Selasa, 17 Agustus 2021

Berkurban


Kata kurban berasal dari bahasa Arab, yaitu qoroba, yaqrobu, qurban, qurbanan, dan qirbanan yang berarti dekat atau mendekatkan. Secara istilah kata qurban berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam perkembangannya, kata qurban diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan penyesuaian ejaan dan perkembangan makna, menjadi kurban.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), saya mencari kata berkurban .
Berkurban sama dengan mempersembahkan kurban. Kurban sendiri diartikan persembahan kepada Allah (seperti biri-biru, sapi, unta yang disembelih pada hari Lebaran Haji).
Berkurban adalah salah satu ritual kita umat Islam, dimana pada bulan zulhijjhah, kita melakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah.
Waktu ritual berkurban pada penanggalan Islam yaitu pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12, dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan kita merayakan Hari Raya Idul Adha.
Di dalam Al-Qur'an ada peristiwa ritual kurban lainnya yakni Habil dan Qabil, kisah dua anak Adam.
_" Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, "Sungguh, aku pasti membunuhmu!" Dia (Habil) berkata, " Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa."_ *QS. Al-Maudah' (5):27.*
Dari ayat diatas kita memperoleh pemahaman bukan ritual berkurban _an sich_ namun kita berkurban agar kurban kita diterima Allah SWT sebagai amal. Dan untuk itu syaratnya kita yang berkurban harus masuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa padaNya.
Berkurban adalah salah satu cara yang Allah berikan untuk kita mendekatkan diri padaNya. Selain shalat, sarana mendekatkan diri pada Allah dengan berkurban. Allah berfirman:
_"maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)"_
*QS.Al-Kausar (108):2.*
Namun apakah berkurban itu wajib? Untuk Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkurban itu wajib hukumnya, sedangkan bagi kita umatnya, hukum berkurban sunnah bagi yang mampu melaksanakan.
_" Aku diperintahkan untuk berkurban,tidak wajib bagi kamu"_
*HR.Tirmidzi*
Rasulullah bersabda:
_"Ada tiga perkara yang wajib bagiku dan sunah bagi kamu shalat witir, menyembelih qurban, dan shalat dhuha"__
*HR.Ahmad*
Dalam hadist yang lain, Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam mengingatkan kita umatnya yang memiliki kemampuan tentang perintah berkurban. Berikut hadist dari Abu Hurairah
_"Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami."_
*HR.Ahmad dan Ibnu Majah*
Dalam hadist lain disebutkan:
_" Hai manusia, sesungguhnya atas tiap-tiap ahli rumah pada tiap-tiap tahun disunatkan berkurban."_
*HR. Abu Dawud.*
Berkurban merupakan salah satu sunnah bagi mereka yang telah dikarunia Allah rezki. Dan melihat uraian diatas, berkurban bisa menjadi satu indikator ketakwaan kita pada Allah SWT.
_"Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)."_
*QS.Al-Hajj (22):34.*
Semoga ayat-ayat Al Qur'an dan Hadist menjadi penguat diri kita untuk terus berjalan ke arah sesuai petunjukNya agar memperoleh keselamatan dunia akhirat.
Selamat menjalankan Sunnah Dhuha. Salam sehat.
9 Zulhijah 1442H/19.07.2021.
lfh/LFH.
Youtube prof reni akbar hawadi
_Diadaptasi dan disadur secara bebas dari berbagai sumber_.
_foto diambil dari google_

Taufiq

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata taufik adalah pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kata ini berasal dari bahasa Arab _wafaqa_ yang kalau dibuka terjemahan dan arti di Kamus Istilah Indonesia Arab memiliki arti : bimbingan, sejalan, sesuai dengan, cocok dengan, selaras dan sepakat.
Mengacu pada arti kata taufik diatas, maka taufiq bermakna adanya kesesuaian, kecocokan dan keselarasan antara dua hal. Kesesuaian antara dua hal apakah? Jika ada kesesuaian antara perbuatan kita dengan ketentuan Allah sehingga pertolongan Allah datang.
Saat menulis artikel ini tiba-tiba saja muncul dua kosa kata Bahasa Jerman das sein dan das sollen. _Das Sein_ mengacu pada peristiwa nyatanya yang terjadi, sedangkan _Das Sollen_ merujuk pada hal yang seharusnya, atau idealnya terjadi. Dengan kata lain das sein dan das sollen bicara tentang kesesuaian antara kenyataan dengan seharusnya.
Dalam konteks taufiq, pertanyaan yang kita ajukan apakah perbuatan kita _(das sein)_ sesuai dengan seharusnya yang Allah gariskan? _(das sollen)_.
Disebut Taufiq saat kita mampu melaksanakan sesuai dengan Petunjuk Allah. Untuk sebab itulah kita memohon bimbingan, pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar perbuatan kita klop dengan petunjukNya.
Kata taufiq tidak lain dan tidak bukan, hanya bisa dilekatkan hanya dengan kata Allah. Hal ini karena hanya kepada Allah kita meminta pertolongan. Dan karena tidak ada yang mampu memberi petunjuk melainkan hanya Dia. Allah SWT berfirman:
_"Sungguh engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."_
*QS.Al-Qasas (28):56.*
Petunjuk yang disebut dalam ayat tersebut adalah apa yang dikatakan Nabi Syuaib:
_"Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali"_
*QS. Hud (11):88.*
Pengertian taufiq jika dikaitkan dengan rezki, hanya bisa terbatas dilekatkan pada mereka yang diberi rezki oleh Allah SWT dan mensyukurinya. Sedang untuk orang yang diberi rezki namun melampaui batas dan kufur nikmat, maka kata taufiq disini tidak tepat.
_"Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup"_
*QS. Al-'Alaq (96):6-7.*
Beruntunglah dan berbahagialah jika ada kecocokan antara perbuatan dan petunjuk Allah. Taufiq Allah hanya terjadi jika kita hatinya bersih,suci dengan iman. Allah berfirman:
_"Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)_
*QS.Al-A'la (87):14.*
Dan tahukah sahabatku manakah Taufiq Allah tertinggi?
Taufiq Allah tertinggi adalah saat Allah memberikan kita sebagai hambaNya taat pada segala perintahNya dan benci pada kekufuran, kemaksiatan.
_"Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus."_
*QS.Al-Hujurat (49):7.*
Semoga ayat-ayat Al Qur'an dan Hadist menjadi penguat diri kita untuk terus berjalan ke arah sesuai petunjukNya agar memperoleh keselamatan dunia akhirat.
Selamat menjalankan Sunnah Dhuha. Salam sehat.
8 Zulhijah 1442H/18.07.2021.
lfh/LFH.
Youtube prof reni akbar hawadi
_Diadaptasi dan disadur secara bebas dari berbagai sumber_.

Samawa


Al-Qur'an tidak hanya memuat petunjuk hubungan manusia dengan Tuhan _(hablum min Allah)_ namun juga memberi petunjuk hubungan dengan sesama manusia _(hablum min an-nas)_.
Salah satu masalah dalam hubungan antar manusia adalah hubungan dengan pasangannya dalam perkawinan. Dua manusia dengan dua kutub sifat yang berbeda akan memunculkan masalah.
Dalam firman-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita tentang tujuan penciptaan manusia berpasangan. Ayat dibawah ini sering dikutip untuk ditulis dalam kartu undangan perkawinan sebagai doa dan harapan sekaligus juga dipakai orang mengucapkan doa selamat bagi mempelai.
Rangkaian tiga kata (sakinah, mawaddah wa rahmah) bukan sekedar ucapan untuk mempelai namun mempunyai makna doa dan harapan pada pengantin dalam perjalanan
kehidupan perkawinannya.
Apakah arti samawa?Jangan coba cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasti tidak akan ketemu kata samawa. Jujur sayapun tidak sreg menulis kata samawa sebagai singkatan dari rangkaian tiga kata tersebut.
Untuk penulisan judul artikel Insight kali ini saya menulisnya menjadi samawa. Hal ini sekaligus menjadi pesan dan upaya meluruskan kita agar tidak malas menulis tiga kata indah yang bermuatan doa dan harapan bagi pasangan yang masuk dalam kehidupan baru mereka.
Samawa singkatan dari sakinah, mawaddah wa rahmah yang semakin kerap digunakan kita di Indonesia. sering disingkat Samawa berasal dari firman Allah SWT sebagai berikut:
_Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan umtukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang"_
*QS.Ar-Rum (30):21.*
Kata sakinah berasal dari bahasa Arab, sakana yang mengandung arti tenang, tenteram. Setelah diadopsi menjadi bahasa Indonesia, kata sakana menjadi sakinah. Dalam KBBI kata sakinah masuk ke dalam kelas nomina (kata benda).Ada empat arti kata sakinah yaitu kedamaian, ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan.
Dari mana datangnya ketenangan itu? Allah Subhanahu wa Ta'ala lah yang memberikannya,
_"Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu"_
*QS.Al-Baqarah (2):248.*
_"Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya."_
*QS. At-Taubah (9):26.*
_"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka."_
*QS.Al-Fath (48):4.*
Jika kata sakinah dikaitkan dengan keluarga maka sakinah dalam keluarga berarti keadaan yang tetap tenang, tenteram dan damai meski ada badai melanda sebagai ujian hidup rumah tangga.
Kata kedua yaitu mawaddah. Ini juga berasal dari bahasa Arab wadda yang berarti rasa sayang, cinta yang membara, atau menggebu. Kata mawaddah telah diadopsi kedalam bahasa Indonesia. Dalam KBBI menjadi kata mawadah, yang artinya kasih sayang.
Ada yang menuliskan bahwa mawadah mengandung makna filosofis, yaitu dorongan batin yang kuat untuk selalu berharap agar orang yang dicintai terhindar dari sesuatu yang buruk. Ada keinginan memberi rasa bahagia bersama pasangannya.
Kata ketiga yaitu rahmah. Setelah diadopsi dalam bahasa Indinesia ejaannya disesuaikan menjadi rahmat. Kata rahmat dalam KBBI, artinya belas kasihan; kerahiman, karunia (Allah); berkah (Allah).
Rahmah berasal dari Rahimayarhamu-Rahmah. Dalam berbagai bentuknya ada 338 kali di dalam Al-Qur'an.
Ibnu Faris menyebutkan kata yang terdiri dari fonem ra, ha, dan mim menunjuk kepada arti kelembutan hati, belas kasih, dan kehalusan.
Untuk itu diharapkan dalam kehidupan perkawinan kelembutan hati mendorong seseorang melakukan kebaikan pada pasangannya. Dengan inilah ketenangan dalam rumah tangga sebagai karunia Sang Khalik akan senantiasa terjaga dalam dekapanNya.
Semoga ayat-ayat Al Qur'an dan Hadist menjadi penguat diri kita untuk terus berjalan ke arah sesuai petunjukNya agar memperoleh keselamatan dunia akhirat.
Selamat menjalankan Sunnah Dhuha. Salam sehat.
7 Zulhijah 1442H/17.07.2021.
lfh/LFH.
Youtube prof reni akbar hawadi
_Diadaptasi dan disadur secara bebas dari berbagai sumber_.

Akhirat

Jika dilihat asal katanya, akhirat berasal dari bahasa Arab _al-akhir_, yang berarti lawan dari _al-awwal_, yang terdahulu.

Akhirat menunjuk pada jangka waktu, yang berarti _ujung dari sesuatu_, dan digunakan dalam Al-Qur'an pada pengertian alam yang akan terjadi setelah berakhirnya alam dunia.
_"Dan diantara mereka ada yang berdoa, " Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka."_
*QS.Al-Baqarah (2):201.*
_"Diantara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat."_
*QS. Ali'Imran (3):152.*
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menerangkan pada kita bahwa manusia memiliki dua kehidupan, yaitu kehidupan sementara yang akan segera berlalu dan kehidupan kekal abadi.
Kehidupan yang akan segera berlalu adalah kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan yang kekal abadi adalah kehidupan akhirat.
Rasululullah Shallallahu'Alaihi Wasallam mengingatkan kita semua,
_" Perbandingan antara dunia dan akhirat bisa diukur dengan seseorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam air laut. Lihatlah, seberapa banyak air yang ia dapatkan di jari tangannya itu."_
*HR. Ibnu Majah dari Al-Mustaurid.*
Hal ini sesuai dengan firman Allah,
_"Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa"._
*QS. An-Nisa'(4):77.*
Ayat ini kemudian dipertegas kembali dengan Firman Allah,
_"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu,"_
*QS. Al-Qasas (28):77.*
Bahwa kehidupan dunia hanyalah kesia-siaan dan kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
_"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga antar kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."_
*QS.Al-Hadid (57):20.*
Akhirat adalah kehidupan sebenarnya. Sebuah alam kehidupan yang kekal dalam kebahagiaan dan keselamatan. Bagi mereka yang mampu melihat hakekat maka ia akan berkata:
_"Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebaikan) untuk hidupku ini."_
*QS.Al-Fajr (89):24.*
Kehidupan akhirat adalah tempat segala kenikmatan yang diinginkan setiap jiwa. Inilah kehidupan abadi manusia yang bebas dari segala kekurangan, bebas dari mara bahaya, bebas dari penyakit, bebas dari kesusahan dan kecemasan. Dan bebas dari kematian. Akhirat adalah alam keabadian. Alam Baka.
Semoga ayat-ayat Al Qur'an dan Hadist menjadi penguat diri kita untuk terus berjalan ke arah sesuai petunjukNya agar memperoleh keselamatan dunia akhirat.
Selamat menjalankan Sunnah Dhuha. Salam sehat.
6 Zulhijah 1442H/16.07.2021.
lfh/LFH.
Youtube prof reni akbar hawadi
_Diadaptasi dan disadur secara bebas dari berbagai sumber_.

Syahwat

Syahwat berasal dari bahasa Arab, yang artinya keinginan untuk mendapatkan yang nikmat; berahi.

Kata syahwat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah nafsu atau keinginan bersetubuh.
Imam al-Harits bin Asaf al-Muhasibi dalam kitabnya yang terkenal al-Ri'ayah li-Huquq Allah, menyampaikan sebuah hadist:
_" Neraka dikelilingi oleh syahwat."_
*HR. Muslim no.2822 dari Anas bi Malik.*
Dari hadist ini sangat jelas bahwa hal-hal yang bisa menjerumuskan manusia ke neraka identik dengan keinginan nafsu (Syahwat), sedangkan amalan-amalan yang bisa memasukan manusia ke surga, tidak disukai oleh nafsu.
Pengertian syahwat dalam tulisan juga sama dengan hawa nafsu yang merujuk pada terminologi kata hawa, diantaranya adalah kecenderungan jiwa terhadap segala sesuatu yang disukai; keinginan jiwa terhadap sesuatu yang dicintai; kecintaan manusia terhadap sesuatu sehingga mengalahkan hatinya.
Berdasarkan pengertian diatas, Allah SWT memperingati kita agar jangan sampai terpedaya pada segala sesuatu yang kita sukai. Firman Allah:
_"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik."_
*QS. Ali'Imran (3):14*
Manusia cenderung ingin menikmati dunia secara berlebihan, sesuai firman Allah:
_"dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan"_
*QS.Al-Adiyat (100):8.*
Dalam firmanNya yang lain, Allah SWT mengingatkan bahwa hawa nafsu cenderung membawa manusia kepada kejahatan.
_"Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Pengampun, Maha Penyayang."_
*QS. Yusuf (12):53.*
Hawa nafsu juga akan membawa kepada kesesatan sebagaimana firman Allah,
_"...janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah."_
*QS. Shad (38):26*
Dan sebaik-baiknya Allah SWT berfirman:
_"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu."_
*QS. Al-Fajr(89):27_30*
Syahwat atau hawa nafsu harus dikendalikan. Berikut doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk menahan hawa nafsu:
_"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan hawa nafsu yang jelek."_
*HR Tirmidzi, no.3591. Al-Gafuzh Abu Thahir*
Semoga ayat-ayat Al Qur'an dan Hadist menjadi penguat diri kita untuk terus berjalan ke arah sesuai petunjukNya agar memperoleh keselamatan dunia akherat.
Selamat menjalankan Sunnah Dhuha. Salam sehat.
5 Zulhijah 1442H/15.07.2021.
lfh/LFH.
Youtube prof reni akbar hawadi
_Diadaptasi dan disadur secara bebas dari berbagai sumber_

Ma'ruf


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan al-Ma'ruf adalah satu nama yang mencakup dicintai oleh Allah, berupa iman dan amal shalih.

Al-Ma'ruf adalah segala bentuk ketaatan kepada Allah.
Al-Ma'ruf meliputi segala hal yang dianggap baik, diperintah melakukannya, dipuji dan orang yang melakukannya dipuji pula.
Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah mengatakan :
_"Ketahuilah bahwa amar ma'ruf nahi munkar adalah poros yang paling agung dalam agama.Ia merupakan tugas penting yang karenanya Allah mengutus para Nabi"._
Menyuruh melakukan perbuatan baik (makruf) dan melarang melakukan perbuatan jahat (mungkar) merupakan prinsip dasar agama yang harus dilakukan oleh manusia.
Allah SWT berfirman:
_" Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."_
*QS. Ali' Imran (3):104.*
Pentingnya ber _amar makruf nahi munkar_ ini diuraikan lebih lanjut dalam hadist sebagai berikut:
_"Hendaklah kamu beramar makruf (menyuruh berbuat baik) dan benahi mungkar melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat diantara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdoa dan tidak dikabulkan (doa mereka)"_
*HR.Abu Dzar.*
Secara jelas kita mengetahui konsekuensi yang akan kita terima jika mengabaikan perintah Allah SWT menyerukan untuk perbuatan baik dan melarang perbuatan jahat, doa kita bisa tidak dikabulkanNya.
Hadist selanjutnya memberikan kita pemahaman tentang cara untuk melaksanakan perintah tersebut:
_"Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman."_
*HR.Muslim.*
Dari penjelasan diatas mengingkari kemungkaran dengan hati adalah wajib bagi setiap Muslim dalam semua kondisi, sedang mengingkarinya dengan tangan dan lidah sesuai dengan kemampuan.
Sebagaimana dalam hadist Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
_"Tidaklah suatu kaum yang dikerjakan ditengah-tengah mereka berbagai kemaksiatan yang mampu mereka mencegahnya namun tidak mereka cegah, melainkan Allah pasti akan menurunkan hukuman kepada mereka semua."_
Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam juga bersabda:
_"Ingatlah, janganlah sekali-kali rasa segan kepada manusia menghalangi seseorang untuk mengatakan kebenaran jika ia mengetahuinya."_
Demikianlah...Semoga ayat-ayat Al Qur'an dan Hadist menjadi penguat diri kita untuk terus berjalan ke arah sesuai petunjukNya agar memperoleh keselamatan dunia akherat.
Selamat menjalankan Sunnah Dhuha. Salam sehat.
4 Zulhijah 1442H/14.07.2021.
lfh/LFH.
Youtube prof reni akbar hawadi
_Diadaptasi dan disadur secara bebas dari berbagai sumber_.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia