Jumat, 03 Maret 2023

Pakar: Pemda-masyarakat perlu duduk bersama bahas sekolah jam 05.30


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengatakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu duduk bersama untuk membahas mengenai kebijakan jam masuk sekolah pukul 05.30 Wita.

"Kebijakan ini perlu dibahas bersama, mulai dari Muspida NTT, Dewan Pendidikan Provinsi, hingga masyarakat," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Kamis.

Prof Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional 2012-2014 itu menjelaskan pembahasan bersama diperlukan agar banyak pihak memahami alur pikir kebijakan tersebut secara komprehensif.

"Selain itu, pemerintah setempat perlu juga masukan dari sisi anak, guru, dan orang tua mengenai penerapan kebijakan tersebut," katanya.

Prof Lydia menambahkan dari sisi psikologis sebenarnya kebijakan tersebut bisa dimaknai positif sebagai keinginan dari seorang kepala daerah untuk makin meningkatkan kualitas peserta didik.

"Saya mencoba memahami dari sisi psikologis, mengenai kegalauan sekaligus keprihatinan seorang kepala daerah terhadap masa depan lulusan peserta didik SMA/SMK. Asumsi beliau karena pagi hari tubuh dan otak masih segar," katanya.

Kendati demikian, dia juga mengakui bahwa banyak faktor yang harus dilihat terkait kebijakan tersebut.

"Bahwa jika siswa harus mulai belajar di sekolah jam 5 pagi, maka dia harus bangun paling tidak jam 03.30. Ini berarti dia harus tidur jam 20.00 paling telat agar dapat terpenuhi kebutuhan pola tidur 8 jam bagi anak usia remaja. Dengan tidur jam 20.00 berarti sekolah harus mengukur pemberian PR," katanya.

Prof Lydia juga berpendapat bahwa kebijakan sekolah jam 06.00 mungkin lebih bisa diterima

"Karena pukul 06.00 matahari sudah mulai terbit, kendaraan umum sudah banyak di jalan dan cukup waktu bagi orang tua dan anak bersiap, selain itu yang terpenting adalah anak sempat sarapan di pagi hari," katanya.

Sebelumnya, Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat dalam pertemuan dengan sejumlah guru dan kepala sekolah di kantor Dinas Pendidikan NTT mengeluarkan kebijakan yang cukup kontroversi dan menimbulkan reaksi dari masyarakat soal penerapan jam sekolah mulai pukul 05.00 Wita bagi SMA/SMK di Kupang.

Dalam perjalanannya, kebijakan itu berubah dari semula jam 05.00 menjadi 05.30 Wita dan berlaku hingga saat ini.

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Kamis, 02 Maret 2023

Guru Besar UI Ingatkan Orangtua Berikan Kasi Sayang untuk Mencegah Bullying

Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengingatkan orang tua agar banyak memberikan kasih sayang pada buah hati mereka guna mencegah perilaku bullying. 


"Salah satu upaya mencegah perilaku bullying pada anak adalah dengan cara mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Minggu. Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan bahwa anak yang menjadi pelaku bullying atau perundungan biasanya adalah mereka yang pernah menjadi korban perundungan. 

"Misalkan seorang anak yang pernah menjadi korban bully di rumahnya, karena tidak berani melawan otoritas maka si anak melampiaskannya di luar. Biasanya yang menjadi sasaran atau korban bully adalah anak yang lemah," katanya. 

Karena itu, kata dia, salah satu cara mengatasi anak agar tidak menjadi pelaku atau korban perundungan maka tugas orang tua dan juga tugas masyarakat yang ada di lingkungan sekitar adalah mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang. 

"Anak yang dibesarkan dengan cinta kasih dan rasa kasih sayang maka akan tumbuh sebagai individu yang utuh. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting karena akan menjadi modal untuk dia berinteraksi baik dengan teman-teman atau sebayanya," katanya. 

Prof Lydia Freyani Hawadi menambahkan bahwa masa kanak-kanak adalah masa pembentukan yang akan menentukan kepribadian dan karakter anak pada masa yang akan datang. "Masa pembentukan ini menentukan akan menjadi sosok individu apa dan bagaimana kelak. Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama berkewajiban mendampingi proses tumbuh kembang anak dan memberikan hal-hal yang menjadi kebutuhan anak sesuai tahap perkembangan," katanya.

 Orang tua, tambah dia, juga memiliki tugas mengawal perkembangan anak dengan berlandasan nilai-nilai religius untuk jadi pegangan hidup sang anak pada masa yang akan datang. "Selain itu yang juga penting adalah pemberian kasih sayang mutlak tanpa syarat atau unconditional love," katanya. Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Dr Seto Mulyadi atau lebih akrab disapa Kak Seto mengatakan penguatan pendidikan karakter merupakan kunci utama agar anak tidak jadi pelaku perundungan atau bullying. 

"Pendidikan karakter menjadi kunci utama agar anak memiliki karakter yang berakhlak mulia dan penuh cinta kasih," katanya. (Ant/OL-12)


Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/538804/guru-besar-ui-ingatkan-orangtua-berikan-kasi-sayang-untuk-mencegah-bullying

Lydia Freyani Hawadi: Orang Tua Harus Dibekali Pengetahuan Saat Dampingi Anak Belajar di Rumah


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Dalam mendampingi anak belajar dengan sistem jarak jauh dari rumah pada masa Pandemi Covid-19, orangtua perlu dibekali pengetahuan bagaimana menjadi pendamping yang baik. Tanpa mengerti bagaimana mendampingi anak belajar, akan mengakibatkan anak cepat lelah dan mudah stres.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, M.SI, M.M.,

Psikolog dalam Webinar yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Pusat, Selasa (15/12/2020) untuk memperingati Hari Ibu.

Prof Lydia dalam webinar yang dibuka Ketua Umum IKWI Pusat, Indah Kirana, menjelaskan sebagai ibu harus memahami multiperan dirinya dalam keluarga.

Suasana Webinar yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Pusat

Karena multiperan ini sangat berat, supaya tidak jatuh sakit, ibu harus mempersiapkan dirinya dengan mengkonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, dan olahraga rutin sehingga muncul kekebalan tubuh dalam menjalankan tugas, termasuk mendampingi anak dalam belajar jarak jauh.

Sebagai ibu harus memahami bahwa anak memiliki kebutuhan fisik, rasa aman, dan kebutuhan kasih sayang.
Harus merasa nyaman dan aman di rumah, supaya anak betah berada di rumah.

“Tempat belajarnya harus nyaman,” kata Lydia.

Selain itu seorang ibu harus paham soal strategi pendampingan, antara lain mengendalikan emosi dengan cara baik seperti menarik napas panjang ketika terjadi kejengkelan.

Mengendalikan emosi ini harus latihan, katanya. Kemudian sebagai pendamping harus luwes, tidak kaku, lalu menyimpan nama dan telepon teman-teman anak, orangtua anak dan guru untuk berkomunikasi, ketika ada sesuatu perlu ditanyakan.

Tidak kalah penting bagi sang ibu adalah membuat perencanaan untuk menentukan yang harus didulukan sebagai prioritas, dan mana yang dikerjakan belakangan.

Pengelolaan lingkungan belajar supaya anak betah belajar berlama-lama adalah penting. Namun seorang ibu harus paham seberapa lama kekuatan konsentrasi anak.

Anak umur 4 tahun rata-rata lama konsentrasi 8- 20 menit, umur 5 tahun 10- 25 menit, 6 tahun 12-30 menit, 7 tahun 14- 35 menit, 8 tahun 16- 40 menit, 9 tahun 18- 45 menit, 10 tahun 20- 50 menit, 11 tahun 22- 55 menit, 12 tahun 22- 55 menit.

Webinar yang dimoderatori oleh Dr Hediati, diikuti para pengurus IKWI pusat antara lain Sekretaris Umum Yani Rosdiana, Rabiatun, Leli Yuliawati, Rahmayulis Saleh, Ning Gerald, dan Rahmi Mulyati, serta anggota IKWI dari 23 provinsi di Indonesia. Jalannya acara dikendalikan dari pusat kegiatan di kantor PWI Pusat, Jakarta.



Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Lydia Freyani Hawadi: Orang Tua Harus Dibekali Pengetahuan Saat Dampingi Anak Belajar di Rumah, https://www.tribunnews.com/metropolitan/2020/12/16/lydia-freyani-hawadi-orang-tua-harus-dibekali-pengetahuan-saat-dampingi-anak-belajar-di-rumah.

Guru Besar UI: Gerakan pramuka efektif untuk bentuk karakter positif


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengatakan gerakan pramuka sangat efektif untuk membentuk karakter positif pada diri anak.

"Aktivitas kepramukaan ini sarat dengan muatan nilai-nilai baik yang dapat membentuk karakter positif," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Senin.


Oleh karena itu, Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menilai perlunya penguatan gerakan pramuka karena memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung pendidikan karakter bagi generasi muda.

Menurut dia, gerakan pramuka menanamkan nilai-nilai toleransi, kemandirian, jujur, gotong royong, dan nilai-nilai moral lain yang diperlukan seorang anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik.


"Kendati demikian, fokus utama tidak hanya terkait dengan penguatan program namun juga memastikan bahwa pesan pendidikan karakter melalui kegiatan pramuka bisa tersampaikan dengan baik kepada para peserta didik," katanya.

Prof Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional periode 2012-2014 itu juga mengingatkan mengenai perlunya memastikan bahwa nilai-nilai karakter tersebut telah terinternalisasi dalam diri setiap peserta didik.

"Pastikan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter menjadi bagian dari diri peserta didik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.


Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan dan Prestasi Olahraga Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Didik Suhardi mengatakan bahwa Kemenko PMK mendorong penguatan implementasi nilai-nilai revolusi mental dalam kegiatan pramuka.

Didik menjelaskan kegiatan pramuka sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sangat bagus dan strategis karena menanamkan nilai-nilai penting seperti gotong royong, kemandirian hingga kejujuran.

Kemenko PMK sebagai koordinator Gerakan Nasional Revolusi Mental, kata dia, terus mendorong penanaman nilai-nilai revolusi mental melalui kegiatan pramuka.

"Penanaman nilai-nilai revolusi mental dalam satuan pendidikan dapat direalisasikan melalui kegiatan pramuka," katanya.

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Pakar: Hari Guru Nasional momentum tingkatkan kompetensi


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi mengatakan Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November merupakan momentum untuk meningkatkan kompetensi pada era digital.


"Hari Guru Nasional merupakan momentum untuk terus mengembangkan kompetensi, keterampilan, dan sikap," kata Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Jumat.

Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini. Non-Formal dan Informal (PAUDNI) itu mengatakan peringatan Hari Guru Nasional juga momentum untuk melakukan refleksi sekaligus evaluasi.


"Dalam konteks peringatan Hari Guru Nasional maknanya adalah sebagai pengingat sejauh mana guru telah menjalankan fungsi, yang melekat erat dengan kata kompetensi. Kompetensi adalah komponen utama yang harus dimiliki guru sebagai pengajar, yang diberi amanat untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada siswanya," kata dia.

Dengan melakukan evaluasi diri dan refleksi diri, kata dia, seorang guru akan selalu terpanggil untuk memberi yang terbaik bagi siswanya.

"Sebagai contoh, selama masa pandemi sektor pendidikan tanpa disengaja dipercepat untuk masuk era 4.0 dengan mau tidak mau mendorong seorang guru untuk menguasai teknologi digital dalam mengajar dan ini harus menjadi gaya mengajar, tuntutan mengajar dalam new era," katanya.


Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan, peningkatan kompetensi, keterampilan, dan sikap harus terus dikembangkan pada era digital seperti sekarang ini.

"Kendati saat ini sudah tidak ada lagi pembelajaran jarak jauh atau PJJ namun keterampilan baru seperti menggunakan aplikasi zoom, google meetquizziz, gform, google classroom, dan lain sebagainya dalam proses belajar mengajar harus terus tetap digunakan. Karena memang ini era digital dan tuntutan mengajar semakin canggih," katanya.

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi digital bagi guru.

Plt. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK Aris Darmansyah Edisaputra mengatakan bahwa era teknologi digital yang berkembang pesat menjadi tantangan di bidang pendidikan yang perlu menjadi perhatian utama.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Guru Besar UI: Sekolah garda terdepan kawal perkembangan karakter anak


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengatakan sekolah merupakan garda terdepan dalam mengawal perkembangan karakter peserta didik.


"Setelah peserta didik memperoleh pendidikan karakter di rumah dari orang tua atau keluarga terdekat, maka sekolah akan menjadi garda terdepan yang mengawal berkembangnya karakter baik bagi seorang anak," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Minggu.

Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan bahwa sekolah akan makin memperkuat pendidikan dan nilai-nilai karakter bagi peserta didik agar dapat tumbuh sebagai pribadi yang berakhlak mulia.


Menurut dia, pendidikan karakter yang diberikan sejak dini yang bertujuan agar anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan berintegritas menjadi tugas orang tua.

"Orang tua yang berperan meletakkan fondasi akhlak, moral, dan perbuatan baik sebagai bekal sang anak untuk berinteraksi di lingkungan sosial yang lebih luas," katanya.

Setelah itu, pengetahuan moral baik atau pendidikan karakter yang diperoleh anak dari orang tua, keluarga atau lingkungan terdekatnya akan diperkuat oleh lingkungan yang lebih luas yang ada di sekitar anak.

"Lingkungan di sekitar anak yang dimaksud yaitu sekolah, tetangga sekitar, tempat ibadah, tempat les anak, intinya komunitas yang dapat menjadi pendukung bagi nilai-nilai baik yang diterima anak di rumah," katanya.


Dengan demikian, kata dia, agar pendidikan karakter di sekolah berjalan baik maka perlu kemitraan yang baik antara sekolah dan orang tua.

"Keluarga menjadi mitra sejajar untuk tercapainya tujuan pendidikan bagi seluruh siswa. Hubungan harmonis antara sekolah dengan keluarga merupakan hal esensial yang perlu dibangun untuk optimalisasi pendidikan anak di ranah akademik, sosial, dan emosional," katanya.

Prof Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional periode 2012-2014 itu mengatakan keluarga dan sekolah berperan penting dalam mendukung optimalisasi tumbuh kembang anak, khususnya dalam aspek pendidikan karakter.



"Keluarga dan sekolah memiliki pengaruh pada kinerja siswa secara menyeluruh. Apa yang ditampilkan anak merupakan hasil kerja sama antara sekolah dan orang tua atau keluarga di rumah," katanya.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Psikolog: Bentuk karakter anak agar tidak menjadi pelaku bullying


Jakarta (ANTARA) - Psikolog keluarga Ketti Murtini mengingatkan bahwa orang tua perlu membentuk karakter anak sejak dini agar tidak menjadi pelaku bullying atau perundungan.


"Orang tua dan anggota keluarga lain perlu mendampingi tumbuh kembang anak dan membentuk karakter anak sejak dini agar tidak memiliki perilaku bullying, atau juga tidak menjadi korban bully," katanya ketika dihubungi dari Jakarta, Minggu.

Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Tengah Cabang Barlingmascakeb itu menambahkan pendampingan orang tua akan membentuk konsep diri yang matang sehingga anak siap menghadapi berbagai permasalahan.

"Pendampingan orang tua harus dilakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang, namun dengan cara yang tepat," katanya.

Misalkan, kata dia, orang tua tidak boleh memberikan anak fasilitas dan bantuan yang berlebihan agar anak memiliki ketangguhan dan ketahanan diri jika suatu saat menghadapi kesulitan.

"Anak perlu juga merasakan kesulitan dan kegagalan agar dia memiliki daya tahan untuk menjalani kehidupannya di masa yang akan datang. Pendampingan orang tua diperlukan namun hanya dalam artian pendampingan, bukan membantu menyelesaikan semua masalah anak," katanya.


Dengan demikian, diharapkan anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.

"Bahkan jika suatu saat si anak menjadi korban bully diharapkan dia akan dapat menghadapi situasi tersebut dengan baik karena telah memiliki konsep diri yang juga baik," katanya.

Selain itu, kata Ketti, orang tua juga perlu mengajarkan anak agar memiliki empati dan kasih sayang terhadap sesama.


"Misalkan memberikan contoh keteladanan dengan cara orang tua mengajak anak membantu orang lain yang sedang kesusahan, atau memberikan teladan dengan berkata lemah lembut dan tidak menunjukkan kekerasan depan anak agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lemah lembut," katanya.

Dengan berbagai upaya tersebut, kata dia, diharapkan anak akan tumbuh menjadi pribadi berkarakter mulia yang jauh dari perilaku bullying.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengingatkan orang tua agar banyak memberikan kasih sayang pada buah hati mereka guna mencegah perilaku bullying.

"Salah satu upaya mencegah perilaku bullying pada anak adalah dengan cara mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang," kata Prof Lydia.
Pewarta: Wuryanti Puspitasari

Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Pakar: Beri anak banyak kasih sayang guna mencegah perilaku bullying


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengingatkan orang tua agar banyak memberikan kasih sayang pada buah hati mereka guna mencegah perilaku bullying.


"Salah satu upaya mencegah perilaku bullying pada anak adalah dengan cara mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Minggu.


Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan bahwa anak yang menjadi pelaku bullying atau perundungan biasanya adalah mereka yang pernah menjadi korban perundungan.

"Misalkan seorang anak yang pernah menjadi korban bully di rumahnya, karena tidak berani melawan otoritas maka si anak melampiaskannya di luar. Biasanya yang menjadi sasaran atau korban bully adalah anak yang lemah," katanya.

Karena itu, kata dia, salah satu cara mengatasi anak agar tidak menjadi pelaku atau korban perundungan maka tugas orang tua dan juga tugas masyarakat yang ada di lingkungan sekitar adalah mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang.

"Anak yang dibesarkan dengan cinta kasih dan rasa kasih sayang maka akan tumbuh sebagai individu yang utuh. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting karena akan menjadi modal untuk dia berinteraksi baik dengan teman-teman atau sebayanya," katanya.

Prof Lydia Freyani Hawadi menambahkan bahwa masa kanak-kanak adalah masa pembentukan yang akan menentukan kepribadian dan karakter anak pada masa yang akan datang.

"Masa pembentukan ini menentukan akan menjadi sosok individu apa dan bagaimana kelak. Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama berkewajiban mendampingi proses tumbuh kembang anak dan memberikan hal-hal yang menjadi kebutuhan anak sesuai tahap perkembangan," katanya.

Orang tua, tambah dia, juga memiliki tugas mengawal perkembangan anak dengan berlandasan nilai-nilai religius untuk jadi pegangan hidup sang anak pada masa yang akan datang.

"Selain itu yang juga penting adalah pemberian kasih sayang mutlak tanpa syarat atau unconditional love," katanya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Dr Seto Mulyadi atau lebih akrab disapa Kak Seto mengatakan penguatan pendidikan karakter merupakan kunci utama agar anak tidak jadi pelaku perundungan atau bullying.

"Pendidikan karakter menjadi kunci utama agar anak memiliki karakter yang berakhlak mulia dan penuh cinta kasih," katanya.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Guru Besar UI: Hari Anak Sedunia momentum penuhi hak pendidikan

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengatakan Hari Anak Sedunia yang diperingati setiap 20 November mengingatkan pentingnya pemenuhan hak anak untuk memperoleh pendidikan.


"Hari Anak Sedunia pengingat bagi orang tua, kondisi apapun anak harus dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan yang baik," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Minggu.


Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan, bahwa bagi pemerintah, Hari Anak Sedunia dapat menjadi momentum yang tepat untuk memastikan semua anak usia dini memperoleh pendidikan melalui program Satu Desa Satu Paud.

Dia juga menambahkan bahwa masyarakat juga turut memiliki peran penting dalam upaya pemenuhan hak anak untuk memperoleh pendidikan.

"Orang-orang yang ada di lingkungan sekitar anak tentunya akan menjadi contoh dan teladan bagi anak sehingga perlu memberikan teladan yang baik," katanya.

Menurutnya, berbagai faktor yang ada di luar diri anak akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Kendati demikian meskipun anak akan bertumbuh dan berkembang sesuai zamannya namun pendampingan orang tua dan masyarakat di sekitar sangat diperlukan.

"Tujuannya untuk memastikan bahwa anak bertumbuh dan berkembang tetap berbasis pada norma-norma agama dan adat istiadatnya," katanya.

Kemudian, dia menambahkan bahwa Hari Anak Sedunia juga menjadi momentum yang tepat untuk makin memperkuat program perlindungan terhadap anak.



"Program perlindungan anak perlu terus diperkuat, khususnya bagi anak perempuan agar dapat terlindungi dari perkawinan anak usia dini, kekerasan seksual pada anak, trafficking maupun pornografi," katanya.

Hal itu, kata dia, sangat penting, untuk mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) terkait dengan kesetaraan gender.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Dr Seto Mulyadi atau lebih akrab disapa Kak Seto mengatakan peringatan Hari Anak Sedunia yang diperingati setiap 20 November mengingatkan pentingnya pemenuhan hak-hak anak.

"Perlu menjadi perhatian bersama bahwa terdapat sejumlah hak dasar anak yang harus dipenuhi antara lain hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak perlindungan dan hak untuk berpartisipasi," katanya.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2022




UNESCO: Indonesia panutan penuntasan tunaaksara


Jakarta (ANTARA News) - Organisasi dunia di bidang pendidikan (UNESCO Institute for Lifelong Learning/UIL) menilai Indonesia sebagai panutan untuk negara-negara lain dalam penuntasan tunaaksara.


"Ini berkat kerja keras kita dalam membasmi buta aksara dan berhasil meraih King Sejong Award tahun lalu," ujar Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Lydia Freyani Hawadi di Jakarta, Selasa.


King Sejong Literacy Award adalah penghargaan yang diberikan UNESCO atas keberhasialan Indonesia dalam mengurangi jumlah tunaaksara lebih cepat daripada waktu yang ditargetkan, yaitu 7,5 juta orang pada tahun 2015. Namun, Indonesia sudah bisa mencapainya pada tahun 2010.

"Kita patut berbangga hati. Namun, tidak boleh lupa karena masih ada 11 juta warga Indonesia yang buta huruf dan ini harus segera dituntaskan," tambah Lydia.

Dalam kesempatan yang sama Lydia mengumumkan bahwa Indonesia menjadi anggota editorial Laporan Global Pembelajaran dan Pendidikan Orang Dewasa Ke-2 (Grale II), di samping menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Forum Kebijakan Internasional Pendidikan Keaksaraan dan Kecakapan Hidup bagi Remaja Rentan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

"Forum ini menjadi ajang untuk Indonesia berbagi pengalaman dalam menuntaskan tunaaksara," jelas Lydia.

Forum internasional yang berlangsung pada tanggal 20--22 Agustus 2013 di Jakarta ini, diikuti oleh 120 peserta dan 19 negara dari kawasan Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan Arab.

Forum itu bertujuan membuat kertas kebijakan internasional dalam memberikan kesempatan belajar bagi remaja rentan agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.

Forum tersebut juga mengundang Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau CLC (Community Learning Center) sebagai pusat edukasi literasi dan kecakapan hidup untuk masyarakat yang kurang beruntung karena keluar atau tidak mendapat sistem pendidikan formal.

"Di sinilah peran PKBM ditunjukkan bahwa pembelajaran sepanjang hayat itu penting dan memegang peranan yang strategis untuk pemberantasan tunaaksara," kata dia.

Pewarta: Maria Rosari
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Tumbuhkan kecintaan anak pada gizi sejak dini


Jakarta (ANTARA News) - Kecintaan anak pada gizi dan makanan bergizi perlu ditumbuhkan agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

Kecintaan pada gizi bisa dilakukan melalui kegiatan belajar dan bermain baik di dalam ruang kelas maupun di luar ruang melalui praktek langsung di lapangan.

Hal ini dikemukakan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, pakar gizi Dr Elvina Karyadi PhD dan Corporate Affairs Head Sarihusada Arif Mujahidin dalam acara diskusi Nutritalk Sarihusada.

Prof Lydia Freyani Hawadi menyatakan esensi dari pendidikan anak prasekolah dalam hal ini PAUD adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar.

"Semua nilai positif termasuk pengetahuan mendasar mengenai gizi perlu pembiasaan dan harus dilakukan secara terus menerus," kata Prof Reni Hawadi.

Gizi merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian Ditjen PAUDNI. Untuk mendukung  tumbuh kembang anak usia dini, segala kebutuhan esensi anak harus terpenuhi baik gizi, kesehatan, pendidikan, perawatan, pengasuhan, kesejahteraan dan perlindungan.

Program Ditjen PAUDNI adalah mendorong penyelenggaraan PAUD holistik integratif yang mencakup pendidikan dan layanan terhadap pemenuhan seluruh kebutuhan dasar anak termasuk kesehatan dan gizi mereka.

Sementara itu, Arif Mujahidin mengatakan, sebagai perusahaan penghasil nutrisi untuk ibu dan anak, Sarihusada memiliki kegiataan sosial yang memfokuskan pada edukasi gizi melalui program Ayo Melek Gizi dengan menggandeng berbagai pihak termasuk kalangan NGO, institusi pendidikan, maupun pemerintah.

"Kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai zat gizi dan kebutuhan pemenuhan zat gizi dalam pola makan sehari-hari khususnya pada 360 minggu pertama dalam kehidupan, mulai dari pra kehamilan hingga anak berusia 6 tahun," ujar Arif kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

Salah satu kegiatan yang dilakukan Sarihusada adalah pengembangan PAUD dengan materi ajar edukasi gizi langsung di lapangan pada PAUD Rumah Srikandi di Kemudo, Klaten. Pada PAUD ini memiliki Kebun Nutrisi dimana anak-anak bisa belajar menanam dan merawat sayur sayuran yang nantinya akan dipanen dan dikonsumsi oleh mereka. (*)

Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Sumber: Antara 

Guru Besar UI: Perkuat program peningkatan keterampilan peserta didik


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi menekankan pentingnya upaya memperkuat program peningkatan keterampilan peserta didik.

"Program peningkatan kapasitas keterampilan peserta didik merupakan hal yang sangat penting guna mencetak generasi unggul dan berdaya saing," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Selasa.

Prof Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional periode 2012-2014 itu, menjelaskan peserta didik perlu memiliki keterampilan sebagai bekal dirinya saat memasuki dunia kerja.

Dia menambahkan program peningkatan keterampilan peserta didik juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Terlebih lagi bangsa Indonesia akan segera menyambut bonus demograf, sehingga peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu prioritas bersama," katanya.

Terkait bonus demografi, kata dia, dengan adanya peningkatan jumlah usia produktif, pemerintah harus berupaya membuka peluang lapangan pekerjaan seluas-luasnya agar potensi kreatif produktif penduduk tersebut bisa membawa kesejahteraan bagi dirinya dan keluarga.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Warsito menambahkan bahwa program peningkatan kualitas SDM terus digencarkan guna mewujudkan generasi emas dan berkualitas.

Dia menjelaskan bahwa program pembangunan SDM menjadi prioritas utama pemerintah untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara maju pada tahun 2045.

Menurutnya, semua pihak harus berkolaborasi dalam menyukseskan program peningkatan kualitas SDM mengingat momentum bonus demografi harus dimanfaatkan dengan baik.

"Mulai dari pemerintah di tingkat pusat dan daerah, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, hingga media massa berperan sangat besar dalam upaya meningkatkan kualitas SDM, sehingga perlu sinergi dan kolaborasi yang kuat di antara seluruh pihak," katanya.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Sumber: Antara 

Kamis, 31 Maret 2022

Bimbingan Sepanjang Hayat Bersama Prof. Reni

Oleh: Rini Setianingsih, M.Psi, Psikolog | Psikolog dan Kepala SD Avicenna Cinere (Medco Group)

Kalau ditanya siapakah pakar Psikologi Pendidikan? Mungkin jawaban "Prof. Reni" bukanlah jawaban yang salah. Beliau istiqamah dalam mengajarkan ilmu psikologi dalam konteks pendidikan selama puluhan tahun. Wabil khusus mengenai psikologi keberbakatan. Beruntung sekali, tesis saya tentang anak berbakat bisa dibimbing langsung oleh ahlinya, Prof. Reni Hawadi.

Saya bertemu beliau ketika mengambil kuliah magister profesi psikologi di UI. Ketika berkuliah S1 psikologi, saya belum bertemu beliau di ruang kelas. Ketika kuliah profesi ini, saya cukup intensif bertemu beliau. Karena di semester terakhir, kasus sistemik, kasus siswa SMA, dan tesis saya dibimbing langsung oleh beliau. Sungguh pengalaman yang sangat menantang.

Mengapa menantang ? Karena ketika belajar bersama Prof Reni kita harus sudah dalam keadaan "setengah penuh". Kita perlu mengisi otak kita dengan informasi materi yang akan dibahas. Jadi gak kosong-kosong banget lah ketika masuk ke kelas Prof. Reni. Sebelum pemaparan, Prof.Reni sering kali memberikan kuis baik secara lisan maupun tulisan. Nah kuis lisan inilah yang sering menjadi momok mahasiswa. Sampai muncul istilah "Cerdas Cemas". Format kuis lisannya seperti tanya jawab lomba cerdas cermat, namun menimbulkan kecemasan pada semua pesertanya hehe..

Pernah suatu ketika saya dan teman presentasi tugas kuliah. Setelah presentasi, ada tanya jawab dari Prof. Reni. Teman saya terlihat cemas dan menjawab pertanyaan Prof. Reni dengan gelagapan. Alhasil nilai teman saya mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, dan langsung dituliskan di atas paper teman saya. Bener deh, kalau mau masuk kelas Prof .Reni kita gak boleh masuk dengan Otak dan hati yang kosong. Semua harus diisi dan disiapkan agar selama belajar pun  kita bisa berdiskusi dengan baik. Bayangkan jika kita tidak punya informasi apapun, kita pasti akan kesulitan memahami apa yang sedang dibahas.

Begitu pula ketika ingin bimbingan. Kita harus sudah siap dengan paper kita. Sudah merevisi apa yang diarahkan oleh Prof. Reni dan menandai revisinya. Ditandai dengan sticky note di halaman yang perlu direvisi. Ketika bimbingan perlu membawa file lama dan file yang sudah direvisi. Lalu ketika bertemu Prof. Reni, harus disandingkan file lama dengan file revisi. Jika ketika dicek tidak ada perubahan (tidak direvisi), habislah kita wkwkw…

Meskipun terkenal sebagai dosen killer, Prof. Reni tetaplah seorang ibu yang bisa kita teladani dalam hal keibuannya. Beliau selalu bercerita tentang anak-anaknya dan betapa hebatnya mereka. Kebetulan ada satu anak Prof. Reni yang seumuran dengan saya dan  saat itu sedang menjalani S3 di Belanda, sehingga relate dengan saya yang juga sedang lanjut kuliah. Hal yang perlu diteladani dari beliau sebagai ibu bekerja adalah bagaimana menyeimbangkan waktu antara karir dan mendidik  enam  anak beliau yang sukses. Dengan karir beliau yang tokcer sebagai dosen dan cukup muda untuk menjadi Doktor di usianya 36 tahun, saya salut sekali karena antara urusan rumah dan pekerjaan berjalan seimbang.

Pengalaman paling berkesan saya selama mengenal Prof. Reni adalah ketika bimbingan tesis. Ketika proses bimbingan dengan Prof. Reni, beliau sedang menjalani pendidikan di Lemhannas dan masih mengajar di  Program Studi Kajian  Timur Tengah dan Islam  (PSKTTI) Program Pascasarjana Universitas Indonesia di Salemba serta Universitas Al Azhar Indonesia (UAI)  di Kebayoran Baru. Selain itu, saya perlu mengambil data penelitian di daerah Panglima Polim. Luar biasa perjuangan saya untuk penelitian dan bimbingan, racing naik motor antara Depok-Salemba-Lemhanas-Panglima Polim-Blok M-Jatiwaringin (rumah saya). Sepanjang jalan shalawatan biar gak macet, ataupun nyasar agar tidak telat.

Ngomong-ngomong soal nyasar, saya juga pernah nyasar mencari rumah Prof. Reni untuk mengumpulkan tesis akhir (kalau gak salah itu berkas revisi setelah sidang). Waktu itu Prof. Reni minta dikumpulkan tesis revisi ke rumahnya di Duren Sawit jam 6 pagi. Kebetulan saat itu bulan puasa. Sejak semalam saya mengecek revisi dan typo apakah masih ada atau tidak, sampai tidak tidur. Karena harus sudah betul dan di print. Namun namanya hidup ya, tidak ada yang lancar. Tesis revisi sudah siap, setelah shalat subuh, ketika menuju rumah Prof Reni saya tidak menemukan persisnya dimana rumah Prof Reni. Mungkin karena masih subuh, saya gak terlihat jelas nomer rumah Prof. Reni. Saya muter-muter di kompleknya. Sampai nangis saya. Akhirnya saya telat sekitar 10 menit dan Prof Reni sudah berangkat. Alhamdulillah, bisa dititipkan kepada orang yang ada di rumahnya.

Pengalaman telat juga pernah terjadi ketika janjian bertemu Pro.f Reni di   UAI. Kalau tidak salah untuk meminta tanda tangan beliau, untuk mengumpulkan naskah sidang. Diinformasikan bahwa jadwal bertemu maju sekitar 30 menit dari seharusnya. Dan saya tidak bisa memenuhinya karena saya dari Jatiwaringin. Terlambat lah saya dan Prof. Reni sudah tidak ada. Beliau juga mungkin sedang ada urusan lain, sehingga tidak bisa dihubungi. Saat itu saya kalut, sedih bukan main. Saya menelepon ibu saya sambil menangis. Saya gatau apa yang harus saya lakukan. Akhirnya diminta ibu saya berdoa. Lalu saya shalat Dhuha di Masjid Agung Al Azhar. Saya masih tidak tau apa yang harus saya lakukan. Entah kenapa terpikir untuk bercerita dengan Bu Iin (dosen koordinator kami). Lalu saya janjian dengan Bu Iin di Depok. Alhamdulillah beliau bisa. Saya bertemu dan bercerita apa yang baru saya alami sambil menangis. Bu Iin pun menjadi mediator kami, dan menghubungi Prof. Reni agar si anak bocah ini diberikan kesempatan untuk bertemu. Karena memang sudah tinggal naskah akhir sebelum sidang. Sedih sekali jika tidak lulus karena hal ini. Alhamdulillah setelah dihubungi Bu Iin, Prof Reni mau memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dan meminta tanda tangan. Akhirnya saya bisa sidang dan lulus di semester tersebut.

Meskipun demikian, Prof Reni ini sangatlah mensupport karir saya sebagai psikolog. Beberapa kali saya ditawarkan menjadi psikolog asonger di biro beliau, diajak penelitian dan memegang proyek dengan klien yang banyak. Beliau juga mau membantu mengisi sesi parenting ketika saya bekerja di sekolah. Saya juga pernah diminta membantu beliau menjadi pelatih untuk guru PAUD se-Indonesia dari organisasi beliau.

Selama kita menunjukkan perfoma terbaik kita, tanggung jawab, dan tepat waktu insyaallah Prof.Reni akan percaya sama kita dan banyak peluang rezeki yang datang melalui beliau. Terimakasih Prof .Reni atas segala bimbingannya, baik selama saya menempuh pendidikan profesi hingga saat ini saya berkarir di sekolah. Semoga Prof. Reni selalu sehat, dan diliputi keberkahan atas ilmunya yang bermanfaat. Selamat ulang tahun Prof. Reni, barakallah fii umrik.

Kamis, 03 Maret 2022

Disiplin, Tegas, Detail, dan Terbuka Untuk masukan

Oleh: Ruben Tim Hardian, M.Psi. Psikolog | Eks Ketua Tim Sukses Pemenangan Himpsi Jaya 


Suatu hal yang baru bagi saya untuk menulis suatu tulisan dalam suatu blog (karena tidak terbiasa tulis menulis he..he..he..) 😊 Suatu hal baru tidak akan bisa terjadi kalo tidak dicoba..betul tidak…Baiklah saya coba menuliskan cerita singkat terkait senior psikolog saya yaitu Mbak Reni Hawadi..Bismillah…

Saya sejujurnya sudah mengenal lama Nama “RENI AKBAR-HAWADI” itu sebagai nama Biro Konsultasi Psikologi..ya sekitar tahun 2004 an gegara pernah diajak ikut “ngasong” oleh rekan-rekan senior Psikologi UI (walau saya alumni Psi YAI 😊) tapiii belum pernah satu kali pun ketemu sama empunya Biro yang infonya salah senior Psikolog terbaik dalam dunia pendidikan (nasib oh nasib sebagai anak junior kali yaa). Selang waktu berjalan sejak tahun 2004 an tersebut saya gak pernah lagi terlibat dalam kegiatan ngasong mengasong terutama di Biro Reni Akbar-Hawadi  (karena sudah kerja kantoran sejak tahun 2007) dan seakan leyap dalam ingatan seiring waktu berjalan tahun ke tahun.

Nah..sampai suatu moment yang gak disangka-sangka, akhirnya saya mengenal kembali nama mbak Reni Akbar-Hawadi, bahkan bukan mengenal tetapi menjadi lebih dekat dan akrab (mudah2an gak dianggap SKSD – Sok Kenal Sok Dekat- ya Mbakku).

Cekitdot..Awal cerita yaitu pada Tahun 2020 saya mendapatkan mandat dan amanah menjadi Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Musyawarah Wilayah (Muswil) HIMPSI DKI Jakarta Raya (Muswil Himpsi Jaya) yang tupoksi (tugas pokok fungsi) seperti tertuang dalam  AD/ART Himpsi. Singkat cerita saya selaku Ketua Panpel Muswil akhirnya sampai pada satu tahapan dari beberapa tahapan yang disusun, yaitu saya harus mencari figur Calon Ketua Wilayah DKI Jakarta-  HIMPSI Jaya sebagai bentuk pesta demokrasi. Figur ini akan menjadi pesaing posisi petahana yang berencana akan maju kembali dalam ajang  pemilihan. Prinsip saya sebagai Ketua Muswil (yang mana ini penunjukkan ketiga kali sebagai Ketua Panpel  Muswil berturut-turut) dalam pelaksanaan Muswil harus menjadi cermin representatif “Pesta Demokrasi” bagi  anggota Psikologi Himpsi Jaya.

Mudahkah dapat figure yang dimaksud? Kan senior-senior Psikologi di Jakarta banyak.. Pasti banyak lah…tapi alangkah susahnya karena pada umumnya mereka menolak dengan berbagai alasan. Sementara hari berjalan terus mendekati dateline  batas pengumpulan  berkas, saya sampai frustasi karena H-4 tenggat waktu posisi calon masih Mas Widura sang  incumbent.  Untungnya tidak lama di siang hari saat saya memikirkan siapa yang harus saya kontak untuk ikut meramaikan pesta demokrasi Himpsi Jaya, salah satu Pengurus Himpsi Jaya aktif menginformasikan via telephone ada psikolog senior UI yang berminat dan berkualifikasi..wah siapa ya ?? (saya bergumam dalam hati).

Akhirnya saya mengetahui siapa yang dimaksud berminat, saya ketahui namanya dari form pendaftaran..wah ngerriii lihat profilnya…namanya beliau “Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.Si, M.M, Psikolog” sebagai Guru Besar UI dengan segudang pengalaman berorganisasi..jujur..awalnya saya tidak tahu dan kenal siapa beliau..namun setelah beberapa kali berkomunikasi (karena kebutuhan kelengkapan berkas-berkas pendaftaran) akhirnya saya tahu beliau yang dimana dikenal dengan sebutan nama “Reni Akbar-Hawadi” (OMG setelah 17 tahun berlalu saya akhirnya bertemu sama si Empunya kantor konsultan psikologi terkenal tersebut). Dalam perbincangan bersama beliau saya akhirnya mengetahui hal-hal apa yang membuat beliau berminat dan berkeinginan maju sebagai Calon Ketua Himpsi Jaya periode mendatang. Mbak Reni menyebutkan bahwa beliau terpanggil karena prihatin sekali melihat kondisi Himpsi Jaya (rupanya sesaat di approach untuk maju jadi calon Ketua Himpsi Jaya, mbak Reni langsung cari tahu apa yang membuat tidak satu pun yang maju untuk mencalonkan diri dari beberapa orang yang dikenalnya sangat dekat).

Dalam perjalanan pendaftaran tidak sedikit bahkan cukup banyak senior-senior Psikologi yang menyampaikan kepada saya kalo Mbak Reni Hawadi  itu “Killer”, “Kaku”, “Agamais”, dan lain-lain bahkan sampai juga ke telinga ada black campaign yang mendeskreditkan dengan beberapa statement.  Saya merasa tidak menjadi masalah karena itulah proses demokrasi yang menjadi bagian proses  kedewasaan dalam pemilihan nanti. Setiap calon kandidat pasti ada kelebihan dan kekurangan, pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka..normatiflah..show must go on. Disini saya melihat Mbak Reni Hawadi sebagai seorang sosok yang tangguh bisa melewati berbagai bentuk hantaman..terjangan  dalam kampanye hitam yang dihembuskan. Mbak Reni bisa tetap fokus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin bahkan menurut saya sangat serius sekali untuk merancang kegiatan kampanyenya.

Saya merasakan proses persiapan pelaksanaan Calon Ketua Wilayah DKI Jakarta- HIMPSI Jaya Periode 2021-2026 penuh jalan berliku dan berkerikil tajam.  Di hari penutupan pendaftaran bakal calon untuk melengkapi persyaratannya, jadi sudah hampir diujung pelaksanaan Muswil, tiba-tiba karena satu dua hal akhirnya saya harus berkata “Give Up”. Saya memilih mengundurkan diri dan menyerahkan kembali  mandat sebagai Ketua Panpel kepada Ketua Himpsi Jaya. Hal tersebut juga saya sampaikan kepada Mbak Reni Hawadi sebagai salah satu calon kandidat bahwa saya mengundurkan diri namun tanpa menyebutkan alasan sebenarnya. Mbak Reni di ujung telpon terlihat sangat terkejut dan langsung bertanya “ada apa ben koq kamu sampai mengundurkan diri? Saya tidak bisa menjelaskan. Rupanya pertanyaan itu tes…karena  mbak Reni sudah tahu bahkan bisa menganalisis apa-apa yang terjadi di tubuh Himpsi Jaya. Mbak Reni punya data dan  informasi yang cukup  akurat tentang apa dan bagaimana Himpsi Jaya selama ini dijalankan. Keprihatinan ini yang membuat mbak Reni  terus maju. 

Setelah mengundurkan diri dari Ketua Panpel Muswil Jaya, saya benar-benar tidak berkomunikasi dengan dua  bakan calon  selama satu minggu karena saya mau menenangkan diri sejenak dari kepenatan fisik mental selama masa-masa persiapan. Pas satu minggu saya ber”henti” dari dinamika Muswil, ternyata Mbak Reni Hawadi menelpon menanyakan kabar saya..”Haii Ben..Apa kabar”…saya jawab kabar baik Mbak..kemudian Mbak Reni Hawadi bertanya “Ben..gimana udah seminggu berehat..mau bantu saya enggak” eits bingung saya…”bantu apa Mbak”..dijawab dengan santai mbak Reni Hawadi “Bantu saya jadi Ketua Pemenangan Pemilihan Ketua Himpsi Jaya”…Saya balik bertanya “loh kok saya Mbak, kan masih banyak senior-senior lain? Akhirnya mbak Reni bilang “ Kamu orang yang sangat tepat dan cocok saat ini, Ben” seraya  menyampaikan beberapa Misi, Visi dan Rencana Program Kerja, yang mana saya ingat ada beberapa poin penting yaitu :

1.   Kepemimpinan HIMPSI Jaya periode 2021-2026 menjadi masa transisi kepemimpinan ke generasi muda. Generasi baby boomers harus dikurangi jumlah dan perannya di Himpsi Jaya. Mulai melakukan kaderisasi, mengajak dan mempercayakan  generasi milenial untuk menduduki posisi strategis di organisasi.

2.   Kepengurusan akan diisi dengan melihat keterwakilan dari alumni-alumni Fakultas Psikologi dari Perguruan-Perguruan Tinggi yang ada di Jakarta. Dan meningkatkan  peran aktif dari asosiasi/ikatan peminatan psikologi.

3.   Melakukan terus menerus sosialisasi tentang HIMPSI Jaya pada alumni perguruan tinggi agar bisa menjaring kader-kader  organisasi terbaik kedepannya, sehingga tidak terjadi stagnasi.

Saya menyimak paparan  Misi, Visi dan Program Kerja yang khusus dipaparkan Mbak Reni Hawadi via zoom, setelah selesai saya menjawab “Ehmm..kasih waktu ya Mbak untuk berpikir” (walau bingung karena ada beberapa info dari senior yang kurang baik)..namun setelah beberapa hari saya memberikan jawaban setelah ditanya kembali…”Siap Mbak Reni..Saya siap membantu dengan mengucap Bismillahirohmanirohim…”

Inilah  kerjasama perdana atau pertama kali saya dengan Mbak Reni Hawadi, tidak ditutup mata ada beberapa hal yang harus saya sesuaikan dengan gaya beliau yang  serba cepat, grabak grubuk, siap sana, siap sini, kirim ini kirim itu dll merupakan menjadi bagian dari kesehari-harian saya dengan tim sukses Mbak Reni..Kita semua menikmati karena Mbak Reni Hawadi membawa tim ini menjadi bagian dari “Keluarga” bukan “atasan-bawahan”, yang terkadang dalam kegiatan tersebut diisi dengan canda dan tawa, baik saat online meeting berlangsung atau di dalam WhatsApp Group (Wag). Dari proses menjadi Tim Sukses itu semua ada yang saya paling suka, yang bisa menjadi nilai pembelajaran bagi saya selama berkerjasama,  yaitu Mbak Reni :

1.   Pribadi yang Disiplin Waktu (ternyata anak kolong-anak tentara…sama-sama anak FKPPI)

2.   Pribadi Tegas, Detail dan Cerdas (Ya iyalah kan sudah mencapai jenjang Guru Besar UI dan menjadi Ketua Dewan Guru Besar UI )

3.   Pribadi yang terstruktur, terorganisir dan terencana/sistematis (mau semua direncanakan dengan matang dan terstruktur dengan baik)

4.   Pribadi Terbuka akan masukan (tetapi dengan alasan yang rasional, yang irasional pasti langsung take out he..he.he)

Perencanaan materi kampanye disusun dengan baik dan matang, tim dibentuk dengan kumpulan anak-anak muda lintas Universitas ( Al Azhar, UI, YAI,Pancasila, Atmajaya, Tarumanegara, UIN, dll), koordinasi masa/dukungan cukup rapi dan via online (maklum zaman Covid-19) namun kehendak Tuhan berkata lain..”Mbak Reni kalah suara dari petahana tetapi suatu rekor bisa mendapatkan perolehan suara dua digit “(amazing – dimana muswil sebelum-sebelumnya yang kalah, suaranya selalu dibawah dua digit).

Memang waktu bekerjasama dengan mbak Reni  tidaklah terlalu lama (sekitar delapan minggu) tetapi pembelajaran tersebut sangatlah berarti dan mengena pada diri saya…”Thanks ya Mbak Reni Hawadi udah mau menjadi mentor gratis buat saya, kalaupun harus bayar berapalah harus dikeluarkan untuk dimentor dengan sekaliber Dewan Guru Besar UI qiqiqi.(kapan-kapan saya minta sertifikat nya ya Mbak 😊)

Oh ya..saya buat tulisan ini di awal maret…dibulan Maret ini ada tanggal istimewa buat Mbakku Reni Hawadi tanggalan cantik di tanggal 22 Maret..dibuka dengan Pantun

….”Bunga Anggrek berwarna-warni, Anggrek Putih menghiasi taman berseri, selamat Ulang Tahun Mbakku Reni, Hidup Bahagia dalam Alunan Symphoni Psikologi”…

Semoga Selalu diberikan Kesehatan, Kebahagiaan dan Keikhlasan Lahir Bathin untuk Mensiarkan dan Menjaga Marwah Ilmu Psikologi.. Aamiin Yaa Robbalallamin..

***

Selasa, 01 Maret 2022

Your favourite color is Red

Oleh: Keke Soerjokusumo

Saya kenal  dekat dengan mbak Reni  13 thn yang lalu setelah saya menikah dengan salah satu adik laki-lakinya, Renaldi Hawadi. Keluarga suami saya adalah keluarga besar yang berasal dari Minang dan Sunda, dan saya dari keluarga kecil yang berasal dari Jawa.  Jadi saya dan suami berusaha untuk menyesuaikan dengan perbedaan yang ada. Saya selalu merasakan  keceriaan dan kegembiraan ketika berkumpul dengan keluarga besar Hawadi. Seiring dengan berjalannya waktu saya mulai berkenalan dengan semua kakak dan adik ipar saya, semuanya pinter – pinter, sarjana semua dan bekerja pada passion nya masing - masing.

Mbak Reni  sebagai kakak yang paling tua  dengan segudang titlenya dan kegiatannya yang luar biasa untuk selalu memberi manfaat buat orang banyak orang, yang paling saya notice selalu pake baju dengan warna terang.  Warna yang paling sering adalah warna merah, sepertinya itu warna kesukaannya mbak Reni, jadi dari jauh sudah kelihatan kinclong hehehehehe..Mbak Reni memang pernah bilang kalau  ia lebih confidence memakai warna clear red. Alasan lain  mengapa merah menjadi  favourite colornya mbak Reni,  karena  merah adalah warna aura zodiac Aries nya mbak Reni. Merah  memberi kesan powerful, energetic, creative dan passionate. Saya memang merasakan  dan menangkap kesan yang sama dalam diri kakak ipar saya satu ini, mbak Reni itu  tidak pernah kelihatan capek, selalu tampak ceria, dan penuh semangat 45 dalam kondisi apapun.

Dengan segudang profesi, pekerjaan dan kegiatannya  yang membuat saya salut mbak reni adalah seorang istri dan ibu yang baik bagi suaminya Bang Idjul dan anak- anaknya, dan sekarang juga sudah menjadi nenek dari cucu – cucunya.  Hal lain  yang  berkesan dari mbak Reni, ia selalu memberikan pemahaman agama Islam yang baik kepada keluarganya, kelihatan saat saya dan keluarga  beserta keluarga besar Hawadi  sedang holiday ke Bali. Mbak Reni  mendidik anak - anaknya sholat harus selalu didahulukan. Oia dalam menikmati liburan, mbak Reni  agak berbeda dengan yang lain.. Ia lebih suka mengajak keluarganya untuk pergi menikmati museum daripada belanja  hehehehe...               

Mbak Reni dan bang Idjul sering jalan-jalan, dan satu hal yang nggak pernah lupa selalu membawakan oleh-oleh untuk keluarganya  darimana pun dia pergi baik itu kunjugan dinas atau berlibur.  Doa saya untuk mbak Reni dan keluarga semoga selalu sehat , diberikan umur yang barokah dan selalu dilindungi Allah SWT. Love always.

Jakarta, 27 Februari 2022

Keke Soerjokusumo

 

Sabtu, 26 Februari 2022

Two thumbs up for you

Oleh: M. Ismail Akbar

Awalnya saya kenal, Reni Hawadi namanya. Setelah berlanjut menjadi adik ipar, Reni menikah dengan adik saya Zulkifli Akbar yang lebih bekend dengan panggilan  Idjul Akbar, sebutan nama Reni pun  berubah. Ia pun menjadi dikenal publik dengan nama Reni Akbar-Hawadi.  Boleh dikatakan Reni cinlok dengan Idjul temannya sesama Fakultas Psikologi UI. Mereka sudah dekat sejak mahasiswa dan selalu bersama-sama dalam berkegiatan di kampus. Setahu saya  keduanya aktivis UI. Reni menjadi pacar Idjul satu-satunya, karena praktis di setiap acara keluarga besar, hanya Reni lah yang dibawa oleh Idjul. Mereka menikah setelah berpacaran enam tahun dan setahun setelah Reni diwisuda menjadi Sarjana Psikologi.

Saya cerita sedikit tentang  adat Minangkabau. Ibunya Reni orang Minang Asli. Kita ketahui bersama  Minangkabau menganut sistem Matrilineal, sehingga  hal inilah yang membuat acara lamaran adik saya Idjul menjadi istimewa dibandingkan saya. Istri saya orang Sunda, jadi  acara lamaran dilakukan mengikuti adat Sunda yaitu laki-laki melamar pihak perempuan.  Nah.. untuk  Idjul ini, acara meminang dilakukan oleh pihak perempuan ke pihak laki-laki.  Keluarga besar Ibu Reni yang berasal dari Alang Lawas masih sangat  teguh memakai tata cara adat Minangkabau. Urutan acara dalam adat Minang untuk melamar diikuti sepenuhnya mulai dari maresek, maminang, batukar tando, serta baretong dan manuak hari. Utusan  dari pihak keluarga mami Reni, yaitu ninik mamaknya ternyata telah mengenal sangat baik dengan orangtua kami. Saya masih ingat dari cerita yang disampaikan, yaitu saat zaman Jepang mereka evakuasi dari Padang ke Painan. Di kota Painan inilah perkenalan terjadi, saat papa kami, Dr.H. Ali Akbar menjadi dokter setempat.

Reni berkarir sebagai PNS, dosen di almamaternya UI sedangkan Idjul menjadi PNS di Pusdiklat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).  Sambil berkeluarga  Reni juga konsisten dengan pilihan hidupnya bekerja sebagai dosen. Ia sangat paham bahwa  harus terus melanjutkan pendidikannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan. Pendidikan S2 ditempuh Reni sambil mengandung anak ketiganya, Ardha Renzulli Akbar dan  begitu juga dengan saat melanjutkan program doktor Reni tengah mengandung anak keempatnya, Poeti Nazura Gulfira Akbar. Demikian seterusnya hingga Reni bisa  mencapai jenjang jabatan fungsional akademik tertinggi Profesor di Universitas Indonesia... ck..ck..ck.. sebuah capaian yang luar biasa, bagi saya yang juga berkiprah didunia pendidikan... Two thumbs up for her! Alhamdulillah.

Hal lain yang juga saya kagumi dari Reni, sudahlah begitu sibuk hari-harinya di dunia pendidikan selaku staf pengajar maupun psikolog praktek, namun soal keluarga Reni tidak abai mengurus enam anaknya. Keseluruhan tiga pasang anaknya  (Reni Idjul memiliki tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan) terurus baik hingga masing-masing anak dapat  menamatkan pendidikan tingginya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bergengsi.  Alhamdulillah...

Saya juga mengagumi melihat bagaimana Reni mengantar empat anaknya hingga jenjang pernikahan. Reni mengurusnya semua sendiri, hingga tetek bengek soal penataan ruang resepsinya, menu, pengisi acara dan lain sebagainya hal-hal detil tidak luput dari perhatiannya. Ini semua menjadi sebuah kepuasan sendiri baginya.

Dilain hal, di era pemerintahan Presiden SBY, Reni diberi kedudukan eselon 1a selaku Direktur Jenderal PAUDNI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan R.I.. yaa Reni menjadi  pejabat negara. Kesibukannya meningkat sering wara wiri keliling daerah Nusantara NKRI, banyak kabupaten/kota, provinisi telah dijelajahi Reni sebagai bagian dari pengabdiannya pada bangsa dan negara untuk memenuhi target yang ingin dicapainya Satu Desa Satu PAUD. Kelihatannya enak... melelahkan tentuuuunya…

Hal lain yang saya kagumi dari ipar saya ini, Reni termasuk etikanya dalam mempererat persaudaraan,  jauh dimata dekat dihati. Misalnya, ia  berkirim rempeyek se”blek" (sebutan kaleng yang dibuat dari seng untuk menyimpan makanan kering) kata orang Betawi.  Supir mengantarnya  menjelang puasa  ke kami   delapan  bersaudara kakak, adik ipar dari suaminya dan tanpa harap kan balasan. Begitulah caranya tersendiri.

Tak terhitung nilai positif yang kami rasakan darinya dan Idjul, tak cukup kata terucap, berlembar-lembar kertas kurang rasanya untuk menuliskan kebaikan dari Reni, walau pasti ada kurangnya namun tak seberapa. Semoga sukses berlanjut adikku Prof.Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.Si.,M.M., Psikolog beserta  suami tercinta Drs. H. Zulkifli Akbar, M.Si.Psikolog dan seluruh anak mantu cucu,  do'a kami sertakan untuk kalian. Aamiin ya Rabbal’Alamin.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia