Kamis, 31 Maret 2022

Bimbingan Sepanjang Hayat Bersama Prof. Reni

Oleh: Rini Setianingsih, M.Psi, Psikolog | Psikolog dan Kepala SD Avicenna Cinere (Medco Group)

Kalau ditanya siapakah pakar Psikologi Pendidikan? Mungkin jawaban "Prof. Reni" bukanlah jawaban yang salah. Beliau istiqamah dalam mengajarkan ilmu psikologi dalam konteks pendidikan selama puluhan tahun. Wabil khusus mengenai psikologi keberbakatan. Beruntung sekali, tesis saya tentang anak berbakat bisa dibimbing langsung oleh ahlinya, Prof. Reni Hawadi.

Saya bertemu beliau ketika mengambil kuliah magister profesi psikologi di UI. Ketika berkuliah S1 psikologi, saya belum bertemu beliau di ruang kelas. Ketika kuliah profesi ini, saya cukup intensif bertemu beliau. Karena di semester terakhir, kasus sistemik, kasus siswa SMA, dan tesis saya dibimbing langsung oleh beliau. Sungguh pengalaman yang sangat menantang.

Mengapa menantang ? Karena ketika belajar bersama Prof Reni kita harus sudah dalam keadaan "setengah penuh". Kita perlu mengisi otak kita dengan informasi materi yang akan dibahas. Jadi gak kosong-kosong banget lah ketika masuk ke kelas Prof. Reni. Sebelum pemaparan, Prof.Reni sering kali memberikan kuis baik secara lisan maupun tulisan. Nah kuis lisan inilah yang sering menjadi momok mahasiswa. Sampai muncul istilah "Cerdas Cemas". Format kuis lisannya seperti tanya jawab lomba cerdas cermat, namun menimbulkan kecemasan pada semua pesertanya hehe..

Pernah suatu ketika saya dan teman presentasi tugas kuliah. Setelah presentasi, ada tanya jawab dari Prof. Reni. Teman saya terlihat cemas dan menjawab pertanyaan Prof. Reni dengan gelagapan. Alhasil nilai teman saya mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, dan langsung dituliskan di atas paper teman saya. Bener deh, kalau mau masuk kelas Prof .Reni kita gak boleh masuk dengan Otak dan hati yang kosong. Semua harus diisi dan disiapkan agar selama belajar pun  kita bisa berdiskusi dengan baik. Bayangkan jika kita tidak punya informasi apapun, kita pasti akan kesulitan memahami apa yang sedang dibahas.

Begitu pula ketika ingin bimbingan. Kita harus sudah siap dengan paper kita. Sudah merevisi apa yang diarahkan oleh Prof. Reni dan menandai revisinya. Ditandai dengan sticky note di halaman yang perlu direvisi. Ketika bimbingan perlu membawa file lama dan file yang sudah direvisi. Lalu ketika bertemu Prof. Reni, harus disandingkan file lama dengan file revisi. Jika ketika dicek tidak ada perubahan (tidak direvisi), habislah kita wkwkw…

Meskipun terkenal sebagai dosen killer, Prof. Reni tetaplah seorang ibu yang bisa kita teladani dalam hal keibuannya. Beliau selalu bercerita tentang anak-anaknya dan betapa hebatnya mereka. Kebetulan ada satu anak Prof. Reni yang seumuran dengan saya dan  saat itu sedang menjalani S3 di Belanda, sehingga relate dengan saya yang juga sedang lanjut kuliah. Hal yang perlu diteladani dari beliau sebagai ibu bekerja adalah bagaimana menyeimbangkan waktu antara karir dan mendidik  enam  anak beliau yang sukses. Dengan karir beliau yang tokcer sebagai dosen dan cukup muda untuk menjadi Doktor di usianya 36 tahun, saya salut sekali karena antara urusan rumah dan pekerjaan berjalan seimbang.

Pengalaman paling berkesan saya selama mengenal Prof. Reni adalah ketika bimbingan tesis. Ketika proses bimbingan dengan Prof. Reni, beliau sedang menjalani pendidikan di Lemhannas dan masih mengajar di  Program Studi Kajian  Timur Tengah dan Islam  (PSKTTI) Program Pascasarjana Universitas Indonesia di Salemba serta Universitas Al Azhar Indonesia (UAI)  di Kebayoran Baru. Selain itu, saya perlu mengambil data penelitian di daerah Panglima Polim. Luar biasa perjuangan saya untuk penelitian dan bimbingan, racing naik motor antara Depok-Salemba-Lemhanas-Panglima Polim-Blok M-Jatiwaringin (rumah saya). Sepanjang jalan shalawatan biar gak macet, ataupun nyasar agar tidak telat.

Ngomong-ngomong soal nyasar, saya juga pernah nyasar mencari rumah Prof. Reni untuk mengumpulkan tesis akhir (kalau gak salah itu berkas revisi setelah sidang). Waktu itu Prof. Reni minta dikumpulkan tesis revisi ke rumahnya di Duren Sawit jam 6 pagi. Kebetulan saat itu bulan puasa. Sejak semalam saya mengecek revisi dan typo apakah masih ada atau tidak, sampai tidak tidur. Karena harus sudah betul dan di print. Namun namanya hidup ya, tidak ada yang lancar. Tesis revisi sudah siap, setelah shalat subuh, ketika menuju rumah Prof Reni saya tidak menemukan persisnya dimana rumah Prof Reni. Mungkin karena masih subuh, saya gak terlihat jelas nomer rumah Prof. Reni. Saya muter-muter di kompleknya. Sampai nangis saya. Akhirnya saya telat sekitar 10 menit dan Prof Reni sudah berangkat. Alhamdulillah, bisa dititipkan kepada orang yang ada di rumahnya.

Pengalaman telat juga pernah terjadi ketika janjian bertemu Pro.f Reni di   UAI. Kalau tidak salah untuk meminta tanda tangan beliau, untuk mengumpulkan naskah sidang. Diinformasikan bahwa jadwal bertemu maju sekitar 30 menit dari seharusnya. Dan saya tidak bisa memenuhinya karena saya dari Jatiwaringin. Terlambat lah saya dan Prof. Reni sudah tidak ada. Beliau juga mungkin sedang ada urusan lain, sehingga tidak bisa dihubungi. Saat itu saya kalut, sedih bukan main. Saya menelepon ibu saya sambil menangis. Saya gatau apa yang harus saya lakukan. Akhirnya diminta ibu saya berdoa. Lalu saya shalat Dhuha di Masjid Agung Al Azhar. Saya masih tidak tau apa yang harus saya lakukan. Entah kenapa terpikir untuk bercerita dengan Bu Iin (dosen koordinator kami). Lalu saya janjian dengan Bu Iin di Depok. Alhamdulillah beliau bisa. Saya bertemu dan bercerita apa yang baru saya alami sambil menangis. Bu Iin pun menjadi mediator kami, dan menghubungi Prof. Reni agar si anak bocah ini diberikan kesempatan untuk bertemu. Karena memang sudah tinggal naskah akhir sebelum sidang. Sedih sekali jika tidak lulus karena hal ini. Alhamdulillah setelah dihubungi Bu Iin, Prof Reni mau memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu dan meminta tanda tangan. Akhirnya saya bisa sidang dan lulus di semester tersebut.

Meskipun demikian, Prof Reni ini sangatlah mensupport karir saya sebagai psikolog. Beberapa kali saya ditawarkan menjadi psikolog asonger di biro beliau, diajak penelitian dan memegang proyek dengan klien yang banyak. Beliau juga mau membantu mengisi sesi parenting ketika saya bekerja di sekolah. Saya juga pernah diminta membantu beliau menjadi pelatih untuk guru PAUD se-Indonesia dari organisasi beliau.

Selama kita menunjukkan perfoma terbaik kita, tanggung jawab, dan tepat waktu insyaallah Prof.Reni akan percaya sama kita dan banyak peluang rezeki yang datang melalui beliau. Terimakasih Prof .Reni atas segala bimbingannya, baik selama saya menempuh pendidikan profesi hingga saat ini saya berkarir di sekolah. Semoga Prof. Reni selalu sehat, dan diliputi keberkahan atas ilmunya yang bermanfaat. Selamat ulang tahun Prof. Reni, barakallah fii umrik.

Kamis, 03 Maret 2022

Disiplin, Tegas, Detail, dan Terbuka Untuk masukan

Oleh: Ruben Tim Hardian, M.Psi. Psikolog | Eks Ketua Tim Sukses Pemenangan Himpsi Jaya 


Suatu hal yang baru bagi saya untuk menulis suatu tulisan dalam suatu blog (karena tidak terbiasa tulis menulis he..he..he..) 😊 Suatu hal baru tidak akan bisa terjadi kalo tidak dicoba..betul tidak…Baiklah saya coba menuliskan cerita singkat terkait senior psikolog saya yaitu Mbak Reni Hawadi..Bismillah…

Saya sejujurnya sudah mengenal lama Nama “RENI AKBAR-HAWADI” itu sebagai nama Biro Konsultasi Psikologi..ya sekitar tahun 2004 an gegara pernah diajak ikut “ngasong” oleh rekan-rekan senior Psikologi UI (walau saya alumni Psi YAI 😊) tapiii belum pernah satu kali pun ketemu sama empunya Biro yang infonya salah senior Psikolog terbaik dalam dunia pendidikan (nasib oh nasib sebagai anak junior kali yaa). Selang waktu berjalan sejak tahun 2004 an tersebut saya gak pernah lagi terlibat dalam kegiatan ngasong mengasong terutama di Biro Reni Akbar-Hawadi  (karena sudah kerja kantoran sejak tahun 2007) dan seakan leyap dalam ingatan seiring waktu berjalan tahun ke tahun.

Nah..sampai suatu moment yang gak disangka-sangka, akhirnya saya mengenal kembali nama mbak Reni Akbar-Hawadi, bahkan bukan mengenal tetapi menjadi lebih dekat dan akrab (mudah2an gak dianggap SKSD – Sok Kenal Sok Dekat- ya Mbakku).

Cekitdot..Awal cerita yaitu pada Tahun 2020 saya mendapatkan mandat dan amanah menjadi Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Musyawarah Wilayah (Muswil) HIMPSI DKI Jakarta Raya (Muswil Himpsi Jaya) yang tupoksi (tugas pokok fungsi) seperti tertuang dalam  AD/ART Himpsi. Singkat cerita saya selaku Ketua Panpel Muswil akhirnya sampai pada satu tahapan dari beberapa tahapan yang disusun, yaitu saya harus mencari figur Calon Ketua Wilayah DKI Jakarta-  HIMPSI Jaya sebagai bentuk pesta demokrasi. Figur ini akan menjadi pesaing posisi petahana yang berencana akan maju kembali dalam ajang  pemilihan. Prinsip saya sebagai Ketua Muswil (yang mana ini penunjukkan ketiga kali sebagai Ketua Panpel  Muswil berturut-turut) dalam pelaksanaan Muswil harus menjadi cermin representatif “Pesta Demokrasi” bagi  anggota Psikologi Himpsi Jaya.

Mudahkah dapat figure yang dimaksud? Kan senior-senior Psikologi di Jakarta banyak.. Pasti banyak lah…tapi alangkah susahnya karena pada umumnya mereka menolak dengan berbagai alasan. Sementara hari berjalan terus mendekati dateline  batas pengumpulan  berkas, saya sampai frustasi karena H-4 tenggat waktu posisi calon masih Mas Widura sang  incumbent.  Untungnya tidak lama di siang hari saat saya memikirkan siapa yang harus saya kontak untuk ikut meramaikan pesta demokrasi Himpsi Jaya, salah satu Pengurus Himpsi Jaya aktif menginformasikan via telephone ada psikolog senior UI yang berminat dan berkualifikasi..wah siapa ya ?? (saya bergumam dalam hati).

Akhirnya saya mengetahui siapa yang dimaksud berminat, saya ketahui namanya dari form pendaftaran..wah ngerriii lihat profilnya…namanya beliau “Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.Si, M.M, Psikolog” sebagai Guru Besar UI dengan segudang pengalaman berorganisasi..jujur..awalnya saya tidak tahu dan kenal siapa beliau..namun setelah beberapa kali berkomunikasi (karena kebutuhan kelengkapan berkas-berkas pendaftaran) akhirnya saya tahu beliau yang dimana dikenal dengan sebutan nama “Reni Akbar-Hawadi” (OMG setelah 17 tahun berlalu saya akhirnya bertemu sama si Empunya kantor konsultan psikologi terkenal tersebut). Dalam perbincangan bersama beliau saya akhirnya mengetahui hal-hal apa yang membuat beliau berminat dan berkeinginan maju sebagai Calon Ketua Himpsi Jaya periode mendatang. Mbak Reni menyebutkan bahwa beliau terpanggil karena prihatin sekali melihat kondisi Himpsi Jaya (rupanya sesaat di approach untuk maju jadi calon Ketua Himpsi Jaya, mbak Reni langsung cari tahu apa yang membuat tidak satu pun yang maju untuk mencalonkan diri dari beberapa orang yang dikenalnya sangat dekat).

Dalam perjalanan pendaftaran tidak sedikit bahkan cukup banyak senior-senior Psikologi yang menyampaikan kepada saya kalo Mbak Reni Hawadi  itu “Killer”, “Kaku”, “Agamais”, dan lain-lain bahkan sampai juga ke telinga ada black campaign yang mendeskreditkan dengan beberapa statement.  Saya merasa tidak menjadi masalah karena itulah proses demokrasi yang menjadi bagian proses  kedewasaan dalam pemilihan nanti. Setiap calon kandidat pasti ada kelebihan dan kekurangan, pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka..normatiflah..show must go on. Disini saya melihat Mbak Reni Hawadi sebagai seorang sosok yang tangguh bisa melewati berbagai bentuk hantaman..terjangan  dalam kampanye hitam yang dihembuskan. Mbak Reni bisa tetap fokus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin bahkan menurut saya sangat serius sekali untuk merancang kegiatan kampanyenya.

Saya merasakan proses persiapan pelaksanaan Calon Ketua Wilayah DKI Jakarta- HIMPSI Jaya Periode 2021-2026 penuh jalan berliku dan berkerikil tajam.  Di hari penutupan pendaftaran bakal calon untuk melengkapi persyaratannya, jadi sudah hampir diujung pelaksanaan Muswil, tiba-tiba karena satu dua hal akhirnya saya harus berkata “Give Up”. Saya memilih mengundurkan diri dan menyerahkan kembali  mandat sebagai Ketua Panpel kepada Ketua Himpsi Jaya. Hal tersebut juga saya sampaikan kepada Mbak Reni Hawadi sebagai salah satu calon kandidat bahwa saya mengundurkan diri namun tanpa menyebutkan alasan sebenarnya. Mbak Reni di ujung telpon terlihat sangat terkejut dan langsung bertanya “ada apa ben koq kamu sampai mengundurkan diri? Saya tidak bisa menjelaskan. Rupanya pertanyaan itu tes…karena  mbak Reni sudah tahu bahkan bisa menganalisis apa-apa yang terjadi di tubuh Himpsi Jaya. Mbak Reni punya data dan  informasi yang cukup  akurat tentang apa dan bagaimana Himpsi Jaya selama ini dijalankan. Keprihatinan ini yang membuat mbak Reni  terus maju. 

Setelah mengundurkan diri dari Ketua Panpel Muswil Jaya, saya benar-benar tidak berkomunikasi dengan dua  bakan calon  selama satu minggu karena saya mau menenangkan diri sejenak dari kepenatan fisik mental selama masa-masa persiapan. Pas satu minggu saya ber”henti” dari dinamika Muswil, ternyata Mbak Reni Hawadi menelpon menanyakan kabar saya..”Haii Ben..Apa kabar”…saya jawab kabar baik Mbak..kemudian Mbak Reni Hawadi bertanya “Ben..gimana udah seminggu berehat..mau bantu saya enggak” eits bingung saya…”bantu apa Mbak”..dijawab dengan santai mbak Reni Hawadi “Bantu saya jadi Ketua Pemenangan Pemilihan Ketua Himpsi Jaya”…Saya balik bertanya “loh kok saya Mbak, kan masih banyak senior-senior lain? Akhirnya mbak Reni bilang “ Kamu orang yang sangat tepat dan cocok saat ini, Ben” seraya  menyampaikan beberapa Misi, Visi dan Rencana Program Kerja, yang mana saya ingat ada beberapa poin penting yaitu :

1.   Kepemimpinan HIMPSI Jaya periode 2021-2026 menjadi masa transisi kepemimpinan ke generasi muda. Generasi baby boomers harus dikurangi jumlah dan perannya di Himpsi Jaya. Mulai melakukan kaderisasi, mengajak dan mempercayakan  generasi milenial untuk menduduki posisi strategis di organisasi.

2.   Kepengurusan akan diisi dengan melihat keterwakilan dari alumni-alumni Fakultas Psikologi dari Perguruan-Perguruan Tinggi yang ada di Jakarta. Dan meningkatkan  peran aktif dari asosiasi/ikatan peminatan psikologi.

3.   Melakukan terus menerus sosialisasi tentang HIMPSI Jaya pada alumni perguruan tinggi agar bisa menjaring kader-kader  organisasi terbaik kedepannya, sehingga tidak terjadi stagnasi.

Saya menyimak paparan  Misi, Visi dan Program Kerja yang khusus dipaparkan Mbak Reni Hawadi via zoom, setelah selesai saya menjawab “Ehmm..kasih waktu ya Mbak untuk berpikir” (walau bingung karena ada beberapa info dari senior yang kurang baik)..namun setelah beberapa hari saya memberikan jawaban setelah ditanya kembali…”Siap Mbak Reni..Saya siap membantu dengan mengucap Bismillahirohmanirohim…”

Inilah  kerjasama perdana atau pertama kali saya dengan Mbak Reni Hawadi, tidak ditutup mata ada beberapa hal yang harus saya sesuaikan dengan gaya beliau yang  serba cepat, grabak grubuk, siap sana, siap sini, kirim ini kirim itu dll merupakan menjadi bagian dari kesehari-harian saya dengan tim sukses Mbak Reni..Kita semua menikmati karena Mbak Reni Hawadi membawa tim ini menjadi bagian dari “Keluarga” bukan “atasan-bawahan”, yang terkadang dalam kegiatan tersebut diisi dengan canda dan tawa, baik saat online meeting berlangsung atau di dalam WhatsApp Group (Wag). Dari proses menjadi Tim Sukses itu semua ada yang saya paling suka, yang bisa menjadi nilai pembelajaran bagi saya selama berkerjasama,  yaitu Mbak Reni :

1.   Pribadi yang Disiplin Waktu (ternyata anak kolong-anak tentara…sama-sama anak FKPPI)

2.   Pribadi Tegas, Detail dan Cerdas (Ya iyalah kan sudah mencapai jenjang Guru Besar UI dan menjadi Ketua Dewan Guru Besar UI )

3.   Pribadi yang terstruktur, terorganisir dan terencana/sistematis (mau semua direncanakan dengan matang dan terstruktur dengan baik)

4.   Pribadi Terbuka akan masukan (tetapi dengan alasan yang rasional, yang irasional pasti langsung take out he..he.he)

Perencanaan materi kampanye disusun dengan baik dan matang, tim dibentuk dengan kumpulan anak-anak muda lintas Universitas ( Al Azhar, UI, YAI,Pancasila, Atmajaya, Tarumanegara, UIN, dll), koordinasi masa/dukungan cukup rapi dan via online (maklum zaman Covid-19) namun kehendak Tuhan berkata lain..”Mbak Reni kalah suara dari petahana tetapi suatu rekor bisa mendapatkan perolehan suara dua digit “(amazing – dimana muswil sebelum-sebelumnya yang kalah, suaranya selalu dibawah dua digit).

Memang waktu bekerjasama dengan mbak Reni  tidaklah terlalu lama (sekitar delapan minggu) tetapi pembelajaran tersebut sangatlah berarti dan mengena pada diri saya…”Thanks ya Mbak Reni Hawadi udah mau menjadi mentor gratis buat saya, kalaupun harus bayar berapalah harus dikeluarkan untuk dimentor dengan sekaliber Dewan Guru Besar UI qiqiqi.(kapan-kapan saya minta sertifikat nya ya Mbak 😊)

Oh ya..saya buat tulisan ini di awal maret…dibulan Maret ini ada tanggal istimewa buat Mbakku Reni Hawadi tanggalan cantik di tanggal 22 Maret..dibuka dengan Pantun

….”Bunga Anggrek berwarna-warni, Anggrek Putih menghiasi taman berseri, selamat Ulang Tahun Mbakku Reni, Hidup Bahagia dalam Alunan Symphoni Psikologi”…

Semoga Selalu diberikan Kesehatan, Kebahagiaan dan Keikhlasan Lahir Bathin untuk Mensiarkan dan Menjaga Marwah Ilmu Psikologi.. Aamiin Yaa Robbalallamin..

***

Selasa, 01 Maret 2022

Your favourite color is Red

Oleh: Keke Soerjokusumo

Saya kenal  dekat dengan mbak Reni  13 thn yang lalu setelah saya menikah dengan salah satu adik laki-lakinya, Renaldi Hawadi. Keluarga suami saya adalah keluarga besar yang berasal dari Minang dan Sunda, dan saya dari keluarga kecil yang berasal dari Jawa.  Jadi saya dan suami berusaha untuk menyesuaikan dengan perbedaan yang ada. Saya selalu merasakan  keceriaan dan kegembiraan ketika berkumpul dengan keluarga besar Hawadi. Seiring dengan berjalannya waktu saya mulai berkenalan dengan semua kakak dan adik ipar saya, semuanya pinter – pinter, sarjana semua dan bekerja pada passion nya masing - masing.

Mbak Reni  sebagai kakak yang paling tua  dengan segudang titlenya dan kegiatannya yang luar biasa untuk selalu memberi manfaat buat orang banyak orang, yang paling saya notice selalu pake baju dengan warna terang.  Warna yang paling sering adalah warna merah, sepertinya itu warna kesukaannya mbak Reni, jadi dari jauh sudah kelihatan kinclong hehehehehe..Mbak Reni memang pernah bilang kalau  ia lebih confidence memakai warna clear red. Alasan lain  mengapa merah menjadi  favourite colornya mbak Reni,  karena  merah adalah warna aura zodiac Aries nya mbak Reni. Merah  memberi kesan powerful, energetic, creative dan passionate. Saya memang merasakan  dan menangkap kesan yang sama dalam diri kakak ipar saya satu ini, mbak Reni itu  tidak pernah kelihatan capek, selalu tampak ceria, dan penuh semangat 45 dalam kondisi apapun.

Dengan segudang profesi, pekerjaan dan kegiatannya  yang membuat saya salut mbak reni adalah seorang istri dan ibu yang baik bagi suaminya Bang Idjul dan anak- anaknya, dan sekarang juga sudah menjadi nenek dari cucu – cucunya.  Hal lain  yang  berkesan dari mbak Reni, ia selalu memberikan pemahaman agama Islam yang baik kepada keluarganya, kelihatan saat saya dan keluarga  beserta keluarga besar Hawadi  sedang holiday ke Bali. Mbak Reni  mendidik anak - anaknya sholat harus selalu didahulukan. Oia dalam menikmati liburan, mbak Reni  agak berbeda dengan yang lain.. Ia lebih suka mengajak keluarganya untuk pergi menikmati museum daripada belanja  hehehehe...               

Mbak Reni dan bang Idjul sering jalan-jalan, dan satu hal yang nggak pernah lupa selalu membawakan oleh-oleh untuk keluarganya  darimana pun dia pergi baik itu kunjugan dinas atau berlibur.  Doa saya untuk mbak Reni dan keluarga semoga selalu sehat , diberikan umur yang barokah dan selalu dilindungi Allah SWT. Love always.

Jakarta, 27 Februari 2022

Keke Soerjokusumo

 

Sabtu, 26 Februari 2022

Two thumbs up for you

Oleh: M. Ismail Akbar

Awalnya saya kenal, Reni Hawadi namanya. Setelah berlanjut menjadi adik ipar, Reni menikah dengan adik saya Zulkifli Akbar yang lebih bekend dengan panggilan  Idjul Akbar, sebutan nama Reni pun  berubah. Ia pun menjadi dikenal publik dengan nama Reni Akbar-Hawadi.  Boleh dikatakan Reni cinlok dengan Idjul temannya sesama Fakultas Psikologi UI. Mereka sudah dekat sejak mahasiswa dan selalu bersama-sama dalam berkegiatan di kampus. Setahu saya  keduanya aktivis UI. Reni menjadi pacar Idjul satu-satunya, karena praktis di setiap acara keluarga besar, hanya Reni lah yang dibawa oleh Idjul. Mereka menikah setelah berpacaran enam tahun dan setahun setelah Reni diwisuda menjadi Sarjana Psikologi.

Saya cerita sedikit tentang  adat Minangkabau. Ibunya Reni orang Minang Asli. Kita ketahui bersama  Minangkabau menganut sistem Matrilineal, sehingga  hal inilah yang membuat acara lamaran adik saya Idjul menjadi istimewa dibandingkan saya. Istri saya orang Sunda, jadi  acara lamaran dilakukan mengikuti adat Sunda yaitu laki-laki melamar pihak perempuan.  Nah.. untuk  Idjul ini, acara meminang dilakukan oleh pihak perempuan ke pihak laki-laki.  Keluarga besar Ibu Reni yang berasal dari Alang Lawas masih sangat  teguh memakai tata cara adat Minangkabau. Urutan acara dalam adat Minang untuk melamar diikuti sepenuhnya mulai dari maresek, maminang, batukar tando, serta baretong dan manuak hari. Utusan  dari pihak keluarga mami Reni, yaitu ninik mamaknya ternyata telah mengenal sangat baik dengan orangtua kami. Saya masih ingat dari cerita yang disampaikan, yaitu saat zaman Jepang mereka evakuasi dari Padang ke Painan. Di kota Painan inilah perkenalan terjadi, saat papa kami, Dr.H. Ali Akbar menjadi dokter setempat.

Reni berkarir sebagai PNS, dosen di almamaternya UI sedangkan Idjul menjadi PNS di Pusdiklat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).  Sambil berkeluarga  Reni juga konsisten dengan pilihan hidupnya bekerja sebagai dosen. Ia sangat paham bahwa  harus terus melanjutkan pendidikannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan. Pendidikan S2 ditempuh Reni sambil mengandung anak ketiganya, Ardha Renzulli Akbar dan  begitu juga dengan saat melanjutkan program doktor Reni tengah mengandung anak keempatnya, Poeti Nazura Gulfira Akbar. Demikian seterusnya hingga Reni bisa  mencapai jenjang jabatan fungsional akademik tertinggi Profesor di Universitas Indonesia... ck..ck..ck.. sebuah capaian yang luar biasa, bagi saya yang juga berkiprah didunia pendidikan... Two thumbs up for her! Alhamdulillah.

Hal lain yang juga saya kagumi dari Reni, sudahlah begitu sibuk hari-harinya di dunia pendidikan selaku staf pengajar maupun psikolog praktek, namun soal keluarga Reni tidak abai mengurus enam anaknya. Keseluruhan tiga pasang anaknya  (Reni Idjul memiliki tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan) terurus baik hingga masing-masing anak dapat  menamatkan pendidikan tingginya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bergengsi.  Alhamdulillah...

Saya juga mengagumi melihat bagaimana Reni mengantar empat anaknya hingga jenjang pernikahan. Reni mengurusnya semua sendiri, hingga tetek bengek soal penataan ruang resepsinya, menu, pengisi acara dan lain sebagainya hal-hal detil tidak luput dari perhatiannya. Ini semua menjadi sebuah kepuasan sendiri baginya.

Dilain hal, di era pemerintahan Presiden SBY, Reni diberi kedudukan eselon 1a selaku Direktur Jenderal PAUDNI Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan R.I.. yaa Reni menjadi  pejabat negara. Kesibukannya meningkat sering wara wiri keliling daerah Nusantara NKRI, banyak kabupaten/kota, provinisi telah dijelajahi Reni sebagai bagian dari pengabdiannya pada bangsa dan negara untuk memenuhi target yang ingin dicapainya Satu Desa Satu PAUD. Kelihatannya enak... melelahkan tentuuuunya…

Hal lain yang saya kagumi dari ipar saya ini, Reni termasuk etikanya dalam mempererat persaudaraan,  jauh dimata dekat dihati. Misalnya, ia  berkirim rempeyek se”blek" (sebutan kaleng yang dibuat dari seng untuk menyimpan makanan kering) kata orang Betawi.  Supir mengantarnya  menjelang puasa  ke kami   delapan  bersaudara kakak, adik ipar dari suaminya dan tanpa harap kan balasan. Begitulah caranya tersendiri.

Tak terhitung nilai positif yang kami rasakan darinya dan Idjul, tak cukup kata terucap, berlembar-lembar kertas kurang rasanya untuk menuliskan kebaikan dari Reni, walau pasti ada kurangnya namun tak seberapa. Semoga sukses berlanjut adikku Prof.Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.Si.,M.M., Psikolog beserta  suami tercinta Drs. H. Zulkifli Akbar, M.Si.Psikolog dan seluruh anak mantu cucu,  do'a kami sertakan untuk kalian. Aamiin ya Rabbal’Alamin.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia