Kamis, 20 Januari 2022

Kepo, Mandiri, Percaya Diri dan Berani

 Oleh: Julianto Benhayudi | Tetangga masa kecil di Jalan Wahidin I, Jakarta Pusat

Rumah masa kecil saya dan Reni berada di jalan yang sama, yaitu Jalan Dr. Wahidin I, Kompleks Siliwangi, Jakarta Pusat. Orang tua kami bertetangga. 

Jika rumah keluarga Doelli Hawadi, orang tua Reni lebih dekat ke arah Jalan Dr.Budi Utomo, tempat SMA Negeri 1 dan Rumah Tahanan Militer (RTM) maka rumah keluarga Dr. Suyoto orang tua saya, terletak di deretan tengah rumah-rumah di jalan tersebut, yang persis di depannya ada stasiun pompa bensin khusus mobil tentara.

Rumah ortu saya dicirikan ada pohon Beringin dan pohon Kamboja maka rumah ortunya Reni memiliki ciri khas, ada pohon Mangga dan pohon Mahoni. Di dalam pohon Mangga ada papan-papan untuk duduk, yang naiknya pake tangga tali. Saya sering menikmati duduk di atasnya. Sejajar dengan pohon Mangga di sebelah kiri, ada dua pohon Mahoni yang besar–besar, dan salah satunya bertuliskan kata dari cat putih S 234 C. Kata ini disusun dari atas ke bawah dan konon cerita dari  salah seorang senior, kata di pohon tersebut ditulis oleh Husein, salah seorang temannya Bambang Trijaya Hawadi, abang Reni. Bisa jadi tulisan S 234 C yang kemudian dalam berjalannya waktu menjadi 234 SC dibuat sebagai penanda rumah ortu Reni Om Hawadi sebagai markasnya anak-anak Siliwangi yang sering nongkrong di kamarnya Bambang.  

Boleh dikata saya sering main ke rumah om Hawadi. Tidak bisa dipungkiri hampir setiap hari paviliun bagian belakang di rumah ortu Reni tersebut selalu ramai. Di kamar Bambang Trijaya Hawadi anak-anak SC bermain gaple, kartu Remi sambil mendengarkan lagu-lagu The Beatles dari tape recorder merek AKAI yang terus menerus diputar sambil merokok merk Dji Sam Soe, 234. Kepulan asap rokok di kamar ber AC itu menjadi memori yang tidak terlupakan.  

Reni sepantaran dengan adik saya Jendol. Jadi saya jauh lebih senior dari Reni namun walau demikian meski berusia 6 tahun, kelas 1 SR  Reni itu alih-alih main dengan anak perempuan atau sebayanya malah lebih  suka berada di kamar abangnya. Reni itu  suka nimbrung  dan kepo bertanya apa saja pada teman-teman abangnya, yang sepuluh tahun lebih tua. Ia juga ga punya rasa takut, berani.. Misalnya pada malam takbiran, Reni tiba-tiba sudah ada di dalam mobil. Ia ikut dalam mobil yang penuh dengan  para pemuda teman-teman abangnya. Reni ikut menikmati  orang-orang bakar petasan dan melempar petasan keluar mobil. Ke kepo’an Reni terlihat juga saat ada  di antara teman abangnya bermain gitar, ia minta nyoba pegang gitar dan memainkan snarnya. Begitu juga saat kami bermain kartu, Reni minta diajarkan. Tidak lama kemudian Reni sudah ikut jadi pemain. Kalau kalah ia ikut ketawa-tawa  melihat mukanya penuh cemongan dari tepung basah yang dicorengkan di wajah pemain yang kalah..

Om dan Tante  Hawadi  walau memanjakan Reni namun berhasil menjadikannya sebagai anak perempuan yang mandiri dan  memiliki rasa percaya diri yang besar. Dengan rumah yang luas dan fasilitas untuk bermain apa saja  membuat rumah ortunya Reni jadi tempat mangkal yang ideal.Mau main ping pong ada meja pingpong, mau main catur ada catur, mau main halma ada halma, mau main dam ada dam, dan board game yang lain seperti ular tangga dan Monopoli. Lapangan yang luas juga bisa untuk main badminton, disediakan net, raket dan kok nya. Oia di sisi kanan ada samsak berbahan terpal dan sarung tinju yang sering digunakan Bambang untuk berlatih pukulan. Hahaha Reni juga mencoba jajal memakai sarung tinju namun tidak bisa sampai menjangkau memukul samsak.

Menurut saya Reni itu tidak bisa diam.Ia tidak canggung untuk memanjat pohon, naik genteng maupun kejar-kejar layangan. Satu hal yang saya juga masih ingat Reni gemar bersepeda, tidak peduli sepeda batangan, Reni akan naik dengan cara miring yaitu kaki kanannya berada dibawah batang sepeda. Karena sifat berani dan mau tahunya  ini maka om Hawadi  memasukan Reni dalam olah raga berkuda di DISC, Mampang. Fasilitas berkuda untuk Pamen TNI-AD diberikan om Hawadi pada putrinya, Reni.

Peran Tante Hawadi sangat besar menjadikan Reni seperti sekarang. Dari kecil Reni ikut berbagai les, seperti les piano, les menggambar, les menari disamping les mengaji. Ketomboyan Reni membuat Reni cepat bisa menyetir mobil. Mobil VW  kodok B 159 yang dimiliki orangtuanya  telah dapat dipakai Reni saat dia kelas VI SR.

Jika sekarang kita mengenal Reni sebagai guru besar, dosen maka sebenarnya ia sudah merintisnya dari kecil.. Selain main masak-masak’an, rumah-rumah’an, Sarinah-Sarinah’an. Reni bersama kelima adiknya (waktu itu Dian belum lahir) dan anak tetangga yang sebayanya juga suka main guru-guru’an. Reni menjadi Guru dan anak lainnya dijadikan murid-muridnya.

Ren, selamat ulang tahun! Panjang umur. Sehat selalu dan bahagia bersama Idjul dan anak, mantu, cucu sekalian.

 

Tebet, 17 Januari 2022.

Julianto Benhayudi

 


Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia