Rabu, 07 Juli 2021

Doa yang mustajab (1)


Selama manusia tidak lepas dari masalah  maka sepanjang itu pula manusia membutuhkan solusi agar keluar dari persoalan.

Doa lah solusinya.Doa sarana komunikasi manusia dengan Sang Khalik Allah SWT untuk meminta pertolongan.

Berdoalah..mintalah terus..berilah petunjuk..beri kemudahan...berilah kelancaran ..tolong kabulkan yaa Allah..

Kita harus yakin tidak ada doa yang sia-sia. Doa sepanjang kita butuhkan pasti dijawab hanya masalahnya soal waktu. Kapan doa dikabulkan? Tidak satupun kita mengetahuinya.  Ada doa yang seketika dikabulkan dan ada yang lama. Ini hak Allah.

Kita manusia sebagai hambaNya hanya terus berusaha, berdoa dan bersabar sampai doa dikabulkan.

Hal yang perlu kita lakukan juga adalah introspeksi, mengapa doa kita belum dikabulkan seraya terus meningkatkan kualitas doa kita, sholat kita dan mengenali kapan waktu-waktu mustajab suatu doa dikabulkan.

Saat adzan berkumandang adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Untuk itu stop semua aktivitas kita saat adzan masuk! Jawablah adzan dengan lafadzh yang sama.

Demikian pula diantara adzan dan iqamah adalah waktu yang dianjurkan untuk berdoa.

Rasulullah Shallallahu'alaihi aa sallam bersabda:

" Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kemungkian tertolaknya yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang"

HR. Abu Daud, 2540.

" Doa diantara adzan dan iqamah tidak tertolak"

HR. Tirmidzi 212

Doa menunjukan  manusia butuh Allah. Manusia bukan siapa-siapa, manusia hamba Allah. Allah tempat kita meminta. Tiada ada tempat meminta yang lebih baik selain kepada Allah SWT.

Selamat menunaikan sholat sunnah Dhuha. Salam sehat.

5 Zulkaidah 1442H/16.06.2021.

lfh/LFH.

www.lydiafreyanihawadi.com

Youtube prof reni akbar hawadi

Halalan Thayyiban


Kata halal dan thayyib (baik) merupakan dua kata yang selalu dirangkaikan satu dengan lainnya, merujuk pada masalah yang terkait dengan aktivitas makanan manusia.

Dua kata ini, mutlak harus terpenuhi dalam perilaku seorang muslim yang memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya . Halal berkait erat dengan standar syariat yang melegalisasinya. Adapun thayyib berkenaan dengan standar kelayakan, kebersihan, dan efek fungsional bagi manusia.

"...makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."

QS. An-Nahl (16):114.

Urusan makanan dan agama ini diibaratkan Imam Al-Ghazali sebagai pondasi sebuah bangunan. Beliau mengutip hadist yang diriwayatkan Ibnu Murdawaih" perbaikilah makananmu, niscaya Allah akan mengabulkan doa'mu".

Allah memberikan sabdanya di awal Al Qur'an sebagai berikut:

"Wahai manusia!Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu"

QS. Al-Baqarah (2):168.

Dengan makanan yang halal dan baik menunjukan ketaatan seseorang pada Allah SWT.

"Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.".

QS. Al-Maidah (5):88.

"Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu peroleh itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

QS. Al-Anfal (8):69

Selamat menunaikan sholat sunnah Dhuha. Salam sehat.

4 Zulkaidah 1442H/15.06.2021.

lfh/LFH.

www.lydiafreyanihawadi.com

Youtube prof reni akbar hawadi

Jalan yang lurus bukan yang sesat


Hidup merupakan perjalanan menuju Allah Yang Menciptakan Manusia. Agar perjalanannya selamat, ada kaidah, tuntunan yang harus dipatuhi. Dalam surat Al-Fatihah disebutkan,

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

QS.Al-Fatihah: 6-7.

Makna bacaan di atas mengutip Ibnu Katsir  dari perkataan Imam Abu Ja'far bin Jarir bahwa para ulama sepakat menyatakan jalan yang lurus secara letterlijk adalah jalan yang tidak bengkok.

Kemudian pakar tafsir menjelaskan kata tidak bengkok adalah sebagai ungkapan bahwa mengikuti jalan nabi, mengikuti Islam, mengikuti Al'Quran.

Jalan lurus yang kita ikuti adalah jalan yang  diberi nikmat  oleh Allah, sesuai firmanNya :

" Dan barang siapa  yang mentaati Allah dan Rasul (Nya) , mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi-nabi, shaddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih."

QS.An-Nissa :69

Jalan yang lurus (bukan jalan yang bengkok alias sesat) adalah jalan bagi orang-orang yang ingin selamat menghadap Allah.

" ...kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."

QS. Asy-Syu'ara' (26): 89.

Allah SWT memberikan akal,  kemampuan berpikir pada manusia yang berfungsi menuntunnya untuk berperilaku pada kebaikan dan kebenaran.

Allah SWT memberikan petunjuk  atas hal-hal baik dan benar sesuai yang digariskanNya.

"Dan inilah jalan Tuhanmu;(jalan) yang lurus."

QS. Al-An'am (6):126.

Dan manusia diingatkan jangan mencari jalan yang menyusahkannya ataupun memilih jalan yang sesat.

"..jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya".

QS.An-Nisa' (4): 34

"Dan pasti Kami tunjuk mereka kepada jalan lurus."

QS.An-Nisa' (4):68.

Rasulullah Shallallahu'Alaihi wa Sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami,lalu bersabda: "Ini adalah jalan Allah, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi  kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda"Ini adalah jalan -jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yamg mengajak kepada jalan itu"

Mereka yang buta hatinya di dunia, disebutkan dalam firman Allah SWT akan lebih tersesat yaitu:

"Dan barangsiapa  buta (hatinya) didunia ini, maka di akherat  dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan  (yang benar)".

QS.Al-Isra (17): 72.

Selamat menunaikan sholat sunnah Dhuha. Salam sehat.

3 Zulkaidah 1442H/14.06.2021.

lfh/LFH.

Sabtu, 03 Juli 2021

Bertawakal


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.                  

              Bertawakal

Bertawakal atau berpasrah diri pada Allah SWT.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya".

QS. Al-Baqarah (2):286.

Kata pasrah yang diucapkan seseorang, misal kala ia telah berupaya keras dan menanti hasil akhirnya, merupakan indikasi adanya ketaqwaan kita sebagai manusia yang bergantung pada Allah SWT. Bahwa apapun hasil finalnya merupakan hak prerogratifNya. Dan menjadi yang terbaik bagi orang tersebut.

Apapun segala sesuatu yang terjadi menimpa seseorang diyakini merupakan ketetapanNya yang terbaik.

Berpasrah diri pada Allah SWT berarti menyerahkan sepenuhnya tangan Allah yang bekerja untuk memberi pertolongan, dan memberikan kemudahan sesudahnya.

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan"

QS. Al-Insyirah (94):5.

Berpasrah diri disertai dengan keikhlasan dan kesabaran merupakan puncak penyerahan diri sepenuhnya seseorang sebagai hamba Allah yang beriman.

" Dan janganlah  kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman."

QS. Ali 'Imran (3):139.

Dan kesabaran dalam kepasrahan diri yang dijalankan seseorang akan memperoleh pahala dari Allah SWT, Allah akan mencukupkan keperluannya dan rizki yang berkah.

"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan."

QS. Hud (11):115.

"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."

QS.  At-Talaq (65):3

"Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki (yang berkah)".

HR.Tirmidzi

Selamat menunaikan sholat sunnah Dhuha. Salam sehat.

2 Zulkaidah 1442H/13.06.2021.

lfh/LFH.

Membalas Budi Baik


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.               

Membalas Budi Baik

"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)."

QS.Ar-Rahman (55):60.

Rasululllah shallallahu 'alaihi wa salam mencontohkannya, jika kita menerima pemberian, berbalas budilah.  Aisyah radhiallahu anha  berkata: "Dulu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa menerima hadiah (pemberian selain shadaqah)  dan membalasnya mereka yang memberi."

(Shahih al-Bukhari, No.2585.)

Melalui hadist ini kita belajar untuk membalas budi, membalas kebaikan orang lain. Rasulullah memerintahkan untuk merespons kebaikan orang lain dengan baik hati.

"Siapa pun yang membantumu, tanggapi dengan baik, dan jika kamu tidak dapat menemukan cara melakukannya, maka teruslah berdoa untuknya sampai kamu berpikir bahwa kamu membalasnya dengan baik" (Abu Dawud).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintah umatnya agar membalas kebaikan orang lain,

"Barangsiapa diperlakukan dengan baik (oleh seseorang),hendaklah ia membalasnya. Apabila dia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah ia memujinya.  Jika ia memujinya,ia telah berterima kasih kepadanya. Namun jika ia menyembunyikannya (tidak berterima kasih ataupun memujinya),  berarti ia telah mengingkari (kebaikannya)."

(Shahih al-Bukhari No.157).

Dari hadist lain, Ibnu Umar berkata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Siapa yang memohon perlindungan dengan mengatasnamakan Allah, maka lindungilah dia. Dan siapa yang meminta dengan mengatas namakan Allah, maka berilah ia. Dan siapa yang berbuat baik kepadamu balaslah kebaikannya. Jika anda tidak mampu, maka doakanlah dia sampai dia tahu bahwa kalian telah memberinya yang setimpal."

(Shahih) Ash Shahihah (254)

At-Tirmithi meriwayatkan Usamah Ibn Zayd berkata: Rasulullah bersabda:" Siapapun yang mendapat bantuan untuknya dan mengatakan' Jazak Allahu khayran' telah melakukan yang terbaik untuk berterima kasih padanya."

Abu Hurairah, menyampaikan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Seorang belumlah dianggap bersyukur kepada Allah jika ia tidak berterima kasih atas kebaikan orang lain terhadap dirinya."

(HR. al-Bukhari, dalam al-Adab al-Mufrad).

Selamat menunaikan sholat sunnah Dhuha. Salam sehat.

30 Syawal 1442H/11.06.2021.

lfh/LFH.

Memilih Teman


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Memilih Teman

Teman gaul anda adalah cerminan diri anda. Hal ini seperti sabda Rasulullah SAW:

"Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin"

Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya bersabda:

"Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). Oleh karena itu, jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu dan jika saling tidak mengenal, maka akan berpisah".

Seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan teman gaulnya yang shalih, agar memperoleh hidayah dan banyak kebaikan.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang memberikan kebaikan dan sering menasehati kita:

"Seseorang  yang duduk (berteman) dengan orang sholeh dan  orang  yang jelek adalah bagaikan berteman dengan  pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau  bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya.

Adapun berteman dengan  pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak"

HR. Bukhari 2101, dari Abu Musa

Hadist ini menunjukkan keutamaan bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.

Ibnu Hajar mengatakan

hadist ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak.

Allah berfirman:

"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) itu orang-orang zalim mengigit dua jarinya, menyesali perbuatannya seraya berkata,  "Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama rasul"

"Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu)aku tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku)._sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (Al-Qur'an) itu  telah datang.Dan syaitan memang pengkhianat manusia".

QS.Al-Furqon (25):27-29.

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang baik. Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar".

QS.At -Taubah (9):119.

Selamat menunaikan sholat sunnah Dhuha. Salam sehat.

29 Syawal 1442H/10.06.2021.

lfh/LFH.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia