Senin, 19 November 2018

ENJOY YOUR PARENTING

Makalah ini disampaikan dalam acara Parenting Seminar and Workshop
Sekolah Fajar Hidayah, pada hari Sabtu, 10 Nopember 2018 di Fajar Hidayah Hall, Kota Wisata, Cibubur. Jakarta.

Oleh:

Lydia Freyani Hawadi


Hari ini, hari istimewa, tanggal 10 Nopember, bersamaan dengan kita memperingati Hari Pahlawan. Marilah sejenak kita menundukkan kepala seraya  memanjatkan doa untuk para pahlawan yang gugur di medan perang Pertempuran Surabaya tahun 1945 melawan  tentara Inggris dan Belanda.Semoga arwah para pahlawan diterima di sisi Allah SWT,  Tuhan YME. Dan kita bisa mewarisi sifat-sifat heroik yang mereka miliki untuk menghadapi tantangan masa depan.
Kata-kata apa saja yang diasosiasikan dengan kata Pahlawan ? Pahlawan identik dengan mereka yang rela berkorban. Pahlawan adalah  mereka yang gagah berani, dan berjuang tanpa pamrih. Pahlawan adalah mereka  yang peduli terhadap keselamatan dan kesejahteraan orang lain. Pahlawan adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri atas tindakan yang mereka ambil. Pahlawan adalah  mereka yang memiliki standar  nilai moral yang tinggi (virtue). Dari pengertian diatas maka  kata  Pahlawan tidak terbatas pada mereka yang mengangkat senjata, berperang melawan musuh untuk mempertahankan tegaknya kedaulatan Negara. Namun kata pahlawan  bisa terlekat pada diri siapapun sejauh ia memiliki sifat-sifat tersebut diatas. Dalam konteks pembahasan kita hari ini tentang parenting, orangtua adalah (seharusnya) pahlawan bagi anak (anak-anak)nya.
  
       Bagi saya Pahlawan pertama dan utama  dari seorang anak adalah Ibu. Bagi seorang perempuan, masa hamil adalah saat yang indah dan dinantikan, karena setelah momentum itu terjadi dan ia melahirkan seorang anak maka statusnyapun berubah menjadi Ibu, Bunda, Emak, Indung, Mama, Mami atau Mom. Untuk mendapatkan predikat tersebut ia menempuh perjalanan yang tidak sebentar, rata-rata sekitar 268 hari lamanya menanti kehadiran sang anak lahir.  Banyak hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan saat perempuan dinyatakan hamil, agar semata-mata bayi yang dikandungnya lahir sehat, normal sesuai yang diharapkan. Perubahan fisik yang  terjadi juga psikologis akan membuat rasa tidak nyaman yang harus dihadapi. Pantangan demi pantangan harus dilakukan. Ini semua awal pengorbanannya dan kemudian mencapai puncaknya saat  due date melahirkan. Proses melahirkan anak adalah keajaiban alam yang luar biasa.  Bukaan demi bukaan, dari 1 cm sampai 10 cm saat mulut rahim terbuka bukan waktu yang dirasa singkat. Ini lah detik-detik puncak perjuangan perempuan untuk mendapatkan atribut Ibu, Bunda, Emak, Indung, Mama, Mami atau Mom.
    Perjuangan masih terus berlanjut sepanjang hayat,  tidak berhenti hanya dalam proses persalinan saja.Saat anaknya lahir, seorang Ibu akan fokus untuk pemenuhan kebutuhan dasar anaknya. Menjaga agar tidak kelaparan, tidak kegerahan, dan berusaha agar kesehatannya terjaga dan kecerdasannya optimal.  Masa pertumbuhan dan perkembangan yang krusial seorang individu, terjadi pada lima tahun pertama kehidupannya, saat Dasa Indra anak  : indra penglihatan (visual), indra pendengaran (auditory), indra penciuman (olfactory), indra pengecap (gustatory) indra perabaan (tacticle) indra gerak dan keseimbangan (vestibular), dan indra  kesadaran gerak dan posisi tubuh (proprioception), indra sistem sensor saraf (nociception), indra merasakan suhu (thermoception), indra keseimbangan (equilibrioception,, dan indra memahami waktu (temporalception) berkembang  dan berfungsi baik.

A.    Parenting.
Orangtua memberikan pengasuhan dan sumber segalanya bagi anak, namun  harus diingat parenting  bukan berjalan dalam satu arah (one-way street) dimana orangtua secara langsung mengarahkan anak menuju ke kematangan (maturity). Sebaliknya  parenting berjalan dua arah karena  proses interaksi antara orangtua  dan anak  membawa keduanya berubah satu sama lain, hingga membawa anak menuju  masa dewasa (adulthood). Masyarakat yang ada disekitarnya merupakan pihak ketiga yang bersifat dinamis dan mempengaruhi respons  dan kebutuhan baik orangtua dan anak.

B.     Dasar Teori   
Saya akan mengenalkan beberapa tokoh Psikologi dalam memaknai parenting di dalam ceramah ini. Pertama, Lev Vygotsky  seorang psikolog Russia. Ia menggaris bawahi peran sentral orangtua pada anak dalam perkembanganya. Lingkungan seni budaya dan kegiatan rutinnya menjadi pengalaman pertama anak untuk memandang dunia sekitarnya. Disini Vygotszky mengenalkan istilah zone of proximal development, yang diartikan bahwa perkembangan anak akan menjadi lebih baik jika dibantu oleh orang sekitarnya daripada ia harus berjuang sendiri. Dengan adanya bantuan dunia sekitarnya, maka anak akan berespons pada taraf yang lebih mature. Kedua, Jean Piaget yang berasal dari Swiss, mengingatkan orangtua bahwa anak membutuhkan kesempatan untuk mengeksplorasi dan beraktivitas serta berpikir tentang dunia sekitarnya.Istilah  Piaget adalah Equilibration dimana proses aktif  yang membuat individu merasa balans dalam pertumbuhan intelektualnya, saat ada informasi baru (assimilation)  dan  kemudian menjadi bagian dalam struktur internalnya (accommodation). Ketiga, Sigmund Freud yang berasal dari Austria,  mengingatkan orangtua agar pentingnya memberikan gratifikasi yang tepat bagi dorongan-dorongan alami anak, misalnya dalam hal bersikap terhadap thumb sucking, toilet training, sikap menerima terhadap dorongan agresif anak tanpa mengkritik maupun menghukumnya. Bagi Freud orangtua adalah pemandu yang memiliki otoritas sekaligus supporters  anak untuk mencapai kematangannya. Keempat, Erik Erikson, seorang psikolog Jerman-Amerika  yang menyoroti kualitas perkembangan anak. Jika anak menerima pengalaman yang sesuai disertai lingkungan yang positif, ini akan mendukung tercapainya nilai kebajikan (virtue) dalam tahap perkembangan anak.Ada tiga hal perkembangan psikososial yang bersifat  kritis dalam lima tahun kehidupan anak yang harus dipenuhi yaitu trust, autonomy dan initiative.  Dan jika tidak terpenuhi maka akan terjadi mistrust, shame/doubt dan guilt sehingga nilai kebajikan hope, will, dan purpose tidak akan terpenuhi. Kelima, Urie Bronfenbrenner,  menggaris bawahi kekuatan-kekuatan yang ada di luar  keluarga seperti faktor sejarah, ekonomi, tempat orang tua bekerja akan mempengaruhi bagaimana pengasuhan orangtua pada anaknya. Ia juga menekankan pentingnya keteraturan dan kestabilan di dalam kehidupan anak serta orangtua harus terus meningkatkan parenting nya karena adanya perubahan dari lingkungan.
        
C.Rambu-Rambu

1.Memahami tugas perkembangan. Setiap tahap perkembangan memiliki  tugas perkembangan (developmental task) yang berbeda serta karakteristik khas untuk setiap aspek fisik-motorik, kognitif, sosio-emosional, dan moral. 
2. Memahami perbedaan individual. Anak mewarisi tidak saja aspek fisik biologis dari orangtuanya (ayah dan bunda), seperti bentuk wajah, jenis rambut, tinggi badan, cara berjalan,dan suara. Namun juga mewarisi aspek psikologis sosio emosional, misal besar kurangnya hasrat berprestasi, cepat lambannya reaksi emosional, derajat keberanian ketakutannya, kepekaan dan kedalaman emosinya, termasuk ragam dan besar kecilnya tingkat kecerdasan (daya tangkap, daya ingat, luas minat, kemampuan numerik, kemampuan bahasa, logika, dan  kreativitas). Hal yang menakjubkan walaupun lahir dari rahim yang sama, memiliki ayah yang sama serta pola asuh sama, tetapi tumbuh kembang anak-anak tidak ada yang plek sama satu sama lain baik fisik biologisnya maupun psikologisnya. Dengan demikian orang tua menyadari sepenuhnya bahwa satu persatu anak adalah orang yang berbeda, individu yang berbeda dengan karakteristik yang tidak sama. 
3. Bersikap wajar tanpa pengecualian. Istilah yang saya pinjam dalam opini audit dalam laporan keuangan, menekankan  kebenaran dan keakuratan merupakan hal wajib untuk dilakukan sesuai standar akutansi yang berlaku. Demikian pula halnya didalam pengasuhan orangtua,  memahami perbedaan individual anak merupakan hal mutlak yang tidak bisa ditawar. Dengan kita mengetahui bahwa ada perbedaan individual  maka kita juga memahami  ada yang menjadi kebutuhan (needs) masing-masing individu. Sehingga  perlakuan yang kita berikan memang  khas hanya untuk individu tersebut. Ini yang saya artikan  bersikap wajar tanpa pengecualian. Hubungan yang terjalin antara orangtua dengan setiap anak, adalah hubungan dyadic, interaksi dua orang saja. Dengan demikian maka harapan yang muncul dalam sikap pengasuhan orangtua dalam konteks ini adalah tidak memaksa, tidak ada paksaan. Let it flow..Bersikap menerima anak dengan perangkat sifat yang dimiliki, tanpa harus merasa bersalah karena tidak menjadi orangtua yang sempurna. Bersikap wajar tanpa pengecualian  karena memang tidak ada anak dan orangtua yang ditakdirkan menjadi sempurna. No body perfect. Demikian pula mampu bersikap lentur, untuk tidak terlalu kaku dalam aturan yang tidak bersifat prinsip.
4. Melihat kekuatan potensi diri sendiri. Setiap individu memiliki potensi minat, bakat yang perlu dicuatkan sebagai satu prestasi dan keterampilan yang dibanggakan.. Pengasuhan orangtua yang benar adalah melihat pada potensi yang ada dalam diri anak untuk dikembangkan. Bukan melihat pada prestasi anak orang lain untuk kemudian membandingkannya pada anak. Demikian pula sebaliknya dengan orangtua. Ortu tidak perlu iri pada keterampilan apa yang dimiliki ortu lainnya karena pada dasarnya masing-masing memiliki kekuatan potensi diri. 
5.  Fokus pada satu kegiatan. Ortu adalah orang yang paling sibuk untuk memasukkannya anaknya untuk ikut les ini itu, untuk ikut kegiatan macam-macam dan berbagai macam  lomba.Apakah anak-anak memang menikmati berbagai kegiatan yang disodorkan ortunya? Seringkali kita ortu terpaku untuk menjajal yang ada di luar rumah. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan ortu di rumah bersama anak. Buat jadwal misalnya, hari apa jam berapa yoga bersama, belajar bahasa Jepang, nonton film bareng, membaca bersama, main kartu, buat kuiz, dls.  Cukup melakukan kegiatan dua macam dalam seminggu. Jangan memaksa anak ikut les sebagai balas dendam karena ortu tidak memilikim kesempatan di masa lalu. Dan juga jangan memasukan les karena ortu yang ingin.
6. Perhatikan pasangan. Seringkali saking  asik fokus pada anak sehingga melupakan pasangan. Cari waktu untuk kebersamaan berdua saja tanpa direcoki oleh anak.Jangan abaikan pasangan anda. Merupakan hal normal jika ortu  ingin sekali-kali keluar dari rutinitas. Anda berhak sembunyi, menghilang sejenak dari pandangan anak-anak. Bagaimanapun ortu adalah orang juga.


Daftar Bacaan :

Brooks, Jane B. (2011).  The Process of Parenting. New-York : McGraw-Hill International Edition.
Templar, Richard (2015). The Rules of Parenting.  Harlow : Pearson.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia