Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Maret 2023

Pakar: Pemda-masyarakat perlu duduk bersama bahas sekolah jam 05.30


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengatakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu duduk bersama untuk membahas mengenai kebijakan jam masuk sekolah pukul 05.30 Wita.

"Kebijakan ini perlu dibahas bersama, mulai dari Muspida NTT, Dewan Pendidikan Provinsi, hingga masyarakat," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Kamis.

Prof Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional 2012-2014 itu menjelaskan pembahasan bersama diperlukan agar banyak pihak memahami alur pikir kebijakan tersebut secara komprehensif.

"Selain itu, pemerintah setempat perlu juga masukan dari sisi anak, guru, dan orang tua mengenai penerapan kebijakan tersebut," katanya.

Prof Lydia menambahkan dari sisi psikologis sebenarnya kebijakan tersebut bisa dimaknai positif sebagai keinginan dari seorang kepala daerah untuk makin meningkatkan kualitas peserta didik.

"Saya mencoba memahami dari sisi psikologis, mengenai kegalauan sekaligus keprihatinan seorang kepala daerah terhadap masa depan lulusan peserta didik SMA/SMK. Asumsi beliau karena pagi hari tubuh dan otak masih segar," katanya.

Kendati demikian, dia juga mengakui bahwa banyak faktor yang harus dilihat terkait kebijakan tersebut.

"Bahwa jika siswa harus mulai belajar di sekolah jam 5 pagi, maka dia harus bangun paling tidak jam 03.30. Ini berarti dia harus tidur jam 20.00 paling telat agar dapat terpenuhi kebutuhan pola tidur 8 jam bagi anak usia remaja. Dengan tidur jam 20.00 berarti sekolah harus mengukur pemberian PR," katanya.

Prof Lydia juga berpendapat bahwa kebijakan sekolah jam 06.00 mungkin lebih bisa diterima

"Karena pukul 06.00 matahari sudah mulai terbit, kendaraan umum sudah banyak di jalan dan cukup waktu bagi orang tua dan anak bersiap, selain itu yang terpenting adalah anak sempat sarapan di pagi hari," katanya.

Sebelumnya, Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat dalam pertemuan dengan sejumlah guru dan kepala sekolah di kantor Dinas Pendidikan NTT mengeluarkan kebijakan yang cukup kontroversi dan menimbulkan reaksi dari masyarakat soal penerapan jam sekolah mulai pukul 05.00 Wita bagi SMA/SMK di Kupang.

Dalam perjalanannya, kebijakan itu berubah dari semula jam 05.00 menjadi 05.30 Wita dan berlaku hingga saat ini.

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Kamis, 02 Maret 2023

Guru Besar UI Ingatkan Orangtua Berikan Kasi Sayang untuk Mencegah Bullying

Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengingatkan orang tua agar banyak memberikan kasih sayang pada buah hati mereka guna mencegah perilaku bullying. 


"Salah satu upaya mencegah perilaku bullying pada anak adalah dengan cara mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Minggu. Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan bahwa anak yang menjadi pelaku bullying atau perundungan biasanya adalah mereka yang pernah menjadi korban perundungan. 

"Misalkan seorang anak yang pernah menjadi korban bully di rumahnya, karena tidak berani melawan otoritas maka si anak melampiaskannya di luar. Biasanya yang menjadi sasaran atau korban bully adalah anak yang lemah," katanya. 

Karena itu, kata dia, salah satu cara mengatasi anak agar tidak menjadi pelaku atau korban perundungan maka tugas orang tua dan juga tugas masyarakat yang ada di lingkungan sekitar adalah mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang. 

"Anak yang dibesarkan dengan cinta kasih dan rasa kasih sayang maka akan tumbuh sebagai individu yang utuh. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting karena akan menjadi modal untuk dia berinteraksi baik dengan teman-teman atau sebayanya," katanya. 

Prof Lydia Freyani Hawadi menambahkan bahwa masa kanak-kanak adalah masa pembentukan yang akan menentukan kepribadian dan karakter anak pada masa yang akan datang. "Masa pembentukan ini menentukan akan menjadi sosok individu apa dan bagaimana kelak. Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama berkewajiban mendampingi proses tumbuh kembang anak dan memberikan hal-hal yang menjadi kebutuhan anak sesuai tahap perkembangan," katanya.

 Orang tua, tambah dia, juga memiliki tugas mengawal perkembangan anak dengan berlandasan nilai-nilai religius untuk jadi pegangan hidup sang anak pada masa yang akan datang. "Selain itu yang juga penting adalah pemberian kasih sayang mutlak tanpa syarat atau unconditional love," katanya. Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Dr Seto Mulyadi atau lebih akrab disapa Kak Seto mengatakan penguatan pendidikan karakter merupakan kunci utama agar anak tidak jadi pelaku perundungan atau bullying. 

"Pendidikan karakter menjadi kunci utama agar anak memiliki karakter yang berakhlak mulia dan penuh cinta kasih," katanya. (Ant/OL-12)


Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/538804/guru-besar-ui-ingatkan-orangtua-berikan-kasi-sayang-untuk-mencegah-bullying

Lydia Freyani Hawadi: Orang Tua Harus Dibekali Pengetahuan Saat Dampingi Anak Belajar di Rumah


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Dalam mendampingi anak belajar dengan sistem jarak jauh dari rumah pada masa Pandemi Covid-19, orangtua perlu dibekali pengetahuan bagaimana menjadi pendamping yang baik. Tanpa mengerti bagaimana mendampingi anak belajar, akan mengakibatkan anak cepat lelah dan mudah stres.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, M.SI, M.M.,

Psikolog dalam Webinar yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Pusat, Selasa (15/12/2020) untuk memperingati Hari Ibu.

Prof Lydia dalam webinar yang dibuka Ketua Umum IKWI Pusat, Indah Kirana, menjelaskan sebagai ibu harus memahami multiperan dirinya dalam keluarga.

Suasana Webinar yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Pusat

Karena multiperan ini sangat berat, supaya tidak jatuh sakit, ibu harus mempersiapkan dirinya dengan mengkonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, dan olahraga rutin sehingga muncul kekebalan tubuh dalam menjalankan tugas, termasuk mendampingi anak dalam belajar jarak jauh.

Sebagai ibu harus memahami bahwa anak memiliki kebutuhan fisik, rasa aman, dan kebutuhan kasih sayang.
Harus merasa nyaman dan aman di rumah, supaya anak betah berada di rumah.

“Tempat belajarnya harus nyaman,” kata Lydia.

Selain itu seorang ibu harus paham soal strategi pendampingan, antara lain mengendalikan emosi dengan cara baik seperti menarik napas panjang ketika terjadi kejengkelan.

Mengendalikan emosi ini harus latihan, katanya. Kemudian sebagai pendamping harus luwes, tidak kaku, lalu menyimpan nama dan telepon teman-teman anak, orangtua anak dan guru untuk berkomunikasi, ketika ada sesuatu perlu ditanyakan.

Tidak kalah penting bagi sang ibu adalah membuat perencanaan untuk menentukan yang harus didulukan sebagai prioritas, dan mana yang dikerjakan belakangan.

Pengelolaan lingkungan belajar supaya anak betah belajar berlama-lama adalah penting. Namun seorang ibu harus paham seberapa lama kekuatan konsentrasi anak.

Anak umur 4 tahun rata-rata lama konsentrasi 8- 20 menit, umur 5 tahun 10- 25 menit, 6 tahun 12-30 menit, 7 tahun 14- 35 menit, 8 tahun 16- 40 menit, 9 tahun 18- 45 menit, 10 tahun 20- 50 menit, 11 tahun 22- 55 menit, 12 tahun 22- 55 menit.

Webinar yang dimoderatori oleh Dr Hediati, diikuti para pengurus IKWI pusat antara lain Sekretaris Umum Yani Rosdiana, Rabiatun, Leli Yuliawati, Rahmayulis Saleh, Ning Gerald, dan Rahmi Mulyati, serta anggota IKWI dari 23 provinsi di Indonesia. Jalannya acara dikendalikan dari pusat kegiatan di kantor PWI Pusat, Jakarta.



Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Lydia Freyani Hawadi: Orang Tua Harus Dibekali Pengetahuan Saat Dampingi Anak Belajar di Rumah, https://www.tribunnews.com/metropolitan/2020/12/16/lydia-freyani-hawadi-orang-tua-harus-dibekali-pengetahuan-saat-dampingi-anak-belajar-di-rumah.

Guru Besar UI: Gerakan pramuka efektif untuk bentuk karakter positif


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Psikologi Pendidikan Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengatakan gerakan pramuka sangat efektif untuk membentuk karakter positif pada diri anak.

"Aktivitas kepramukaan ini sarat dengan muatan nilai-nilai baik yang dapat membentuk karakter positif," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Senin.


Oleh karena itu, Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menilai perlunya penguatan gerakan pramuka karena memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung pendidikan karakter bagi generasi muda.

Menurut dia, gerakan pramuka menanamkan nilai-nilai toleransi, kemandirian, jujur, gotong royong, dan nilai-nilai moral lain yang diperlukan seorang anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter baik.


"Kendati demikian, fokus utama tidak hanya terkait dengan penguatan program namun juga memastikan bahwa pesan pendidikan karakter melalui kegiatan pramuka bisa tersampaikan dengan baik kepada para peserta didik," katanya.

Prof Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional periode 2012-2014 itu juga mengingatkan mengenai perlunya memastikan bahwa nilai-nilai karakter tersebut telah terinternalisasi dalam diri setiap peserta didik.

"Pastikan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter menjadi bagian dari diri peserta didik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.


Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan dan Prestasi Olahraga Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Didik Suhardi mengatakan bahwa Kemenko PMK mendorong penguatan implementasi nilai-nilai revolusi mental dalam kegiatan pramuka.

Didik menjelaskan kegiatan pramuka sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sangat bagus dan strategis karena menanamkan nilai-nilai penting seperti gotong royong, kemandirian hingga kejujuran.

Kemenko PMK sebagai koordinator Gerakan Nasional Revolusi Mental, kata dia, terus mendorong penanaman nilai-nilai revolusi mental melalui kegiatan pramuka.

"Penanaman nilai-nilai revolusi mental dalam satuan pendidikan dapat direalisasikan melalui kegiatan pramuka," katanya.

Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Pakar: Hari Guru Nasional momentum tingkatkan kompetensi


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi mengatakan Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November merupakan momentum untuk meningkatkan kompetensi pada era digital.


"Hari Guru Nasional merupakan momentum untuk terus mengembangkan kompetensi, keterampilan, dan sikap," kata Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Jumat.

Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini. Non-Formal dan Informal (PAUDNI) itu mengatakan peringatan Hari Guru Nasional juga momentum untuk melakukan refleksi sekaligus evaluasi.


"Dalam konteks peringatan Hari Guru Nasional maknanya adalah sebagai pengingat sejauh mana guru telah menjalankan fungsi, yang melekat erat dengan kata kompetensi. Kompetensi adalah komponen utama yang harus dimiliki guru sebagai pengajar, yang diberi amanat untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada siswanya," kata dia.

Dengan melakukan evaluasi diri dan refleksi diri, kata dia, seorang guru akan selalu terpanggil untuk memberi yang terbaik bagi siswanya.

"Sebagai contoh, selama masa pandemi sektor pendidikan tanpa disengaja dipercepat untuk masuk era 4.0 dengan mau tidak mau mendorong seorang guru untuk menguasai teknologi digital dalam mengajar dan ini harus menjadi gaya mengajar, tuntutan mengajar dalam new era," katanya.


Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan, peningkatan kompetensi, keterampilan, dan sikap harus terus dikembangkan pada era digital seperti sekarang ini.

"Kendati saat ini sudah tidak ada lagi pembelajaran jarak jauh atau PJJ namun keterampilan baru seperti menggunakan aplikasi zoom, google meetquizziz, gform, google classroom, dan lain sebagainya dalam proses belajar mengajar harus terus tetap digunakan. Karena memang ini era digital dan tuntutan mengajar semakin canggih," katanya.

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi digital bagi guru.

Plt. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK Aris Darmansyah Edisaputra mengatakan bahwa era teknologi digital yang berkembang pesat menjadi tantangan di bidang pendidikan yang perlu menjadi perhatian utama.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Guru Besar UI: Sekolah garda terdepan kawal perkembangan karakter anak


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengatakan sekolah merupakan garda terdepan dalam mengawal perkembangan karakter peserta didik.


"Setelah peserta didik memperoleh pendidikan karakter di rumah dari orang tua atau keluarga terdekat, maka sekolah akan menjadi garda terdepan yang mengawal berkembangnya karakter baik bagi seorang anak," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Minggu.

Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan bahwa sekolah akan makin memperkuat pendidikan dan nilai-nilai karakter bagi peserta didik agar dapat tumbuh sebagai pribadi yang berakhlak mulia.


Menurut dia, pendidikan karakter yang diberikan sejak dini yang bertujuan agar anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan berintegritas menjadi tugas orang tua.

"Orang tua yang berperan meletakkan fondasi akhlak, moral, dan perbuatan baik sebagai bekal sang anak untuk berinteraksi di lingkungan sosial yang lebih luas," katanya.

Setelah itu, pengetahuan moral baik atau pendidikan karakter yang diperoleh anak dari orang tua, keluarga atau lingkungan terdekatnya akan diperkuat oleh lingkungan yang lebih luas yang ada di sekitar anak.

"Lingkungan di sekitar anak yang dimaksud yaitu sekolah, tetangga sekitar, tempat ibadah, tempat les anak, intinya komunitas yang dapat menjadi pendukung bagi nilai-nilai baik yang diterima anak di rumah," katanya.


Dengan demikian, kata dia, agar pendidikan karakter di sekolah berjalan baik maka perlu kemitraan yang baik antara sekolah dan orang tua.

"Keluarga menjadi mitra sejajar untuk tercapainya tujuan pendidikan bagi seluruh siswa. Hubungan harmonis antara sekolah dengan keluarga merupakan hal esensial yang perlu dibangun untuk optimalisasi pendidikan anak di ranah akademik, sosial, dan emosional," katanya.

Prof Lydia yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non-Formal dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan Nasional periode 2012-2014 itu mengatakan keluarga dan sekolah berperan penting dalam mendukung optimalisasi tumbuh kembang anak, khususnya dalam aspek pendidikan karakter.



"Keluarga dan sekolah memiliki pengaruh pada kinerja siswa secara menyeluruh. Apa yang ditampilkan anak merupakan hasil kerja sama antara sekolah dan orang tua atau keluarga di rumah," katanya.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Psikolog: Bentuk karakter anak agar tidak menjadi pelaku bullying


Jakarta (ANTARA) - Psikolog keluarga Ketti Murtini mengingatkan bahwa orang tua perlu membentuk karakter anak sejak dini agar tidak menjadi pelaku bullying atau perundungan.


"Orang tua dan anggota keluarga lain perlu mendampingi tumbuh kembang anak dan membentuk karakter anak sejak dini agar tidak memiliki perilaku bullying, atau juga tidak menjadi korban bully," katanya ketika dihubungi dari Jakarta, Minggu.

Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Tengah Cabang Barlingmascakeb itu menambahkan pendampingan orang tua akan membentuk konsep diri yang matang sehingga anak siap menghadapi berbagai permasalahan.

"Pendampingan orang tua harus dilakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang, namun dengan cara yang tepat," katanya.

Misalkan, kata dia, orang tua tidak boleh memberikan anak fasilitas dan bantuan yang berlebihan agar anak memiliki ketangguhan dan ketahanan diri jika suatu saat menghadapi kesulitan.

"Anak perlu juga merasakan kesulitan dan kegagalan agar dia memiliki daya tahan untuk menjalani kehidupannya di masa yang akan datang. Pendampingan orang tua diperlukan namun hanya dalam artian pendampingan, bukan membantu menyelesaikan semua masalah anak," katanya.


Dengan demikian, diharapkan anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.

"Bahkan jika suatu saat si anak menjadi korban bully diharapkan dia akan dapat menghadapi situasi tersebut dengan baik karena telah memiliki konsep diri yang juga baik," katanya.

Selain itu, kata Ketti, orang tua juga perlu mengajarkan anak agar memiliki empati dan kasih sayang terhadap sesama.


"Misalkan memberikan contoh keteladanan dengan cara orang tua mengajak anak membantu orang lain yang sedang kesusahan, atau memberikan teladan dengan berkata lemah lembut dan tidak menunjukkan kekerasan depan anak agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lemah lembut," katanya.

Dengan berbagai upaya tersebut, kata dia, diharapkan anak akan tumbuh menjadi pribadi berkarakter mulia yang jauh dari perilaku bullying.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengingatkan orang tua agar banyak memberikan kasih sayang pada buah hati mereka guna mencegah perilaku bullying.

"Salah satu upaya mencegah perilaku bullying pada anak adalah dengan cara mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang," kata Prof Lydia.
Pewarta: Wuryanti Puspitasari

Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Pakar: Beri anak banyak kasih sayang guna mencegah perilaku bullying


Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengingatkan orang tua agar banyak memberikan kasih sayang pada buah hati mereka guna mencegah perilaku bullying.


"Salah satu upaya mencegah perilaku bullying pada anak adalah dengan cara mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Minggu.


Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan bahwa anak yang menjadi pelaku bullying atau perundungan biasanya adalah mereka yang pernah menjadi korban perundungan.

"Misalkan seorang anak yang pernah menjadi korban bully di rumahnya, karena tidak berani melawan otoritas maka si anak melampiaskannya di luar. Biasanya yang menjadi sasaran atau korban bully adalah anak yang lemah," katanya.

Karena itu, kata dia, salah satu cara mengatasi anak agar tidak menjadi pelaku atau korban perundungan maka tugas orang tua dan juga tugas masyarakat yang ada di lingkungan sekitar adalah mengajarkan dan memberikan banyak kasih sayang.

"Anak yang dibesarkan dengan cinta kasih dan rasa kasih sayang maka akan tumbuh sebagai individu yang utuh. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting karena akan menjadi modal untuk dia berinteraksi baik dengan teman-teman atau sebayanya," katanya.

Prof Lydia Freyani Hawadi menambahkan bahwa masa kanak-kanak adalah masa pembentukan yang akan menentukan kepribadian dan karakter anak pada masa yang akan datang.

"Masa pembentukan ini menentukan akan menjadi sosok individu apa dan bagaimana kelak. Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama berkewajiban mendampingi proses tumbuh kembang anak dan memberikan hal-hal yang menjadi kebutuhan anak sesuai tahap perkembangan," katanya.

Orang tua, tambah dia, juga memiliki tugas mengawal perkembangan anak dengan berlandasan nilai-nilai religius untuk jadi pegangan hidup sang anak pada masa yang akan datang.

"Selain itu yang juga penting adalah pemberian kasih sayang mutlak tanpa syarat atau unconditional love," katanya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Dr Seto Mulyadi atau lebih akrab disapa Kak Seto mengatakan penguatan pendidikan karakter merupakan kunci utama agar anak tidak jadi pelaku perundungan atau bullying.

"Pendidikan karakter menjadi kunci utama agar anak memiliki karakter yang berakhlak mulia dan penuh cinta kasih," katanya.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Guru Besar UI: Hari Anak Sedunia momentum penuhi hak pendidikan

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Dr Lydia Freyani Hawadi MSi MM Psikolog mengatakan Hari Anak Sedunia yang diperingati setiap 20 November mengingatkan pentingnya pemenuhan hak anak untuk memperoleh pendidikan.


"Hari Anak Sedunia pengingat bagi orang tua, kondisi apapun anak harus dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan yang baik," kata Prof Lydia Freyani Hawadi ketika dihubungi di Jakarta, Minggu.


Prof Lydia yang juga dikenal dengan sebutan Prof Reni menambahkan, bahwa bagi pemerintah, Hari Anak Sedunia dapat menjadi momentum yang tepat untuk memastikan semua anak usia dini memperoleh pendidikan melalui program Satu Desa Satu Paud.

Dia juga menambahkan bahwa masyarakat juga turut memiliki peran penting dalam upaya pemenuhan hak anak untuk memperoleh pendidikan.

"Orang-orang yang ada di lingkungan sekitar anak tentunya akan menjadi contoh dan teladan bagi anak sehingga perlu memberikan teladan yang baik," katanya.

Menurutnya, berbagai faktor yang ada di luar diri anak akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Kendati demikian meskipun anak akan bertumbuh dan berkembang sesuai zamannya namun pendampingan orang tua dan masyarakat di sekitar sangat diperlukan.

"Tujuannya untuk memastikan bahwa anak bertumbuh dan berkembang tetap berbasis pada norma-norma agama dan adat istiadatnya," katanya.

Kemudian, dia menambahkan bahwa Hari Anak Sedunia juga menjadi momentum yang tepat untuk makin memperkuat program perlindungan terhadap anak.



"Program perlindungan anak perlu terus diperkuat, khususnya bagi anak perempuan agar dapat terlindungi dari perkawinan anak usia dini, kekerasan seksual pada anak, trafficking maupun pornografi," katanya.

Hal itu, kata dia, sangat penting, untuk mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) terkait dengan kesetaraan gender.

Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Dr Seto Mulyadi atau lebih akrab disapa Kak Seto mengatakan peringatan Hari Anak Sedunia yang diperingati setiap 20 November mengingatkan pentingnya pemenuhan hak-hak anak.

"Perlu menjadi perhatian bersama bahwa terdapat sejumlah hak dasar anak yang harus dipenuhi antara lain hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak perlindungan dan hak untuk berpartisipasi," katanya.


Pewarta: Wuryanti Puspitasari
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2022




UNESCO: Indonesia panutan penuntasan tunaaksara


Jakarta (ANTARA News) - Organisasi dunia di bidang pendidikan (UNESCO Institute for Lifelong Learning/UIL) menilai Indonesia sebagai panutan untuk negara-negara lain dalam penuntasan tunaaksara.


"Ini berkat kerja keras kita dalam membasmi buta aksara dan berhasil meraih King Sejong Award tahun lalu," ujar Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Lydia Freyani Hawadi di Jakarta, Selasa.


King Sejong Literacy Award adalah penghargaan yang diberikan UNESCO atas keberhasialan Indonesia dalam mengurangi jumlah tunaaksara lebih cepat daripada waktu yang ditargetkan, yaitu 7,5 juta orang pada tahun 2015. Namun, Indonesia sudah bisa mencapainya pada tahun 2010.

"Kita patut berbangga hati. Namun, tidak boleh lupa karena masih ada 11 juta warga Indonesia yang buta huruf dan ini harus segera dituntaskan," tambah Lydia.

Dalam kesempatan yang sama Lydia mengumumkan bahwa Indonesia menjadi anggota editorial Laporan Global Pembelajaran dan Pendidikan Orang Dewasa Ke-2 (Grale II), di samping menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Forum Kebijakan Internasional Pendidikan Keaksaraan dan Kecakapan Hidup bagi Remaja Rentan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

"Forum ini menjadi ajang untuk Indonesia berbagi pengalaman dalam menuntaskan tunaaksara," jelas Lydia.

Forum internasional yang berlangsung pada tanggal 20--22 Agustus 2013 di Jakarta ini, diikuti oleh 120 peserta dan 19 negara dari kawasan Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan Arab.

Forum itu bertujuan membuat kertas kebijakan internasional dalam memberikan kesempatan belajar bagi remaja rentan agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.

Forum tersebut juga mengundang Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau CLC (Community Learning Center) sebagai pusat edukasi literasi dan kecakapan hidup untuk masyarakat yang kurang beruntung karena keluar atau tidak mendapat sistem pendidikan formal.

"Di sinilah peran PKBM ditunjukkan bahwa pembelajaran sepanjang hayat itu penting dan memegang peranan yang strategis untuk pemberantasan tunaaksara," kata dia.

Pewarta: Maria Rosari
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Tumbuhkan kecintaan anak pada gizi sejak dini


Jakarta (ANTARA News) - Kecintaan anak pada gizi dan makanan bergizi perlu ditumbuhkan agar mereka bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

Kecintaan pada gizi bisa dilakukan melalui kegiatan belajar dan bermain baik di dalam ruang kelas maupun di luar ruang melalui praktek langsung di lapangan.

Hal ini dikemukakan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof Dr Lydia Freyani Hawadi, pakar gizi Dr Elvina Karyadi PhD dan Corporate Affairs Head Sarihusada Arif Mujahidin dalam acara diskusi Nutritalk Sarihusada.

Prof Lydia Freyani Hawadi menyatakan esensi dari pendidikan anak prasekolah dalam hal ini PAUD adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar.

"Semua nilai positif termasuk pengetahuan mendasar mengenai gizi perlu pembiasaan dan harus dilakukan secara terus menerus," kata Prof Reni Hawadi.

Gizi merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian Ditjen PAUDNI. Untuk mendukung  tumbuh kembang anak usia dini, segala kebutuhan esensi anak harus terpenuhi baik gizi, kesehatan, pendidikan, perawatan, pengasuhan, kesejahteraan dan perlindungan.

Program Ditjen PAUDNI adalah mendorong penyelenggaraan PAUD holistik integratif yang mencakup pendidikan dan layanan terhadap pemenuhan seluruh kebutuhan dasar anak termasuk kesehatan dan gizi mereka.

Sementara itu, Arif Mujahidin mengatakan, sebagai perusahaan penghasil nutrisi untuk ibu dan anak, Sarihusada memiliki kegiataan sosial yang memfokuskan pada edukasi gizi melalui program Ayo Melek Gizi dengan menggandeng berbagai pihak termasuk kalangan NGO, institusi pendidikan, maupun pemerintah.

"Kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai zat gizi dan kebutuhan pemenuhan zat gizi dalam pola makan sehari-hari khususnya pada 360 minggu pertama dalam kehidupan, mulai dari pra kehamilan hingga anak berusia 6 tahun," ujar Arif kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

Salah satu kegiatan yang dilakukan Sarihusada adalah pengembangan PAUD dengan materi ajar edukasi gizi langsung di lapangan pada PAUD Rumah Srikandi di Kemudo, Klaten. Pada PAUD ini memiliki Kebun Nutrisi dimana anak-anak bisa belajar menanam dan merawat sayur sayuran yang nantinya akan dipanen dan dikonsumsi oleh mereka. (*)

Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Sumber: Antara 

Jumat, 05 Juli 2019

Reni Hawadi: Di Tingkat Provinsi Perlu Tetap Ada Sekolah Unggulan


Pro kontra terkait sistem zonasi  dalam PPDB 2019 terus bergulir. Sejumlah orang tua siswa di beberapa kota seperti Cimahi, Solo, Surabaya, Bandung melakukan aksi demontrasi. Mereka menyampaikan aspirasi agar jalur zonasi dihapuskan karena membingungkan dan cenderung menyulitkan masyarakat.
Sebelumnya sejumlah tokoh memberikan pandangannya. Sebagian setuju dengan sistem zonasi dan sebagian lain menolaknya mentah-mentah. 

Psikolog yang juga Guru Besar Universitas Indonesia,  Reni Akbar- Hawadi menyatakan setuju sistem zonasi dengan alasan berkeadilan.  Maksudnya sistem zonasi tidak memandang siswa dengan  perolehan nilai UNBK tinggi otomatis bisa masuk ke sekolah yang bagus dalam zona rumahnya.  

“Selama ini  kita tahu bahwa hanya siswa tertentu yang bisa masuk sekolah yang dikenal sekolah favorit. Dengan sistem zonasi hal itu tidak bisa lagi terjadi. Hal ini yang saya maksud dengan berkeadilan,” ujarnya. 

Ia menambahkan dampak positif zonasi akan melecut setiap Kepala Sekolah untuk memperhatikan mutu pengajarannya. Guru juga ekstra kerja keras karena siswa yang masuk sangat heterogen. 

“Bagi siswa yang tergolong berbakat Intelektual dengan tingkat kecerdasan tinggi IQ 130 ke atas tetap membutuhkan penanganan yang berbeda. Layanan yang sama untuk setiap siswa justru memunculkan tidak berkeadilan. Menurut saya, di tingkat provinsi masih diperlukan sekolah unggulan khusus bagi para siswa berbakat intelektual,” ujar mantan Dirjen PAUDNI itu.

Menurutnya anak-anak berbakat intelektual tidak bisa dicampur dengan siswa lain. “Sistem grouping bagi mereka yang bagus adalah homogenous,” tegasnya. Tujuannya untuk mempertahankan tingkat kinerja akademik mereka.

Ia tak menampik bahwa ada satu literatur yang menyebutkan kalau  dicampur dengan  siswa  biasa  maka IQ mereka akan turun sekira 15 point. 

DKA/CMH

Rabu, 12 Juni 2019

Film Horor Bisa Terekam di Alam Bawah Sadar Anak

TEMPO.CO, Jakarta - Film horor semakin sering bermunculan di layar perak. Jumlahnya pun biasanya meningkat menjelang perayaan Halloween yang jatuh pada 31 Oktober. Suara khas tontonan film horor dan layar besar di bioskop menambah nuansa mengerikan saat menonton film horor.

Salah satu film horor yang sedang naik daun akhir-akhir ini adalah "IT'. Film yang berkisah tentang badut yang bisa berubah wujud sesuai hal yang ditakutkan seseorang berhasil membuat beberapa penonton bioskop ketakutan, ataupun menjerit. 

Psikolog Reni Akbar Hawadi menyarankan menonton film horor sebaiknya tidak bersama anak di bawah tujuh tahun. Walaupun anak itu belum mengerti jalan cerita film horor itu, menurut Reni, adegan film itu bisa terekam di alam bawah sadar si anak.

Bila berkali-kali menonton film horor, ada yang nantinya merasa terbiasa menonton film horor, sehingga saat dewasa ia tidak akan takut. Sebaliknya, ada pula anak yang justru menjadi introvert setelah menonton bernuansa gelap itu. "Itu semua tergantung kondisi si anak," katanya.

Yang perlu dikhawatirkan adalah kondisi ketika anak jadi introvert setelah menonton film horor. Mereka bisa menjadi takut saat mengalami situasi mirip seperti pada film horor. "Gambaran film horor itu akan terekam di alam bawah sadar otak mereka. Dan bisa timbul kapan saja," katanya. 

Efek lain yang juga bisa dialami si anak adalah melakukan hal yang sama seperti pada film horor. Misalnya ada adegan pembunuhan yang tergambar dalam film horor itu, yang terekam di alam bawah sadar mereka. Ketika mengalami situasi yang sama, bisa saja si anak akan melakukan pembunuhan itu mencontoh adegan di televisi.

Reni menyarankan agar orang tua sebaiknya tidak menonton film horor dengan anak yang berusia di bawah tujuh tahun. "Anak di bawah usia tujuh tahun itu sebaiknya dicontohkan dan diberikan energi positif saja, jangan energi negatif seperti film horor," katanya.

Menurut Reni, anak yang sudah berusia 7-11 tahun boleh saja diajak menonton film horor. Pada usia itu, anak sudah bisa berpikir dan diajak diskusi. Orang tua tentu perlu menjelaskan makna film itu. "Mereka perlu mendapatkan penjelasan detail tentang film horor," kata Reni.
MITRA TARIGAN

Sumber: Tempo

Deddy Corbuzier Komentari Prostitusi dan Artis, Ini Kata Psikolog

TEMPO.CO, Jakarta - Presenter Deddy Corbuzier tidak hanya aktif memimpin sebuah talkshow, namun juga sangat rajin membuat konten unik di media sosial. Dalam konten media sosial YouTube-nya, Deddy Corbuzier mengeluarkan berbagai unek-uneknya tentang berbagai hal termasuk isu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Salah satu isu yang baru dikomentari oleh Deddy Corbuzier adalah fenomena prostitusi di kalangan artis, terkait kasus yang menyeret Vanessa Angel.


Sebelumnya, Vanessa Angel menjadi sorotan publik. Ia terseret kasus prostitusi online. Bersama tiga orang lain dan seorang yang diduga mucikari, Vanessa diciduk aparat Kepolisian pada Sabtu, 5 Januari 2019, di sebuah hotel di Surabaya, Jawa Timur.

Dalam video berdurasi 7 menit, Deddy Corbuzier menilai ia membahas tentang alasan umum para artis ikut dalam jaringan prostitusi online, yang salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan. Deddy juga menjelaskan bagaimana tekanan masyarakat yang selama ini juga menjadi salah satu penyebab artis dan seseorang memilih untuk ikut dalam prostitusi online. “Tekanan hidup dari masyarakat ketika Anda bersosial, temenannya sosialita-sosialita, itu brengsek semua," kata Deddy.
Ia pernah mengomentari tentang kebiasaan seorang artis yang harus memiliki barang bermerek dalam semua busana yang dikenakannya. "Ketika mereka nggak pakai branded, mulai banyak yang ‘wah lu nggak punya job, mulai nggak laku’. Akhirnya, tekanan masyarakat yang dia anggap penting itu menjadi masukan buat dia mendapatkan uang secara maksimal dalam waktu sesingkat-singkatnya, yaitu ngangkang,” kata Deddy dalam video yang diunggah Senin 7 Januari 2019.

Psikolog Lydia Freyani Hawadi setuju dengan pernyataan Deddy Corbuzier bahwa tekanan publik dan kebutuhan yang mendesak sebagai salah satu alasan para artis melakukan prostitusi online. “Banyak faktor yang menyebabkan tak hanya publik figur, namun orang biasa pun melakukan prostitusi. Karena memang ini merupakan hal yang sangat praktis untuk menghasilkan uang," kata Reni, sapaan Lydia kepada Tempo pada 8 Januari 2019.

Khusus untuk artis, Reni mengatakan secara kasat mata orang bisa melihat gaya hidup para pesohor yang tergolong tinggi. Hal itu membuat para artis mendapatkan tekanan agar bisa terlihat sama di antara kelompoknya. "Dia ingin terlihat sama, baik dalam perilaku maupun cara pikir agar diterima oleh kelompoknya. Terutama segala sesuatu yang mengikuti tren, mendorong orang agar terus mengeluarkan uang untuk memiliki produk terbaru,” kata Reni.

Ketika tindakan si artis menjual diri diketahui publik, dampak hukuman sosial pun dapat diresapi secara berbeda-beda. Menurut Reni, hal tersebut tergantung dari kapasitas mental seseorang. “Semua kembali lagi pada mental orang tersebut. Ada yang langsung memberikan respon withdrawal or moving away, dalam artian kapok dan malu sehingga tidak akan melakukan hal yang sama lagi. Namun ada juga yang moving forward, dalam artian memiliki daya tahan mental yang kuat sehingga terus maju," kata Reni.


Dalam kasus Vanessa, Reni menduga, Vanessa bisa melaluinya dan tidak akan memikirkan perkataan orang lain. "Ia termasuk yang percaya diri. Sehingga nggak mungkin depresi dan maju terus,” kata Reni.

Sumber: Tempo


Unggah Foto Jari Bertinta Saat Pemilu? Maknanya Bukan Hanya Pamer

Reporter:Sarah Ervina Dara Siyahailatua
Editor:Mitra Tarigan
 
 
TEMPO.CO, Jakarta - Pemilihan umum dilaksanakan pada Rabu, 17 April 2019 di seluruh Indonesia . Seolah menjadi suatu kebutuhan wajib bagi pemilih untuk memamerkan jari bertinta dan mengunggahnya di media sosial.

Mungkin, sebagian dari Anda melakukannya untuk ajang pamer. Namun, menurut psikolog Lydia Freyani Hawadi, hal tersebut lebih dari sekedar pamer. Melainkan, ini menunjukkan identitas seseorang sebagai individu yang memiliki tanggung jawab. “Posting foto jari menunjukkan responsibility-nya sebagai seorang warga negara yang baik. Artinya, mereka secara langsung bilang ‘saya tidak golput’,” katanya saat dihubungi TEMPO.CO pada 16 April 2019.

Selain itu, wanita yang lebih akrab dipanggil Reny ini pun mengatakan bahwa mengunggah foto jari bertinta dapat menjadi contoh atau role model bagi teman-teman di sekitarnya. Pasalnya, di era digital ini, orang lebih cenderung menghiraukan sesuatu yang ada di dunia maya. “Kalau kita mengunggah foto di sosial media seperti Instagram yang sedang viral, misalnya. Ini akan menjadikan kita role model agar mereka melakukan hal yang sama,” katanya.

 Lebih dari itu, foto yang nantinya mendapat feedback berupa like juga akan memberikan penghargaan untuk diri orang itu sendiri. Mereka merasa komitmen dan keinginan untuk memajukan negara dengan mencoblos diapresiasi oleh teman-teman di sosial media. “Intinya ada reward yang didapat,” katanya.

 Oleh karena itu, ia pun tidak melarang siapapun untuk mengunggah foto jari bertinta setelah pemilu. “Tidak masalah karena dari pandangan saya, hal tersebut positif,” katanya.

Sumber: Tempo

Emosi Presiden Pilihan Kalah di Pemilu 2019, Ini Saran Ahli

Pemilihan umum atau Pemilu dilangsungkan pada Rabu, 17 April 2019. Ini merupakan peristiwa yang menegangkan. Sebab, di antara pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Ma’ruf Amin dan 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, hanya ada satu pasangan calon pasangan yang akan memimpin negara untuk lima tahun ke depan. Sebaliknya, tentu ada pasangan lain yang harus menerima kekalahan.

Siapa pun yang memenangkan pemilihan presiden atau Pilpres kali ini, ada sebagian orang yang akan dibuat sedih atau emosi. Psikolog Lydia Freyani Hawadi mengingatkan akan pentingnya memiliki sikap legowo. Ia mengatakan bahwa sportivitas tetap harus dijunjung tinggi oleh pendukung tim yang menang maupun yang kalah.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak terus berlarut dengan kesedihan yang ada. Apalagi jika ditambah dengan pemberontakan. Karena, hal tersebut tidak akan mengubah tatanan pemerintahan yang telah secara resmi disahkan. Oleh karena itu, ia menyarankan agar seluruh pemilih dapat mengendalikan diri setelah mengetahui hasil perhitungan Pemilu. 

Foto: Freepik (ilustrasi)
Editor Video: Zulfikar Epriyadi

Sumber Tulisan: Tempo
Sumber foto: Politik Today

Ketika Hubungan Keluarga Retak Karena Pemilu, Ini Saran Psikolog

TEMPO.CO, Jakarta - Pemilihan umum atau pemilu sudah usai, tapi drama keluarga karena pencoblosan belum tuntas. Sebuah kisah yang diunggah di akun Twitter @annisalrazi menjadi perhatian warganet. Melalui tulisannya pada Kamis, 30 Mei 2019, Annisa menceritakan tentang hubungannya dengan orang tuanya berubah karena propaganda pemilu.

Semua bermula dari perubahan sikap orang tuanya. Ia mengatakan, awalnya ayah dan ibunya adalah orang yang senang mengajarkan toleransi dan kebaikan. Sayangnya kini, mereka berubah menjadi sering mengungkapkan kalimat negatif serta ujaran kebencian. Menurutnya, itu disebabkan oleh berbagai informasi yang simpang siur, khususnya selama pemilihan umum.

Awalnya, ia mengatakan bahwa ayah dan ibunya adalah orang yang senang mengajarkan toleransi dan kebaikan. Sayangnya kini, mereka berubah menjadi sering mengungkapkan kalimat negatif serta ujaran kebencian. Menurutnya, itu disebabkan oleh berbagai informasi yang simpang siur, khususnya selama pemilihan umum.

Unggahan Annisa mendapat banyak respons, tak sedikit yang mengeluhkan hal serupa. Contohnya adalah pemilik akun @aratniq yang menceritakan betapa tolerannya sang ayah, namun kini berubah mengecap orang lain kafir hingga Islam Nusantara.

Psikolog Reni Akbar Hawadi pun mencoba memberikan dua solusi terbaiknya. Hal pertama yang disampaikannya adalah bagaimana anak mengembalikan sikap kritis orang tua. Sebab menurutnya, banyak orang tua yang menganggap suatu informasi baru sebagai bentuk pencerahan atas ketidaktahuannya.

Ia menyarankan mengajak orang tua untuk berdiskusi lagi. Ajarkan juga tentang sikap kritis. Misalnya ketika mendapat informasi baru, mereka jangan menelannya secara mentah-mentah tapi ditelusuri dulu kebenarannya. "Kalau secara perlahan diajak seperti ini terus, mereka akhirnya bisa membedakan mana informasi yang valid dan bukan,” katanya saat dihubungi TEMPO.CO pada 1 Juni 2019.

Selain itu, awasi juga gerak gerik dan aktivitas orang tua. Sebab, komunitas atau teman berkumpulnya bisa membentuk pola pikir baru untuk mereka. Seperti yang diketahui, suatu perkumpulan tentu menuntut konformitas.

“Kalau memang dirasa perlu keluar dari grup WhatsApp atau kumpul-kumpul arisan, ya silahkan. Apalagi jika anggotanya toxic (membawa pengaruh buruk) semua. Daripada membahayakan demi menyatukan pendapat bersama, lebih baik dibatasi,” katanya.

SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA


Sumber: Tempo

Mantan Pacar Cinta Laura Sebar Foto Mesra, Begini Kata Psikolog


Reporter: Sarah Ervina Dara Siyahailatua
Editor:Mila Novita 
 
TEMPO.CO, Jakarta - Kabar menghebohkan datang dari aktris Cinta Laura Kiehl. Setelah menjalin hubungan hampir tiga tahun dengan teman sekelasnya di Columbia University, Soy Frank Gracia, keduanya akhirnya dikabarkan putus.
Isyarat putus terlihat dari terhapusnya foto-toto Gracia dari akun Instagram Cinta Laura. Hal yang mengejutkan, Pria berdarah Amerika Selatan ini lalu mengunggah 28 foto bersama Cinta Laura pada 31 Mei 2019. Menariknya, foto yang diunggah menampilkan keduanya dalam posisi intim. Unggahan ini seolah menunjukkan bahwa Gracia ingin membalas dendam.

Menanggapi hal ini, psikolog Reni Akbar Hawadi mengatakan bahwa secara garis besar, kejadian tersebut sangat mungkin disebabkan oleh hubungan yang berhenti tanpa konfirmasi dari kedua belah pihak. Unggahan foto negatif atau penghapusan jejak oleh Cinta maupun Gracia, disebut sebagai bentuk pemberontakan.

“Pasti akar masalahnya ada pada keputusan untuk putus yang tidak dikomunikasikan dengan tidak baik antar-pasangan. Karena kalau mereka dari awal berbicara dengan baik, pasti tidak ada reaksi yang negatif,” katanya saat dihubungi TEMPO.CO pada Sabtu, 1 Juni 2019.

Dari sisi Gracia, Reni mengatakan bahwa pria pada umumnya memang memiliki sisi agresivitas yang tinggi. Sehingga, hal tersebut sangat wajar dilakukan apabila mereka merasa dirugikan. Terlebih lagi dengan ikatan emosional yang biasanya terbentuk dan melekat setelah menjalin hubungan kasih lebih dari enam bulan.


“Setahu saya, keduanya pacaran sejak satu kuliah kan? Mungkin si prianya ini merasa sudah banyak manfaat yang bisa Cinta dapatkan darinya. Hampir dua atau tiga tahun itu juga tidak sebentar. Jadi dia tidak terima kalau diputuskan begitu saja,” katanya.


Itu sebabnya, ia mengingatkan pentingnya melepas hubungan dengan baik. Menurut Reni, apabila merasa tidak menemukan kecocokan antara satu dan lainnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah duduk bersama dan berbicara dengan logika.


"Merasa tidak cocok ya wajar saja. Tapi yang paling penting adalah bagaimana cara putus yang baik. Ini harus dikomunikasikan dengan rasional dan tanpa emosi," kata dia.


Reni mengakui pasti berat untuk putus, tapi kalau ada pengertian dan penjelasan, kedua pihak pasti bisa menerima dan hal seperti ini (mengunggah foto negatif) bisa diminimalisasi," kata dia.


SARAH ERVINA DARA SIYAHAILATUA

Sumber: 

Selasa, 21 Agustus 2018

Kurang Dilibatkannya Ilmu Psikologi dalam Sistem Pendidikan Nasional

Oleh: Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, M.M., Psikolog
Fakta masih rendahnya peringkat Indeks Pembangunan Manusia Indonesia, tercermin dari persoalan kurang dilibatkannya ilmu psikologi dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “UU Sisdiknas belum menyentuh hal substansial. Belum meneropong siswa sebagai individu yang unik,” ujar Profesor Reni Akbar-Hawadi, Kepala Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Berikut percikan pemikirannya untuk pembaca Majalah Qalam.
Sejauh mana perlunya ‘pemeriksaan psikologis’ terhadap siswa di sekolah?
Sebenarnya, momentum awal dunia pendidikan Indonesia dalam menggunakan pemeriksaan psikologis bagi siswa, telah digagas oleh Prof. Slamet Imam Santoso, sejak 1952. Ia berpendapat, pendidikan harus disusun secara plastis, supaya dapat menghadapi variasi banyak orang. Karena itu, sepanjang sekolah, para siswa harus diperiksa secara psikologis, mengenai kecerdasan cara berpikir, cara bekerja dan watak.
Dengan pemeriksaan ini, dapat memberi petunjuk agar tiap-tiap siswa dapat mencapai prestasi optimal. Pemeriksaan psikologis ini merupakan cara efektif dan efisien untuk melihat potensi seseorang.
Apa dampak pemeriksaan psikologis bagi siswa?
Begini, di dalam kelas, berbagai potensi siswa berbaur menjadi satu. Sehingga kerap muncul keluhan siswa yang tidak mampu secara intelektual. Mereka menjadi stres, merasa dikejar dalam belajar, diberi pelajaran tambahan.
Semua itu sering menyebabkan siswa menderita secara jasmani dan jiwa. Parahnya, reaksi masyarakat justru menyalahkan sekolah, nilai sekolah terlalu tinggi, gurunya amat kejam, dan lain-lain. Akhirnya masyarakat membeli ijazah agar anak mereka bisa lulus sekolah dan bekerja. Namun yang terjadi kemudian, ijazah yang dianggap sebagai kunci masuk dunia kerja, ternyata tidak “laku”. Ini berbahaya.
Terkadang sekolah membiarkan seleksi secara alamiah. Sementara potensi siswa tidak semua sama. Menurut Anda?
Inilah letak kesalahannya. Untuk menjawabnya, sebaiknya kita melihat perumpamaan kuda dan lembu. Siswa yang tergolong tipe kuda adalah mereka yang sama sekali tidak mengalami kesulitan memahami pelajaran.
Sedangkan siswa yang tipe lembu adalah mereka yang lamban menangkap pelajaran. Jadi keduanya ini tidak cocok untuk dijadikan satu, karena akan menimbulkan rasa frustasi bagi semua pihak.
Untuk itu, perlu ada pendidikan yang bervariasi sesuai potensi dan bakat siswa, untuk menjaga harga diri siswa. Dengan bersekolah sesuai kebutuhan, akan memudahkan mereka masuk dalam dunia kerja, dan memperoleh pekerjaan yang pas. Kita tidak menginginkan anak-anak sekolah mendapat kesulitan bekerja karena keterbatasan kemampuannya.
Tapi banyak sekolah yang sudah melakukan pemerikasaan psikologis. Reformasi pendidikan juga telah dibangun. Lalu, apalagi yang kurang dari konsep ini?
Bagi saya, reformasi pendidikan di Indonesia lewat penataan perundang-undangan masih belum tuntas, belum menyentuh hal yang substansial, meneropong siswa sebagai individu yang unik.
Sebab, persoalan pendidikan bukan hanya masalah fisik, gedung sekolah, kurikulum, laboratorium, atau perpustakaan saja. Tapi juga menyangkut peserta didik sebagai subjek. Memang dalam prakteknya, sudah banyak sekolah yang menggunakan jasa psikolog untuk melakukan pemeriksaan psikologis.
Sekurang-kurangnya menjelang tahun ajaran baru, melalui biro psikologi, sekolah menyelenggarakan pemeriksaan psikologis bagi calon siswa baru. Biasanya hasil pemeriksaan psikologis yang berupa psikogram digunakan untuk melihat besar skor IQ (intelligence quotience), CQ (creativity quotience) dan TC (task quotience), yang dijadikan dasar program percepatan belajar.
Namun peran psikolog masih berada di luar lingkaran sekolah. Mereka bekerja sesuai pesanan “tukang tes”. Kompetensi lain yang dimiliki psikolog masih belum banyak digunakan. Maka terjadilah pemubadziran ilmu.
Apa saja yang bisa dilakukan psikolog di lingkungan sekolah?
Psikolog pendidikan mempelajari hal-hal tentang prevalensi. Seperti kesulitan belajar, disleksia, gangguan bicara, dan ketidakmampuan seperti keterbelakangan mental, cerebral plasy, epilepsi dan buta.
Dengan kompetensi ini, maka psikolog dapat membantu orangtua lebih memahami kondisi keseluruhan yang ada dalam diri siswa untuk memilih intervensi pendidikan yang lebih tepat dalam upaya mengoptimasikan potensi baik siswa.
Psikolog pendidikan mempelajari perkembangan sosial, moral dan kognitif anak. Ia dapat memahami karakteristik pembelajaran usia sekolah, usia remaja, usia dewasa muda, dan lanjut usia. Karena semua psikolog pendidikan memiliki wawasan tentang perkembangan manusia.
Di samping itu, seorang psikolog pendidikan mampu melihat perbedaan individual, seperti kecerdasan, kreativitas, gaya belajar dan motivasi.
Bagaimana peran psikolog memajukan pendidikan?
Kalau kita lihat di Amerika, psikolog pendidikan atau sekolah, merupakan salah satu jenis pekerjaan yang paling cepat berkembang. Pertumbuhan mencapai 26%. Satu dari empat psikolog bekerja dalam setting pendidikan.
Sementara di Indonesia, kebanyak psikolog terserap di dunia industri. Pekerjaan sebagai psikolog pendidikan atau sekolah belum populer. Hanya sekolah-sekolah swasta papan atas yang telah menggunakan jasa mereka.
Fenomena ini menarik untuk dikaji, tidak hanya berkaitan dengan citra bahwa gaji psikolog lebih tinggi dari guru, sehingga sekolah merasa “takut” mempunyai psikolog dan lebih memilih menggunakan jasa biro psikologi saja.
Tetapi lebih dari itu, sebaiknya profesi psikolog diakui sebagai tenaga kependidikan. Saya mengajak pemerintah perlu membangun peran psikolog dalam pendidikan nasional.
Bagaimana jika terjadi ketidaktepatan antara kapasitas intelektual siswa dengan jenis sekolah?
Dalam klasifikasi taraf kecerdasan, ada taraf yang disebut slow learner atau lamban belajar. Jika siswa berada pada taraf ini, tentu saja tidak cocok untuk mengikuti pendidikan dengan kurikulum kelas reguler, dan bukan pula cocok untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB).
Karena taraf kecerdasan siswa masih sedikit lebih baik dari anak-anak dengan taraf keterbelakangan mental yang bersekolah di SLB. Namun dengan adanya tempo kerja mereka yang lamban dalam menangkap pelajaran, juga tidak membuat mereka sesuai dengan siswa biasa.
Kalau anak-anak dengan kategori lamban ini disatukan, maka yang terjadi adalah frustasi. Sementara siswa lainnya di kelas yang sama dan kebetulan memiliki taraf kecerdasan yang jauh lebih baik, akan menjadi termotivasi dalam mengikuti kelas. Sebaik-baiknya anak dengan kategori ini memiliki jenis sekolah tersendiri saja, agar harga diri dan kesehatan mental mereka terjaga.
Tercatat, fenomena anak golongan slow learner cukup banyak terjadi di sekolah-sekolah. Kalau saja ada 52,9 juta anak usia sekolah (BPS, 2006), maka jika 22,5%nya adalah mereka yang tergolong dalam IQ 70-89, diperkirakan ada 10,5 juta anak usia sekolah tergolong slow learner.
Apa yang Anda harapkan dari peran psikolog dalam Sisdiknas?
Saya membayangkan akan ada pemeriksaan psikologis besar-besaran pada peserta didik. Mungkin secara bertahap dulu di tingkat SMP.
Saat ini sudah banyak tersedia SMK yang berupaya agar lulusannya dapat berkiprah di dunia kerja dengan merasa berhasil. Karena rasa keberhasilan ini, pada gilirannya akan memperkuat kesehatan mental seseorang. Individunya juga akan memiliki pengakuan (harga diri), berupa imbalan atas hasil karyanya.
Berarti, dengan bekerja sesuai kompetensi, membuat angka pengangguran berkurang. Dan ini berarti pula meningkatkan daya saing bangsa. Jadi dengan adanya psikolog di sekolah, khususnya di Sekolah Dasar, dapat mengarahkan anak dengan pilihan pendidikan dan karir yang tepat.
Apakah sistem sekolah saat ini belum mencukupi standar kompetitif?
Belum. Sistem sekolah belum mengakomodasi kebutuhan masa depan anak bangsa. Untuk itu perlu mengembangkan kreativitas, daya inovasi, mental wirausaha dan kemampuan kolaborasi demi suksesnya generasi masa depan.
Sebab, ada yang memperkirakan, di tahun 2025 nanti, ekonomi dunia akan dipengaruhi oleh perkembangan lima bidang sains. Yaitu Teknologi Informasi, Teknologi Material, Genetika, Teknologi Energi dan Lingkungan. Dan hanya pekerja terdidik yang diandalkan, dapat menjadikan anak-anak berbakat yang berintelektualitas tinggi.
Di Indonesia, contoh cerita sukses tentang pembinaan anak-anak berbakat ini kita ketahui dilakukan Prof. Johannes Surya, Ph.D dengan proyek TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia).
Proses seleksi yang ketat dan pembinaan yang telah dilakukan TOFI selama 13 tahun, membuktikan bahwa anak-anak Indonesia ada yang bisa diandalkan. Banyak anak didiknya berhasil meraih gelar Ph.D dalam usia 23 tahun. Bahkan ada yang mendapat gelar profesor berusia 25 tahun.
Bagaimana mengatur regulasi psikolog agar keberadaanya dirasakan di seluruh Indonesia?
Departemen Pendidikan Nasional dapat menjadikan Pusat-Pusat Kajian Keberbakatan Fakultas Psikologi di setiap propinsi sebagai mitra untuk melakukan pemeriksaan psikologis.
Teknisnya, bisa melakukan intervensi, pelatihan-pelatihan dan konseling, baik individual maupun kelompok. Bisa juga melakukan riset-riset sehubungan masalah perkembangan siswa. Sebab, kita harus mendidik anak-anak menjadi andalan utama tulang punggung masyarakat berbasis pengetahuan dan etika.

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia