Kamis, 03 Februari 2022

CENDEKIAWAN: NALAR, NALURI, NRIMO ING PANDUM

Oleh: Prof. Dr. Thomas Suyatno

Politisi, Pendidik, Bankir

Sekitar tahun 1985, ketika saya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), sahabat saya, Sdr. Dr. Yoseano Waas (almarhum) sebagai seorang tokoh dan kader senior Soksi memperkenalkan Ibu Reni Hawadi, demikian panggilan akrab Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi.

Kesan mendalam saya, dari perkenalan pertama dengan Ibu Reni, adalah bahwa saya berhadapan dengan seorang cendikiawan yang cerdas, keras, dan sederhana. Dalam sikap kesederhanaannya dalam kehidupan dan pembicaraan, beliau menunjukkan integritasnya sebagai cendekiawan dan pendidik. Saya berpendapat bahwa bekerja keras disertai integritas moral itulah yang seharusnya merupakan sifat khas yang harus dimiliki oleh setiap insan pendidik. Sebagai pendidik, kita harus selalu memberikan keteladanan.

Perkenalan yang semula hanya terbatas sebagai teman seperjuangan di Soksi dan terbatas sebagai sahabat, ternyata kemudian berkembang menjadi sangat akrab. Kami cukup sering berdialog dengan Ibu Reni dan suaminya, bang Akbar. Sebagai sesama Ikatan Keluarga Lemhannas (IKAL), kami sangat sering berdiskusi tentang masalah kenegaraan, politik, dan ekonomi. Selain itu, beliau sebagai seorang pendidik di Fakultas Psikologi UI, kami sering bertukar-pikiran dan gagasan mengenai dunia pendidikan di Era VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous) serta era TUNA (Turbulent, Uncertain, Novel, Ambiguous), berlanjut dengan Turbulensi Disrupsi, berkembang menjadi Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM). Di masa pandemic Covid-19 yang berkepanjangan dan tidak satu orang pun tahu kapan akan berakhir, kami sering bertanya: apakah pandemic seyogyanya sebagai warning terhadap kondisi comfort zone? Dan apakah seyogyanya pandemic merupakan momentum untuk mengubah bencana menjadi peluang, bahkan untuk bertransformasi dan bereformasi?

Sifat-sifatnya yang tabah, konsekuen, kerja keras, jujur, disiplin, dan terus terang cukup saya kenal. Sebagai intelektualis, cendikiawan, pendidik, dan Guru Besar, Prof. Reni dikenal sebagai seorang yang menekankan nalar.

Penekanan pada nalar ini sebenarnya lumrah saja dilakukan oleh seorang pendidik – apalagi intelektual, karena justru yang hakiki membedakan manusia sebagai animal rationalist dari animal  lain adalah kemampuannya menggunakan nalar atau rasionya. Memang dalam diri manusia ada nalar dan naluri, sedang dalam titah lainnya hanya ada naluri; aksi dan reaksi muncul secara naluriah, demi penyelamatan diri dan jenis, serta karena ada hasrat mengembangbiakkan dirinya.

Ketika beliau diangkat menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Non-formal dan Informal pada tahun 2012 sampai dengan 2014, banyak orang seperti tersentak oleh kehadirannya. Konsep-konsepnya, pikiran, dan gagasan yang dituangkan, menyadarkan orang-orang di lingkungan kerjanya untuk tidak bertindak demi reservasi diri dan prokreasi kita semata-mata, baik dalam harafiah maupun dalam arti yang lebih luas. Pikiran dan gagasan Prof. Reni merangsang orang, khususnya teman-teman sejawatnya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI serta kawan-kawan seperjuangan di Soksi, FKPPI, dan berbagai karya serta pengabdian lainnya untuk membuka mata pada ruang-ruang perbendaharaan intelektual yang memungkinkan manusia melibatkan diri di dalamnya menjadi lebih kaya secara spiritual. Kekayaan spiritual dan kesadaran intelektual inilah yang mencirikan manusia sebagai makhluk tertinggi di antara semua mahluk ciptaan-Nya.

Saat menjadi pendidik maupun menjadi birokrat, beliau menekankan kekuatan penalaran individual dalam akal budi peserta didik dan stafnya, bahkan teman-teman seperjuangan di Soksi. Kesan saya, beliau mencita-citakan individu yang mampu berpikir mandiri, yang kemudian karenanya dapat membentuk masyarakat demokratis, bukan masyarakat otoriter, di mana manusia-manusia mau didikte. Sebaliknya, adanya individu-individu yang berpikir mandiri akan merupakan sumber kreativitas dan daya inovasi untuk dasar kemajuan masa depan bangsa Indonesia.

Sikap dan kegiatan Prof. Reni bersumber pada pengetahuan yang didapatkan dari merasa dan berpikir. Penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu di dalam menemukan kebenaran. Di dalam setiap diskusi dan dalam masa hidupnya, Prof. Reni hampir selalu menekankan kekuatan nalarnya, selain nalurinya.

Prof. Reni adalah seorang Islam yang saleh, secara totalitas bertawakal, dan mengimani kepercayaannya secara menyeluruh. Semua ajaran agama dihayati dengan penalaran yang jelas. Beliau berpendirian bahwa selain dari pada dirinya sendiri, pada akhirnya seseorang itu dalam menjalankan perintah-perintahNya harus mempertanggungjawabkan diri langsung kepada Tuhan Sang Mahapencipta, bukan kepada orang lain. Kenyataannya, beliau orang yang sangat patuh dalam melaksanakan agama Islam. Sebagai orang yang kuat penalarannya, beliau adalah deep thinker, orang yang berpikiran mendalam, mempunyai disiplin sebagai pribadi dan pengendalian diri yang kuat. Meminjam istilah kejawen, saya dapat mengatakan bahwa Prof. Reni adalah orang yang tahan matiraga. Tidak mengejar kekayaan, melainkan nrimo ing pandum. Sepengetahuan saya, beliau sangat hormat kepada orangtuanya, terutama Ibunya, tentu juga menyayangi suami dan putra-putrinya. Justru karena martabatnyalah seorang Ibu harus dihormati, sebagai ibu dari anak-anaknya, sebagai istri bagi suaminya, juga karena profesinya sehubungan dengan kepandaiannya. Perempuan memang harus diangkat, dijunjung, dan dihormati—bukan dilecehkan.

Beliau melangkah dan mengisi hidup ini dengan totalitas pengetahuan yang bersumber pada nalar, naluri, serta wahyu. Wahyu didapatnya melalui agama yang dianutnya, yang merupakan komunikasinya dengan Tuhan. Mengikuti perjalanan Prof. Reni, kita menjadi mengerti bahwa ada dua jalan hidup ini, yakni: jalan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi cendekiawan dan jalan tindakan bagi pelaksanaan karya atau tugas. Selesai tugas sebagai Dirjen dan berbagai karya pengabdian lainnya, Prof. Reni kembali ke dunianya: pendidik dan cendekiawan. Beliau seolah diam. Namun diamnya itu justru membuat suara kebenaran terdengar.

Banyak yang dengan terus terang, banyak pula yang diam-diam memuji, membenarkan, serta menggunakan pikiran dan gagasan Prof. Reni, yang tatkala bertugas seperti tercurah dalam bentuk konsep-konsep, baik secara mendasar maupun secara praktikal.

Pada akhirnya saya ingin menekankan bahwa hidup ini relatif pendek, majemuk, dan memiliki banyak keterbatasan. Kebebasan itu perlu di dalam berbagai keterbatasan. Mengutip Rene Descartes, filsuf ternama Perancis yang mengatakan  Cogito Ergo Sum, yang artinya, “Saya berpikir maka saya ada”. Tetapi jelas, biasanya kemauan itu lebih besar daripada kemampuan. Juga kebahagiaan itu perlu ada dalam keterbatasan itu. Dan hanya mereka yang mau dan mampu bersyukur kepada Tuhan, dapat merasakan kebahagiaan itu.

Pada kesempatan ini, saya, istri, anak-anak, dan cucu-cucu menyampaikan selamat ulang tahun ke-65 pada 22 Maret 2022 kepada Prof. Reni, dengan harapan semoga Tuhan Yang Mahaesa selalu memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama keluarga dan terus berkarya demi pembangunan sistem politik dan sistem pendidikan nasional kita.

 

Jakarta, 25 Januari 2022

Thomas Suyatno


Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia