Selasa, 06 Maret 2018

Kagum Dengan Bu Prof. Reni Ikut Lemhannas dan Miliki Ide Susun Instrumen Pancasila Quotience

Oleh Kapten Caj Alif Rachmatianto , S.Psi.
Mahasiswa Tugas Belajar pada S2 Profesi Pedidikan Fakultas Psikologi UI


Saya kenal Bu Prof. Reni saat semester 2 S2 Profesi Psikologi Pendidikan UI. Bu Prof. Reni mengajar dua mata kuliah yaitu : Mata Kuliah Psikodiagnostik Psikologi Pendidikan dan Mata Kuliah Observasi dan Wawancara. Saat saya di semester 3, saya dengar Bu Prof. Reni mengikuti kegiatan pendidikan di Lemhannas.  Saya merasa kagum sekali ibu Prof terpilih mengikuti pendidikan di Lemhannas R.I di mana yang saya ketahui di kedinasan saya, peserta Lemhannas adalah orang-orang terpilih yang dapat mengikuti pendidikan. 

Nah saat mengikuti kegiatan di Lemhannas  inilah saya dihubungi beliau. Bu Prof Reni bercerita bahwa punya gagasan untuk membuat instrument Pancasila Quotience (PSQ)  dan   meminta  kesediaan saya  untuk  membantu membentuk tim kecil.

Terus terang saya merasa senang dan terkejut karena ini merupakan suatu momen langka yang tidak semua orang dapat melaksanakannya. Bahkan ketika saya sedang berdinas di satuan saya.

Setelah tim terbentuk,  saya (Alif Rachmatianto, S. Psi), Azka Ananda Sari,  S. Psi, Rany Monika Purba, S. Psi, Siti Rahmah, S. Psi, dan Veronica Novelina Parapat, S. Psi. menemui Bu Prof. Reni di Lemhannas untuk membicarakan apa saja yang akan dilaksanakan. Rupanya ide utk bikin PSQ ide orisinal Bu Prof. Reni yang diajukan pada Panitia Seminar Nasional PPSAXXI Lemhannas R.I. dan disetujui untuk dilaksanakan sebagai produk dari PPSA XXI.

Intinya beliau merasa perlu ada satu alat utk mendeteksi seberapa jauh nilai-nilai Pancasila sudah terinternalisasi dalam diri seorang individu. Subjek  penelitian murid kelas 3, 4, 5, dan 6 di 4 sekolah dasar di Jabodetabek. Dengan supervisi Bu Prof. Reni, tim melakukan pembuatan alat ukur, uji keterbacaan alat ukur, kepada expert judgement dan siswa SD, revisi Alat ukur, pengambilan data dan proses penghitungan dan pengolahan uji statistik, pembuatan laporan hasil Alat Ukur dan penyerahan laporan hasil alat ukur.

Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 4 bulan, dengan hasil masih perlu penyempurnaan dalam skor validitas, reliabilitas dan pembuatan norma. Sehingga Membutuhkan waktu yang lebih panjang agar dapat menghasilkan alat ukur yg valid, reliabel, dan memiliki standardisasi norma.

Proses pembimbingan
Dalam penyusunan alat ukur ini Bu Prof. Reni selalu memberikan bimbingan yang mendukung kami dalam proses penelitian, seperti misalnya Ibu selalu mengingatkan untuk membuat jadwal kegiatan yang akan dikerjakan, sehingga kita bisa mengevaluasi apa yang sudah dan belum dilaksanakan. Selain itu menurut kami, Ibu memberikan arahan bagi kami untuk berkonsultasi kepada beberapa pakar dalam menyelesaikan penelitian ini.

Kami pun cukup memiliki kesempatan untuk berkonsultasi dengan ibu,  dan mendiskusikan cara penyelesaian kendala yang kami hadapi. Saya dan teman-teman merasa bangga karena telah ikut berkontribusi dalam membantu merancang alat ukur yang berguna bagi pendidikan anak-anak di indonesia, terutama penerapan nilai-nilai Pancasila. Terlebih saya mendapatkan pelajaran-pelajaran penting dari Bu Prof. Reni, sesibuk apapun Bu Prof dalam melaksanakan pendidikan di Lemhannas,  beliau selalu menyiapkan waktu buat kami.
****

Ibu Reni Akbar yang Saya Kenal Memimpin Dengan Penuh Integritas

Oleh Dr. Ade Kusmiadi
Mantan Kepala Pusat PAUDNI Regional 2 Semarang

Ketika itu tanggal 27 Januari 2012 Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog dilantik sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kementrian Pendidikan Nasional RI menggantikan Bapak Hamid Muhammad,P.hD, tentu saja agak kaget, karena seorang atasan langsung saya kali ini tidak kenal sebelumnya, saya tidak tahu asal usulnya perjalanan kariernya kecuali sedikit yang saya tahu bahwa Ibu Reni Akbar (panggilan akrab beliau) adalah Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia. Namun logika berfikir saya jalan, kemungkinan beliau diangkat di Ditjen PAUDNI karena saat itu prioritas pembangunan pendidikan nonformal-informal adalah pendidikan anak usia dini (PAUD), sehingga amat wajar kalau pemimpinnya yang memiliki keahlian di bidang anak usia dini.

Selang tiga hari setelah pelantikan itu, kami mengundang  beliau untuk meresmikan pembangunan beberapa fasilitas kantor kami (PP-PAUDNI Regional 2 Semarang) dan sekaligus diminta  memberikan pembinaan kepegawaian kepada seluruh karyawan/karyawati kami, sebagai tradisi kami diawal tahun anggaran, dan pada kesempatan yang sama saya memperkenalkan berbagai program yang sudah dan sedang dikembangkan, terutama yang ada di sekitar kampus PPAUDNI Regional 2, dari mulai Laboratorium PAUD (TK, KB dan Penitipan Anak), Kursus, model Penangan Bencana Alam untuk PAUD dan Pendidikan Orang Dewasa (POD), fasilitas pelatihan, dan teknologi informasi untuk pengembangan PNF serta model-moel PAUDNI yang dikembangkan.

Kesan kunjungan pertama yang menarik bagi saya adalah :
1. Tidak diduga sebelumnya kalau Ibu Reni Akbar ini berkenan bermalam di Wisma PPAUDNI yang sederhana dan saat itu air panasnya sedang rusak, pedahal kantor kami sudah menyiapkan hotel.
2. Kehangatan, keterbukaan dan kedekatan dengan saya dan teman-teman di kantor membuat suasana nyaman tidak ada kekakuan sama sekali..
3. Beliau tertarik dengan segala hal terkait dengan program-program PAUDNI dan segala fasilitas kami sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen PAUDNI.

Segala yang terlihat beliau ditanyakan kepada saya dan teman-teman kepala bidang, kepala sub bag umum dan beberapa pamong belajar. Nampak jelas, bahwa beliau ingin tahu lebih banyak apa yang dilakukan oleh stafnya atau UPT di bawah binaannya.

Waktu terus berjalan, tiga tahun bukan waktu yang pendek (2012 – 2014), diskusi-diskusi, workshop-workshop, rapat-rapat, kunjungan lapangan termasuk membangun silaturahim dengan staf adalah rutinitas beliau dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari. Namun bukan Ibu Reni Akbar namanya bila kegiatan-kegiatan tadi dilaluinya begitu saja, tidak dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab dan pengabdian penuh integritas dengan capaian-capaian yang harus terukur.

“Setiap manusia adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT” (al-hadis). Rupanya makna hakikat hadis itu yang beliau lakukan ketika memimpin Ditjen PAUDNI, nampak jelas kebijakan dan sepak terjang beliau dalam kepemimpinannya. Selalu ingin tahu detail proses munculnya kebijakan program dan anggaran sebelum ditandatanganinya, semua harus dikerjakan tepat waktu, sesuai tugas dan fungsinya masing-masing didukung degan data yang valid, dilaksanakan secara profesional, tercatat dan terdokumentasikan dengan baik.

Yang tidak kalah menarik, selain sangat kuatnya penanaman disiplin, tegas, korektif dan responsif juga masalah penataan kantor, baik taman (exterior) maupun penataan ruangan (interior), harus tertata rapih, serasi dan nyaman. Karena kondisi itu mencerminkan perilaku kepemimpinan dan relasi staf yang kondusif.

Suatu hal yang unik dalam kepemimpinan beliau, adalah sering berkomunikasi bahkan memberi tugas pada sepertiga malam, setelah selesai shalat malam. Tentu beliau lakukan hanya kepada stafnya yang biasa mendekatkan diri pada sepertiga malam itu. Bagi saya ini menarik karena saat itu fikiran lagi tenang, lagi dekat-dekatnya dengan Alloh Yang Maha Rahman dan Rahim, sehingga kejernihan fikiran pemimpin maupun yang dipimpinnya ada dalam kondisi yang nyaman. Walaupu itu dilakukan hanya sewaktu-waktu saja oleh Ibu Reni Akbar.
Karena memimpin itu tidak selamanya dalam format yang formal dan kaku, maka Ibu Reni Akbar ini juga membangun silaturahim dengan stafnya secara baik, perhatian kepada stafnya yang ulang tahun, yang sakit dan yang hajatan, dan selalu memberi hadiah untuk anak buahnya apabila ada rejeki atau pulang dari event-event tertentu, namun sebaliknya beliau tidak mau menerima hadiah dari staf/atau bawahannya bahkan dari mitra kerjanya sekalipun, Ibu Reni Akbar tahu kalau itu akan menyakitkan hati si pemberinya, namun itu prinsif beliau.

Pelajaran yang diperoleh (lesson learned) selama kepemimpinan Ibu Reni Akbar (2012 – 2014), adalah bagaimana memilah “memimpin dengan penuh integritas” dengan “membangun silaturahim “. Dua hal yang sama pentingnya dan harus dilakukan oleh  seorang pemimpin, seperti apapun cakupan kepemimpinan serta kadar dan kapasitas tanggungjawabnya, kapan harus tegas dan tidak ada kompromi dan kapan harus membangun ukhuwah dan memperkokoh persaudaraan dengan sesama.

Selamat untuk ibu dan keluarga, semoga keistiqomahan dalam berintegritas dimana ibu berada akan tetap berlanjut dan memiliki makna yang baik tidak hanya untuk ibu dan keluarga tetapi untuk semua yang bermitra dengan Ibu. Semoga Alloh SWT memberikan keberkahan, perlindungan dan taufiq hidayahnya. Aamiin
***

Senin, 05 Maret 2018

Kak Reni Ketua Umum Wanita FKPPI

Oleh Hardian Uli Silalahi
Mantan Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Wanita FKPPI, Presiden Direktur PT. Jaya Ritel Indonesia

Suatu siang Kak Reni telpon saya, bercerita  bahwa saat Kak Reni masih menjabat Dirjen Paudni ditelpon oleh Bang Indra Bambang Utoyo (IBU). Mas IBU menyampaikan pesan Ketum PP FKPPI yang menunjuk  Kak Reni sebagai Wakil Ketua FKPPI  yang membidangi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.  Kak Reni  menggantikan posisi jabatan almarhumah Kak Kartini Mayelli.
Namun karena padatnya kegiatan sebagai Dirjen, Kak Reni mengakui tidak sempat  touch apapun terkait jabatan barunya d FKPPI.

Kemudian sampailah  satu siang itu saat aktivitas Kak Reni sudah senggang,  tidak lagi jadi Dirjen Kak Reni menelpon saya untuk ketemu mewujudkan amanah yang dibebankan Mas Pontjo Sutowo.
Memang sesuai dengan Hasil Munas FKPPI 2008 bahwa harus ada dibentuk suatu wadah untuk wanita FKPPI. Jadi saya diminta Kak Reni membantu mewujudkan Pengurus Pusat Wanita FKPPI. Kak Reni minta untuk kontak beberapa senior dan teman yang bisa  diandalkan  untuk membahas pembentukan Pengurus Pusat Wanita FKPPI.

Halal bi halal kami pilih sebagai momentum pertemuan perdana dari 7 orang wanita yaitu  Sri Rejeki,  Wati Amir, Prof. Reni Hawadi, Fiene Waas, Endang Rama Budi, Anna Sentot dan Uli Silalahi.

Setelah pertemuan di Dapur Sunda tersebut, saya yang diminta sejak awal oleh Kak Reni sebagai Sekjen jadi sering  ketemu di Kwarnas (saat itu posisi Kak Reni adalah wakil Ketua Kwarnas Bidang Binawasa) pembahasannya cukup serius karena mencari mereka  yang berminat dan mampu menjadi PP Wanita FKPPI.  Ini tidak mudah namun juga bukan hal yang sulit, karena harus mengakomodasi berbagai kelompok pertemanan.

Saya dan Kak Reni sangat antusias mencari pengurus dan Kak Reni berdedikasi dengan  komitmennya untuk membentuk Wanita FKPPI. Kak Reni sangat mengarahkan saya untuk mencari wanita-wanita FKPPI yang sudah berprestasi atau sudah mempunyai pengalaman untuk organisasi. Kak Reni sangat detail sekali mengarahkan saya,  mengingat sosoknya yang seorang mantan Dirjen dan seorang Professor. 
Sesuai dengan target kami,  pada bulan 11 September 2014 di Hotel Sultan resmilah terbentuk Pengurus Pusat Wanita FKPPI. Ketua Umum PP FKPPI Pontjo Sutowo  melantik Kak Reni sebagai Ketua Umum PP Wanita FKPPI. 

Dan saya sendiri menjadi Sekretaris Jenderal. Terimakasih Kak Reni. Akhirnya  organisasi yang diamanahkan Hasil Munas FKPPI Tahun 2008 bisa terbentuk dalam waktu kurang lebih hampir 2 bulan.
***

Sabtu, 03 Maret 2018

Dr. Reni Akbar-Hawadi Motor Penggerak Kajian Islam dan Psikologi (KIP) PSKTTI Pascasarjana UI

Oleh Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA
Guru Besar Bidang Psikologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, anggota MPR RI periode 1999-2004, Wakil Ketua dari Komisi Kajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat, dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat serta anggota Dewan Pertimbangan BP4 Pusat periode 20014 - 2019
      
Pertama kali ketemu Bu Reni, rasa-rasanya di kantor DPP KORPRI, yang saat itu berada di Gedung Proklamasi, di  Jalan  Proklamasi No.56,  Jakarta Pusat.  Bu Reni selain menjadi dosen di Universitas Indonesia, saat itu menjadi  fungsionaris Dewan Pengurus Pusat Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia,  jadi sering berkantor disana.   Saya kesana untuk berkenalan dengan beliau yang menjadi motor penggerak Kajian Islam dan Psikologi Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam  Pascasarjana Universitas Indonesia.

Hubungan saya dengan Bu Reni lebih pada bidang keilmuan dan pertemanan. Saya kebetulan dikukuhkan sebagai Profesor pertama di dunia dalam bidang Psikologi Islam (menurut pengakuan Prof.  Malik Badri, intelektual  Sudan yang di Malaysia, dan menjabat sebagai Presiden dari International Assosiation of. Moslem Psychologist). Yang menarik, saya belum pernah kuliah di Fakultas Psikologi, tapi jadi Profesor Psikoloogi Islam. Semula saya diusulkan sebagai guru besar ilmu tasauf oleh UIN Jakarta, tetapi di perjalanan  usulan itu diubah menjadi guru besar Psikologi Islam karena ternyata kum saya 75% isinya psikologi, dan hanya satu buku tulisan saya tentang tasauf. Maka jadilah saya dikukuhkan sebagai Profesor Psikologi Islam di Fakultas Psikologi UIN. Pidato pengukuhan saya berjudul: Pencegahan terorisme dengan pendekatan Islamic Indigenouse Psychology.

Salah satu program studi dibawah Pascasarjana UI adalah Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam (PSKTTI), dan salah satu peminatan yang dikembangkan adalah Kajian Islam dan Psikologi.  Saat itu  baru Pascasarjana UI yang memiliki kajian Islam dan Psikologi, dan  Dr. Reni Akbar-Hawadi lah yang dikenal sebagai motor penggerak di Kajian Islam dan Psikologi (KIP) PSKTTI Pascasarjana UI. Atas saran siapa saat itu saya benar-benar lupa, saya lantas ketemu dengan Bu Reni di Kantor DPP Korpri tersebut diatas. Saya banyak diskusi dengan beliau. Dari komunikasi itu saya tahu bahwa anatomi akademik Bu Reni kebalikan dengan saya.  Kalau saya lebih menguasai Islam nya (dalam hal ini ilmu tasauf) sedangkan ilmu Psikologi konvensional saya  hanya sedikit tahu, sementara Bu Reni, pengetahuan tentang Psikologi konvensional sangat luas, tapi wilayah keislaman lebih terbatas. Hal ini kelihatan sekali ketika kemudian sedang sama-sama menguji tesis atau disertasi. Perbedaan anatomi itu kemudian melahirkan saling membutuhkan. 

Jakarta, 19 Pebruari 2018-  
Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA

Sosok Prof. Lydia Freyani Hawadi

Oleh Dr. Nugaan Yulia Wardhani Siregar

Ibu Prof Dr Lydia Freyani Hawadi yang saya kenal  adalah :
orang yang sangat gigih memperjuangkan sesuatu yang dia inginkan;
* orang yang tidak pernah putus asa untuk mencapai cita citanya;
* orang yang mempunyai motivasi tinggi;
* orang yang optimis mencapai apa yang diinginkan;
* orang yang sangat menyadari pentingnya jejaring;
* orang yang sangat perfeksionis;
* orang  yang ingin menciptakan sesuatu yang berbeda;
* orang yang menyukai petualangan;
* orang yang tidak mempunyai rasa lelah ; 
* orang yang sangat suka memberi kepada sesama ataupun orang yang ada dibawahnya;
* orang yang sangat perhatian terhadap hari-hari istimewa dari orang-orang di sekitarnya.

Prof. Dr. Lydia Freyani yang Saya Kenal

Oleh Dr. Gutama (Sesditjen PAUDNI 2012-2013)
Pertama kali saya mengenal sosok Ibu Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi ketika pelantikan beliau sebagai Dirjen PAUDNI tahun 2012 di Gedung A lantai 3 Kemdikbud Senayan.  Selesai pelantikan, semua undangan menyalami para pejabat yang baru saja dilantik, termasuk menyalami Bu Reni (panggilan akrab beliau).  Setelah acara ramah tamah, oleh Bapak Dr. Hamid Muhammad (Dirjen PAUDNI sebelumnya) Bu Reni diajak ke Gedung E lantai 3, yakni kantor Ditjen PAUDNI yang akan menjadi kantor baru beliau. Saat pertama masuk ke kantor Ditjen PAUDNI, Bu Reni melihat ada beberapa bunga plastik yang menjadi hiasan di sudut-sudut ruangan. Secara spontan  Bu Reni mengatakan tidak menyukai bunga plastik. Bu Reni lebih menyukai bunga yang asli, terutama bunga anggrek. Dalam hati,  saya juga menyukai tanaman dan bunga-bunga segar.

Sejak pertama mengenal Bu Reni, kesan saya orangnya cerdas, dan kaya akan ide atau gagasan. Bu Reni sosok yang lebih suka bicara blak-blakan (apa adanya) tanpa basa-basi. Dalam pekerjaan beliau ingin serba cepat. Tentu saja saya harus bekerja keras untuk bisa menyesuaikan dengan gaya kerja beliau. Jika punya ide atau gagasan, Bu Reni secara spontan menyampaikan langsung kepada para pembantunya, termasuk saya, walaupun melalui telepon atau sms. Tidak jarang beliau mengirim sms ke saya pada tengah malam atau dini hari, dan pada pagi harinya beliau cek apakah semua sms sudah dibaca dan ditindaklanjuti. Bu Reni sangat disiplin dengan waktu, dan selalu memberitahukan kepada staf melalui telepon atau sms jika ada keperluan mendadak. Dengan demikian saya selalu bisa mengetahui di mana saja posisi beliau. Ini sangat berguna karena jika sewaktu-waktu ada orang yang yang mencari beliau, saya bisa menjawabnya dengan pasti. Tentu ini sangat membantu bagi kelancaran tugas-tugas kantor apalagi posisi saya waktu itu sebagai Sekretaris Ditjen PAUDNI

Bu Reni orangnya tegas dan semangat kerjanya luar biasa, serta sering memberikan perhatian khusus kepada para stafnya. Salah contoh, beliau ingat tanggal kalahiran beberapa stafnya dan  suka memberi ucapan selamat ulang tahun kepada stafnya yang berulang tahun. Saya juga pernah mendapatkan kejutan mendapatkan ucapan dan “tumpeng” ulang tahun dalam sebuah acara  padahal saya sendiri sebenarnya lupa bahwa hari itu adalah hari ulang tahun saya. Juga pada saat pelepasan pensiun saya, beliau memberikan kado membuatkan buku kenang-kenangan tentang saya. Sungguh luar biasa! Beliau juga selalu berusaha untuk hadir jika mendapatkan undangan pesta perkawinan dari kolega/staf. Beliau bersama suami pernah hadir di rumah kami ketika acara persiapan “midodareni” salah satu putri kami. Terimakasih Bu Reni, semoga Allah SWT yang membalaskannya.
Selama saya mendampingi Bu Reni (satu setengah tahun lebih) banyak ide/gagasan yang beliau sampaikan, diantaranya: ide penyisiran  regulasi/ UU/PP/Perpres/Permen terkait PAUDNI, gagasan program satu desa satu PAUD, rencana perbaikan sistem pendataan PAUDNI secara online, e-bansos, pembuatan NSPK untuk semua program PAUDNI, gagasan menghidupkan lagi Pramuka di jajaran UPT PAUDNI, ide penyegaran beberapa Kepala UPT (PP PAUDNI dan BPPAUDNI) serta beberapa pejabat eselon 3 dan 4 di jajaran Ditjen PAUDNI, satpam berdasi,  ide pemetaan pola distribusi pemberian bansos, gagasan untuk mengembangkan program BP PAUDNI  unggulan, gagasan untuk meng upload produk-produk DVD PAUDNI di youtube, gagasan pembuatan radio streaming atau TV streaming , ide penyediaan lounge untuk pegawai (berisi karaoke, piano) beserta  paduan suara untuk menyalurkan minat bakat mereka, halal bi halal dengan ormit-ormit PAUDNI, gagasan rintisan Pusat PAUD bertaraaf nasional dan internasiaonal,  serta masih banyak lagi.
Terimakasih Bu Reni atas jerih payah Ibu dalam membimbing kami semua, dan khususnya dalam ikut membesarkan PAUDNI di tanah air. Selamat ulang tahun ke-61, semoga Ibu sekeluarga tetap sehat, semangat dan sukses.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia