Rabu, 23 Juni 2021

Perbuatan Zalim


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Perbuatan Zalim

Perbuatan zalim artinya perbuatan  sewenang-wenang, tidak adil, menindas, kejam dan menganiaya.

Perbuatan zalim ini terlarang dalam Islam. Banyak sekali ayat Al Qur'an dan hadist Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam yang mencela dan melarang perbuatan zalim. 

Allah Ta'ala berfirman:

"Ingatlah laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim"

QS: Hud (11):18.

"Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim, "Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulu kamu dustakan."

QS: Saba (34):42.

Adapun dalil-dalil dari As Sunah, antara lain:

Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

" jauhilah kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat"

(HR.Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).

"Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya"

(HR.Muslim no. 2564).

Bentuk kezaliman ada dua yaitu perbuatan zalim terhadap dirinya sendiri, dan kezaliman terhadap orang lain. Dan perbuatan zalim ini sesuai firman Allah Swt dalam surat Al-Furqan, yang akan memberi azab bagi yang melakukan kezaliman.

"Barangsiapa diantara kamu berbuat zalim, niscaya Kami timpakan kepadanya rasa azab yang besar."

QS: Al-Furqan (25 ):19.

Perbuatan zalim selain dilakukan pada sesama manusia maupun diri sendiri, juga pada Allah Swt. Dan kezaliman ini merupakan bentuk kezaliman yang terbesar yakni mempersekutukan Allah dengan zat lain. 

Hal ini sebagaimana disebut dalam Surat Luqman:

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

QS: Lukman  (31):13.

Bentuk kezaliman pada sesama manusia misalnya menyinggung harga diri dan kehormatan, menyakiti tubuh maupun hati seseorang serta mengambil harta orang.

Dalam hal ini, Allah menyampaikan akan mengambil amalan orang yang berbuat zalim dan menimpakan dosa orang yang dizalimi seperti berikut:

"Barangsiapa yang berbuat zalim kepada saudaranya, maka hendaklah ia meminta kehalalan darinya hari ini juga sebelum dinar dan dirham tidak ada. Jika ia punya amal shaleh maka amalannya itu akan diambil sesuai dengan kadar kezaliman yang ia lakukan. Jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang ia zalimi akan dibebankan padanya"

(HR Bukhari)

Perbuatan seseorang dalam berbagai bentuk dosa seperti melakukan kemaksiatan, pelanggaran akan laranganNya yang intinya mengotori kehidupannya adalah bentuk perbuatan menzalimi diri sendiri.

Allah berfirman:

"Dan tidaklah mereka menganiayai Kami, akan tetapi merekalah yang menganiayai diri mereka sendiri."

Dibawah ini saya kutipkan sebagian kecil larangan berbuat zalim yang dijelaskan dalam sebuah hadist qudsi yang diriwayatkan Abu Dzar Al Ghifari RA dari Nabi Muhammad SAW.

"Wahai hambaKu, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir diantara kalian, sekalian manusia dan jin, yang tinggal di bumi ini meminta kepada Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali sebagaimana batang jarum yang dimasukan ke laut".

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku catat semuanya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya".

"Ya Tuhan kami,berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka".

Raihlah keridha'an Allah. Selamat menunaikan sholat Sunnah Dhuha.

11 Syawal 1442H/23.05.2021.

lfh/LFH.

Bertaqwa


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Bertaqwa

Abu Dzar Al-Ghifari dan Muadz bin Jabal adalah dua sahabat yang meriwayatkan dari Rasullullah  Shallallahu'Alaihu Wa Sallam "Bertaqwalah kepada Allah dimanapun berada, ikutilah yang buruk dengan kebaikan, niscaya yang baik akan menghapuskan yang buruk dan pergauliah manusia dengan pergaulan yang baik".

Apakah arti taqwa? Bertaqwa artinya membuat penghalang antara diri kita dengan sesuatu yang kita takuti.

Bertaqwa kepada Allah artinya membuat penghalang antara diri kita dengan murka dan adzab Allah Swt.

Bagaimana caranya agar kita terhalang dari murka dan adzab Allah Swt? Caranya adalah menjalankan perintah-perintah Allah semampu kita dan meninggalkan laranganNya. Dengan cara inilah maka kita bisa berlindung dari murka dan adzab Allah Swt.

" Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim" 

QS: Ali'Imran (3) :102.

Bertaqwalah dalam semua kondisi, baik dalan keadaan susah maupun sedih. Bertaqwalah saat kita sedang marah, sedang emosi. Juga bertaqwalah pada siang dan malam, di masa muda dan tua, tidak ada batasnya.

"Ya Tuhan kami,berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka".

Raihlah keridha'an Allah. Selamat sholat tahajjud.

10 Syawal 1442H/22.05.2021.

lfh/LFH.


Iman dan Implikasi Beriman


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Iman dan Implikasi Beriman

Diriwayatkan dari Abu Umar r.a bahwa Nabi Saw mendengar seorang lelaki kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena malu maka Nabi Saw bersabda: Biarkan ia karena sesungguhnya 'malu itu sebagian dari iman".

Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, iman yang paling utama adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan".

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya". (Riwayat Bukhari dan Muslim).

H.R. Ibnu Majah dan At Thabrani menyebutkan bahwa "Iman adalah Pengetahuan hati, pengucapan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan".

H.R.Bukhari dan Muslim mengutip dari Anas bin Malik radhiallahu' anhu, Rasulullah shallalla'hu alaihi wa sallam bersabda "Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesuatu yang dia dicintai untuk dirinya"

Rasullullah Saw berkata: "barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaknya dia merubah dengan kekuasaannya, apabila dia merasa tidak mampu maka dengan lisannya, maka apabila tidak mampu hendaknya dia membenci kemungkaran tersebut dengan hatinya, yang demikian itu tingkatan Iman yang paling lemah.

"Ya Tuhan kami,berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka"

Raihlah keridha'an Allah. Selamat sholat tahajjud.

9 Syawal 1442H/21.05.2021.

lfh/LFH.


Kamis, 17 Juni 2021

Mukminin dan Munafiqin


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Mukminin dan Munafiqin

Simaklah kalimat pertama dari dua surat dalam At-Taubah dibawah ini. Kita akan melihat perbedaan nyata antara orang mukmin (Mukminin) dan orang munafik (Munafiqin).

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah, dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Mahabijaksana."

QS: At-Taubah (9 ):71.

"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu  dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah perbuatan yang makruf dan mereka menggegamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.

QS: At-Taubah (9):67.

Orang-orang yang beriman atau mukminin, satu sama lain memiliki keterikatan hati dan jiwa. Hati dan tujuan mereka satu. Yang kuat akan menolong yang lemah, yang kaya akan memuliakan yang kurang. Dan kehidupan antara mukminin saling bantu membantu. Hubungan mereka tidak sebatas kepentingan. Mereka bekerjasama atas dasar kebajikan, dan ketakwaan yang dilandasi kasih sayang.

Mukmin berupaya agar dalam hidupnya bersikap amar makruf nahi mungkar. Mereka mendorong dan berjalan di depan untuk 

menegakan perilaku baik dan benar yang diridhoi Allah dan mencegah terjadinya perilaku curang, khianat, dusta dan korup.

Hal ini berbeda dengan munafiqin, orang-orang  yang munafik. Mereka memiliki ketertarikan yang sama namun itu sebatas kepentingan mereka.Mereka bersinergi untuk sesaat demi keuntungan semata. Orang-orang munafik selalu berperilaku merusak tatanan kehidupan, mereka melanggar perbuatan baik dan konstruktif. 

Dari uraian dua ayat dalam Surat At-Taubah diatas, Allah mengingatkan kita. Allah memberi peringatan atas perbuatan yang diridhoiNya, perilaku yang sesuai  dengan citraNya.

Seseorang bisa menjadi mukmin maupun munafik. Pada saat saya bisa menjaga keimanan  saya agar selaras dan sesuai antara yang saya fikirkan dan katakan maka saya adalah seorang mukmin. Sebaliknya apabila saya tidak mampu menyelaraskan pikiran, perasaan dan perbuatan keimanan saya maka saya adalah seorang munafik.

Orang-orang yang munafik adalah orang-orang yang berbahaya. Allah'azza wajalla menyebutnya dengan "Mereka adalah musuh, maka berhati-hatilah", Allah'azza wajalla  tidak menyebutnya dengan " Mereka adalah bagian dari musuh".

"Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar."

QS: Al Baqarah (2) : 9.

"Ya Tuhan kami,berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka"

Raihlah keridha'an Allah. Selamat sholat tahajjud.

8 Syawal 1442H/20.05.2021.

lfh/LFH.

Kamis, 10 Juni 2021

Beriman dan Berilmu


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Beriman dan Berilmu

Barang siapa yang berilmu niscaya Allah Swt dekat dengannya seperti sabda Rasullullah Saw "tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza Wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orang dalam kedudukan terhormat dan mulia". 

Dalam kitabnya yang berjudul Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menyebut puluhan dalil Al-Qur'an maupun Hadist tentang iman dan ilmu.Dijelaskannya bahwa mereka yang berilmu akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan  berilmu beberapa derajat lebih tinggi, seperti firmanNya dalam Al-Qur'an:

Wahai orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, " Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

QS: AL- Mujadilah (58):11.

Beriman akan mendorong kita untuk berbuat baik. Iman membuat kita mempunyai komitmen kepada nilai-nilai yang berdasarkan KeTuhanan YME (rabbaniyah) yaitu  tata nilai yang dijiwai oleh kesadaran bahwa hidup itu berasal dari Tuhan dan menuju kepada Tuhan.

Dan wujud dari beriman itu adalah sikap hidup yang memandang Tuhan sebagai tempat bersandar dan menggantungkan harapan.

Konsistensi beriman adalah dengan bersikap baik sangka pada Allah (huznuz zhahn), serta memantapkan diri padaNya sebagai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sedangkan ilmu melengkapinya untuk kita bisa melaksanakan dorongan  dan merealisasikan perberbuatan baik tersebut.

Ali Masrur menyebutkan bahwa  berilmu merupakan sarana menemukan kebenaran Al-Qur'an  dan kebenaran Tuhan itu sendiri. Berilmu harus selalu mengingatkan manusia akan kehadiran kemahakuasaan Allah.

Ia juga mengingatkan Nabi Saw  menyebutkan siapa yang bertambah ilmunya,  tetapi tidak bertambah petunjukNya, maka ia akan semakin jauh dari Tuhan.

"Ya Tuhan kami,berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka"

Raihlah keridha'an Allah. Selamat sholat tahajjud.

7 Syawal 1442H/19.05.2021.

lfh/LFH.


Meminta dan Memberi Maaf


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Meminta dan Memberi Maaf

Rasanya belum sreg, mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri tanpa diikuti kata Mohon Maaf Lahir Batin. 

Selama ini kita telah menjadikan lebaran sebagai momentum untuk "me reset  " salah khilaf kita pada orang lain.Padahal  untuk meminta maaf tidak perlu menanti bulan Ramadhan dan Syawal tiba. Justru sebaik-baik meminta maaf adalah dengan menyegerakannya. Hal ini sesuai dengan fiman Allah SWT:

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang betaqwa".

QS: Ali'Imran (3): 133.

Islam mengajarkan setiap manusia untuk saling memaafkan. Akhlak baik ini sesuai dengan sifat Allah sebagai Maha Pengampun dan Penyayang.

"Dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

QS: At -Tagabun (64):14.

Meminta maaf dan memberi maaf adalah nilai-nilai kebajikan yang perlu ditanamkan dalam diri  anak Adam. Allah SWT akan memuliakan serta memberi pahala pada orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman:

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi  barang siapa  memaafkan dan berbuat  baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah.Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim."

QS: Asy-Syura (42):40.

Keterbatasan wawasan manusia membentuk persepsi yang akan melihat seseorang memberi maaf dan mengalah sebagai orang lemah, yang tidak mempunyai kekuatan.

Hal ini keliru besar! Justru Allah akan memberi ganjaran dengan mengangkat derajat dan memberi kemuliaan pada mereka yang memberi maaf.

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah nahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat-kerabatnya, orang miskin, dan orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.

Rasulullah SAW adalah panutan kita. Salah satu sifat beliau adalah selalu memaafkan orang yang membecinya dan menyakiti perasaanya. H.R. Ibnu Hibban  menyebutkan: 

Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malah beliau pemaaf dan mendamaikan.

"Ya Tuhan kami,berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka"

Raihlah keridha'an Allah. Selamat sholat tahajjud.

6 Syawal 1442H/18.05.2021.

lfh/LFH.


Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia