Sabtu, 17 Februari 2018

Prof. Reni Sosok yang Miliki Jati Diri Luar Biasa

Oleh Drs. Sonson Sanusi W, M.M. 
Kepala Kantor Keluarga Berencana Kota Jakarta Selatan

Kala tahun 1970 sampai 1980-an saya mengenal sosok Reni. Setidaknya ada beberapa momen yang membuat saya kenal dekat. Pada tahun 1972 kala itu Kampung Ambon masih berupa jalanan tanah. Ada gadis cantik berwibawa yang sering lewat  jalan Pondasi dengan mengendarai mobil Jeep tentara (Mitsubishi). Nah, menurut informasi beberapa teman, ia bernama Reni, anak Pak Kolonel Doelli Hawadi.  Seorang tokoh yang berpengaruh kala itu. 


Selanjutnya pada awal tahun 1979 saya ditugaskan Ketua RW mencari calon pemimpin Ikatan Remaja (IKAREMA)     Periode 1979-1982. yang mumpuni. Saya dan beberapa teman ke  Rumah Jalan Trijaya No.19 untuk meminta kesediaan Reni menjadi panitia. Berikutnya Reni terpilih jadi formatur dan teman-teman saat itu sepakat mengusung Reni sebagai Ketua I IKAREMA. 

Pasca Reni menjadi nakhoda IKAREMA, kegiatan remaja semakin aktif dan kondusif.  IKAREMA dibawah kepemimpinan Reni pernah menghadirkan Kak Seto, mengadakan upacara bendera 17 Agustus 1979, peringatan Hari Kartini dan lainnya.


Saya mengenal Reni sebagai pribadi yang memiliki jati diri luar biasa. Selain itu Reni sosok setia, tanggungjawab, mandiri, disiplin, tegas, peduli dan tak kalah pentingnya memiliki sifat bijaksana. Di bawah kepemimpinan Reni organisasi berjalan dengan baik.


Di saat lesunya Pengurus Karang Taruna Kelurahan Kayuputih pada penghujung tahun 1979,   Reni Hawadi dipercaya sebagai Ketua l Karang Taruna Kelurahan Kayu Putih. Dengan kiprahnya  yang positif  Reni yang saat itu sebagai mahasiswi Psikologi  UI, pada tahun 1980 dipercaya sebagai utusan Karang Taruna DKI Jakarta  ke Munas di Garut/HKSN yang dibuka Wapres  Adam Malik saat itu. Kalau tak salah saya ikut mengantar Reni naik bis sekaligus mensupport Reni agar sukses mengikuti kegiatan di Garut.


Pada tahun 1980-an mahasiswa/i Fakultas  Psikologi  dan Fakultas  Ilmu Sosial UI melakukan survei atau penelitian di Karang Taruna Kayuputih. Reni selalu hadir atau berada di tengah-tengah kegiatan remaja sebagai wujud empati yang yang tinggi. Contohnya dalam lomba-lomba VG se-DKI tahun 1982.


Sungguh, saya tak kaget ketika sosok Reni yang saya kenal sejak remaja 40 tahun silam kemudian sukses menduduki eselon I di kemendikbud RI. Aktivitasnya kini di berbagai organisasi tak lepas dari pengalamannya saat remaja bergelut di organisasi. 


Selamat buat Reni dan teruslah berkarya untuk bangsa.
***

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia