Jumat, 13 April 2018

Lewat CSR, Korporasi Diharapkan Bantu Pendidikan Anak Usia Dini

Institusi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kian menjamur di kota-kota besar. Biasanya, mereka memasang biaya yang mahal bagi pendidikan anak. Tingginya biaya ini menjadi ganjalan bagi masyarakat tidak mampu. Untuk itu, perusahaan dan Pemerintah diharapkan bekerja sama menyelesaikan problem tersebut.
 
Mae Chu Chang, Ahli Pendidikan Utama Bank Dunia Indonesia, kepada SWA Online, di Jakarta, Senin (5/11/2012), mengatakan, “Sektor swasta memang harus memasang harga untuk bisnisnya agar bisa bertahan, tetapi Pemerintah harus mendukung yang miskin karena mereka tidak mampu membayar  biayanya.”

Dia bilang, biaya yang dipatok ke siswa diperlukan untuk membayar guru dan hal lainnya. Ini adalah suatu hal yang tak bisa ditampik. Akan tetapi, kata dia, perhatian juga diperlukan untuk anak tak mampu. Menurutnya, Pemerintah harus turun tangan dengan memberikan subsidi.

Atau, ia melanjutkan, pihak swasta dapat memberikan semacam beasiswa kepada masyarakat tak mampu. “Jadi itu sangat baik bagi sektor swasta untuk bisa ikut serta, bisa dengan memberikan beasiswa,” tambah dia.

Sejak tahun 2007, Bank Dunia dengan Pemerintah Kerajaan Belanda berusaha membantu Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses pada layanan Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Proyek PPAUD ini telah dilaksanakan di sekitar 3.000 desa di seluruh Indonesia.

Lydia Freyani Hawadi, Dirjen PAUDNI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyebutkan, dari jumlah anak usia dini sekitar 31 juta, yang baru terlayani hanya 34,5 persen. Masih ada sekitar 20 juta anak usia PAUD, yakni 0-6 tahun, yang belum terlayani.

Untuk melayani keseluruhan anak, ia bilang tidak bisa hanya mengandalkan dana APBN saja. Pemerintah Daerah juga perlu mengalokasikan APBD-nya.  Lalu, Lydia pun menyebutkan, Pemerintah juga akan segera bertemu dengan pihak swasta untuk membicarakan pengembangan PAUD. “Kita akan ketemu dengan pihak swasta,” ujarnya.

“Kita ajukan kepada pihak swasta, kamu mau yang mana bantunya? Apakah bantu melalui kualifikasi, atau beasiswa, atau biaya operasional pendidikan, sarana prasarana, atau honor ininya. Jadi ada item-itemnya,” papar Lydia.
Disebutkan dia, pemberian bantuan dari pihak swasta tersebut bisa melalui kegiatan sosial perusahaan (CSR). Cara kerjanya, jelas dia, Pemerintah akan mendata kabupaten-kota yang secara finansial perlu dibantu. Itu dilihat dari indeks kemampuan fiskal yang paling rendah. “Yang rendah ini harus dibantu oleh APBN dan kita dorong untuk dapat CSR,” pungkasnya. (Ester Meryana)

Sumber:  https://swa.co.id/swa/csr-corner/lewat-csr-korporasi-diharapkan-bantu-pendidikan-anak-usia-dini

6 Hal Penting Pendidikan Anak Usia Dini dan Menurut Para Ahli

Saat si Kecil memasuki usia pra sekolah, Mam mungkin mulai berpikir untuk mendaftarkannya ke playgroup atau kelompok bermain. Tetapi, apakah Mam sudah memahami tujuan utama memberikan si Kecil pendidikan anak usia dini?

Sebelumnya, Mam perlu mengetahui bahwa sejak tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mewajibkan setiap anak untuk mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) setidaknya selama setahun, sebelum masuk jenjang sekolah dasar (SD). PAUD dianggap sebagai tahapan penting bagi perkembangan setiap anak. Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), yang biasa disapa Prof. Reni mengatakan, kegiatan di PAUD dapat memberikan rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak usia pra sekolah.

Pendidikan yang diberikan untuk anak usia 3-6 tahun tidak hanya bertujuan mengenalkan anak pada bidang-bidang pelajaran ataupun melatihnya berinteraksi dengan anak sebaya. Lebih jauh dari itu, PAUD memiliki fungsi utama mengembangkan semua aspek perkembangan anak, meliputi perkembangan kognitif, bahasa, fisik (motorik kasar dan halus), sosial dan emosional. Agar lebih jelas, simak berbagai manfaat yang akan dirasakan oleh si Kecil setelah mendapatkan pendidikan di playgroup atau TK berikut.

Memperkenalkan anak pada dunia sekolah

Pengalaman belajar di PAUD akan membantu anak untuk lebih siap dalam menerima pelajaran formal di bangku pendidikan selanjutnya (SD). Hal ini yang menjadi salah satu alasan UNESCO merekomendasikan setiap anak mendapatkan pendidikan anak usia dini pada usia pra sekolah.

Lingkungan belajar di sekolah tentu berbeda dengan lingkungan di rumah. PAUD dapat menjembatani perbedaan suasana di kedua tempat tersebut. Si Kecil akan belajar berinteraksi dengan anak sebayanya, mengikuti aturan yang ditetapkan di playgroup atau TK, belajar beradaptasi dengan rutinitas, dan sebagainya. Anak yang sebelumnya mendapatkan pendidikan di PAUD sering kali memiliki kemampuan yang lebih baik dalam berkomunikasi saat sekolah. Hal ini dikarenakan ia sudah terbiasa untuk bermain, belajar, hingga makan bersama dengan teman yang memiliki usia sebaya.

Membiasakan anak terhadap kegiatan terstruktur

Meski bukan lembaga pendidikan formal, namun, kegiatan yang diadakan di playgroup atau TK dirancang khusus agar sesuai dengan fungsi pendidikan anak usia dini. Salah satu tujuannya adalah melatih anak agar terbiasa terhadap rutinitas dan kegiatan-kegiatan terstruktur. Misalnya, anak akan belajar berolahraga, berbaris, menyusun puzzle, dan sebagainya.

Mengajari anak untuk disiplin dan mengikuti peraturan

Di rumah, si Kecil tentu terbiasa bermain sesuka hati. Ia juga mungkin sudah terbiasa mengikuti “aturan” yang Mam tetapkan, yang biasanya tergolong lentur dibandingkan “aturan” yang terdapat di luar rumah. Nah, usia pra sekolah adalah saat yang tepat baginya untuk belajar mengikuti pola kegiatan maupun aturan lain di luar rumah. Mengikuti kegiatan pendidikan anak usia dini akan melatihnya beradaptasi dengan lingkungan baru dan peraturan baru. Ia juga akan belajar berbagi, mengantre, menunggu, dan memahami bahwa ternyata tidak semua hal yang ia inginkan bisa ia dapatkan. Dengan begitu, ia tidak akan kaget atau stres saat masuk SD dan harus belajar dalam situasi yang sangat terstruktur dan menuntut kedisiplinan.

Menumbuhkan imajinasi dan kreativitas

Anak usia dini belajar dengan cara bermain. Lembaga-lembaga penyedia pendidikan anak usia dini merupakan tempat yang tepat untuk memfasilitasi kebutuhan si Kecil tersebut. Bila si Kecil  belajar dalam  suasana yang menyenangkan, akan lebih mudah baginya untuk menyerap berbagai bimbingan yang diberikan. Selain mempelajari berbagai keterampilan dasar untuk membaca dan menulis, si Kecil juga akan mendapatkan banyak rangsangan yang akan memancing imajinasi dan kreativitasnya.

Menanamkan nilai-nilai positif

Program kegiatan yang diadakan di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini juga bertujuan menanamkan nilai-nilai positif, seperti kejujuran, toleransi, berbagi, dan sebagainya. Pada usia pra sekolah, anak belajar dengan cara bermain. Maka dari itu, kegiatan yang dilakukan di playgroup dan TK dirancang layaknya permainan, meski sebenarnya menyimpan maksud pembelajaran tertentu. Melalui berbagai permainan tersebut, si Kecil akan belajar tentang sopan santun, menghormati orang lain, berbagi dengan orang lain, pentingnya bersikap jujur, dan lain-lain.

Membentuk dasar kepribadian anak

Pada fase golden years, otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pengalaman yang didapat si Kecil di periode ini turut membentuk kepribadiannya dan akan memengaruhi sosoknya hingga kelak ia dewasa. Maka dari itu, Prof. Reni mengingatkan, pendidikan karakter memang sebaiknya dimulai sejak dini. Melalui pendidikan anak usia dini, si Kecil akan mendapatkan berbagai contoh dan kegiatan positif yang akan ia ingat dan praktikkan dalam kehidupannya.

Nah, kini Mam paham bahwa mendaftarkan si Kecil ke PAUD memberikan banyak manfaat. Pastikan pembelajaran yang ia dapat di PAUD selaras dengan yang Mam ajarkan di rumah, ya. Sebab, meski pendidikan anak usia dini berpengaruh penting bagi perkembangan si Kecil, namun, peran Mam dan Pap sebagai pendidik utama bagi anak tetap tak dapat tergantikan.
[Alia An Dhiva]


Sumber:
paud-dikmas.kemdikbud.go.id/segment/19.html
id.theasianparent.com/10-manfaat-anak-sekolah-paud/2/
health.detik.com/read/2013/05/21/182853/2252243/1301/ini-alasan-mengapa-paud-penting-bagi-perkembangan-anak
paud-anakbermainbelajar.blogspot.co.id/2012/11/pengertian-dan-konsep-dasar-paud.html

“…Kemdikbud Apresiasi Para Pengembang Alat Pendidikan Edukatif…”

“…NRMnews.com – JAKARTA, Alam pikiran anak usia dini adalah sebuah dunia yang penuh kreativitas dan yang tidak terlepas dari aktivitas bermain. Melalui aktivitas bermain anak akan menempa dirinya untuk mengasah sosial-emosional dan kemandiriannya, belajar berbahasa yang baik, bersikap yang sportif dan sopan, mengolah daya pikir untuk kepandaiannya, mengolah fisik motorik untuk kesehatan jiwa raganya, serta berkesenian supaya cinta keindahan.

Alat pendidikan edukatif yang lebih dikenal dengan APE, menjadi salah satu sarana vital yang diperlukan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dalam merangsang perkembangan karakter anak. Pada umumnya, para guru PAUD membeli alat-alat permainan untuk sumber belajar anak, namun ada pula yang berinovasi dan mengembangkan APE hasil kreasinya sendiri.

Dalam rangka memberikan apresiasi kepada masyarakat khususnya para pengembang alat permainan edukatif, Dirjen Pendidikan Anak usia Dini, Nonformal dan Informal Kemdikbud RI menganugerahkan penghargaan bagi pemenang Lomba APE PAUD tingkat nasional tahun 2013, pada Kamis (24/10/2013) di Jakarta. Lomba ini diikuti 419 peserta dari seluruh Indonesia dengan 495 naskah lomba yang diterima panitia.

Penentuan pemenang lomba didasari aspek edukatif, kreativitas, estetika, keamanan dan kemudahan produksi massal dari prototype APE yang dibuat serta presentasi hasil karya yang disampaikan masing-masing peserta di hadapan juri lomba. Lomba ini mengambil tema ” Ciptakan APE yang Aman dan Kreatif “, dan terselenggara atas kerjasama Dirjen PAUDNI Kemdikbud, Dirjen IKM Kementerian Perindustrian, serta Deputi Informasi dan Pemasyarakatan Standarisasi BSN.

Pemenang pertama lomba APE tingkat Nasional 2013 adalah Puji Riswati dati Kelurahan Sukorejo Kecamatan Pekalongan Timur, Kota pekalongan, jawa tengah dengan karya APE-nya Loker Divergen. Menurut Puji, Loker Divergen merupakan tempat penyimpanan yang dapat dipergunakan dari berbagai arah dengan berbagai alternative penggunaan, anak dapat menggunakan permainan warna, alfabetik dan numerik, maze, wayang kertas, bantal lipat, lobang motorik serta laci penyimpanan semuanya dalam satu alat peraga.

“…Loker divergen dapat dipergunakan untuk pengembangan mental emosional, kognitif, fisik motorik, bahasa dan sosial emosional anak…”, tutur Puji. Tak kalah menarik, Tony Suhendra dari Kelurahan Dunguscariang, kota Bandung dengan karya APE Injak jejak meraih posisi runner up, dan juara ketiga diraih oleh Rohita dari Kelurahan Tambaksari, Surabaya, dengan karyanya Pabotik (Panggung Boneka Jari Tematik ). Mereka mendapatkan trophy dan uang tunai masing-masing sebesar Rp 25.000.000, Rp 20.000.000 dan Rp 15.000.000.

Hasil karya para pemenang sangat diapresiasi oleh Dirjen PAUDNI, Prof.Dr. Lydia Freyani Hawadi. “…jumlah anak usia dini telah mencapai 32 juta anak dan yang baru dilayani hanya 11 Juta anak, Kita tahu usia dini ini masa yang penting, karenanya diperlukan permainan yang aman untuk anak, namun dapat merangsang perkembangan kecerdasan anak…”, ujarnya.
(Oleh : Red NRMnews.com / Dwi Pravita – Editor: A.Dody.R)

Pamong Belajar DIY salah satu Pemenang Lomba APE PAUD Tingkat Nasional

Dinas Dikpora DIY - Kementerian Pendidikan dan kebudayaan  (Kemdikbud)  melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal Informal (PAUDNI) telah menyelenggarakan Lomba Pengembangan Alat Permainan Edukatif (APE) - PAUD tingkat Nasional tahun 2013. Lomba ini berakhir pada tanggal 23 Oktober 2013, dan pada saat itu pula dilaksanakan pengumuman dan penganugerahan pemenang lomba APE Paud Tingkat nasional tahun 2013.

Lomba APE PAUD kali ini diikuti oleh 480 peserta dari seluruh Indonesia, baik pendidik PAUD maupun pengrajin APE PAUD. Dari hasil seleksi dan penilaian terhadap 480 naskah lomba yang masuk, telah ditetapkan oleh tim penilai sebanyak 30 naskah lomba sebagai nominasi pemenang. Untuk menetapkan pemenang lomba, 30 nominator kemudian untuk mempresentasikan hasil karya (prototype) di hadapan dewan juri. Presentasi telah dilaksanakan pada hari kamis tanggal 23 Oktober 2013. Di Hotel the The Media & Tower Sebelum presentasi, tim juri melakukan penilaian Penilaian 480 naskah telah dilakukan sejak  tanggal 20 September 2013 yang lalu.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Lydia Freyani Hawadi mengatakan, bermain merupakan bagian dari dunia anak-anak. Dengan lomba ini, kata beliau Kemdikbud ingin melahirkan pendidik, orang tua, yang bisa mewarnai lahirnya alat permainan edukatif dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. “Kita ingin mengedukasi orang tua, untuk menyikapi membanjirnya pasar mainan anak dari China di Indonesia,” kata beliau”

Dalam acara penganugerahan pemenang, turut hadir pula Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Euis Saedah. Ia menyatakan, Kemenperin siap untuk mendukung tumbuhnya wirausaha kriya mainan anak. Karena dari perspektif ekonomi, kata beliau, wirausaha kriya ini akan menjadi awalnya peluang kerja baru. “Kami menyambut baik program ini, untuk menimbulkan wirausaha-wirausaha baru yang terfasilitasi SDM, standar, teknologi, dan HAKI nya,” katanya. 

Setelah dilaksanakan penjurian, maka diumumkanlah para juara dari Lomba APE PAUD ini, yakni : juara satu adalah Puji Riswati, guru PAUD dari Pekalongan, dengan hasil karya berjudul loker divergen. Juara dua diraih oleh Tony Suhendra, dengan judul karya Injak Jejak dari pengrajin Bandung . Juara tiga diraih oleh Rohita dari Jawa Timur, dengan judul karya Panggung Boneka jari Tematik (Pabotik), juara harapan satu diraih oleh Gun Sugianto, dengan karya permainan kewirausahaan anak (Kidpreneur Toy) dari Pengrajin  Kota Padang, juara harapan dua diraih oleh Endang Titik Setianingsih.S.Pd,MM dari  Pamong Belajar BPKB Dinas Dikpora DIY dengan karya Menara Tancap, dan juara harapan tiga diraih oleh Ismi Fauzia Ulinuha dengan karya Math For Kids dari Kabupaten Magelang.

Para juara memperoleh penghargaan berupa piagam dan  trofi serta dana pembinaan secara keseluruhan sebesar Rp  82.500 .000 ( Delapan puluh dua juta lima ratus ribu rupiah ) dengan perincian sebagai berikut :  Untuk juara satu Rp 25 juta, juara dua Rp 20 juta, juara tiga Rp 15 juta, juara harapan satu Rp 10 juta, juara harapan dua Rp 7,5 juta, dan juara harapan tiga Rp 5 juta.

Adapun tim penilai dalam lomba ini terdiri dari unsur Direktorat Pembinaan PAUD, HIMPAUDI, akademisi, Konsorsium Mainan Anak Indonesia (KMAI), dan forum PAUD. Sedangkan tim juri terdiri dari unsur Kementerian Perindustrian, Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek), akademisi, Indonesian Toy and Research Center (ITORCH), dan Praktisi PAUD Senior. (m.tok)

Usia Dini, Usia untuk Bermain

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Lydia Freyani Hawadi menegaskan, pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bukan diperuntukan untuk anak usia dini, karena pembelajaran di usia itu lebih banyak pada aspek bermain.

“Justru guru sekolah dasar (SD) lah yang harus bekerja keras memberikan pelajaran membaca,” katanya di Jakarta, Jumat (17/2).

Calistung, tambah Lydia Freyani Hawadi, bisa diberikan tapi bukan secara formal. Pada anak usia dini, pelajaran membaca dan berhitung itu hanya bisa diberikan sambil bermain.

Lidya juga menyatakan, pada usia dini, pembelajaran yang penting untuk disampaikan adalah penanaman budaya. “Yang paling perlu ditekankan adalah pengembangan budaya bersih maupun budaya disiplin,” ujarnya.

Budaya bersih sangat penting bagi anak usia dini untuk mengetahui bagaimana cara hidup bersih, seperti cara membuang sampah ataupun membersihkan tangan. Sementara budaya disiplin perlu dilakukan sejak dini karena berkaitan dengan kesiapan anak menghargai orang lain. (Sugito/HK)

Bupati Bandung Peroleh Anugrah Pengabdi Kursus dan Pelatihan

Bupati Bandung H. Dadang Mochamad Naser, SH, S.Ip tercatat sebagai salah satu kepala daerah di Indonesia yang mendapat penghargaan "Anugerah Pengabdi Kursus dan Pelatihan" dari Kementerian Pendidikan Nasional. Penghargaan diserahkan Dirjen PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi Psi. di Harmono Nagoya-Batam, Senin (7/10) disela-sela kegiatan Apresiasi PTK-Paudni Tingkat Nasional.
"Penghargaan ini bagi saya merupakan cambuk untuk meningkatkan sistem pendidikan kursus dan pelatihan yang selama ini sudah berjalan di Kabupaten Bandung. Karena saya menilai sistem kursus dan pelatihan ini, merupakan langkah strategis untuk memperoleh tenaga terampil secara cepat dan dibutuhkan oleh dunia kerja",kata Dadang Mochamad Naser.

Menurutnya, jenis kursus yang kini banyak diminati oleh peserta sebagian besar berupa Pendidikan Penggunaan Teknologi Informasi (TI) seperti computer, internet dan sejenisnya. "Hal itu merupakan langkah bagus, mengingat teknologi informasi sekarang ini sudah tidak bisa lepas dari dunia kerja, baik dikalangan pemerintah maupun swasta",katanya pula.

Namun demikian, ia meminta kepada para pengelola kursus di Kabupaten Bandung untuk berusaha meningkatkan ragam materi kursus seperti pelatihan pengelolaan limbah kertas, kain atau plastic. Hal itu ditegaskan, mengingat industri di Kabupaten Bandung sangat beragam mulai dari tekstil, kimia, kertas, kulit dan agro industri.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Bandung Drs. H. Juhana, M.M.Pd menyebutkan, kepedulian Pemkab Bandung untuk meningkatkan anggaran dalam pembinaan kursus dan pelatihan, telah menjadi kriteria penilaian penghargaan. "Selama tiga tahun ini, anggaran untuk pembinaan kursus di Kabupaten Bandung terus meningkat",kata Juhana.

Data yang disodorkan Kabid Pendidikan Non formal dan Informasi Dikbud Kabupaten Bandung Drs. H. Asep Hendia M.Mpd. mencatat jumlah pendidikan vokasional sebanyak 129 buah, non vokasional 39 buah ditambah 84 lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang tersebar di 31 kecamatan.

Asep Hendia memprediksi, jumlah pendidikan kursus keterampilan dimasa mendatang akan terus bertambah, seiring dengan kian bertambahnya jumlah lulusan sekolah yang tidak sempat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

"Bagi mereka yang kurang memiliki kesempatan untuk melanjutkan sekolah keperguruan tinggi, biasanya lari ke jenjang pendidikan keterampilan dengan harapan sebagai modal untuk meraih pekerjaan di dunia industri",ucap Asep Hendia.


Sumber : Press Release Humas Setda Kabupaten Bandung


Sumber:  http://www.bandungkab.go.id/arsip/bupati-bandung-peroleh-anugrah-pengabdi-kursus-dan-pelatihan

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia