Senin, 02 Oktober 2017

234 SC

Di halaman rumah masa kecil saya, ada dua pohon mahoni. Pohonnya tinggi dan besar, lingkar badan batangnya sebanyak saya dan empat teman saya yang melingkari pohon tersebut dengan saling bergandeng tangan. Salah pohon mahoni yang dekat dengan pintu masuk bertuliskan S 234 C, ditulis warna putih dengan kapur yang untuk mencat pagar bata rumah kami. Konon yang menuliskannya itu adalah Husein, teman Bambang.

S 234 C yang kelak menjadi 234 SC mempunyai arti yang tidak sekedar letterlijk an sich. Huruf S diambil dari Siliwangi, angka yang berderet 234 berasal dari merk rokok kretek, dan C diambil dari kata Complex. Tidak sekedar itu. Apa makna yang diinginkan dari penggabungan angka dengan dua huruf ini oleh anak-anak kompleks Siliwangi yang merokok dengan merk Dji Sam Soe saat itu? Jaman dimana rumah kami jadi base camp or markas anak-anak Siliwangi. Bisa jadi tidak ada intensi di luar itu, hanya sekedar menjadi merk. Merk dari anak-anak tepatnya remaja maupun pemuda yang beralamat rumah di wilayah kompleks Siliwangi, yang punya kegemaran merokok keretek 234. Belakangan,terjadi perubahan makna tentang 234SC. Jika kita googling 234 SC maka akronim SC dalam 234 jadi berbeda, bukan lagi Siliwangi Complex.

234 SC yang saya tulis dalam cerita ini adalah 234 SC yang asli, sesuai historisnya. Siliwangi Complex, berikutnya saya sebut Kompleks Siliwangi, adalah kompleks perumahan Angkatan Darat. Perumahan dinas ini ada di Siliwangi yang berbatasan dengan Kalilio, Rumah Kapal yang berseberangan dengan parkiran Hotel Borobudur, Balai Prajurit yang berada di Jalan Dr. Wahidin serta semua rumah yang berada di Jalan Dr. Wahidin 1 dan 2. 



Anak-anak Kompleks Siliwangi saat itu sering banget ngumpul main ke rumah kami, di Jalan Dr. Wahidin 1 /D2. Mengutip kata Mas Ben “ anak-anak Siliwangi yang jaman itu, posnya  ya di rumah papi semua karena BTH disenengin. Yapto belum apa-apa karena masih ada almarhum mas Naryo kakaknya dan galak ke adik-adiknya”

Sehingga tidak heran kalau ada yang bilang abang saya BTH adalah dedengkot jagoan Siliwangi jaman itu. Dedengkot itu bahasa Jakarta, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tokoh (pemimpin) dalam suatu perkumpulan dan sebagainya, baik dalam arti yang baik maupun yang buruk. Kerennya kata dedengkot adalah kepala geng. Geng S 234 C ini boleh kata disegani, karena kalau jalan kemana-mana bersama mereka ada RPKAD. Meminjam istilah Mas Ben… “Dia biasanya pegang pistol haha.. mas Yapto belum pegang, dia sudah mainan gituan sama AK punyanya Fritz RPKAD”

Bisa jadi karena Bambang seorang Menwa, ia punya pistol. Seingat saya pistol FN 45, dan juga ada senapan AK 74. Bayangkan pada malam takbiran, orang-orang bakar petasan, mereka nembak keatas pake AK dengan peluru api.

Sejumlah teman-teman abang saya Bambang, yang masih saya ingat sering main ke rumah seperti Yan, Djajat, Abang, Ade, Tagor, Bambang Iko, Aldi, Gatot, Nami, Tjutju dan Unus. Ada juga Fritz, dari RPKAD. Mereka itu nongkrong…mendengarkan lagu-lagu The Beatles, main gitar, ngobrol, ngegaple, main kartu remi..dan cerita perang. ”Bambang suka cerita tentang Perang Dunia II, cerita mengenai Jenderal Patton, juga Perang Permesta “ .

Menurut Benrih..begitu papi memanggil Benny, Bambang dkk dulu itu selain suka jalan ke pesta-pesta rumahan, suka ngebut di Jalan Thamrin, bunderan Teuku Umar, bunderan Senayan.


Kegemaran Bambang dengan teman-teman SCnya suka jalan bareng. Papi memiliki beberapa mobil saat itu yaitu Jeep Willys nya, Holden EJ Special, Chevrolet Impala, dan Mercedez-Benz W111. Bersama teman gengnya S 234C, Bambang suka jalan ke pesta-pesta rumahan, yang biasanya ada band. Mereka ber twist dance, dansa yang diinspirasi oleh musik rock and roll, dan ngetrend di awal tahun 1960. Saya ingat saat itu kakaknya Abeb, Raaf Firmansyah, tetangga dua rumah sebelah kanan kami jarig ke 17 tahun. Malam hari ruang tamu temaram, hanya sedikit cahaya, yang terdengar hanya musik rock roll yang diputar dengan volume keras. Dan saya bersama Abeb mengintip dari pintu yang menghubungkan ruang belakang ke ruang atas rumahnya itu, dari dekat saya bisa melihat mereka bertwist.
  
Salah satu pesta yang didatangi Bambang dan gengnya S 234C, di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Entah bagaimana ceritanya…ada yang bilang berantem dengan anak-anak Selendang Boys (anak-anak Gang Tengah Salemba), tapi ada juga yang bilang berantem sama anak Ams ( anak-anak Ambon Kwini). Yang jelas salah satu dari teman abang saya itu, bernama Tagor menembak seseorang,  dan berakibat seseorang meninggal.

Akhirnya Bambang bersama sejumlah temannya yang datang ke pesta tersebut yaitu Tagor Lumbanradja, Yan Anwar, Abang Naim, Djajat Sayuti, Gatot Latief ditahan di Polsek Metro Tanah Abang, Jalan Karet Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun baru sehari di sel, mereka dipindahkan ke Polsek Metro Menteng, yang berada di Jalan Gresik, Menteng, Jakarta Pusat. Ruang tahannya gak dikunci, alasnya kasur semua, dan supply makanannya dari Hotel Indonesia…karena kita pada waktu itu dekat dengan Pak Nasution. Namun Keberadaan mereka di Seksi 5 tersebut juga tidak lama, konon karena kedekatan dengan Jendral A.H. Nasution mereka dipindahkan jadi tahanan rumah yaitu di rumah orang tua Yapto Soerjosumarno, di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia