Kamis, 23 Januari 2020

Keukeuh, Gigih, Optimistik, dan Energik

Oleh: Jusi J. Adiwidjaja
Teman SMP dan SMA


Rendi merupakan sahabat masa kecil saya yang paling unik. Saya kenal Rendi pertama kali tahun 1970, saat jadi siswa  SMP Sancta Ursula, Jakarta. Dan di SMA yang sama,  kami pernah sekelas di kelas III Budaya.

Reni Hawadi nama pangilannya Reni. Namun berhubung di Kelas III Bud SMA yang bernama Reni ada tiga orang, maka  wali kelas kami mengganti nama Reni Hawadi menjadi Rendi,  singkatan dari Reni Hawadi. Nama Rendi inilah yang dipakai sampai sekarang oleh saya dan teman-teman Bud untuk memanggilnya.

Saya dan Rendi menjadi dekat karena kami sering bareng pulang naik bus Merantama jurusan Rawamangun - Lapangan Banteng. Rumah kami searah, saya turun duluan di Jalan Pramuka dan Rendi terus sampai Kampung Ambon, Rawamangun.

Salah satu momen yang berkesan bagi saya saat Rendi merayakan ulang tahunnya yang ke 17.  Ada Diskotik Papillon. Rendi "turun" dansa bersama papinya. Dan untuk pertama kalinya pula saya mengenal orang tua dan enam adik Rendi.

Maminya Rendi saya kenal  hanya menjadi IRT saja. Namun sesaat suaminya wafat,  tante Doelli Hawadi tampil sebagai sosok perempuan yang kokoh dan mandiri. Ia mampu menjalankan bisnis konveksi yang dirintisnya untuk membesarkan dan mendidik ketujuh anaknya.  Boleh jadi karakter maminya Rendi yang kuat dan mandiri inilah yang menurun dalam sosok Rendi.

Rendi memilih Fakultas Psikologi instead of fakultas dalam rumpun Humaniora lainnya, sebagai cita-citanya. Siswa dari jurusan budaya identik dengan kemampuan numerik yang lemah. Saya dan kebanyakan teman Rendi di Bud pilih kuliah di FISIP, FH, dan FIB. Nah Rendi ini justru berbeda, sahabat saya ini keukeuh dengan tekadnya untuk lanjut ke FPsi. Kemauan kerasnya ditunjukkan dengan komitmennya untuk les Aljabar  secara intensif dengan guru SMA Sancta Ursula yang terkenal paling gualak yaitu Ibu Dewi (maaf Ibu Dewi🙏🏻).

Selesai jadi Sarjana,  Rendi langsung bekerja d FPsi UI. Iapun dapat jodoh Idjul Akbar teman sekelasnya.  Hebatnya mereka ini mempunyai enam anak, padahal saat itu amat sangat jarang  orang mempunyai anak lebih dari dua orang. Saya nggak kebayang gimana Rendi bisa menyelesaikan disertasi doktornya dengan kesibukannya sambil mengurus anak banyak. Dalam usia yang masih muda kalau tidak salah 34 tahun, Rendi meraih gelar Doktor Psikologi. Hebat! Ia pun jadi Guru Besar UI dan pernah  menjadi Dirjen Paudni Kemendikbud. Itulah hasil kerja keras Rendi.


Saya salut dengan Rendi dan Idjul. Mereka sangat gigih, optimis dan penuh semangat untuk berhasil  membesarkan keenam anaknya. Mereka tim yang kompak dan energik.

Di mata saya juga Rendi orang yang sangat sayang pada keluarga, tidak hanya pada suami dan anak-anak serta cucunya. Melainkan sebagi si sulung, Rendi sayang dengan adik-adiknya. Ia pun cukup perhatian dengan teman-temannya, toleran dan seorang muslimah yang taat.

Semoga Rendi panjang umur,  sehat terus dan bahagia bersama Keluarga selamanya....


***

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia