Senin, 27 Januari 2020

MUSEUM BANK INDONESIA


Sejak Nita masih aktif bekerja di Bank Indonesia sudah "ojog-ojog"in saya untuk datang melihat Museum BI. Dia tahu saya suka ke museum, salah satu hal yang diwariskan mendiang papi pada anak-anaknya. Anak-anak saya pun juga demikian mereka bilang " bagus sekali lho bun..pasti bun suka". 

Tanpa terasa sudah 10 tahun berlalu, dan baru tadi saya dan Idjul menginjak Museum BI. Tidak salah kalau Museum BI dapat award The Best Museum di DKI Jakarta dan direkomendasi sebagai salah satu destinasi turisme. Dan survei yang dilakukan National Geographic Traveler tahun 2011 memberi penghargaan The Best Museum dalam katagori sejarah/arkeologi.

Ke museum memang cocoknya secara pribadi bukan dengan rombongan karena memang tempo setiap orang menikmati fasilitas yang ada tidak sama.

Secara keseluruhan Museum yang diresmikan Presiden RI Dr.Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juli 2009 sangat memuaskan. Mereka yang menekuni numismatik pasti sangat menyukai Numismatic Room. Sedangkan saya menyukai berada di Monetary Gold Room dan menikmati History Roomnya..
Tidak kebayang kalau gedung ini awalnya gereja dan rumah sakit..Alhamdulillah telah mengisi hari dengan belajar sejarah.
17/11/2019

ISTANA KEPRESIDENAN RI CIPANAS


Saat kecil kalau diajak liburan ke Bandung dan melewati Istana Cipanas, yang berjarak lebih kurang 103 KM  dari Jakarta hampir pasti papi mami bilang ke saya dan dik adik "tuu tuh lihat Istana Presiden. Bagus yaaa...Ini tempat peristirahatan Presiden atau Wakil Presiden RI beserta keluarganya"
Saat itu tahun 1960an...ortu saya bisa jadi nggak tahu atau memang mungkin belum ada kebijakan pemerintah bahwa rakyat bisa masuk menikmati keindahan tempat tetirah Presiden atau Wakil Presiden. 

Jadi setelah tahunan ngga keitung bolak balik melewati Istana Cipanas sambil ngebatin, kayak apa siih didalamnya ya..kapan bisa kesini untuk menikmati areal kompleks istana seluas 26 ha dengan taman tanaman dari 1334 spesimen, 171 spesies, 132 marga dan 61 suku yg dibangun sejak tahun 1742 oleh Gubernur Jenderal Belanda Gustaaf William Baron Van Imhoff.

Alhamdulillah..akhirnya ada kesempatan ikut rombongan plesier tempo doeloe.
Cerita dibawah ini tidak ada kaitan dengan Istana Cipanas..tapi lebih pada saya excited karena ketemu dengan kenalan lama yang baru ketemu lagi..dan nemu kenalan baru yang tidak diduga-duga seperti sudah pernah kenal.

So perjalanan dari Jakarta - Cipanas PP  dengan bus. Diawal saya sudah kebayang kudu adu cepat ngetap tempat duduk. Sambil otw ke Mepo (meeting point) tiba-tiba ada WA dari sohib SMA yang nulis gini" Ren..mau ke Istana Cipanas ya" ..lhooo koq tahu Jus.." Gue membaca listnya. Ooh...ya ampun..bisa pas gitu..kalau gitu please tolong gue sekalian ya tap'in bangku di dua baris dari depan ya Jus untuk gue dan Idjul" Sesimple itu..kalau Allah berkehendak..akhirnya via Jussy, kami dibantu Linda duduk di baris kedua. Alhamdulillah jadi asik..nuhun pisan Juuus...

Rupanya selain Linda sahabat Jussy di FISIP 76, juga ada dari Edwin dan istrinya dr Wiwi yang sudah 20 tahun tidak jumpa.Pas mo registrasi ulang..dr Edwin negur Idjul.."adiknya Ida Akbar yaaa" akhirnya jadi ngobrol banyak...sambung menyambung.

Saat maksi ngobrol punya ngobrol dengan yang semeja tahunya dia anak FEB'78...sama adik saya dong...siapa? Pas disebut eeh tapi Dian koq nggak percaya hahaha.. apalagi pas saya bilang kalau Idjul suami saya abangnya Ai Akbar...lhooo masa siih jadi Nita dan Ai iparan ? Oalaaaa... dunia sedaon kelor...

Dan belakangan di penghujung tur nambah kenalan lagi. Ini gegara Tanny teman saya di wag Budders yang ikut juga di wag Sanur Painters melihat foto yang sama saya posting di wag Budders 75. Jadilah dia bilang " jij sama Ari bla bla.." duuh siapa Ari..gue cari ya... akhirnya saya mencari Ari dan dua temannya yang juga Sanurian dalam rombongan  tur ini. Junior jauuuuuh...

Senangnya ikut romb bisa ada kejutan-kejutan kecil..Fresh!
Alhamdulillah dengan datang ke Cipanas, semua Istana Kepresidenan RI sudah saya kunjungi baik di Jakarta, Bogor, Bukittinggi dan Bali.

TOKO MERAH


Toko Merah ini salah satu landmark era kolonial yang ada d Jakarta, diklaim sebagai bangunan tertua karena sudah ada sejak tahun 1730.

Bangunan yang awalnya diperuntukan sebagai kediaman Gubernur Jenderal Hindia Belanda Gustaaf Willem Baron Van Imhoff, telah beberapa kali berubah fungsi.

Salah satunya pernah menjadi Akademi Angkatan Laut Belanda (karenanya disebut AAL tertua d Asia). Kemudian tahun 1851 saat berubah kepemilikan ke orang Cina, Kapitain Batavia Oey Liauw Kong gedung ini dicat merah seluruhnya. Pada tahun 1920 gedung ini berfungsi sebagai Bank sampai dengan tahun 1940. Akhirnya menjadi kantor dagang pengusaha Belanda yang bernama Jacobson Van Den Berg. Pada saat nasionalisasi perusahaan Belanda, Toko Merah jadi milik pemerintah.

 ***

Copyright © Ren Lydia Freyani Hawadi | Guru Besar Universitas Indonesia