- Agustus (50)
- Juli (70)
- Juni (26)
- April (51)
- Maret (47)
- Februari (46)
- Januari (41)
- Desember (17)
- Oktober (164)
- September (11)
